Pementasan Tari Remo Boletan: Simbol Pelestarian Budaya di Jambore Tim Penggerak PKK Kabupaten Jombang

Pada pagi yang cerah di tengah hiruk-pikuk kegiatan masyarakat Jombang, Hotel Yusro di Jalan Soekarno-Hatta, Desa Keplaksari, Kecamatan Peterongan, menjadi saksi bisu atas sebuah perayaan budaya yang penuh makna. Tanggal 17 September 2025, Jambore Tim Penggerak PKK Kabupaten Jombang resmi dibuka oleh Bupati Jombang Abah Warsubi dengan pementasan seni tari Remo Boletan yang memukau. Dipentaskan oleh 12 anggota Tim Penggerak PKK Kabupaten Jombang, tarian ini bukan sekadar hiburan pembuka, melainkan sebuah pernyataan tegas tentang komitmen pelestarian kesenian daerah di era modern. Di bawah arahan pelatih berbakat Dyah Wahyuningsih, pementasan ini berhasil menyatukan irama gamelan tradisional dengan gerakan dinamis yang mencerminkan jiwa Jombang yang tangguh.

Jambore ini, yang berlangsung selama dua hari hingga 18 September, dihadiri oleh ratusan kader PKK dari berbagai desa dan kecamatan di Kabupaten Jombang. Acara ini bukan hanya forum diskusi tentang pemberdayaan perempuan dan keluarga, tetapi juga wadah untuk memperkuat identitas budaya lokal. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, dalam sambutannya menekankan bahwa pelestarian seni tradisional seperti Tari Remo Boletan adalah bagian integral dari program PKK untuk membangun masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai gotong royong dan kebhinekaan. “Kita bukan hanya kader PKK, kita adalah penjaga warisan leluhur,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah dari peserta.

Tari Remo Boletan, sebagai salah satu ikon kesenian Jombang, telah lama menjadi simbol keramahan dan semangat juang masyarakat setempat. Tarian ini, yang berasal dari tradisi ludruk dan reog Ponorogo, pertama kali diciptakan pada awal abad ke-20 oleh seorang seniman legendaris bernama Bolet. Gerakannya yang patah-patah, disertai hentakan kaki yang menghasilkan suara gerincing khas, serta penggunaan selendang hijau yang melambangkan kesuburan sawah Jombang, membuat pementasan ini terasa begitu autentik. Pada kesempatan ini, tarian tersebut tidak hanya membuka acara, tetapi juga mengajak seluruh hadirin untuk merenungkan pentingnya menjaga akar budaya di tengah arus globalisasi.

Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang pementasan tersebut, mulai dari latar belakang acara, deskripsi detail pertunjukan, peran sentral Dyah Wahyuningsih sebagai pelatih, proses pelatihan yang intensif, hingga makna budaya yang lebih luas. Melalui narasi ini, diharapkan pembaca dapat merasakan getaran irama gamelan dan semangat para penari yang telah berlatih selama tiga bulan penuh. Pementasan tari remo ini bukan akhir dari sebuah cerita, melainkan awal dari gerakan pelestarian yang lebih besar di Jombang.

Latar Belakang Jambore Tim Penggerak PKK Kabupaten Jombang

Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Indonesia telah lama menjadi pilar utama dalam pemberdayaan perempuan dan pembangunan desa. Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, PKK bukan sekadar organisasi formal, melainkan jembatan antara pemerintah daerah dan masyarakat akar rumput. Jambore Tim Penggerak PKK 2025 ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan tahunan yang dirancang untuk memperkuat solidaritas antar-kader. Tema acara tahun ini, “Dari Desa ke Digital: Kader PKK Jombang Bersiap Hadapi Era Teknologi,” mencerminkan adaptasi PKK terhadap tantangan zaman, di mana pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan kemajuan digital.

Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Jombang, yang turut hadir bersama istri dan pejabat daerah lainnya. Lokasi pemilihan Hotel Yusro bukan tanpa alasan; hotel ini terletak di persimpangan strategis antara kota dan pedesaan, melambangkan semangat PKK yang menghubungkan urban dan rural. Jambore ini diikuti oleh lebih dari 300 kader dari 31 kecamatan, termasuk workshop tentang ekonomi kreatif, kesehatan keluarga, dan tentu saja, seni budaya. Pementasan Tari Remo Boletan dipilih sebagai pembuka karena relevansinya dengan identitas Jombang sebagai “Kota Santri” yang kaya akan tradisi seni pertunjukan.

Sejarah PKK di Jombang sendiri patut dicatat. Didirikan sejak era Orde Baru, organisasi ini telah berkontribusi dalam berbagai program sosial, mulai dari posyandu hingga pelatihan UMKM. Pada 2024, Tim Penggerak PKK Jombang sukses menggelar sosialisasi moderasi beragama yang melibatkan Tari Remo Boletan sebagai media rekonsiliasi antar-etnis. Keberhasilan itu menjadi inspirasi bagi jambore tahun ini. Menurut data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Jombang, partisipasi perempuan dalam kegiatan budaya PKK meningkat 25% dalam dua tahun terakhir, menunjukkan betapa seni tradisional menjadi alat pemberdaya yang efektif.

Dalam konteks nasional, jambore serupa diadakan di berbagai daerah untuk merayakan Hari PKK Nasional. Namun, yang membedakan Jombang adalah integrasi seni lokal yang kuat. Tari Remo Boletan, yang populer sejak 1907, sering digunakan dalam acara penyambutan tamu bangsawan di masa kolonial. Kini, tarian itu berevolusi menjadi simbol perjuangan perempuan PKK dalam menjaga harmoni sosial. Dengan latar belakang ini, pementasan hari ini bukan hanya pertunjukan, melainkan manifestasi dari visi PKK untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan.

Deskripsi Pementasan Tari Remo Boletan: Irama yang Menyihir

Pukul 08.30 WIB, panggung utama Hotel Yusro mulai bergemuruh dengan denting gamelan slendro yang khas Jawa Timur. Delapan musisi, mengenakan kain batik sederhana, memainkan kendang, saron, dan bonang dengan ritme yang semakin membara. Lampu sorot menyinari panggung berlapis anyaman bambu, menciptakan suasana pedesaan Jombang yang autentik. Kemudian, munculah 12 penari wanita dari Tim Penggerak PKK, berpakaian kebaya encim berwarna merah marun dengan selendang hijau panjang yang melambangkan sungai Brantas yang subur.

Pementasan tari remo boletan dimulai dengan gerakan pembukaan yang lembut: tangan meliuk-liuk seperti ombak, diikuti hentakan kaki yang menghasilkan suara “gerincing” dari cincin kaki besi. Ini adalah ciri khas Tari Remo Boletan, yang membedakannya dari varian Remo lainnya. Gerakan patah-patah, seperti potongan bambu yang rapuh namun tangguh, mencerminkan perjuangan petani Jombang melawan banjir dan kemiskinan. Penari utama, yang dipimpin oleh seorang kader PKK berusia 45 tahun dari Kecamatan Peterongan, memimpin formasi dengan langkah “nggrogo,” di mana kaki ditekuk sedikit untuk menekankan kekuatan tanah.

Musik gamelan naik tempo saat memasuki bagian inti: “perang sabet,” di mana penari saling “menyerang” dengan selendang, melambangkan pertempuran epik pangeran Jombang melawan penjajah. Suara gong yang menggelegar disusul sorak-sorai penonton, yang mayoritas perempuan berhijab, menambah nuansa gotong royong. Durasi pementasan sekitar 15 menit, tapi terasa seperti perjalanan waktu ke masa ludruk tahun 1920-an, ketika Bolet menciptakan tarian ini untuk grup reog Ponorogo.

Visualnya memukau: selendang hijau beterbangan seperti burung garuda, sementara ekspresi wajah penari penuh semangat—senyum lebar bercampur tatapan tajam yang melambangkan keberanian. Kostum encim, dengan sanggul cepol dan anting-anting emas, menambah keanggunan Jawa. Tidak ada kesalahan gerak; latihan tiga bulan terbukti manjur. Saat akhir, penari berlutut sambil mengucap “monggo” (silakan), mengundang hadirin bergabung dalam tepuk tangan meriah. Bupati Jombang bahkan naik panggung untuk memberikan selendang kehormatan kepada para penari, menyebut pementasan ini sebagai “jiwa Jombang yang tak tergantikan.”

Pementasan ini juga menampilkan elemen kontemporer: di tengah gerakan tradisional, ada sentuhan digital dengan proyeksi video pendek tentang sejarah Bolet di layar belakang. Hal ini selaras dengan tema jambore, menunjukkan bagaimana seni tradisional bisa beradaptasi dengan era digital. Secara keseluruhan, Tari Remo Boletan bukan hanya tarian, tapi narasi hidup tentang ketangguhan perempuan Jombang.

Sosok Penting: Dyah Wahyuningsih, Pelatih Tari Remo yang Menginspirasi

Di balik keberhasilan pementasan ini, ada satu nama yang tak terbantahkan: Dyah Wahyuningsih. Sebagai pelatih tari Remo, Dyah—seperti ia akrab disapa—adalah guru yang telah mendedikasikan hidupnya untuk seni daerah. Lahir dan besar di Jombang, Dyah kini berusia 38 tahun dan aktif mengajar di SDN Karangan 2, Kecamatan Bareng. Di sekolah dasar tersebut, ia tidak hanya mengajarkan matematika dan bahasa Indonesia, tapi juga menyelipkan pelajaran tari tradisional untuk siswa-siswanya. “Anak-anak adalah pewaris budaya; jika tidak diajari sejak dini, warisan ini akan hilang,” katanya dalam wawancara singkat pasca-pementasan.

Dyah mengelola Sanggar Tari Talenta Dance, sebuah kelompok seni yang didirikannya pada 2015 di rumah sederhananya di Desa Karangan. Sanggar ini awalnya hanya melatih 10 anak tetangga, tapi kini menampung lebih dari 50 anggota, termasuk remaja dan dewasa. Fokus utama sanggar adalah Tari Remo Boletan, yang Dyah pelajari dari maestro lokal seperti Adi Putra M.S., seniman yang sering tampil di YouTube. Melalui sanggar, Dyah telah mengirimkan puluhan penari ke festival nasional, termasuk Hari Tari Dunia 2023 di mana gaya Boletan dipresentasikan.

Peran Dyah dalam pementasan ini dimulai ketika Tim Penggerak PKK menghubunginya tiga bulan lalu. Dengan latar belakang pendidikan seni dari Universitas Negeri Malang, Dyah merancang kurikulum pelatihan yang holistik: teknik gerak, irama gamelan, hingga etika panggung. Ia sering menganalogikan Tari Remo sebagai “tarian perjuangan perempuan,” mengingatkan para penari PKK bahwa gerakan patah-patah melambangkan ketabahan ibu rumah tangga. Di luar pekerjaan, Dyah juga aktif dalam komunitas NU Jombang, di mana Tari Remo Boletan digunakan untuk sosialisasi moderasi beragama.

Kehidupan Dyah penuh inspirasi. Sebagai ibu dua anak, ia menyeimbangkan tugas mengajar, melatih, dan mengurus rumah. “PKK adalah saudara saya; mereka seperti murid-murid saya yang dewasa,” ujarnya sambil tertawa. Kontribusinya diakui oleh Dinas Pariwisata Jombang, yang pernah menominasikannya sebagai tokoh pelestarian budaya. Dyah bukan hanya pelatih, tapi juga katalisator perubahan, membuktikan bahwa guru desa bisa menjadi bintang panggung budaya.

Proses Pelatihan: Tiga Bulan Penuh Keringat dan Semangat

Persiapan pementasan tari remo boletan ini adalah cerita tentang dedikasi. Dimulai pada Juni 2025, Dyah Wahyuningsih merekrut 12 anggota Tim Penggerak PKK dari berbagai kecamatan: empat dari Peterongan, tiga dari Bareng, dan sisanya dari Ploso, Diwek, dan Wonkolil. Mayoritas berusia 30-50 tahun, dengan latar belakang sebagai ibu rumah tangga atau petani. “Mereka belum pernah menari sebelumnya, tapi semangatnya luar biasa,” cerita Dyah.

Pelatihan diadakan tiga kali seminggu di gedung pertemuan Dharma Wanita Kabupaten Jombang, selama dua jam per sesi. Minggu pertama fokus pada dasar: posisi kaki “soco” dan tangan “sringgit.” Dyah menggunakan metode “multiple representation,” menggabungkan demonstrasi visual, audio gamelan, dan latihan kinestetik. Tantangan utama adalah koordinasi: hentakan kaki harus sinkron untuk suara gerincing yang merata. “Bayangkan kalian sedang menumbuk padi; ritme itu dari hati,” motivasi Dyah.

Bulan kedua, intensitas naik. Latihan malam hari di sanggar Talenta Dance melibatkan kostum dan selendang. Dyah mengintegrasikan cerita sejarah Bolet untuk membangun emosi: “Setiap gerak adalah perjuangan leluhur.” Ada momen lucu ketika seorang penari tersandung selendang, tapi Dyah mengubahnya menjadi pelajaran tentang fleksibilitas. Dukungan dari suami dan keluarga penari menjadi kunci; PKK menyediakan transportasi untuk yang jauh.

Bulan ketiga adalah polishing: rekaman video untuk koreksi, dan simulasi panggung. Dyah bahkan mengajak musisi gamelan lokal untuk latihan live. Total, 36 sesi pelatihan menghasilkan transformasi: dari pemula menjadi penari profesional. “Ini bukan tentang sempurna, tapi tentang kebersamaan,” tutup Dyah. Proses ini membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa dimulai dari usia berapa pun, asal ada kemauan.

Makna Budaya dan Pelestarian Kesenian Daerah Jombang

Tari Remo Boletan lebih dari sekadar gerakan; ia adalah cerminan identitas Jombang. Sebagai kota dengan populasi mayoritas santri, Jombang sering dikaitkan dengan pesantren seperti Tebuireng. Namun, di balik itu, ada warisan seni ludruk yang hidup. Tarian ini, yang menceritakan perjuangan pangeran dalam medan laga, melambangkan semangat juang melawan kolonialisme. Selendang hijau, misalnya, merepresentasikan ladang tembakau dan padi yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Dalam konteks PKK, pementasan ini memperkuat peran perempuan sebagai penjaga budaya. Di era Gen Z, di mana TikTok mendominasi, Tari Remo Boletan tetap eksis berkat inisiatif seperti ini. Seperti yang dicatat dalam artikel Netral News (2023), tarian ini “tetap eksis meski di era Gen Z” karena kemampuannya beradaptasi—dari panggung tradisional ke video viral. Di Jombang, ia juga berfungsi merekatkan etnis, seperti dalam sosialisasi NU pada 2024.

Pelestarian ini krusial karena ancaman globalisasi: survei Dinas Kebudayaan Jombang menunjukkan penurunan minat anak muda terhadap seni tradisional sebesar 15% per tahun. Jambore PKK menjadi antidote, dengan rencana workshop tari untuk kader muda. Secara lebih luas, ini selaras dengan Undang-Undang Kebudayaan No. 5 Tahun 2017, yang mewajibkan pemerintah daerah melestarikan warisan takbenda. Pementasan hari ini adalah langkah konkret, menginspirasi desa-desa lain untuk mengadopsi model serupa.

Respons Peserta dan Dampak Jangka Panjang

Respons hadirin luar biasa: “Ini membuat saya bangga jadi orang Jombang,” kata seorang kader dari Diwek. Media lokal seperti Jombang.tv meliput luas, memprediksi peningkatan partisipasi seni di PKK. Dampaknya? Diperkirakan 20% kader akan membentuk kelompok tari desa, memperluas jejaring pelestarian.

Kesimpulan: Warisan yang Hidup

Pementasan Tari Remo Boletan di Jambore PKK Jombang 2025 adalah bukti bahwa budaya daerah tak pernah pudar jika dirawat dengan cinta. Terima kasih kepada Dyah Wahyuningsih dan timnya—mereka telah menyalakan obor pelestarian. Semoga semangat ini menyebar, menjadikan Jombang kota budaya yang abadi.

Tinggalkan komentar