Jejak Alfred Russel Wallace di Wonosalam: Misteri Gunung Arjuna-Anjasmoro dan Sejarah Perkebunan Kopi di Jawa Timur

Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris yang terkenal sebagai penemu bersama teori evolusi melalui seleksi alam bersama Charles Darwin, meninggalkan warisan tak ternilai melalui ekspedisinya di Kepulauan Melayu. Buku ikoniknya, The Malay Archipelago (1869), sering disebut sebagai salah satu buku perjalanan ilmiah terbaik abad ke-19, mendokumentasikan petualangannya selama delapan tahun (1854-1862) melintasi ribuan pulau, termasuk Jawa. Di Jawa, Wallace mengunjungi Wonosalam (dieja “Wonosalem” dalam catatannya), sebuah desa di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada tahun 1861. Di sana, ia mengumpulkan spesimen burung merak, ayam hutan, dan berbagai fauna lain, sambil menjelajahi kebun-kebun kopi yang subur di kaki gunung.

Kunjungan ini, sebagaimana dicatat dalam Java: A Traveler’s Anthology dan The Malay Archipelago, menimbulkan misteri geografis: Wallace menyebut Wonosalam berada di kaki Gunung Arjuna, sementara Wonosalam di Jombang secara geografis terletak di lereng Gunung Anjasmoro. Apakah ada Wonosalam lain di kaki Gunung Arjuna? Atau apakah nama gunung tersebut belum mapan pada masa itu? Pertanyaan ini mengarah pada dugaan bahwa Gunung Anjasmoro, yang berada dalam satu gugusan dengan Gunung Arjuna-Welirang, mungkin dianggap sebagai bagian dari Arjuna pada abad ke-19. Bukti pendukung datang dari rute perjalanan Wallace, yang melewati Candi Arimbi di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng—sebuah situs yang secara geografis lebih dekat dengan Wonosalam di Jombang daripada lokasi alternatif.

Artikel ini akan mengeksplorasi kemungkinan tersebut, membedah catatan Wallace, sejarah Candi Arimbi, dan evolusi perkebunan kopi di Wonosalam dari era kolonial Belanda hingga sekarang. Dengan menggabungkan sumber historis dan geografis, kita akan melihat bagaimana kunjungan Wallace tidak hanya berkontribusi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga menyoroti kekayaan alam dan budaya Jawa Timur. Wonosalam, dengan komoditas utamanya seperti kopi, cengkeh, kakao, dan durian bido, tetap menjadi saksi bisu perubahan zaman, dari tanam paksa hingga perkebunan modern.

Misteri Lokasi: Wonosalam di Kaki Gunung Arjuna atau Anjasmoro?

Pertanyaan utama yang muncul dari catatan Wallace adalah lokasi Wonosalam. Dalam The Malay Archipelago, Wallace menggambarkan Wonosalem sebagai desa di kaki Gunung Arjuna, di mana ia mengumpulkan spesimen burung merak yang langka. Namun, Wonosalam yang dikenal hari ini di Kabupaten Jombang terletak di lereng utara Gunung Anjasmoro, sebuah pegunungan dengan lebih dari 40 puncak, termasuk Puncak Gunung Biru (2.331 mdpl) dan Puncak Anjasmoro itu sendiri. Gunung Anjasmoro berada dalam kluster yang sama dengan Gunung Argowayang dan berdekatan dengan kompleks Gunung Arjuno-Welirang, yang merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian mencapai 3.339 mdpl untuk Arjuno.

Apakah ada Wonosalam lain di kaki Gunung Arjuna? Pencarian historis dan geografis menunjukkan bahwa tidak ada bukti kuat akan adanya desa lain dengan nama serupa di sekitar Arjuna yang sesuai dengan deskripsi Wallace. Wonosalam di Jombang adalah satu-satunya yang cocok, terletak sekitar 30 km selatan Kota Jombang, dengan akses melalui jalur pegunungan yang subur. Kemungkinan besar, pada abad ke-19, nama Gunung Anjasmoro belum umum digunakan atau dianggap sebagai ekstensi dari Gunung Arjuna. Peta kolonial Belanda sering menggabungkan pegunungan ini sebagai satu entitas, karena letaknya dalam gugusan yang sama. Anjasmoro, yang berarti “gunung emas” dalam bahasa Jawa kuno, mungkin baru diberi nama resmi setelah era Wallace, atau kurang dikenal di kalangan Eropa.

Bukti pendukung datang dari rute perjalanan Wallace. Ia tiba di Surabaya pada Juni 1861, kemudian menuju selatan melalui Mojokerto dan Jombang. Dalam catatannya, ia singgah di Candi Arimbi sebelum mencapai Wonosalem. Candi Arimbi terletak di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Wonosalam di Jombang. Ini menegaskan bahwa Wonosalam yang dimaksud adalah yang di Jombang, bukan lokasi hipotetis lain. Jika ada Wonosalam di kaki Arjuna langsung (misalnya di sekitar Pasuruan atau Malang), rute tersebut tidak akan melewati Candi Arimbi, yang berada di lereng barat daya Arjuna-Anjasmoro.

Misteri ini mencerminkan tantangan kartografi abad ke-19, di mana nama-nama lokal sering disalahartikan oleh penjelajah Barat. Wallace, meski teliti, bergantung pada pemandu lokal dan peta Belanda yang tidak sempurna. Dugaan ini diperkuat oleh fakta bahwa Anjasmoro jarang disebut dalam literatur kolonial awal, sementara Arjuna lebih terkenal sebagai gunung suci Hindu.

Perjalanan Wallace ke Wonosalam: Catatan dari The Malay Archipelago

Dalam The Malay Archipelago, Wallace mendeskripsikan Jawa sebagai pulau yang kaya biodiversitas, meski telah banyak diubah oleh pertanian kolonial. Kunjungannya ke Wonosalem pada musim panas 1861 dimulai dari Surabaya, di mana ia terkesan dengan keragaman etnis dan pasar yang ramai. Menuju selatan, ia melewati hutan tropis yang “sangat indah”, dengan pepohonan tinggi dan sungai-sungai jernih. Di tengah perjalanan, ia menemukan Candi Arimbi, yang ia anggap sebagai “pusara seorang raja”. Wallace terpesona oleh arsitekturnya yang rumit, dengan relief-relief dewa dan makhluk mitos, meski ia salah mengira sebagai makam raja daripada perabuan ratu.

Sesampainya di Wonosalem, Wallace tinggal selama beberapa minggu, fokus pada pengumpulan spesimen. Ia berhasil menangkap burung merak (Pavo muticus), yang langka di alam liar, serta ayam hutan (Gallus gallus) dan berbagai burung endemik Jawa. Catatannya penuh kekaguman terhadap keindahan alam: hutan lebat, air terjun, dan kebun kopi yang terbentang luas. Wallace mengunjungi kebun-kebun kopi milik Belanda, di mana ia mengamati tanaman Coffea arabica yang subur, dikelilingi pepohonan teduh untuk melindungi dari sinar matahari langsung.

Perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Wallace menghadapi cuaca tropis yang lembab, serangga pengganggu, dan kesulitan transportasi di medan pegunungan. Namun, ia memuji keramahan penduduk lokal, yang membantunya dalam perburuan spesimen. Kunjungan ini berkontribusi pada pemahamannya tentang distribusi spesies, yang kemudian menginspirasi konsep “Wallace Line”—garis imajiner yang memisahkan fauna Asia dan Australia. Wonosalem menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya, menjembatani observasi di Jawa dengan ekspedisi ke Bali dan Lombok.

Sejarah Candi Arimbi: Titik Acuan Perjalanan Wallace

Candi Arimbi (juga disebut Rimbi) menjadi kunci dalam mengonfirmasi lokasi Wonosalam Wallace. Terletak di lereng Gunung Anjasmoro, candi ini adalah peninggalan Kerajaan Majapahit abad ke-14, bercorak Hindu. Bangunan batu andesit ini berukuran sekitar 13×11 meter, dengan relief-relief yang menggambarkan kisah Ramayana dan dewa-dewa Hindu. Wallace, dalam catatannya, mengira candi ini sebagai makam raja, tapi sejarah lokal menunjukkan bahwa ia mungkin benar secara metaforis: candi ini diduga sebagai tempat perabuan Tribhuwana Tunggadewi, ratu Majapahit yang memerintah 1328-1350, yang dianggap sebagai penjelmaan Dewi Parwati.

Lokasi candi di Dusun Ngrimbi, antara Bareng dan Wonosalam, membuatnya menjadi titik transit alami bagi penjelajah seperti Wallace. Reruntuhan candi pertama kali dilaporkan akhir abad ke-19, bertepatan dengan kunjungan Wallace. Hari ini, candi ini menjadi objek wisata sejarah, meski kondisinya kurang terawat dibandingkan Prambanan atau Borobudur. Kunjungan Wallace menambah nilai historis, menjadikannya jembatan antara sejarah Majapahit dan eksplorasi ilmiah Barat.

Sejarah Perkebunan Kopi di Wonosalam: Dari Tanam Paksa hingga Era Modern

Kebun kopi yang dikunjungi Wallace kemungkinan berasal dari era Cultuurstelsel (tanam paksa), diperkenalkan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada 1830. Kopi pertama kali dibawa ke Jawa oleh Belanda pada akhir abad ke-17, dengan tanaman pertama di Batavia (Jakarta). Di Wonosalam, perkebunan kopi berkembang pesat karena tanah vulkanik yang subur di lereng Anjasmoro. Pada masa Wallace (1861), kebun-kebun ini sudah mapan, meski mungkin masih primitif dibandingkan standar Eropa.

Kawasan Mojowarno, berdekatan dengan Wonosalam, menjadi pusat kolonial Belanda abad ke-18, dengan pengaruh kebijakan tanam paksa yang “terpancar” ke sekitarnya. Peninggalan seperti rumah tua, gereja, dan Pabrik Gula Tjoekir masih terlihat hingga kini. Setelah kunjungan Wallace, sekitar awal 1900-an, perusahaan Belanda seperti NV Cultuur Maatschappij Wonosalam merevitalisasi perkebunan dengan sistem sewa lahan, “merayu” elite lokal. Perkebunan dibangun di ketinggian, dari Dusun Segunung (Desa Carangwulung) hingga Sumberjahe dan Sumberarum (Desa Sambirejo). Pabrik pengolah kopi di Segunung dibangun awal 1920-an dan bertahan hingga 2000-an sebelum diruntuhkan.

Kopi Excelsa Wonosalam, yang mungkin sudah ada sejak era Belanda, menjadi varietas unik. Wallace mungkin telah mengunjungi area Segunung, mengingat kopi sudah ada sebelum 1861. Pasca-kolonial, perkebunan dikelola petani lokal, dengan kopi tetap komoditas utama bersama cengkeh, kakao, dan durian bido.

Warisan Saat Ini: Wonosalam sebagai Destinasi Agrowisata

Hari ini, Wonosalam adalah pusat agrowisata di Jombang, dengan kebun kopi yang menarik wisatawan. Jejak Wallace dimanfaatkan untuk storytelling wisata, seperti tur mengikuti rute perjalanannya ke Candi Arimbi dan kebun kopi. Kebakaran hutan di Anjasmoro pada 2023 menunjukkan tantangan lingkungan, tapi upaya pelestarian terus dilakukan.

Biodiversitas tetap kaya, dengan arthropoda tanah yang beragam di hutan Anjasmoro. Wonosalam menawarkan pendakian via Segunung, menghubungkan sejarah dengan alam.

Kesimpulan

Kunjungan Wallace ke Wonosalam pada 1861 mengungkap misteri geografis yang menarik, di mana Gunung Anjasmoro mungkin dianggap bagian dari Arjuna. Dengan bukti dari Candi Arimbi dan sejarah kopi kolonial, Wonosalam di Jombang adalah lokasi yang dimaksud. Warisan ini memperkaya pemahaman kita tentang evolusi, kolonialisme, dan pelestarian alam di Jawa Timur. Saat Indonesia menuju 2045, Wonosalam tetap menjadi simbol ketahanan budaya dan alam.

Tinggalkan komentar