Cerita Rakyat DKI Jakarta, Legenda Si Jampang Jagoan dari Betawi

Dongeng Aji Bonar yang jago bermain gasing
Dongeng Aji Bonar yang jago bermain gasing

The Jombang Taste kali ini menyapa Anda melalui artikel cerita rakyat Betawi, yaitu tokoh Si Jampang. Cerita kehidupan Si Jampang sama terkenal dengan kehidupan jagoan Betawi Si Pitung. Bagaimanakah asal-usul kehidupan Si Jampang? Cerita legenda Si Jampang dimulai dengan sepasang suami istri yang merasakan kebahagiaan setelah melihat bayi mereka lahir dengan selamat.

“Hm, ini dia anak lelaki pertama gue. Lihat dia nampak sehat dan gagah!”

“Iya Bang! Anak kita nampak gagah sekali ya ?”

“Siapa dulu dong Bapaknya? Orang Banten memang gagah-gagah!” sambung si suami.

“Abang selalu mengandalkan asal Abang saja. Tanpa ada aku ibunya yang dari Jampang ini, dia tidak akan pernah ada!”

“Iya deh! Lalu kita beri nama apa dia?” tanya si suami. Atas setelah melalui perdebatan yang alot akhirnya dicapai kata sepakat, bayi yang berumur seminggu itu diberi nama si Jampang.

Cerita rakyat Betawi menyebutkan bahwa anak kecil itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang benar-benar gagah, ganteng, sebagai pemuda keturunan Banten, ia juga diajari ilmu pencak silat yang sangat terkenal itu ia juga pandai memainkan golok. Jika ia hadir di pesta-pesta keramaian selalu menarik perhatian gadis-gadis remaja.

Setelah usianya cukup dewasa dia dinikahkan dengan seorang gadis cantik dari Kebayoran Lama. Setelah menikah, si Jampang tidak mau hidup serumah dengan kedua orang tuanya. la juga tak mau tinggal di rumah mertuanya. Ia lebih suka hidup mandiri. Suka duka akan dijalaninya bersama dengan istri tercinta.

Demikianlah, setelah mengumpulkan perbekalan yang cukup ia membeli tanah dan membangun rumah sendiri yang sederhana. la dan keluarganya pindah ke Grogol, Depok. la hidup tentram dan bahagia dengan istrinya itu. Namun sayang setelah dikarunia anak laki-laki, belum lagi anak itu beranjak remaja, sang istri sudah meninggal.

Sejak itu Jampang hanya hidup dengan anak laki-laki satu-satunya. Anak ini dikenal dengan nama Jampang muda. Dia tumbuh pula menjadi seorang anak muda yang tampan seperti ayahnya. Cerita rakyat Betawi masih berlanjut dengan kehidupan rumah tangga Si Jampang yang mengalami kesusahan setelah istrinya meninggal dunia.

Si Jampang ingin anaknya menjadi orang shaleh yang berguna bagi masyarakat. Maka ia titipkan anak itu di pondok pesantren. Kadang-kadang saja anak itu pulang menemui ayahnya karena dia lebih senang tinggal di pesantren dengan kawan-kawannya.

Cerita Rakyat Betawi

Sejak ditinggal mati istrinya si Jampang merasa kesepian. la makin sedih melihat kenyataan bahwa kehidupan rakyat Betawi banyak yang menderita. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang kaya dan senang. Seperti halnya si Pitung, Jampang kemudian merampok harta orang-orang kaya yang kikir lalu diberikan kepada penduduk yang menderita. Inilah sisi lain dari cerita rakyat Betawi.

Pada suatu hari anaknya pulang ke rumah. “Ayah, saya tak mau lagi mondok di pesantren. Saya malu sekali, Yah!” kata anaknya.

“Malu? Malu kenapa Tong?” tanya si Jampang penasaran. Tong adalah panggilan sang ayah kepada anaknya.

“Ayah kan orang Banten. Biasanya orang-orang Banten itu alim dan hidup baik-baik. Tapi Ayah kok sering merampok? Di pesantren. Sudah dibicarakan orang terus. Saya malu sekali, Yah.”

“Kamu tidak perlu memberi nasihat kepada Ayah. Kamu masih anak kemarin, Tong… sebenarnya kamu pulang punya maksud apa?” tanya ayahnya.

“Saya tidak mau mengaji lagi, Yah.” sahut anaknya.

“Payah, kamu Tong. Tadi memberi nasihat seperti kiai, sekarang tidak mau mengaji lagi. Kamu mau jadi apa? Mau jadi tukang pukul seperti ayahmu ini?”

Si Jampang muda menggelengkan kepala. “Lho jadi apa maumu, Tong? Kamu tidak mau mondok? Kalau begitu, lebih baik nikah saja.”

Anaknya kaget mendengar ucapan Jampang.

“Saya tidak mau menikah, Yah, lebih baik mondok saja. Kalau Ayah mau menikah lagi saya tidak melarang.”

“Ha hah ha, “Jampang tertawa terbahak-bahak, kalau kamu mau ibu lagi, nanti Ayah carikan!”

Legenda Si Jampang dari Betawi

Dalam cerita rakyat Betawi dinyatakan bahwa Jampang mempunyai seorang kawan di Tambun, bernama Sarba. Hari itu ia berkunjung ke rumah temannya itu. Ketika pintu rumah Pak Sarba dibuka ternyata yang muncul adalah Ciput, pembantu Pak Sarba.

“Pak Sarba ada?” tanya Jampang.

Ciput menjawab sedih, bahwa Pak Sarba sudah meninggal dunia.

“Kasihan, ya,” kata Jampang menyesal. “Jadi Mayangsari menjanda; Put?” Ciput menganggukkan kepala.

“Kasihan,” kata Jampang sekali lagi.

Jampang teringat Sarba, sahabatnya ini orang baik. Ia mengenalnya sejak kanak-kanak, sama-sama dari Banten. Lalu menikah dan punya anak bernama si Abdih.

Tidak Iama kemudian Mayangsari keluar dari kamarnya. Melihat sahabat suaminya datang dia jadi sedih. Dia mengulang cerita tentang Sarba yang sudah lama meninggal dunia.

“Waktu itu Bang Sarba sakit apa Mayang, kok saya tidak diberitahu?”

“Ceritanya panjang sekali, Jampang. Ketika abangmu belum punya anak, kita berdua pernah pergi ke Gunung Kepuh Batu. Ziarah ke makam sambil memohon agar diberi anak. Juru kuncinya bernama Pak Samat, menerima kedatangan kita berdua. Pak Samat membaca doa dan mantra sambil membakar kemenyan hingga keluar jin dari makam itu.”

“Seram juga Mayang. Saya tidak tahan kalau sendirian di makam begitu seramnya.”

“Mengejek terus Jampang. Saya teruskan ceritanya. Abangmu bertanya kepada jin itu. Apakah saya bisa punya anak? Jin itu manggut-manggut. Bang Sarba senang sekali mendengar akan dapat anak lelaki. Lalu dia janji kalau sudah lahir jabang bayi, dia akan bawa sepasang kerbau ke makam Gunung Kepuh Batu!”

“Selanjutnya bagaimana, Mayang?”

“Saya dan abangmu pulang. Beberapa bulan kemudian saya mengandung, kemudian lahir anak laki-laki, itulah si Abdih. Saat berumur lima belas tahun dia ingin sekolah. Tetapi abangmu bingung karena sulit hidup. Lalu abangmu mengajak saya dan Abdih ke Betawi. Abangmu mau menentramkan hati saya dan anak lelakinya. Di sini abangmu sakit lalu meninggal. Menurut dukun lantaran dia lupa janjinya dulu.”

Jampang termangu-mangu.

“Orang kalau akan meninggal ada-ada saja caranya, Mayang. Seperti abang saya itu. Mengajak pergi ke Betawi, tiba-tiba pergi. Dia orang baik, Mayang.”

Cerita rakyat Betawi masih berlanjut. Jampang sedih. Lalu dia bertanya di mana si Abdih.

“Sedang sekolah di Bandung, ” Kata Mayangsari. “Mayang tidak perlu bingung memikirkan Abdih, ” kata Jampang.

“Mana mungkin tidakbingung, Jampang. Sekolah di Bandung itu perlu biaya besar. Cari uangnya susah.”

“Anak sekolah di Bandung biar saja, jangan ikut dipikir,” kata Jampang lagi, “Pokoknya nanti saya yang akan mengurus dia.”

“Begini Mayang, “kata Jampang, “Mayang sudah menjadi janda dan saya duda, lebih baik kita menikah. Enak kan?”

Mayangsari kaget, lalu marah sekali, la merasa terhina.

“Jangan bicara sembarangan, Jampang!” kata Mayangsari. “Aku ini bekas istri saudara tuamu masak kau mau menikahiku? Kalau kamu ingin menikah, nikahlah mau cari janda, perawan, atau banci itu urusanmu, tetapi jangan dengan saya. Sungguh tidak pantas!”

Jampang malu sekali. Dia cepat keluar dari rumah itu. Di halaman depan dia melihat Mayangsari menutup pintu rapat-rapat, tanda kalau Jampang tidak bakal diterima lagi di rumahnya. Kisah legenda Si Jampang jagoan dari Betawi tidak berhenti sampai disini.

Cerita Rakyat Si Jampang

Di jalan, Jampang bertemu Ciput. “Saya malu sekali, Put!” Jampang menceritakan sedikit pengalamannya dengan Mayangsari.

“Padahal saya suka sekali dengan Mayang. Dia masih cantik. Bekas istri teman sendiri. Apa salahnya? Itu tandanya menghormati kawan yang sudah almarhum, tetapi dia malah merasa terhina. Aneh sekali”

Pembantu perempuan yang tidak pernah lepas dari Mayangsari itu dibujuk Jampang agar mau membantu maksud si Jampang.

“Pokoknya nanti beres, Ciput,” janji Jampang. Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Tampak Mayangsari makin marah.

“Ciput, masuk!” teriaknya. Pembantunya menurut. Dia masuk rumah. Langsung biliknya di belakang. Lalu Mayangsari berteriak sambil melotot ke arah Jampang. “Pergi, Jampang! Pergi dari sini!”

Tetapi Jampang masih tetap berdiri di tempatnya. Mayangsari makin marah mendekati Jampang. “Aku tak sudi jadi binimu!”

Belum sempat berkata apa-apa, Mayangsari sudah meninggalkan Jampang. Dia menutup pintu dan jendela-jendela rumah. Tidak peduli pada Jampang yang terpana.

“Sial Sekali saya hari ini, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. ” ujar Jampang sambil berjalan lesu.

Jampang menuju rumah Sarpin, keponakannya kebetulan ada di rumah. “Saya perlu seorang dukun, Pin,” katanya kepada Sarpin. Sarpin heran. “Buat apa, Mang Jampang?” Jampang lalu menceritakan kembali pengalamannya dengan Mayangsari. “Hehehe Mang Jampang cinta banget sama Mayangsari?”

“Pin! Jangan banyak bicara kamu,” tukas Jampang, “Cari dukunnya!” “Perkara dukun gampang, Mang. Saya tahu benar dukun yang manjur. Namanya Pak Dul dari kampung Gabus. Pintar sekali. Pokoknya orang yang diguna-guna pasti akan terkena. Mau ke rumahnya, Mang?”

“Makin cepat makin baik,” jawab Jampang.

Si Jampang Jatuh Cinta

Cerita kehidupan Si Jampang berlanjut. Malam itu juga mereka pergi. Mereka berjalan membawa dua obor. Satu di tangan Jampang dan satu tangan Sarpin. Pakaian mereka hitam-hitam. Golok terselip di pinggang. Di leher terkalung sarung sebagai penahan dingin udara malam.

Mereka berjalan melewati pematang-pematang sawah dan menerobos kebun-kebun orang, serta melewati kuburan yang sepi. Obor mereka terus menyala. Sering obor itu ditunggingkan ke bawah, agar minyaknya turun ke api sehingga nyala api lebih besar.

Akhirnya, sampailah mereka di rumah Pak Dul, dukun kampung Gabus yang terkenal. “Saya minta bantuan Mbah Dukun, agar Mayangsari tergila-gila kepada saya,” kata Jampang terus terang tanpa malu-maiu.

Jampang juga menyerahkan salam tempel ke tangan Pak Dul. Dengan gembira dukun memasukkan isi salam itu ke dalam kantong bajunya, dia membaca jampi-jampi atau mantera. Mulutnya nampak komat-kamit. Tidak lama kemudian Jampang diberi guna-guna. Jampang juga diberi tahu cara penggunaannya. Lalu Jampang dan Sarpin pulang tergesa-gesa.

Pikiran si Jampang selalu tertuju ke Mayangsari. la berjalan cepat sekali. Tidak peduli kaki sebelahnya terperosok ke dalam lumpur. Bayangan wajah Mayangsari menggodanya, membawa ke alam mimpi. Keponakannya repot karena jalannya jauh tertinggal di belakang.

Guna-guna itu sudah diletakkan di rumah Mayangsari oleh Jampang. Begitu kena guna-guna Mayangsari langsung gila. Dia langsung tertawa-tawa. Berpakaian semaunya tidak malu sama sekali, terutama kepada setiap lelaki yang lewat di depan rumahnya. Ketika Abdih pulang dari Bandung, langsung Mayangsari mencium dan memeluknya.

“Jampang yang tampan!” Mayangsari merayu-rayu. Anaknya kaget serta sedih sekali melihat perubahan ibunya. “Mari Jampang! Mari peluk lebih erat.”

Anaknya segera menyadarkan ibunya.

“Ibu! Ibu! Sadar, Bu!” Ciput pembantunya yang setia datang mendekat. “Kenapa Ibu sampai begini, Ciput?”

“Barangkali gara-gara Jampang,” kata Ciput, “Dia pernah ke sini dan mengajak menikah Ibumu tapi ditolak. Dia bilang lebih baik gila daripada menikah dengan Jampang.”

“Jadi, Ibu langsung begini?”tanya Abdih.

Ciput mengangguk-angguk.

“Ibu seperti kena guna-guna,” kata Abdih. “Pelakunya tentu Mang Jampang. Sungguh bikin malu. Saya malu sekali. Dukun mana yang bisa menyembuhkan lbu, Ciput?”

Ciput belum pernah tahu soal guna-guna. Jadi dia tidak bisa menjawab. Abdih bertanya kesana kemari. Abdih ingin ibunya kembali hidup normal tanpa pengaruh ilmu pelet yang dikirim oleh Si Jampang.

Akhir Hidup Si Jampang

Akhirnya Ciput dapat berita. Pak Dul di kampung Gabus adalah orang pintar yang dipercaya bisa menghilanglkan pengaruh guna-guna. Karena dukun itu sendiri yang membuat guna-guna, dengan tidak menemui kesukaran dia pula yang mencabut guna-gunanya. Mayangsari sembuh seketika. Tidak ingat lagi kepada si Jampang. Sesudah itu Abdih mencari Jampang. Dia marah sekali.

“Bisa atau tidak bisa, saya harus menikah dengan Ibumu, Abdih,”kata Jampang menegaskan.

“Saya tidak melarang, Mang Jampang” jawab Abdih yang ketakutan juga,”Tetapi ada syaratnya, Mang Jampang harus menyerahkan sepasang kerbau sebagai emas kawinnya.”

“Saya tidak keberatan,Abdih. Saya akan usahakan!”

Abdih pulang menyampaikan kesanggupan Jampang kepada ibunya.

Darimana dapat kerbau sepasang? Harga kerbau sepasang sangat mahal. Jampang tidak punya uang. Namun, dia segera ingat Haji Saud di Tambun. Dia kaya sekali. Sawahnya,Iuas. Kerbau dua ekor bukan apa-apa. Ke tempat itulah, Jampang dan Sarpin pergi merampok dengan mudah.

Ketika dia dengan Sarpin akan keluar dari pintu desa, sekawanan polisi sudah mengepung. Mereka menunjukkan laras-laras senapan ke arah Jampang dan Sarpin. Tertangkaplah Jampang. Jampang pun tidak bisa melakukan perlawanan.

Orang-orang kaya, tuan-tuan tanah, serta pejabat pemerintah Belanda merasa gembira melihat Jampang telah dipenjara dan akhirnya dihukum mati. Sebaliknya rakyat kecil, para petani, dan mereka yang menderita amat sedih.

Walaupun Jampang sering merampok, dia tidak pernah menikmati sendiri hasil rampokkannya. Bagi Rakyat Kecil Jampang adalah sosok pahlawan. Mereka sering mendapat pembagian hasil rampokan dari orang-orang kaya‘ dan tuan-tuan tanah yang tamak dan kikir.

Jampang menemui nasib naas ketika merampok sepasang kerbau yang hendak digunakan sebagai mas kawin bagi Mayangsari, yang berarti untuk kepentingannya sendiri. Memang cara yang tidak benar, tidak halal, tidak boleh ditiru siapapun agar tidak bernasib sial. Demikian akhir hidup Si Jampang yang berakhir di penjara karena kasus pencurian.

Amanat cerita rakyat Betawi ini adalah kebaikan tidak bisa disatukan dengan kejahatan. Jika Anda memiliki niat baik untuk menolong orang lain, maka lakukan pertolongan tersebut dengan cara-cara yang baik pula. Selain itu, pesan moral cerita rakyat Betawi tentang Si Jampang adalah agar kita selalu menghargai keinginan orang lain dan tidak memaksakan kehendak diri sendiri. Semoga artikel The Jombang Taste ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai jumpa dalam artikel cerita rakyat Nusantara berikutnya.

Daftar Pustaka:

Ara, LK. 2008. Cerita Rakyat dari Aceh. Jakarta: Grasindo.

Danandjaja, James. Cerita Rakyat dari Bali. Jakarta: Grasindo.

Hidayat, Kidh 2008. Dongeng Rakyat Se-Nusantara. Jakarta: Pustaka Indonesia.

Abdulwahid, dkk. 2008. Kodifikasi Cerita Rakyat Daerah Wisata Pangandaran, Jawa Barat. Bandung: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lubis, Pangaduan Z. 1996. Cerita Rakyat dari Simalungun (Sumatera Utara). Jakarta: Grasindo.

Navis, A.A. 2001. Cerita Rakyat dari Sumatra Barat. Jakarta: Grasindo.

Rahimsyah. 2001. Kumpulan Cerita Rakyat dan Sejarah Nasional. Surabaya: Terbit terang.

Reza, Marina Asril. 2008. Cerita Terbaik Asli Nusantara. Jakarta: Visimedia.

Tim Optima Pictures. 2010. Cerita Nusantara Kumpulan Dongeng, Epos, Fabel, Legenda, Mitos dan Sejarah. Jakarta: TransMedia.

Soemanto, Bakdi. 2003. Cerita Rakyat dari Yogyakarta. Jakarta: Grasindo.

Sumardiyanto, Anwar dan Eka Katminingsih. 2011. Cerita Rakyat. Sidoarjo: Dunia Ilmu.

Digiprove sealCopyright protected by Digiprove © 2017 Agus Siswoyo
Acknowledgements: Anwar Sumardiyanto & Eka Katminingsih
All Rights Reserved
Bagikan artikel ini melalui:

8 Replies to “Cerita Rakyat DKI Jakarta, Legenda Si Jampang Jagoan dari Betawi”

  1. Boleh nanya dong, itu haji saud rumahnya di tambun, apakah kabupaten bekasi? Dan daerah siduk oiun itu apakah gabus yg ada di daerah kabupaten bekasi? Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *