Di tengah hamparan sawah dan perkampungan di Desa Dukuhdimoro, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, terdapat sebuah situs bersejarah yang menyimpan misteri masa lalu: Watukucur. Situs ini adalah peninggalan dari era Mataram Kuno, sebuah kerajaan yang berpengaruh dalam sejarah Nusantara pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Watukucur bukan sekadar tumpukan batu bata kuno; ia adalah saksi bisu peradaban yang pernah berkembang di wilayah ini, mencerminkan kekayaan budaya dan spiritualitas pada zamannya.
Sebagai salah satu situs arkeologi yang kurang dikenal dibandingkan candi-candi besar seperti Borobudur atau Prambanan, Watukucur memiliki keunikan tersendiri. Penemuannya pada tahun 1981 membuka lembaran baru dalam kajian sejarah Jawa Timur, khususnya di Jombang. Namun, situs ini pernah menjadi sasaran pemburu harta karun, yang tidak hanya merusak integritas strukturalnya tetapi juga menghilangkan artefak berharga yang bisa memberikan petunjuk lebih lanjut tentang fungsi dan makna situs ini.
Artikel ini akan mengupas tuntas tentang Watukucur Mojoagung, mulai dari perkiraan waktu pembuatannya, tujuan didirikannya situs ini, hingga upaya-upaya pelestarian yang telah dan sedang dilakukan. Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran mendalam tentang warisan budaya ini serta tantangan yang dihadapi dalam menjaganya.
Kapan Watukucur Mojoagung Dibuat?
Untuk memahami kapan Watukucur Mojoagung dibuat, kita perlu melihat konteks sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Mataram Kuno, yang berpusat di Jawa Tengah, adalah kerajaan yang berkembang antara abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Kerajaan ini dikenal karena pengaruhnya yang kuat dalam penyebaran agama Hindu-Buddha di Nusantara, serta pembangunan candi-candi megah yang menjadi bukti kejayaannya.
Berdasarkan penelitian arkeologi, Watukucur diperkirakan dibangun pada masa Mataram Kuno, kemungkinan besar antara abad ke-9 hingga ke-10 Masehi. Penetapan ini didasarkan pada gaya arsitektur dan teknik pembuatan yang mirip dengan situs-situs sezaman di Jawa Tengah. Misalnya, penggunaan bata merah sebagai material utama adalah ciri khas bangunan dari periode tersebut, sebagaimana terlihat pada candi-candi seperti Sewu dan Plaosan.
Pada tahun 2017, penelitian lebih lanjut mengungkap bahwa denah Watukucur berbentuk bujur sangkar dengan tiga lapisan yang semakin ke dalam semakin memusat. Lapisan terluar berukuran 11,6 meter x 11,5 meter, lapisan kedua 7,5 meter x 7,5 meter, dan lapisan ketiga 3,5 meter x 3,5 meter. Struktur ini menyerupai mandala, sebuah pola geometris yang sering digunakan dalam arsitektur sakral Hindu-Buddha untuk merepresentasikan kosmos. Keberadaan sumuran di lapisan ketiga, yang berukuran 2,4 meter x 2,4 meter dengan kedalaman 118 sentimeter, menambah dugaan bahwa situs ini memiliki fungsi ritual.
Meskipun tidak ada prasasti atau catatan tertulis yang ditemukan di Watukucur yang dapat memberikan tanggal pasti pembuatannya, para arkeolog meyakini bahwa situs ini merupakan bagian dari jaringan candi atau tempat suci yang dibangun pada masa Mataram Kuno. Periode ini ditandai dengan aktivitas pembangunan yang intensif, terutama di bawah pemerintahan raja-raja seperti Rakai Pikatan dan Balitung, yang dikenal sebagai pelindung agama dan budaya.
Penemuan Watukucur pada tahun 1981 di tanah milik warga bernama Setyo Budi di Desa Dukuhdimoro menjadi titik awal penelitian modern tentang situs ini. Sejak saat itu, berbagai studi arkeologi telah dilakukan untuk memahami asal-usulnya. Struktur bata merah yang ditemukan menunjukkan teknologi konstruksi yang konsisten dengan periode Mataram Kuno, sementara pola tiga lapisan memperkuat hipotesis bahwa situs ini dibangun pada puncak kejayaan kerajaan tersebut.
Namun, karena keterbatasan bukti langsung seperti inskripsi atau artefak bertanggal, perkiraan waktu pembuatan Watukucur tetap bersifat tentatif. Para ahli terus mengandalkan perbandingan dengan situs-situs lain dari periode yang sama untuk menyempurnakan pemahaman tentang asal-usulnya.
Tujuan Pembuatan Watukucur Mojoagung
Tujuan utama pembuatan Watukucur Mojoagung kemungkinan besar adalah untuk keperluan keagamaan. Keberadaan yoni, sebuah artefak yang melambangkan dewi Shakti dalam tradisi Hindu, menunjukkan bahwa situs ini mungkin merupakan tempat pemujaan atau candi Hindu. Yoni biasanya dipasangkan dengan lingga, simbol dewa Siwa, meskipun lingga tidak ditemukan di situs ini—kemungkinan besar akibat kerusakan atau pencurian oleh pemburu harta karun.
Selain fungsi keagamaan, Watukucur juga mungkin memiliki peran dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat. Dalam kerajaan Mataram Kuno, candi dan tempat suci tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemujaan tetapi juga sebagai pusat kegiatan komunitas, seperti upacara adat, pendidikan, dan pertemuan sosial. Struktur Watukucur yang berlapis-lapis dan sumuran di tengahnya mengindikasikan bahwa situs ini dirancang untuk ritual tertentu, mungkin terkait dengan kesuburan atau pemujaan leluhur.
Dari perspektif historis, pembangunan Watukucur bisa jadi merupakan bagian dari upaya kerajaan Mataram Kuno untuk memperluas pengaruhnya ke wilayah timur Jawa. Jombang, yang terletak di jalur strategis antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, kemungkinan menjadi titik penting dalam ekspansi kerajaan. Dengan mendirikan tempat suci di daerah ini, kerajaan dapat memperkuat kontrolnya atas wilayah tersebut sekaligus menyebarkan ajaran agama Hindu-Buddha.
Keberadaan yoni dan fondasi batu yang ditemukan di situs ini memperkuat dugaan bahwa Watukucur adalah tempat sakral. Dalam tradisi Hindu, yoni sering dikaitkan dengan ritual kesuburan dan pemujaan terhadap kekuatan alam, yang merupakan aspek penting dalam kehidupan agraris masyarakat Jawa kuno. Sumuran di pusat situs mungkin digunakan untuk menyimpan air suci atau sebagai bagian dari upacara persembahan.
Namun, karena keterbatasan data arkeologi dan sejarah, tujuan pasti pembuatan Watukucur masih menjadi teka-teki. Tidak adanya lingga atau artefak lain yang biasanya menyertai yoni membuat interpretasi menjadi lebih sulit. Penelitian lebih lanjut, termasuk ekskavasi yang lebih mendalam, diperlukan untuk mengungkap fungsi sebenarnya dari situs ini. Meskipun demikian, keberadaannya memberikan bukti penting tentang penyebaran budaya dan agama pada masa Mataram Kuno di luar pusat kerajaan.
Watukucur juga mencerminkan kecerdasan arsitektur masyarakat Mataram Kuno. Pola mandala yang terlihat pada denah situs menunjukkan pemahaman mendalam tentang simbolisme kosmik, yang merupakan ciri khas bangunan religius pada masa itu. Dengan demikian, Watukucur tidak hanya memiliki nilai spiritual tetapi juga intelektual, sebagai representasi dari pencapaian budaya masyarakat Jawa kuno.
Upaya Pelestarian Watukucur Mojoagung
Pelestarian Watukucur Mojoagung merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat lokal, dan pihak-pihak yang peduli terhadap warisan budaya. Di Indonesia, upaya pelestarian situs dan artefak bersejarah diatur melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menetapkan bahwa benda-benda seperti Watukucur yang memiliki nilai sejarah, budaya, atau ilmiah harus dilindungi dan dikelola dengan baik.
Konservasi Fisik
Upaya pelestarian Watukucur dimulai sejak penemuannya pada tahun 1981. Sejak saat itu, berbagai kegiatan konservasi fisik telah dilakukan untuk menjaga integritas struktural situs. Pada tahun 2017, penelitian arkeologi berhasil memetakan denah situs, yang menjadi dasar bagi upaya restorasi dan rekonstruksi. Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, yang bertanggung jawab atas pelestarian cagar budaya di wilayah tersebut, telah melakukan ekskavasi dan penyelamatan situs sejak tahun 2023, dengan kegiatan terbaru dimulai pada 11 Oktober 2023.
Salah satu tantangan utama dalam konservasi fisik adalah kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, khususnya oleh para pemburu harta karun. Situs ini pernah menjadi sasaran pencarian harta karun, yang mengakibatkan kerusakan pada struktur bata dan hilangnya artefak penting. Untuk mencegah hal ini, pemerintah telah memasang pagar pembatas dan menempatkan penjaga keamanan di sekitar situs.
Faktor lingkungan seperti hujan dan angin juga berkontribusi terhadap erosi dan kerusakan bata. Tim konservasi secara rutin melakukan pembersihan dan pemeliharaan untuk menghilangkan lumut dan kotoran yang dapat merusak permukaan bata. Teknik modern seperti penggunaan pelapis pelindung juga diterapkan untuk melindungi bata dari kerusakan lebih lanjut.
Ekskavasi yang dilakukan oleh BPK Wilayah XI Jawa Timur bertujuan untuk menggali lebih banyak informasi tentang situs ini sekaligus memastikan bahwa struktur yang tersisa dapat dipertahankan. Proses ini melibatkan arkeolog, insinyur, dan tenaga ahli lainnya yang bekerja sama untuk mendokumentasikan temuan dan merancang strategi pelestarian jangka panjang.
Pelestarian Budaya
Di samping konservasi fisik, pelestarian budaya juga menjadi aspek penting dalam menjaga Watukucur. Masyarakat lokal di Desa Dukuhdimoro memainkan peran krusial dalam upaya ini. Melalui program edukasi, generasi muda diajarkan tentang sejarah dan pentingnya situs ini, sehingga mereka dapat tumbuh dengan rasa bangga dan tanggung jawab terhadap warisan budaya mereka.
Festival budaya tahunan diadakan di sekitar situs Watukucur, yang melibatkan ritual tradisional, tarian, dan musik yang terinspirasi oleh budaya Jawa Kuno. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal tetapi juga menarik wisatawan, yang pada gilirannya dapat mendukung ekonomi setempat dan membiayai upaya pelestarian. Promosi situs ini sebagai destinasi wisata budaya juga membantu meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga warisan sejarah.
Tantangan dalam Pelestarian
Meskipun banyak upaya telah dilakukan, pelestarian Watukucur tidak lepas dari tantangan. Lokasi situs yang berada di daerah pedesaan menyulitkan akses dan pengawasan, sehingga meningkatkan risiko kerusakan atau pencurian. Selain itu, anggaran untuk pelestarian sering kali terbatas, mengingat prioritas pembangunan di daerah tersebut lebih condong pada infrastruktur dan ekonomi.
Perubahan iklim juga menjadi ancaman serius. Curah hujan yang tinggi dan cuaca ekstrem dapat mempercepat erosi dan kerusakan struktural. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan strategi jangka panjang yang melibatkan teknologi konservasi canggih, seperti penggunaan material pelindung yang tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem, serta partisipasi aktif dari masyarakat.
Peran Pemerintah dan Komunitas
Pemerintah Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan dan BPK Wilayah XI Jawa Timur, terus mendukung upaya pelestarian Watukucur. Kolaborasi dengan organisasi non-pemerintah dan lembaga internasional juga dapat membantu dalam hal pertukaran pengetahuan dan teknologi konservasi. Misalnya, pelatihan bagi petugas lokal tentang teknik pelestarian modern dapat meningkatkan efektivitas upaya ini.
Di sisi lain, komunitas lokal memiliki peran yang tak kalah penting. Mereka adalah penjaga pertama situs ini, yang hidup berdampingan dengan Watukucur dan memahami nilai budayanya secara mendalam. Dengan melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang pelestarian—misalnya melalui musyawarah desa atau program pelatihan—rasa memiliki terhadap warisan ini dapat diperkuat, memastikan bahwa upaya pelestarian tidak hanya datang dari atas tetapi juga dari akar rumput.
Kesimpulan
Watukucur Mojoagung adalah warisan berharga yang mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya Indonesia. Dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno antara abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, situs ini kemungkinan besar berfungsi sebagai tempat pemujaan atau candi Hindu, sebagaimana ditunjukkan oleh keberadaan yoni dan struktur berlapisnya. Upaya pelestarian yang meliputi konservasi fisik, edukasi budaya, dan promosi pariwisata menunjukkan komitmen untuk menjaga artefak ini tetap lestari.
Namun, tantangan seperti kerusakan akibat aktivitas manusia, perubahan iklim, dan keterbatasan dana tetap menjadi hambatan yang harus diatasi. Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, Watukucur Mojoagung dapat terus bertahan sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia. Pelestarian situs ini bukan hanya tentang menjaga sebuah struktur bata, tetapi juga tentang menghormati warisan leluhur dan memastikan bahwa generasi mendatang dapat belajar dari serta mengapresiasi masa lalu mereka.
Referensi:
- Situs Watukucur ditemukan di tanah milik warga bernama Setyo Budi di Desa Dukuhdimoro, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang pada tahun 1981.
- Pada tahun 2017 diketahui denah Situs Watukucur berbentuk bujur sangkar, terdiri dari tiga lapisan yang semakin ke dalam semakin memusat.
- Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur melakukan ekskavasi/penyelamatan Situs Watukucur sejak Rabu, 11 Oktober 2023.
- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang (2025)


