Sekar Kapungkur: Konser Karawitan dan Diskusi Sejarah di Jombang, Melestarikan Gending Jawa Kuno yang Jarang Terdengar

Pada Jumat, 10 April 2026, pukul 18.00 WIB, Gedung Kesenian Jombang akan menjadi saksi hidup kebangkitan warisan budaya Jawa yang semakin langka. Konser Karawitan bertajuk “Sekar Kapungkur” menghadirkan konser karawitan sekaligus diskusi sejarah yang sepenuhnya gratis. Tema “Sekar Kapungkur” (Bunga Masa Lalu) mengandung makna mendalam: melestarikan gending-gending Jawa kuno yang jarang diperdengarkan lagi di era modern. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, dengan dukungan berbagai tagar seperti #PendidikanBermutuUntukSemua dan #BanggaMelayaniBangsa, serta semangat BerAKHLAK dari Pemkab Jombang.

Konser Karawitan akan dimainkan oleh Kelompok Seniman Karawitan Laras Padhang Bulan pimpinan Bapak Waras dari Cupak Ngusikan, Jombang. Kelompok ini dikenal sebagai pelestari setia tradisi karawitan di wilayah Jawa Timur. Mereka akan membawakan 13 gending pilihan yang mencampurkan nuansa Jawa Tengah dan Jawa Timur, mencerminkan kekayaan lintas regional yang sering terlupakan. Daftar gending yang akan dimainkan, sesuai flyer resmi acara, adalah sebagai berikut:

  1. Patalon
  2. Kutut Manggung
  3. Sekar Pangkur
  4. Mijil Kethoprak
  5. Ulerkambang
  6. Sinom Parijatha
  7. Glathik Glindhing
  8. Ibu Pertiwi
  9. Luwung
  10. Samirah
  11. Jula-Juli
  12. Gunungsari
  13. Sapu Jagat

Setelah konser, akan digelar Diskusi Sejarah yang dipimpin oleh Komunitas Pelestari Sejarah Jombang (Kompas Jombang). Komunitas ini aktif mendokumentasikan jejak sejarah lokal, termasuk situs-situs kuno dan tokoh nasional seperti Bung Karno yang pernah menghabiskan masa kecil di Jombang. Diskusi ini akan membahas nilai historis gending-gending tersebut dalam konteks pelestarian budaya Jawa di tengah arus modernisasi. Pemesanan kursi gratis dapat dilakukan melalui nomor 0852-5999-0852, dengan kuota terbatas.

Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan gerakan pelestarian. Di tengah banjir musik digital dan campursari kontemporer, “Sekar Kapungkur” mengajak masyarakat kembali ke akar: mendengar gending-gending yang pernah mengiringi upacara adat, wayang kulit, dan kehidupan keraton Mataram ratusan tahun silam.

Sekar Kapungkur: Konser Karawitan dan Diskusi Budaya di Jombang, Melestarikan Gending Jawa Kuno yang Jarang Terdengar
Sekar Kapungkur: Konser Karawitan dan Diskusi Budaya di Jombang, Melestarikan Gending Jawa Kuno yang Jarang Terdengar

 

Pengertian Karawitan dan Makna “Sekar Kapungkur”

Karawitan adalah seni musik gamelan Jawa yang menggabungkan instrumen perkusi seperti gong ageng, kenong, kempul, bonang, saron, gender, gambang, kendhang, dan suling, serta vokal pesinden. Kata “karawitan” berasal dari “rawit” yang berarti halus atau detail, mencerminkan kehalusan teknik tabuhan dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Gending karawitan bukan sekadar irama; ia menyimpan nilai-nilai falsafah Jawa seperti keselarasan, kesabaran, dan penghayatan alam semesta.

“Sekar Kapungkur” secara harfiah berarti “bunga masa lalu”. Dalam tradisi Jawa, “sekar” sering merujuk pada tembang macapat, puisi berirama yang dinyanyikan dengan pola bait dan guru lagu (jumlah suku kata) yang ketat. Gending-gending ini lahir di era kerajaan Mataram, sebelum pengaruh kolonial dan modernisasi musik. Banyak di antaranya jarang dimainkan karena membutuhkan pengrawit terlatih dan pemahaman mendalam tentang pathet (skala emosional gamelan: manyura, sanga, nem). Konser ini memilih gending Jawa Tengah (lebih halus, introspektif) dan Jawa Timur (lebih dinamis, ekspresif), menunjukkan bahwa warisan Jawa bukan monolitik, melainkan beragam sesuai wilayah. Gong ageng besar yang megah, kendhang yang siap ditabuh, bonang barung dan panerus yang berkilauan, serta mikrofon untuk pesinden. Semua elemen ini mengingatkan pada suasana klenengan tradisional di pendopo keraton atau ruang adat desa.

Perbedaan Gending Karawitan Jawa Tengah dan Jawa Timur

Karawitan Jawa Tengah (gaya Surakarta/Solo dan Yogyakarta) dan Jawa Timur (gaya Jawa Timuran, termasuk Surabaya, Jombang, dan sekitarnya) memiliki akar yang sama dari Kerajaan Mataram, namun berkembang berbeda setelah Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Mataram menjadi dua kerajaan. Perbedaan ini muncul karena faktor geografis, sosial, dan pengaruh budaya lokal.

1. Karakteristik Musik dan Tempo Gending Jawa Tengah cenderung halus (alus), lambat, dan kontemplatif. Irama stabil, fokus pada harmoni seimbang antar instrumen, serta repetisi pola yang membangun suasana meditatif. Pathet (mode) digunakan secara ketat untuk menyampaikan emosi: slendro manyura untuk riang, pelog nem untuk sedih. Contoh: gending seperti Ladrang atau Ketawang sering dimainkan dengan dinamika pelan, cocok untuk wayang kulit purwa yang panjang dan filosofis.

Sebaliknya, karawitan Jawa Timur lebih dinamis, ekspresif, dan fleksibel. Tempo lebih cepat, dinamika kuat, serta suara instrumen lebih nyaring dan bertenaga. Improvisasi pengrawit lebih bebas, terutama dalam transisi suluk (nyanyian dalang) dan gending. Ini dipengaruhi oleh budaya ludruk, wayang Jawa Timuran (gagrak Trowulanan), dan pengaruh masyarakat agraris yang lebih “gagah” serta energik. Gending Jawa Timur sering menggunakan ornamentasi kaya, variasi nada, dan intensitas emosional untuk menggambarkan konflik adegan yang hidup. Hasilnya, penampilan terasa lebih “hidup” dan adaptif terhadap konteks pertunjukan.

2. Instrumen dan Teknik Tabuhan Meski instrumen dasar sama (gong, kendhang, bonang, dll.), teknik tabuhan berbeda. Di Jawa Tengah, tabuhan lebih presisi, halus, dan terkendali, seperti suling yang melengking lembut atau gender yang bergetar panjang. Gamelan Solo dan Yogya sering lebih kecil ukurannya dengan ukiran rumit.

Di Jawa Timur, tabuhan lebih keras dan bertenaga, dengan penekanan pada kendhang yang dominan untuk ritme cepat. Suara bonang dan saron lebih “nyaring”, menciptakan efek resonansi yang kuat. Gaya ini cocok untuk pertunjukan outdoor atau ludruk yang membutuhkan energi tinggi.

3. Fungsi dan Konteks Sosial Gending Jawa Tengah dominan di keraton, digunakan untuk upacara sakral, wayang kulit halus, dan klenengan malam yang tenang. Ia merepresentasikan nilai “kehalusan budi”.

Gending Jawa Timur berkembang di kalangan rakyat, mengiringi ludruk, tayuban, atau acara desa. Ia lebih inklusif, menggabungkan elemen lokal seperti pengaruh Madura atau Bali ringan, sehingga terasa lebih “rakyat” dan merakyat.

4. Contoh Perbedaan dalam Praktik Sebuah gending seperti Sekar Pangkur di Jawa Tengah dimainkan pelan dengan vokal lembut, sementara di Jawa Timur bisa dipercepat dengan improvisasi kendhang yang lebih gagah. Konser “Sekar Kapungkur” sengaja memadukan keduanya untuk menunjukkan kekayaan Jawa yang utuh: halus sekaligus dinamis.

Perbedaan ini bukan pertentangan, melainkan kekayaan. Seperti yang dijelaskan dalam studi karawitan Jawa Timuran, gaya Timur menekankan fleksibilitas dan emosi, sementara Tengah menjaga struktur dan keseimbangan, dua sisi yang saling melengkapi dalam pelestarian budaya nasional.

"Warung Pojok Kebon Rojo" di Desa Tanjung Wadung, Kecamatan Kabuh, Jombang, merujuk pada kegiatan dialog interaktif yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang pada 19 Agustus 2025. Ini bukan sebuah warung makan permanen, melainkan sebuah forum komunikasi yang diadakan di Balai Desa Tanjung Wadung.
“Warung Pojok Kebon Rojo” di Desa Tanjung Wadung, Kecamatan Kabuh, Jombang, merujuk pada kegiatan dialog interaktif yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang pada 19 Agustus 2025. Ini bukan sebuah warung makan permanen, melainkan sebuah forum komunikasi yang diadakan di Balai Desa Tanjung Wadung.

 

Daftar Nama Gending Sekar Lama Sebelum Era Waljinah

Era Waljinah (1950-an hingga 1990-an) menandai popularisasi langgam Jawa dan keroncong Jawa melalui rekaman massal. Sebagai “Ratu Keroncong”, Waljinah (asal Solo) membawakan ribuan lagu seperti Walang Kekek, Anoman Obong, dan adaptasi macapat ke format populer. Sebelum era ini (pra-1950), gending sekar murni tradisional, digunakan di keraton, desa, dan upacara tanpa pengaruh rekaman komersial. Berikut daftar gending sekar/macapat klasik kuno yang menjadi inspirasi “Sekar Kapungkur”:

Sekar Ageng/Macapat Klasik Utama:

  1. Maskumambang
  2. Mijil
  3. Kinanthi
  4. Asmarandana
  5. Dandanggula
  6. Durma
  7. Pangkur
  8. Sinom
  9. Gambuh
  10. Megatruh

Gending Sekar Spesifik Kuno (pra-modern):

  • Patalon (pembuka klasik)
  • Kutut Manggung
  • Sekar Pangkur
  • Mijil Kethoprak
  • Ulerkambang
  • Sinom Parijatha
  • Glathik Glindhing
  • Luwung
  • Samirah
  • Jula-Juli
  • Gunungsari
  • Sapu Jagat
  • Ibu Pertiwi (versi tradisional)
  • Asmorodono
  • Palaran
  • Lancaran
  • Ketawang
  • Ladrang
  • Srepegan
  • Ayak-ayakan

Gending-gending ini berasal dari sastra Jawa kuno seperti Serat Wedhatama atau Serat Centhini, dengan struktur bait yang sarat makna filosofis. Sebelum Waljinah, mereka dimainkan hanya secara lisan di pendopo atau sanggar keraton, tanpa mikrofon atau rekaman.

Profil Pelaku Acara dan Signifikansi di Jombang

Kelompok Laras Padhang Bulan di bawah pimpinan Bapak Waras telah puluhan tahun melestarikan karawitan di Cupak Ngusikan. Mereka menguasai teknik tabuhan Jawa Timur sekaligus gaya Tengah, menjadikan penampilan mereka autentik dan mendalam.

Kompas Jombang sebagai pemimpin diskusi akan menghubungkan gending dengan sejarah lokal: dari pengaruh Majapahit hingga masa perjuangan kemerdekaan. Jombang, sebagai “Kota Santri”, memiliki warisan wayang, ludruk, dan karawitan yang kaya, yang kini terancam modernisasi.

Di era globalisasi, “Sekar Kapungkur” adalah benteng terakhir pelestarian. Dengan memadukan konser dan diskusi, acara ini tidak hanya menghibur tapi mendidik: mengajak generasi muda memahami bahwa gending Jawa adalah identitas bangsa. Gratis dan terbuka untuk umum, ia mengajak semua lapisan masyarakat hadir di Gedung Kesenian Jombang pada 10 April 2026.

Mari datang, dengar, dan hayati. Karena melestarikan “sekar kapungkur” berarti menjaga jiwa Jawa untuk masa depan. Acara ini membuktikan bahwa budaya bukan museum mati, melainkan nyawa yang terus berdetak, sehalus kendhang, segagah gong ageng.

Tinggalkan komentar