Pada tanggal 18 September 2025, Pendopo Kabupaten Jombang menjadi saksi atas sebuah acara budaya yang penuh makna dan edukasi, yaitu “Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua“. Acara ini berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, menghadirkan ratusan peserta dari kalangan anak usia dini, khususnya murid-murid Taman Kanak-Kanak (TK) ABA Mojoagung dan TK Muslimat Al-Ashfiya Brodot Bandarkedungmulyo. Dengan tema yang menekankan inklusivitas dan kepemilikan bersama atas ruang publik, acara ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana pengenalan kesenian tradisional Jawa, terutama wayang kulit dan gamelan. Di tengah era digital yang semakin mendominasi kehidupan anak-anak, inisiatif seperti ini menjadi penting untuk melestarikan warisan budaya bangsa.
Pendopo Kabupaten Jombang, yang terletak di Jalan Alun-Alun Jombang Nomor 1, Kaliwungu, Kecamatan Jombang, memiliki sejarah panjang sebagai simbol rumah masyarakat Jombang. Bangunan ini pertama kali dibangun pada awal abad ke-20, dengan renovasi besar-besaran pada tahun 1968 yang mengubah bentuknya dari joglo tradisional menjadi cungkup dengan tiga atap. Pendopo ini bukan hanya kediaman resmi bupati, tetapi juga ruang terbuka untuk rakyat, sesuai dengan semangat acara “Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua”. Nama “Abah” di sini merujuk pada sosok bupati sebagai figur ayah bagi masyarakat, yang ingin mendekatkan pemerintahan dengan rakyat melalui kegiatan edukatif dan budaya.

Acara dibuka dengan sesi pengenalan alat musik tradisional gamelan Jawa, dipimpin oleh Anom Antono, seorang pamong budaya ahli muda dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Anom Antono, lahir pada 16 November 1973 di Desa Gabusbanaran, Tembelang, adalah figur yang mewarisi bakat dalang dari ayahnya dan aktif dalam pelestarian budaya lokal. Beliau tidak hanya menjelaskan bentuk dan fungsi gamelan, tetapi juga mengajak sebagian anak-anak untuk langsung memainkan instrumen seperti bonang penerus, kempyang (atau kemul, seperti yang disebutkan), dan lainnya. Pengalaman hands-on ini membuat anak-anak antusias, karena mereka bisa merasakan getaran suara yang harmonis dari alat musik yang telah menjadi bagian integral dari kebudayaan Jawa.
Gamelan Jawa sendiri memiliki sejarah yang kaya, diduga telah dikenal sejak tahun 404 Masehi, seperti yang tergambar pada relief Candi Borobudur. Menurut mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai tanah Jawa, dengan gong sebagai alat pertama untuk memanggil para dewa. Gamelan terdiri dari berbagai instrumen logam seperti gong, kenong, saron, demung, bonang, dan gender, yang dimainkan secara ensemble untuk menciptakan irama laras slendro atau pelog. Fungsinya tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga dalam ritual keagamaan, upacara kerajaan, dan pertunjukan seni seperti wayang. Di Jawa Tengah dan Timur, gamelan sering dikaitkan dengan filosofi kehidupan masyarakat Jawa yang harmonis dan gotong royong. Pengaruh Hindu-Buddha pada abad ke-1 Masehi turut membentuk perkembangannya, di mana gamelan menjadi media penyampaian nilai-nilai moral dan spiritual.
Dalam sesi ini, Anom Antono menjelaskan bahwa gamelan bukan sekadar alat musik, melainkan representasi dari keseimbangan alam dan manusia. Anak-anak diajak memukul bonang penerus, yang berfungsi sebagai pengisi melodi cepat, serta kemul (kempyang), instrumen kecil yang memberikan aksen ritmis. Suara “deng” dan “dung” yang dihasilkan membuat anak-anak terkagum-kagum. Seorang murid TK ABA Mojoagung, misalnya, dengan polos bertanya, “Pak, ini suaranya seperti apa ya kalau dimainkan bareng-bareng?” Anom Antono pun mengajak mereka membayangkan pertunjukan gamelan lengkap, di mana setiap instrumen saling melengkapi, mirip dengan kerjasama dalam masyarakat. Pengenalan ini bertujuan untuk menanamkan rasa bangga terhadap budaya sendiri sejak dini, di tengah maraknya pengaruh musik modern.
Setelah sesi gamelan, acara berlanjut dengan pengenalan alat peraga wayang kulit. Anak-anak diperbolehkan memegang langsung tokoh-tokoh wayang seperti Arjuna, Bima, atau Semar, yang terbuat dari kulit kerbau yang diukir halus. Wayang kulit, sebagai seni tradisional Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2003, memiliki asal-usul sejak zaman Kerajaan Kahuripan di bawah Raja Airlangga (976-1012 M). Catatan tertua ditemukan pada Prasasti Kuti tahun 840 M di Sidoarjo, Jawa Timur. Wayang kulit berkembang pada masa Hindu-Buddha, dengan cerita utama dari epos Mahabharata dan Ramayana, yang disesuaikan dengan nilai-nilai Jawa seperti harmoni antara baik dan jahat.
Dalam pertunjukan wayang kulit, dalang memainkan boneka di balik layar kelir, diterangi blencong (lampu minyak), sambil menyanyi, bercerita, dan mengiringi dengan gamelan. Fungsinya sebagai media dakwah, pendidikan, dan hiburan, di mana tokoh seperti Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) menyampaikan kritik sosial dengan humor. Di acara ini, anak-anak tidak hanya melihat, tapi juga memegang wayang, merasakan tekstur kulit yang tipis namun kuat. Seorang guru TK Muslimat Al-Ashfiya mengatakan, “Anak-anak sangat excited, ini pengalaman pertama mereka menyentuh wayang asli.” Pengenalan ini diharapkan membangkitkan minat generasi muda terhadap seni yang hampir punah di kalangan anak kota.
Selanjutnya, acara diisi dengan sambutan dari Umi Yuli, atau lebih tepat Yuliati Nugrahani Warsubi, istri Bupati Jombang Warsubi. Sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Jombang periode 2025-2030, Umi Yuli dikenal sebagai sosok inspiratif yang aktif memberdayakan perempuan dan UMKM. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya pendidikan budaya sejak dini untuk membentuk karakter anak yang mencintai tanah air. “Pendopo ini milik rakyat, dan melalui acara seperti ini, kita ingin anak-anak merasa dekat dengan warisan leluhur,” ujarnya. Sambutan singkat namun hangat ini disambut tepuk tangan meriah dari hadirin, termasuk guru dan orang tua.
Bagian hiburan berikutnya datang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, yang menampilkan tiga tarian tradisional: tari warok cilik, tari nyi ronggeng, dan tari katumbiri dari Sanggar IJ Art Ploso. Tari warok cilik merupakan variasi dari kesenian warok Ponorogo, yang biasanya melibatkan gerakan bela diri dan tarian perang, seperti dalam reog. Dalam versi cilik ini, anak-anak penari menampilkan keberanian dan ketangguhan, dengan kostum khas warok seperti tali kolor panjang. Tarian ini menggambarkan semangat pemberontakan dan kekuatan budaya Ponorogo, yang sering dikaitkan dengan sejarah perlawanan terhadap penjajah.
Tari nyi ronggeng, atau ronggeng, berasal dari masyarakat Sunda, dengan penari wanita sebagai pusat, dilengkapi selendang. Asal-usulnya dari kisah Dewi Siti Semboja di Keraton Galuh Pakuan Pajajaran, yang melibatkan elemen erotisme dan hiburan rakyat. Di Jawa, ronggeng sering menjadi hiburan dalam acara hajatan seperti khitanan atau pernikahan. Penampilan ini menambah nuansa dinamis, dengan gerakan lincah yang memukau anak-anak.
Tari katumbiri, kreasi baru karya Irawati Durban Ardjo, menggambarkan tujuh bidadari turun ke bumi untuk mandi, dengan pelangi (katumbiri) sebagai jembatan. Penari mengenakan kostum warna-warni, merepresentasikan keindahan alam dan mitos Jawa. Tarian ini bersuka cita, dengan gerakan yang mengalir seperti air terjun, membuat penonton terpesona.
Acara kemudian beralih ke sesi edukasi praktis dari Tim Pemadam Kebakaran Kabupaten Jombang. Mereka mempresentasikan cara penyelamatan dari kebakaran kecil dan besar, serta teknik menjinakkan ular. Demonstrasi ini interaktif, dengan anak-anak diajak mempraktikkan penggunaan alat pemadam api ringan. Guru-guru TK menyatakan bahwa sesi ini sangat bermanfaat, karena mengajarkan keselamatan sejak dini.
Puncak acara adalah room tour mengelilingi ruang kerja Bupati di kompleks pendopo. Peserta, termasuk murid dan guru, merasa senang melihat-lihat ruangan bersejarah, seperti ruang tamu dan kantor bupati. “Ini seperti masuk ke istana!” kata seorang murid dengan mata berbinar. Tour ini memperkuat rasa memiliki atas pendopo sebagai milik rakyat.
Secara keseluruhan, acara “Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua” berhasil menggabungkan edukasi budaya dengan hiburan. Pengenalan wayang kulit dan gamelan tidak hanya menjaga kelestarian seni tradisional, tapi juga membangun generasi yang sadar budaya. Di tengah tantangan modernisasi, inisiatif seperti ini diharapkan terus berlanjut, agar warisan Jawa tetap hidup di hati anak bangsa.


