Sumeleh, Menerima Apa Adanya Pemberian Tuhan

Cerita-Rakyat-Banten-Legenda-Asal-usul-Batu-Kuwung
Cerita-Rakyat-Banten-Legenda-Asal-usul-Batu-Kuwung

Apa kabar sobat blogger Jombang? The Jombang Taste menyapa Anda kembali melalui ulasan nasehat bijak Bahasa Jawa. Kata-kata mutiara Bahasa Jawa yang kita bahas kali ini terbilang singkat, yaitu sumeleh. Sumeleh secara bahasa berasal dari kata seleh dengan sisipan um dan em. Seleh adalah menaruh atau meletakkan.

Jika kita memiliki sesuatu dan kita letakkan di suatu tempat kita pasti akan memastikan dia berada pada tempat yang tepat. Sehingga, misalnya tidak jatuh, goyang atau meresikokan barang tersebut dari rusak, hilang atau hal-hal lain yang tidak diinginkan si empunya barang. Dengan begitu sang pemilikpun menjadi tenang karenanya.

Menurut buku Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung, kata sumeleh adalah secara sederhana dapat kita artikan pasrah, ikhlas, nrimo, patrap, dan apa adanya (bloko). Nrimo itu artinya menerima tanpa tendensi dan menerima tanpa pretensi, sering juga disebut dengan istilah nrimo ing pandum.

Nrimo ing pandum adalah sikap menerima pada pemberian Tuhan adalah sikap khas yang dimiliki orang Jawa yang tidak suka protes, tidak hanya akan pemberian Tuhan, juga terhadap perlakuan sesama asal tidak terlalu merugikan.

Berserah Diri Kepada Tuhan

Nrimo ing pandum ini bisa ditelusuri dari ajaran Islam, tepatnya ada sebuah ajaran yang terkandung dalam sebuah hadist qudsi yang artinya: “Barangsiapa tidak mau menerima suratan nasib yang telah Ku putuskan, tidak bersabar atas segala cobaan yang Aku berikan, tidak mau berterima kasih atas segala nikmat yang Aku curahkan, dan tidak mau apa adanya atas segala yang Aku berikan, maka sembahlah Tuhan selain Aku”.

Orang Jawa yakin bahwa hidup dan mati adalah kehendak Tuhan yang telah digariskan dalam ruang takdirNya. Segala yang terjadi dalam hidup adalah suratan takdir yang telah Dia rencanakan. Kita sering salah sangka bahwa rahrnat Tuhan sebatas apa yang kita kenal sebagai kenikmatan duniawi yang mengenakkan, punya paras cantik atau tampan, harta berlimpah, sehat, pintar dan kenikmatan lainnya. Padahal adakalanya kemiskinan, sakit, dan segala hal yang kita anggap tidak nikmat sebenarnya juga merupakan karunia rahmat dari Tuhan alam semesta.

Orang Jawa kemudian mengembangkan sebuah sikap yang disebut nrimo ing pandum, menerima dengan ikhlas atas segala apa yang dianugerahkan oleh Tuhan. Konsep nrimo ing pandum ini juga bisa berarti tawakal dalam ajaran Islam. Tawakal sendiri adalah sebuah sikap mental yang diajarkan dalam agama Islam sebagai sikap menerima atas apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan.

Dengan sikap nrimo ing pandum umat Islam dapat survive dan menikmati hidup. Tawakal dan nrimo ing pandum ini berfungsi dalam hubungan menerima stimulus dari luar. Menurut Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) rasa senang timbul akibat terpenuhinya harapan oleh kenyataan dan bila harapan tidak terpenuhi maka menimbulkan rasa susah. Harapan adalah sesuatu yang kita ciptakan atas kehendak kita sendiri. Sedangkan kenyataan adalah hal-hal yang dalam batas tertentu berada di luar kemampuan kita.

Menerima, Bukan Skeptis

Dalam Islam dikenal bahwa Qadha dan Qadar sepenuhnya berada di tangan Gusti Pangeran dan berada di luar jangkauan manusia. Di sinilah tawakal dan nrimo ing pandum menjalankan fungsinya. Kedua konsep ini sebagai pengekang agar manusia tidak terlalu tinggi dalam berharap sehingga ketika kenyataan temyata tidak sesuai, rasa susah tidak akan menyerang individu tersebut.

Konsep ini membantu kita menerima kenyataan yang ada. Tawakal membuat kita berserah kepada Alloh atas segala yang telah ditetapkanNya. Nrimo ing pandum membantu kita untuk menerima segala sesuatu apa adanya tanpa berharap atau menuntut yang tidak-tidak terhadap lingkungan. Dengan sikap seperti inilah seseorang bisa stabil emosinya dan dapat menghadapi tekanan apapun bentuknya. Sikap ini bukan berarti sikap skeptis dan kemudian tidak berusaha.

Nrimo ing pandum adalah sebuah sikap mental menerima dan bukan sikap mental tidak berusaha. Dan begitu pula sikap tawakal bukan berarti tanpa ikhtiar. Kewajiban berusaha juga diketengahkan dalam filosofi orang Jawa dengan perkataan pepatah, “Obah ngarep kobeh mburi” bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian.

Sehingga jika ada orang yang beranggapan bahwa falsafah nrimo ing pandum adalah sebuah sikap dan alasan untuk menyerah serta tidak berusaha, maka ia sudah berada dalam pengertian yang salah. Dan sebagaimana konsep tawakal, nrimo ing pandum sering pula disalahartikan menjadi konsep skeptisisme. Padahal sekali lagi harus kita ketahui bahwa skepstis dan nrimo ing pandum adalah dua hal yang berbeda.

Dengan sikap berserah diri kepada Tuhan kita bisa lebih menikmati hidup seperti apapun keadaan kita. Karena yang terpenting adalah bagaimana kita memandang, juga yang tak kalah penting apa yang harus dikerjakan, hendaklah kita kerjakan dan apa yang telah menjadi ketentuannya kita terima. Semoga artikel petuah luhur Bahasa Jawa ini bisa menambah motivasi hidup Anda.

Daftar Pustaka:

Sudjono. 2013. Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung. CV. Karya Mandiri Sentosa: Ngawi

8 Replies to “Sumeleh, Menerima Apa Adanya Pemberian Tuhan”

  1. Salah satu penyakit masyarakat Jawa adalah iri harta tetangga. Kalau ada tetangga beli barang baru, wedew… sudah pada ngomongin warga sekampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *