Paribasan Kebo Bule Mati Setra, Wong Pinter Nanging Ora Ono Sing Mbutuhake

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan: Dongeng Putri Tandampalik dari Kerajaan Luwu
Cerita Rakyat Sulawesi Selatan: Dongeng Putri Tandampalik dari Kerajaan Luwu

Pemikiran masyarakat modern telah berkembang sedemikian pesat melampaui kecanggihan teknologi. Setiap kelompok masyarakat saat ini mengidentifikasikan diri sebagai perkumpulan manusia-manusia yang memiliki kecenderungan tertentu dalam berpikir, berperilaku dan menanggapi respons perubahan lingkungan. Ada masyarakat yang mengedepankan kepandaian dalam mencari pemimpin. Ada pula masyarakat yang mengutamakan kekuasaan sebagai landasan menemukan figur pemimpin idaman mereka.

Artikel The Jombang Taste kali ini membahas paribasan dalam Bahasa Jawa yang berbunyi kebo bule mati setra. Kebo bule dalam bahasa Jawa bermakna kerbau yang terlahir memiliki kulit putih. Kerbau berkulit putih dianggap wong Jowo sebagai lambang manusia ras unggul karena jarang sekali kerbau melahirkan anak berkulit putih. Perumpamaan Bahasa Jawa kebo bule mati setra memiliki makna wong pinter nanging ora ono sing mbutuhake. Artinya, ada orang pandai namun kepandaiannya tidak dibutuhkan oleh masyarakat.

Anda tentu memahami betapa banyak kebo bule mati setra terlahir di negara Indonesia akhir-akhir ini. Banyak manusia pandai dimiliki oleh negeri ini namun sayang kepandaiannya tidak digunakan secara optimal untuk kemanfaatan masyarakat. Alasan yang menghambat kemajuan hidup kebo bule tadi bermacam-macam. Salah satu faktor penghambat tampilnya kaum cerdik pandai dalam tampuk kepemimpinan bangsa adalah karena masyarakat kita saat ini cenderung materialistis. Betapa banyak calon pemimpin cerdas akhirnya tersingkir dari gelanggang Pilkada karena tidak mau bermain politik uang.

Dalam level tertentu, manusia cerdas berkarakter kebo bule mati setra lebih memilih memperjuangkan idealisme mereka melalui lembaga swasta yang mereka dirikan. Mereka memilih tidak bermain dalam pertarungan politik dan cenderung menghasilkan kerja nyata tanpa pamrih untuk dipilih dalam sistem kekuasaan negara. Siklus buruk ini akan terus berlangsung selama masyarakat menghendaki. Perubahan hanya akan terjadi kalau masyarakat sudah menyadari kesalahan mereka di masa lalu karena telah memiliki pemimpin yang salah.

Semoga artikel peribahasa Jawa kebo bule mati setra ini bisa menambah wawasan Anda. Jika memang Anda mencintai budaya Nusantara, ayo gali lebih banyak kearifan lokal di sekitar Anda. Mari bercerita kepada dunia betapa bijaksana masyarakat Indonesia di masa lampau dan berguna untuk kehidupan kita di masa kini..

One Reply to “Paribasan Kebo Bule Mati Setra, Wong Pinter Nanging Ora Ono Sing Mbutuhake”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *