Nadhoman merupakan salah satu tradisi lisan dan seni puisi rakyat yang sangat khas di kalangan kaum santri Jawa, khususnya di pesantren-pesantren Kabupaten Jombang. Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Nadhoman adalah metode pembelajaran kitab kuning (kitab-kitab klasik berbahasa Arab) dengan cara melantunkan syair atau nadhom yang telah disusun secara rapi dan sistematis. Ibaratnya, nadhoman menjadi jembatan yang menyenangkan untuk menghafal dan memahami ilmu agama Islam, mengubah proses belajar yang berat menjadi pengalaman yang merdu, ritmis, dan mudah diingat.
Sebagai bentuk puisi rakyat pesantren, nadhoman bukan sekadar hafalan kaku, melainkan perpaduan indah antara sastra, musik, dan pendidikan agama. Santri melantunkannya dengan irama khas, kadang diiringi tepukan tangan, alat sederhana seperti galon, ember, dan gayung, atau bahkan gamelan dalam acara besar. Tradisi ini mencerminkan kearifan lokal Jawa santri yang menggabungkan nilai keislaman dengan seni budaya Nusantara, membuat ilmu agama tidak lagi terasa asing atau membosankan bagi generasi muda.
Di Jombang, yang dikenal sebagai “kota santri” dengan ratusan pesantren besar seperti Bahrul Ulum Tambakberas, Tebuireng, Fathul Ulum, At-Tahdzib Ngoro, dan banyak lagi, nadhoman telah menjadi bagian hidup sehari-hari kaum santri. Dari pagi hingga malam, suara nadhom bergema di ruang kelas, asrama, atau aula pesantren, membentuk atmosfer spiritual yang khas.
Sejarah dan Asal-Usul Nadhoman di Pesantren Jawa
Akar nadhoman dapat ditelusuri pada tradisi pembelajaran di pesantren-pesantren Jawa sejak abad ke-19, ketika kitab kuning menjadi pondasi pendidikan Islam tradisional. Kitab-kitab seperti Aqidatul Awam (tentang akidah), Alfiyah Ibnu Malik (tata bahasa Arab/Nahwu-Shorof), Imrithi atau Jurumiyah (dasar nahwu), dan kitab-kitab fiqih atau tasawuf lainnya sering digubah dalam bentuk nadhom (syair berirama) agar mudah dihafal.
Metode ini mirip dengan tradisi “sorogan” atau “bandongan”, tetapi nadhoman menambahkan elemen seni lantunan. Di Jombang, pesantren seperti Bahrul Ulum Tambakberas (didirikan sekitar 1838 oleh KH. Abdus Salam atau Mbah Shoichah) menjadi pusat perkembangan tradisi ini. Pesantren-pesantren besar di Jombang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga melestarikan seni pesantren, termasuk nadhoman, sebagai bagian dari identitas “santri Jawa”.
Pengaruh Wali Songo dan ulama Nusantara membuat nadhoman berkembang dengan nuansa lokal. Bahasa Arab yang digunakan sering dicampur dengan Jawa Pegon (Arab gundul) atau dijelaskan dalam bahasa Jawa, sehingga santri dari kalangan rakyat biasa pun mudah memahaminya. Nadhoman menjadi alat dakwah sekaligus pendidikan, karena syairnya sarat makna moral, akidah, dan hukum Islam.
Pada era modern, nadhoman semakin populer melalui lomba-lomba. Di Jombang, setiap Hari Santri Nasional, Santri Fest, atau acara haul pesantren, ratusan siswa SD/MI hingga santri dewasa tampil dalam kreasi nadhom atau lalaran nadhom. Mereka mengemas nadhom klasik dengan aransemen modern, iringan musik dapur (galon, ember, gayung), atau bahkan koreografi massal, membuat tradisi ini tetap hidup dan menarik bagi generasi muda.
Struktur dan Ciri-Ciri Nadhoman sebagai Puisi Rakyat
Nadhoman termasuk puisi rakyat karena diciptakan dan diwariskan secara lisan di kalangan masyarakat santri, bukan elit istana. Ciri utamanya:
- Bentuk Syair: Terdiri dari bait-bait dengan pola qafiyah (rima) yang konsisten, biasanya dalam bahasa Arab fushah atau campuran.
- Irama dan Lantunan: Dilagukan dengan nada khas pesantren (bukan lagu pop), sering berirama lambat untuk hafalan atau cepat dan riang untuk kreasi.
- Fungsi Didaktis: Setiap bait mengandung penjelasan ilmu agama secara ringkas. Misalnya, nadhom Aqidatul Awam menjelaskan rukun iman dan Islam secara sistematis.
- Adaptasi Lokal: Di Jombang, nadhoman sering dikreasikan dengan sentuhan Jawa, seperti penjelasan terjemahan atau plesetan lucu untuk menghibur.
Contoh nadhom yang sangat populer di pesantren Jombang adalah Aqidatul Awam karya Ahmad al-Marzuqi. Nadhom ini berisi pokok-pokok akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Santri melantunkannya secara berjamaah, dan sering diperlombakan dengan kreasi unik.
Contoh potongan sederhana nadhom Aqidatul Awam (dalam transliterasi):
Aqidatul ‘awam muqarrarun ‘indana Wa hiya ‘aqidatu ahlis sunnati wal jama’ah…
Terjemahan bebas: Akidah awam yang telah ditetapkan di kalangan kita, yaitu akidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Dalam praktik, santri melantunkannya berulang-ulang sambil berjalan atau duduk melingkar, sehingga hafalan menjadi otomatis.
Nadhom lain yang sering dibawakan:
- Alfiyah Ibnu Malik (1000 bait tentang nahwu dan sharaf), hafalan berat yang diubah menjadi nyanyian merdu.
- Imrithi atau Jurumiyah, dasar tata bahasa Arab.
- Nadhom fiqih, seperti tentang thaharah, shalat, atau muamalah.
Keunikan di Jombang adalah kreativitas santri. Ratusan siswa pernah tampil melantunkan nadhom Aqidatul Awam menggunakan alat musik improvisasi dari peralatan dapur, menciptakan irama yang energik dan menghibur. Ini menunjukkan bahwa nadhoman bukan tradisi kaku, melainkan seni hidup yang terus berkembang.
Nadhoman dalam Kehidupan Sehari-hari di Pesantren Jombang
Di pesantren Jombang, nadhoman menjadi rutinitas harian. Pagi hari, santri mengaji sorogan sambil melantunkan nadhom. Sore atau malam, ada waktu “lalaran nadhom” di asrama. Metode muhafadhoh nadhom (hafalan berulang) banyak diterapkan, seperti di Pondok Pesantren At-Tahdzib Ngoro, untuk pembelajaran qowa’id nahwiyah.
Nadhoman juga berfungsi sebagai:
- Alat Hafalan: Irama membantu otak mengingat teks panjang dengan mudah.
- Pendidikan Karakter: Melalui syair tentang akhlak, tawadhu, dan persaudaraan.
- Hiburan Spiritual: Mengurangi kejenuhan belajar kitab kuning.
- Media Sosialisasi: Dalam acara haul, peringatan Hari Santri, atau festival, nadhoman menjadi atraksi utama yang melibatkan masyarakat luas.
Pesantren besar seperti Bahrul Ulum Tambakberas dan Tebuireng sering menggelar kreasi nadhom massal. Bahkan, ratusan santri putri di Tambakberas tampil spektakuler dalam peringatan dua abad pesantren, menggabungkan nadhom Aqidatul Awam, Alfiyah, dan Imrithi dengan aransemen artistik.
Fungsi Sosial dan Budaya Nadhoman
Sebagai puisi rakyat kaum santri Jawa, nadhoman memiliki fungsi multifaset:
- Pelestarian Ilmu Agama: Memastikan kitab kuning tetap hidup di tengah arus modernisasi.
- Pembentukan Identitas Santri: Santri Jombang dikenal “nyantri banget” karena menguasai nadhom sejak dini.
- Penguatan Nilai Keislaman Nusantara: Menggabungkan fiqih, akidah, dan tasawuf dengan budaya Jawa yang ramah.
- Rekreasi dan Kreativitas: Lomba kreasi nadhom mendorong inovasi tanpa meninggalkan esensi.
Dalam konteks PPKD Jombang 2025, nadhoman dikategorikan sebagai bagian dari tradisi lisan dan seni bahasa yang perlu dilestarikan. Ini sejalan dengan upaya pemajuan kebudayaan daerah, di mana pesantren menjadi pusat khazanah budaya.
Tantangan dan Upaya Pelestarian
Meski masih kuat, nadhoman menghadapi tantangan: pengaruh gadget membuat santri muda lebih tertarik hiburan digital, serta pergeseran metode belajar ke arah modern. Bahasa Arab klasik juga semakin sulit bagi generasi yang kurang terbiasa.
Upaya pelestarian di Jombang sangat aktif:
- Lomba kreasi nadhom di tingkat SD/MI hingga pesantren, seperti Santri Fest dan Hari Santri.
- Integrasi ke kurikulum madrasah dan sekolah Islam.
- Dokumentasi melalui video YouTube, TikTok, dan rekaman acara pesantren.
- Kolaborasi antara pesantren, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta PCNU Jombang.
Pemerintah kabupaten melalui PPKD 2025 mendorong nadhoman sebagai obyek kebudayaan prioritas, termasuk dalam program pemutakhiran data budaya daerah.
Contoh dan Pengalaman Langsung
Bayangkan ratusan santri di lapangan pesantren Tebuireng atau Tambakberas melantunkan nadhom Alfiyah secara serempak, suara mereka bergema hingga ke desa sekitar. Atau siswa MI yang kreatif memainkan nadhom Aqidatul Awam dengan iringan ember dan gayung, menciptakan ritme yang membuat penonton ikut bergetar.
Nadhom bukan hanya hafalan, melainkan doa, puji-pujian, dan pengingat akan kebesaran Allah. Ia menjadi medium yang membuat ilmu agama “hidup” dan “bernyanyi” di hati santri.
Nadhoman sebagai Warisan Hidup Kaum Santri Jombang
Puisi rakyat nadhoman di pesantren Jombang adalah bukti nyata bahwa pendidikan agama dapat disampaikan dengan indah dan menyenangkan. Seperti yang disebutkan dalam PPKD 2025, nadhoman adalah jembatan yang menghubungkan santri dengan kitab kuning, mengubah hafalan menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.
Di tengah modernisasi, tradisi ini terus berkembang melalui kreasi santri muda. Dari Bahrul Ulum hingga Tebuireng, dari lomba kecil di MI hingga penampilan massal, nadhoman tetap menjadi ciri khas kaum Jawa santri di Jombang. Ia tidak hanya melestarikan ilmu, tetapi juga memperkuat persaudaraan, disiplin, dan cinta terhadap tradisi leluhur.
Melestarikan nadhoman berarti melestarikan jiwa pesantren Jombang sebagai pusat peradaban Islam Nusantara. Bagi generasi sekarang, mari dengarkan dan lantunkan nadhom bukan hanya untuk hafal, tetapi untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ilmu agama dengan hati yang riang. Karena di balik setiap bait nadhom, tersimpan hikmah yang abadi untuk kehidupan santri dan umat.

