Efektifitas Mata Pelajaran Muatan Lokal Keagamaan dalam Pendidikan Karakter Siswa SD dan SMP di Kabupaten Jombang

Penampilan seni musik Islami Banjari oleh TPQ Al-Mujahiddin Guwo Mojowarno Jombang
Penampilan seni musik Islami Banjari oleh TPQ Al-Mujahiddin Guwo Mojowarno Jombang

Mulai tahun pelajaran 2016/2017 ini diberlakukan mata pelajaran muatan lokal keagamaan untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Jombang. Ini merupakan salah satu wujud nyata slogan Jombang Sejahtera Untuk Semua seperti telah didengungkan oleh Pemkab Jombang. Sebagai muatan lokal (mulok) wajib, mulok keagamaan diharapkan dapat membantu sekolah dalam menjalankan pendidikan karakter terhadap siswa.

Sejauh mana efektifitas muatan lokal keagamaan dalam membentuk karakter ideal siswa itulah kajian yang harus diperhatikan oleh para praktisi pendidikan, pembuat kebijakan dan segenap stakeholder pendidikan. Pelaksanaan muatan lokal keagamaan memang baru enam bulan. Ada sebagian pihak yang memandang terlalu dini untuk menilai keberhasilan pelaksanaan mulok keagamaan terhadap pembentukan karakter peserta didik. Meski terbilang seumur jagung, bukankah lebih baik mengevaluasi satu semester ini daripada terlambat menyadari di kemudian hari.

Satu fenomena yang terjadi akibat pelaksanaan muatan lokal keagamaan adalah para siswa berlomba-lomba mendaftar menjadi murid lembaga pendidikan keagamaan nonformal. Bagi peserta didik muslim, mereka diwajibkan mengikuti kegiatan mengaji di taman pendidikan Al-Quran (TPQ) terdekat dengan rumah mereka. Akibatnya, TPQ di dusun-dusun sekarang kebanjiran peserta didik yang ingin menjadi santri. Berdasarkan pengamatan penulis, terjadi penambahan jumlah santri yang belajar di TPQ hingga mencapai tiga puluh persen.

Sebagai contoh fenomena santrinisasi peserta didik SD dan SMP adalah berjubelnya para orang tua yang mendaftarkan putra-putri mereka untuk mengaji di TPQ-TPQ di Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Di Dusun Guwo terdapat tiga buah TPQ yang aktif, yaitu TPQ Al-Mujahiddin, TPQ Baitur Rahman dan TPQ Baitur Rohim. Masing-masing TPQ tersebut pada awalnya memiliki santri masing-masing berjumlah 63 anak, 18 anak dan 28 anak. Namun setelah pelaksanaan muatan lokal keagamaan, masing-masing TPQ tersebut memiliki santri 75 anak, 44 anak dan 63 anak.

Keyakinan di Tengah Hambatan

Sayangnya, peningkatan jumlah santri TPQ di Dusun Guwo tidak diiringi oleh penambahan jumlah ustadz- ustadzah yang aktif mengajar. Jumlah pengajar TPQ di TPQ Al-Mujahiddin, TPQ Baitur Rahman dan TPQ Baitur Rohim masing-masing adalah 4 orang, 2 orang dan 3 orang. Jumlah itu tidak berubah selama kurun waktu enam bulan terakhir. Rata-rata seorang guru mengajar 18 santri per kelas. Keadaan ini sebenarnya tidak ideal. Berdasarkan pengalaman penulis dalam mengajar di TPQ, jumlah santri per kelas idealnya tidak lebih dari 12 anak per guru. Kondisi ideal itupun dapat terlaksana dengan syarat pengajaran dilakukan secara klasikal, yaitu 1 guru mengajarkan 1 materi yang sama kepada semua santri.

Minimnya jumlah pengajar TPQ dipengaruhi oleh rendahnya daya tarik masyarakat terhadap profesi guru ngaji. Rendahnya daya tarik terhadap profesi guru mengaji dipengaruhi oleh rendahnya apresiasi (baca: gaji) yang diterima guru ngaji. Sekalipun setiap guru TPQ sudah menanamkan semangat keikhlasan karena lillahi ta’ala, namun tuntutan ekonomi tidak bisa dipungkiri menjadi motivasi terbesar dalam bertindak. Para pengajar TPQ memiliki keluarga yang harus dinafkahi. Tidak mengherankan jika banyak pengajar TPQ yang memutuskan berhenti mengajar karena lebih tertarik bekerja di bidang lain yanf lebih menjanjikan secara ekonomi.

Faktor berikutnya yang mempengaruhi efektifitas pengajaran muatan lokal keagamaan adalah manajemen TPQ yang kurang bagus dapat menghambat sinergi sekolah dengan TPQ. Secara organisasional, sekolah memiliki perencanaan dan penataan program pendidikan yang lebih baik dibanding taman pendidikan Al-Quran. Kondisi yang timpang ini memungkinkan miskomunikasi diantara kedua belah pihak terkait metode pembelajaran yang efektif bagi peserta didik. Keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan di TPQ dan rendahnya kualitas sumber daya manusia pengajar TPQ disinyalir menjadi penyebab sentral kegagalan proses penyampaian ilmu kepada peserta didik.

Tidak kalah pentingnya, peran orang tua turut mempengaruhi kesuksesan pendidikan karakter anak. Sejak pertengahan November 2016 lalu setiap siswa SD dan SMP diwajibkan membuat laporan kegiatan sholat subuh berjamaah. Kegiatan ini mengharuskan setiap peserta didik melaksanakan sholat subuh di masjid atau musholla terdekat dengan rumah mereka. Bukan hanya itu, setelah mengikuti sholat berjamaah mereka harus mengumpulkan tanda tangan imam sholat subuh, tanda tangan orang tua dan tanda tangan guru muatan lokal keagamaan. Peran orang tua bukan hanya membangunkan anak dan mengantarkan mereka ke pintu gerbang masjid. Tetapi juga memberikan contoh keteladanan terhadap anak.

Dapat disimpulkan bahwa keberadaan muatan lokal keagamaan di SD dan SMP di Kabupaten Jombang masih kurang efektif bila ditinjau dari perubahan perilaku peserta didik. Hambatan utama dalam pengembangan karakter religius anak didik berasal dari lingkungan tempat tinggal mereka yang tidak mampu memberikan keteladanan dalam perilaku mulia sehari-hari. Semoga terinspirasi.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *