Di tengah hiruk-pikuk akhir tahun 2025 kemarin, ketika banyak keluarga sibuk dengan belanja akhir tahun dan persiapan tahun baru, Rudeka Indonesia di Jombang, Jawa Timur, menawarkan alternatif liburan yang berbeda. Festival Liburan 2025 bertajuk “Kardus Suka Suka” sudah hadir pada 27–28 Desember 2025 lalu sebagai ruang merdeka bagi anak-anak dan keluarga untuk bermain, berkreasi, dan membangun kenangan bersama menggunakan bahan yang paling sederhana: kardus bekas.
Festival ini bukan sekadar acara hiburan biasa. Ini adalah perayaan imajinasi, kolaborasi, dan pengingat bahwa kreativitas tidak memerlukan barang mahal. Cukup kardus, tangan kecil yang penuh semangat, dan hati yang terbuka. Sejak 2019, Festival Liburan Rudeka Indonesia telah menjadi tradisi tahunan yang dinanti. Tahun 2025 kemarin, tema “Kardus Suka Suka” membawa pesan kuat: kebahagiaan dan karya besar bisa lahir dari hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele.
Sejarah dan Filosofi Rudeka Indonesia
Rudeka Indonesia, atau Rumah Merdeka untuk Anak dan Keluarga, adalah sanggar pendidikan dan kemanusiaan yang berbasis di Jl. Agus Salim No. 09, Jombatan, Jombang. Sejak berdiri, Rudeka konsisten menciptakan ruang aman dan merdeka bagi anak-anak untuk tumbuh melalui seni, permainan, dan pendekatan holistik.
Festival Liburan pertama kali digelar tahun 2019 sebagai respons terhadap rutinitas sekolah yang padat. Banyak orang tua dan anak merasa liburan sekadar “mengisi waktu kosong” tanpa makna mendalam. Rudeka ingin mengubah itu. Festival ini menjadi momen pause from routine, berhenti sejenak dari gadget, jadwal ketat, dan konsumsi berlebih, lalu kembali ke esensi: bermain, bertemu, dan mencipta bersama.
Seiring tahun berjalan, festival ini tumbuh. Dari skala kecil lokal, kini semakin international-friendly. Tahun 2025 menjadi tonggak penting dengan tema yang sangat relevan di era digital ini. “Kardus Suka Suka” mengajak kita merenung: di tengah banjir mainan plastik dan layar gadget, apakah anak-anak masih bisa menemukan kegembiraan dari barang sehari-hari?
Kardus dipilih karena sifatnya yang luar biasa. Ringan, murah, mudah dibentuk, ramah lingkungan, dan yang terpenting memberi ruang kosong yang luas bagi imajinasi. Sebuah kardus bukan lagi pembungkus barang, melainkan istana, pesawat luar angkasa, toko es krim, atau panggung wayang. Itulah inti dari “Suka Suka”: bebas berkreasi tanpa aturan ketat, selama penuh sukacita dan kolaborasi.
Mengapa Kardus? Lebih dari Sekadar Bahan
Tema “Kardus Suka Suka” bukan pilihan acak. Di baliknya ada filosofi mendalam tentang pendidikan anak dan keberlanjutan. Psikolog anak sering menyebutkan bahwa bermain bebas dengan bahan terbuka (open-ended materials) seperti kardus jauh lebih bermanfaat daripada mainan yang sudah jadi. Kardus mendorong:
- Kreativitas dan problem-solving — Anak harus memikirkan cara menyambung, memotong, dan membentuk.
- Keterampilan motorik halus dan kasar — Memotong, menempel, melipat, dan mengangkat kardus.
- Kolaborasi sosial — Karena satu kardus besar sulit dikerjakan sendirian.
- Kesadaran lingkungan — Mengajarkan reuse dan upcycling sejak dini.
Di Indonesia, di mana sampah kardus sering menumpuk di rumah tangga dan pasar, tema ini juga menyentuh isu lingkungan. Anak-anak belajar bahwa “sampah” bisa menjadi harta karun jika dilihat dengan mata imajinasi.
Festival ini juga menjawab kekhawatiran orang tua di era digital. Banyak anak lebih nyaman dengan gadget daripada bermain fisik. “Kardus Suka Suka” mengajak mereka menyentuh bahan nyata, merasakan tekstur, bau kardus, dan kegembiraan saat karya mereka berdiri tegak.
Tujuan dan Sasaran Festival
Festival Liburan 2025 memiliki lima tujuan utama:
- Menyediakan ruang aman dan merdeka bagi anak dan keluarga untuk berekspresi.
- Menghidupkan kreativitas melalui eksplorasi bahan sederhana, khususnya kardus.
- Menumbuhkan kolaborasi antar anak, keluarga, komunitas, dan relawan.
- Menyajikan pengalaman liburan yang berkualitas, edukatif, dan bermakna.
- Membangun jejaring dan kolaborasi lintas budaya melalui pendekatan international-friendly.
Sasaran pesertanya luas: anak usia 4–14 tahun, orang tua, komunitas seni dan pendidikan, relawan, serta peserta internasional yang tertarik dengan pendidikan seni keluarga. Acara sudah berlangsung dua hari penuh pada tanggal 27–28 Desember 2025 kemarin mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB di Aula Terbuka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang.
Ragam Kegiatan yang Kaya dan Interaktif
Festival “Kardus Suka Suka” menawarkan sembilan bentuk kegiatan utama yang saling melengkapi:
- Workshop Kreatif Kardus Anak-anak dan keluarga belajar membuat berbagai karya dari kardus: rumah boneka, mobil-mobilan, kostum, hingga instalasi besar. Fasilitator membimbing tanpa memberi contoh jadi, agar imajinasi anak benar-benar bebas.
- Pertunjukan Teater Boneka Boneka dari kardus dan kain bekas menghidupkan cerita-cerita lokal dan internasional.
- Pertunjukan Pantomim Ekspresi tubuh tanpa kata yang lucu dan mendidik.
- Pertunjukan Wayang Kardus Inovasi wayang tradisional Indonesia menggunakan boneka kardus yang dibuat peserta sendiri.
- Parenting “Anak Merdeka” Sesi khusus untuk orang tua membahas cara mendidik anak yang mandiri, kreatif, dan bahagia.
- Pertunjukan Dongeng Dongeng interaktif yang melibatkan penonton.
- Panggung Baca Buku Sudut nyaman untuk membaca bersama dan diskusi buku anak.
- Zona Bermain “Kardus Suka-Suka” Area bebas di mana anak boleh bermain seenaknya dengan tumpukan kardus besar.
- Instalasi Seni Kolaboratif Karya bersama seluruh peserta yang menjadi highlight festival—sebuah instalasi raksasa dari ribuan kardus yang melambangkan persatuan.
Semua kegiatan dirancang agar orang tua tidak hanya menonton, tapi ikut terlibat. Ini menciptakan bonding yang kuat antara anak dan keluarga.
Susunan Acara Hari per Hari
Hari 1 (27 Desember 2025)
- 08.00–08.10 Registrasi & Penyambutan
- 08.10–08.20 Opening & Ice Breaking
- 08.20–08.30 Pertunjukan Pembuka “Kerja Semut”
- 08.30–09.30 Workshop 1 & 2
- 09.30–10.00 Free Eksplor (bermain bebas)
- 10.00–11.00 Pertunjukan “Teman Luar Angkasa”
- 11.00–11.30 Mini Stage (Kardus Carita Tesso Nillo)
- 11.30–12.30 Pertunjukan Marionette Indonesia
- 12.30–13.00 Sayonara
Hari 2 (28 Desember 2025)
- 08.00–08.10 Registrasi & Penyambutan
- 08.10–08.30 Opening & Ice Breaking
- 08.30–09.30 Workshop 1 & 2
- 09.30–10.30 Pertunjukan “Dongeng Dapur Ibu”
- 10.30–11.00 Mini Stage (Konser Musik Anak)
- 11.00–12.00 Pertunjukan Teater Boneka Gobarcup
- 12.00–13.00 Pertunjukan Penutup “Parade Kardus”
Parade Kardus di hari terakhir menjadi momen paling meriah. Anak-anak dan keluarga berparade membawa karya mereka keliling area, menunjukkan hasil kreasi dua hari penuh.
Festival ini digerakkan oleh tim muda yang penuh semangat. Ketua Panitia Muhammad Ismail Ali Mashudi didukung sekretaris Gladys Sheysa Z., bendahara Keyla Cindy Anastasya Juniar, serta divisi-divisi lain yang solid: Acara, Desain Publikasi, Dekorasi, Workshop, dan Dokumentasi.
Dampak yang Diharapkan dan Realita yang Terjadi
Festival ini bukan hanya tentang dua hari kesenangan. Tujuannya jangka panjang: menumbuhkan generasi yang kreatif, kolaboratif, dan menghargai kesederhanaan. Anak-anak belajar bahwa mereka tidak perlu menunggu barang mahal untuk bisa berkarya. Orang tua belajar melepaskan kendali dan ikut bermain bersama anak.
Dari pengalaman festival-festival sebelumnya, banyak orang tua melaporkan perubahan positif: anak lebih percaya diri, lebih suka berbagi, dan lebih kreatif dalam memecahkan masalah sehari-hari. Beberapa keluarga bahkan melanjutkan tradisi “kardus hari Minggu” di rumah mereka sendiri.
Di tahun 2025 kemarin, dengan tema yang sangat kuat, festival berhasil menarik perhatian lebih luas, termasuk komunitas internasional yang tertarik dengan pendekatan seni ramah anak berbasis bahan daur ulang.
Ajakan untuk Terus Merayakan Kreativitas
Festival Liburan “Kardus Suka Suka” 2025 telah usai, tetapi semangatnya terus berlanjut. Rudeka Indonesia mengajak semua pihak orang tua, guru, komunitas, dan pemerintah daerah untuk terus menciptakan ruang-ruang serupa di lingkungan masing-masing.
Kita hidup di zaman di mana anak-anak dibombardir stimulus visual dan digital. Namun, kebahagiaan sejati sering kali ditemukan dalam kesederhanaan: tawa bersama, tangan yang kotor karena lem dan cat, dan sebuah kardus yang berubah menjadi dunia baru.
Mari kita terus merayakan “suka suka” kebebasan untuk bermain, berkreasi, dan mencintai proses. Karena di situlah anak-anak kita belajar menjadi manusia utuh: kreatif, tangguh, dan penuh kasih.





