Pendidikan Bukan Hanya Tugas Guru Semata, Melainkan Tanggungjawab Bersama

Peringatan Hari Isra Miraj atau Rejeban di SDN Japanan 1 Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang
Peringatan Hari Isra Miraj atau Rejeban di SDN Japanan 1 Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang

Seburuk-buruk guru adalah yang gagal mendidik muridnya menuju perilaku yang lebih santun dan terhormat di masyarakat. Kalimat inilah yang saat ini terngiang-ngiang di telinga saya. Betapa hati dan pikiran ini tidak kacau saat mengetahui salah satu murid melakukan tindak asusila di masyarakat. Muka memanas, hati bergejolak, hingga tanpa sadar butir air mata tercurah di tengah sujud kepada illahi. Inilah fase terburuk sepanjang saya menjalani profesi sebagai pengajar.

Saya pernah dihakimi ratusan massa di tengah jalan tanpa seorang pun membela saya. Itu kejadian menyakitkan dan meninggalkan trauma psikis. Tapi kali ini jiwa saya lebih terluka dan lebih tertekan. Masyarakat yang menghakimi saya bukan ratusan, bahkan satu kampung. Pandangan mata mereka menyorot lebih jeli tingkah-laku saya. Oh inikah gurunya anak pelaku tindakan tidak terpuji itu?

Paribasan Jawa berbunyi: ‘anak polah bapa kepradah’ itu memang benar. Kali ini seorang murid yang mencoreng muka puluhan guru. Kecolongan? Sudah pasti. Selama ini saya selalu memberi nasehat kepada anak-anak yang beranjak remaja untuk menjaga jarak dengan lawan jenis. Ucapan saya itu kiranya tidak mereka gubris. Mereka pun berulah di depan kamera. Tanpa sadar, mereka sedang bermain-main dengan imej buruk seorang pelaku tindakan tercela.

Saya sangat menyayangkan rendahnya kontrol orang tua terhadap anak-anak mereka, terutama di luar jam sekolah. Ketika anak-anak berada di sekolah pada jam sekolah tentu saja segala perbuatan mereka menjadi tanggung jawab guru. Tapi saat anak sudah pulang sekolah, orang tua adalah pengawas utama. Mana mungkin pihak sekolah mampu mengawasi setiap gerak-gerik anak sepulang dari sekolah. Sangat disayangkan selama ini orang tua kurang berperan dalam hal ini. Anak tidak pulang mandi, dibiarkan. Anak tidak berangkat mengaji di TPQ, dibiarkan juga.

Download Gambar Mahabharat-Wallpaper-Drupadi
Gambar Mahabharata-Wallpaper-Drupadi // Perilaku asusila Kurawa adalah contoh buruknya buah pendidikan. Setiap guru harus bekerjasama dengan orang tua untuk mendorong perbaikan moral anak.

Kalau sudah timbul kejadian memalukan seperti ini mau berkata apa? Apakah Anda mau menyalahkan perilaku anak-anak yang pintar memanfaatkan fitur canggih smartphone? Apakkah kita mau menyalahkan pabrik telepon genggam mengapa mereka bikin aplikasi yang memudahkan anak merekam video? Atau kalau kita mau jujur, apakah para orang tua mau menyalahkan diri mereka sendiri yang terlalu longgar memberikan kebebasan kepada anak-anaknya? Mari kita renungkan bersama.

Saya teringat salah satu lagu senam PGRI yang berbunyi: pendidikan bukan hanya tugas guru semata, melainkan tanggung jawab bersama. Antara orang tua, guru dan masyarakat harus berbagi peran mendidik anak. Tiga pilar ini harus bekerjasama dan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kalau sampai miskomunikasi beginilah kejadiannya. Guru di sekolah sudah ketat mengawasi anak, tapi anak tidak ada pengawasan dari orang tua dan masyarakat setelah pulang dari sekolah. Bobroknya mental generasi muda karena putusnya kerjasama tiga pilar pendidikan itu.

Bagaimana dengan peran Pak Modin selaku imadudin alias kepala agama di desa? Lupakah Pak Modin pada tugasnya memimpin masyarakat dalam kehidupan agama? Apakah Pak Modin tidak takut tanggung jawab akhirat sebagai kepala bidang pembangunan mental dan spiritual masyarakatnya? Inilah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh para pemuka agama dan Pemerintah Desa. Membebankan tugas mendidik anak hanya kepada guru bukanlah keputusan bijak. Semua pihak harus terlibat aktif dalam pendidikan anak.

Semoga dengan kemunculan kasus video dan foto tindakan tidak terpuji ini bisa menyadarkan kita pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak. Sekolah pun harus sering mengadakan parenting untuk menyamakan cara berpikir pendidikan anak-anak mereka. Cukup sampai disini saja. Semoga tidak ada lagi kejadian memalukan yang mencoreng nama baik keluarga dan sekolah.

Bagikan artikel ini melalui:

17 Replies to “Pendidikan Bukan Hanya Tugas Guru Semata, Melainkan Tanggungjawab Bersama”

  1. Orang tua juga harus dilibatkan dalam proses pendidikan anak supaya efektifitas pengajaran lebih baik.
    selama ini kendala dalam pendidikan adalah masalah keteladanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *