Sahur Gak Sahur Sak Karepmu, Sing Penting Aku Wis Mbugah

Contoh alat musik tradisional Jawa berupa patrol tradisional kenthongan
Contoh alat musik tradisional Jawa berupa patrol tradisional kenthongan

Ada situasi yang berbeda pada pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan tahun ini. Keberadaan kelompok seniman patrol modern Jombang mulai berkurang pada pelaksanaan kegiatan membangunkan makan sahur. Pada tahun lalu masih ramai kita mendengar beberapa kelompok seniman patrol modern Jombang membangunkan warga dengan cara melakukan pawai. Mereka beraksi mulai pukul 02.00 pagi hingga menjelang pukul 04.00 waktu imsak.

Namun tahun ini keberadaan musik patrol hampir tidak terdengar di Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Kiranya para pemusik patrol itu sudah tidak memiliki minat untuk menggunakan alat musik mereka dalam rangka membangunkan warga agar mau makan sahur tepat pada waktunya.

Sebagai ganti dari keberadaan kelompok seniman patrol modern Jombang adalah sejumlah anak berkumpul dan memainkan alat-alat musik sederhana yang terbuat dari barang-barang bekas di rumah mereka. Alat-alat musik mereka terdiri dari kaleng-kaleng bekas dan beberapa barang pecah belah yang mampu mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga. Itulah senjata mereka untuk membangunkan orang-orang agar makan sahur.

Mereka berkeliling kampung pada pukul 02.00 hingga pukul 03.00 pagi dini hari sembari meneriakkan lagu tertentu. Kalimat-kalimat yang mereka ucapkan dalam membangunkan orang sahur pun berbeda-beda, mulai dari kalimat yang sopan hingga yang bernada agak kasar.

Saur gak saur sak karepmu
Sing penting aku wis mbugah
Saur gak saur sak karepmu
Sing penting aku wis mbugah

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira kalimat tersebut akan berbunyi seperti ini:

sahur tidak sahur terserah anda
yang penting saya sudah membangunkan
sahur tidak sahur terserah anda
yang penting saya sudah membangunkan

Itulah beberapa kalimat pemusik patrol puasa yang sering mereka gunakan untuk membangunkan orang makan sahur. Meskipun terkesan agak kasar, namun kalimat tersebut ampuh dipakai dan memberikan kesan lucu tersendiri bagi siapa saja yang mendengarkan. Setiap warga yang mendengar lagu pembangun orang makan sahur itu pasti akan merasa sedikit tersinggung karena telah dibangunkan dengan cara yang agak kasar. Bagaimana lagi. Inilah bentuk perkembangan budaya masyarakat Jombangan yang mendapatkan pengaruh dari bahasa Suroboyoan yang lugas dan apa adanya.

Lagu membangunkan orang untuk makan sahur ini semakin viral karena dipopulerkan melalui sosial media. Saat ini telah beredar beberapa macam video yang berisikan lagu-lagu pembangun orang makan sahur. Sebagian besar diantara lagu tersebut dinyanyikan dengan cara yang lucu dan dengan iringan alat-alat musik yang lucu pula. Tak ayal lagi, Ramadhan tahun ini memberikan warna tersendiri bagi setiap generasi milenial yang aktif berinteraksi di jejaring sosial. Semoga amal ibadah di bulan puasa ini tetap memberikan kedamaian bagi setiap muslim yang melaksanakannya tanpa perlu memaki dan melukai perasaan orang lain.

Bagikan artikel ini melalui:

6 Replies to “Sahur Gak Sahur Sak Karepmu, Sing Penting Aku Wis Mbugah”

  1. Wah… Wah… Wah…
    Ojo kasar2 ustadz. membangunkan orang untuk makan sahur adalah perbuatan mulia maka cara melaksanakannya pun harus dilakukan dengan cara yang mulia pula.

  2. Arek enom jaman sakiki nduwe semangat gede tp kurang nduwe unggah-ungguh. Ojo ditiru omongane arek embongan. Dadio wong sing bisa ngajeni marang wong tuwone.

  3. perkembangan sosial media benar-benar mempengaruhi perilaku remaja saat ini. terbukti kan ketika di bulan Ramadhan ini anak-anak menirukan ucapan para youtuber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *