Sisi Angker Obyek Wisata Alam Pegunungan Dieng di Jawa Tengah yang Belum Anda Ketahui

obyek-wisata-alam-di-kabupaten-malang
Sumber foto: anomharya.com

Apa kabar sobat blogger pembaca The Jombang Taste? Komunitas blogger Jombang kembali mengajak Anda mengenal lebih dekat kekayaan alam dan ragam budaya Nusantara yang tampak dalam sejumlah tempat wisata di Indonesia. Salah satu obyek wisata menarik di Jawa Tengah adalah Pegunungan Dieng dengan sejumlah keunikan yang dimilikinya. Inilah destinasi wisata Jawa Tengah yang sering dikunjungi wisatawan dalam negeri dan turis mancanegara.

Asal-usul Pegunungan Dieng

Menurut sejarah yang berkembang secara turun menurun di masyarakat sekitar obyek wisata, Dieng bisa diartikan Redi (Di) dan Hyang (eng), atau berarti Gunung Dewata. Tetapi ada yang menafsirkan sebagai Adi (di) tur Aeng (eng) artinya bagus lagi menakjupkan, aneh, menarik, mengagumkan. Asal-usul nama Dieng ini mungkin masih mengandung perdebatan di kalangan ahli sejarah. Namun secara umum diyakini bahwa Dieng adalah tempat sakral pada masa dulu.

Kawasan Dieng adalah sebuah dataran tinggi yang terletak di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Tempat wisata di Jawa Tengah ini memiliki ketinggian lebih kurang 2.090 meter dari permukaan laut, dengan hawa yang dingin kadang-kadang mencapai 17 derajat Celcius pada siang hari. Maka tak mengherankan jika Dieng berkembang menjadi obyek wisata alam yang menawarkan udara segar yang alami bagi setiap pengunjung.

Kondisi Alam Pegunungan Dieng

Kawasan wisata alam Dataran tinggi Dieng dibagi atas 3 bagian. Bagian yang pertama, pada ketinggian lebih kurang 2.090 meter merupakan dataran tinggi yang diapit oleh rangkaian Gunung Prau dan Jurang Grawah yang juga merupakan dinding alam. Kemudian bagian pertama tempat wisata alam di Jawa Tengah ini berupa dataran tinggi yang disambung oleh rangkaian Gunung Kendil, Pakuwaja, dan Gunung Bismo.

Selanjutnya bagian kedua dari Pegunungan Dieng berupa kawasan dataran tinggi yang tidak kalah indahnya. Obyek wisata Dieng dipagari oleh rangkaian Pegunungan Pangonan dan Sipandu. Dataran kedua yang lebih kurang 1.950 meter tingginya ini terletak di sebelah barat dari dataran tinggi yang pertama. Bagian kedua wisata alam Dieng diapit oleh Gunung Nogosari, Pangamunamun, dan Gajah Mungkur, yang juga merupakan ujung dari rangkaian Pegunungan Kendeng-Rogojembangan.

Bagian yang ketiga dari kawasan obyek wisata alam Pegunungan Dieng adalah dataran tinggi Batur Pakasiran, yang tingginya lebih kurang 1.700 meter dari permukaan laut. Melihat keadaan alamnya menunjukkan bahwa dataran tinggi Dieng adalah bekas irisan sebuah gunung berapi besar yang telah meletus ribuan tahun yang lalu.

Letusan Gunung Dieng pada masa purbakala menghancurkan bagian atas yang kemudian menghambur ke sekeliling dan menjadi bukit-bukit. Bekas letusan Gunung Dieng kini terwujud sebagai sebuah dataran yang dipenuhi oleh kawah-kawah yang sudah mati menjadi telaga dan sumber air panas, serta kawah-kawah yang masih hidup. Kondisi alam ini mengubah wajah Dieng menjadi tujuan wisata alam di Jawa Tengah yang indah.

Tumpukan tanah dari penghamburan puncaknya banyak yang belum bisa bercampur dengan tanah di bawahnya, sehingga tanah tersebut masih bergerak dan bergeser. Gerakan tanah itu sering dijumpai di daerah Batur. Misalnya dengan peristiwa hilangnya desa Legetang pada tahun 1955. Juga banyak dijumpai pergeseran jalan yang mengakibatkan terpotongnya jalan antara Banjarnegara menuju Karangkobar.

Antara 80% sampai 90% daerah Pegunungan Dieng berada di Kabupaten Banjarnegara. Namun, karena Kabupaten Wonosobo memiliki pintu gerbang lewat Kejajar Garung, maka arus wisatawan lebih lancar lewat Banjarnegara Karangkobar-Wanayasa Batur-Dieng yang menempuh jarak lebih kurang 55 km dengan kondisi jalan yang kurang baik. Meski demikian, pembangunan sarana menuju wisata Dieng makin bagus dari tahun ke tahun.

Sejak didirikannya Badan Pembina Pengembangan Pariwisata Dieng dan sekitarnya, maka pembagian pendapatan dari obyek wisata di Jawa Tengah ini setelah dipotong 10 % untuk badan tersebut kemudian sisanya dibagi 40% untuk Banjarnegara dan 60% untuk Wonosobo. Saat ini Pegunungan Dieng telah dikenal sebagai tempat wisata di Wonosobo yang indah dan obyek wisata di Banjarnegara yang berudara asri.

Rute Menuju Wisata Dieng

Apabila Anda berwisata liburan ke Dieng dan Anda berangkat dari Wonosobo, maka Anda akan lewat Garung-Kejajar dan hanya menempuh jarak lebih kurang 26 km. Perjalanan ke puncak Dieng melewati jalan berliku-liku di sela-sela bukit berbatu, lereng terjal dengan jurang yang menganga mengerikan. Meskipun terjal namun kondisi jalannya halus. Tempat wisata alam di Wonosobo ini bisa Anda kunjungi sepanjang tahun.

Tanah di sepanjang jalan menuju Dieng penuh dengan tanaman tembakau, kubis dan kacang babi. Dan apabila Anda sudah sampai di desa Dieng, sejauh mata memandang hanya nampak anak-anak dan orang-orang yang menyelimuti dirinya dengan sarung, jaket atau baju penghangat karena hawa yang sangat dingin. Oleh karena itu, setiap wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata di Wonosobo ini harus mempersiapkan diri dengan bekal pakaian hangat yang cukup untuk melindungi tubuh dari udara dingin sepanjang tahun.

Agar setiap wisatawan yang akan berkunjung ke obyek wisata Pegunungan Dieng mendapat keterangan tentang daerah Dieng dengan benar, maka sebaiknya sejak di Wonosobo, Anda datang dulu ke Paseban Barat di depan kabupaten. Di sana Anda bisa mendapatkan keterangan-keterangan tentang obyek wisata dari Tourist Information Service. Agar tidak tersesat selama berkendara, Anda juga dapat membawa penunjuk jalan maupun tour guide yang pandai berbahasa Indonesia, Jawa dan Inggris.

Ragam Obyek Wisata Dieng

Apabila Anda ingin menikmati tempat wisata alam Dieng secara lengkap, maka Anda dapat mengunjungi sejumlah obyek wisata di kawasan Dieng dan sekitarnya. Beberapa spot menarik di wisata alam Dieng adalah Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Telaga Merdada, Telaga Swiwi, Telaga Balekambang, Telaga Dringo, Telaga Warna, Telaga Pengilon, kompleks candi Dieng, Sumur, Gua, dan Makam Budha.

Bukan hanya itu, Dieng juga memiliki tempat wisata alam berupa pemandian air hangat yang mengandung belerang, Taman Bunga, Jamur Dieng, kacang babi, ladang kobis, ladang tembakau, dan ladang sayur-sayuran yang semuanya menarik untuk dikunjungi. Bagi Anda yang memiliki hobi memotret pemandangan alam, Pegunungan Dieng bisa menjadi lokasi menarik untuk hunting foto-foto indah dan mengesankan.

Setelah perjalanan mendekati tujuan wisata di Jawa Tengah ini, Anda bisa menjumpai Tuk Bimo Lukar. Tuk adalah sebutan sumber air atau pancuran dalam bahasa setempat. Apakah dulu di sini Sang Bimo pernah mandi dan melepas pakaian, kita tidak tahu. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, untuk mencapai puncak nirwana manusia diharuskan mencuci badan, sebagai perlambang menghapus segala macam nafsu angkara murka, kejahatan, sifat durhaka, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Dari cerita-cerita rakyat yang terkumpul di masyarakat, Dataran Tinggi Dieng merupakan sebuah tempat berkumpulnya para pendeta. Tidak salah jika Anda menyebut Dieng sebagai salah satu tempat wisata sejarah di Jawa Tengah karena di sana dulu terdapat biara-biara dan perguruan-perguruan untuk mendidik para calon pendeta. Sampai sekarang di dataran Dieng masih berdiri tegak candi-candi Syiwa, yang merupakan bukti peninggalan sejak jaman Kalingga pada abad ke VII.

Candi-candi itu merupakan candi para Pendawa, yakni Candi Arjuno dan saudara-saudaranya. Di kalangan masyarakat masih tebal keyakinan bahwa jika Anda mengelilingi Candi Bimo sebanyak tujuh kali sambil mengatakan permohonan, maka akan terkabulkan permohonan Anda. Anda juga dapat mengheningkan cipta dan kemudian diakhiri mencuci muka dengan air di tempat pemujaan Candi Arjuno, maka akan terkabul segala cita-cita Anda. Itulah kepercayaan yang berkembang di tempat wisata sejarah di Jawa Tengah ini.

Masih membahas nilai historis dari obyek wisata Dieng di Jawa Tengah, di sebelah kompleks candi-candi Pandawa berdirilah dua buah bangunan bersejarah yang dikenal sebagai Pendopo Soeharto-Whitlam. Salah satu titik kunjungan obyek wisata di kawasan Dieng ini merupakan bangunan yang dipakai oleh Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Australia untuk berunding di masa Pemerintahan Orde Baru.

Kawah Sikidang Bisa Melompat

Semakin jauh menelusuri Pegunungan Dieng, Anda akan terhanyut oleh keunikan dan keanehan yang dimilikinya. Selanjutnya, Anda bisa menemukan Kawah Sikidang di area wisata Pegunungan Dieng. Kawah Sikidang merupakan sebuah kawah kecil yang permukaannya tertutup oleh tanah sehingga menyebabkan suara gemuruh belerang yang mendidih. Suara gemuruh kawah memantul-mantul ke dinding kawah dan menimbulkan suara seperti kendang atau tambur.

Kawah Sikidang dengan kepulan asap yang berbau belerang keluar dari beberapa kawah. Putih seperti kapas yang kemudian menggulung-gulung meninggalkan mulut kawah yang berisi lumpur campur belerang yang mendidih. Tanah di sana berwarna putih kuning kecoklatan karena pengaruh belerang. Bagi wisatawan yang memiliki riwayat pernah mengidap penyakit pernapasan harap berhati-hati saat berlibur kesana. Sediakan masker khusus agar Anda tetap segar bugar menempuh perjalanan wisata pegunungan di Jawa Tengah ini.

Kawah tersebut dinamakan Kawah Sikidang karena hembusan uap dari dalam lumpur berpindah-pindah tempat, seakan-akan meloncat-loncat seperti loncatan kidang, maka ia disebut kawah Sikidang. Demikian budaya masyarakat Jawa di sekitar Pegunungan Dieng turut memberi warna pada keunikan obyek wisata di Wonosobo ini.

Sumur Raksasa Jalatunda

Obyek-obyek wisata di tempat wisata alam Dieng berikutnya adalah Sumur Jalatunda. Sumur Jalatunda merupakan sumur raksasa yang mempunyai luas 200 meter persegi. Tepi mulut Sumur Jalatunda ditutup dengan pagar kawat berduri untuk keamanan wisatawan yang berkunjung. Wisatawan sebaiknya tidak terlalu dekat ke mulut sumur karena kandungan belerang dalam udara yang keluar dari dalam sumur dikhawatirkan dapat mengganggu kenyamanan berlibur.

Terdapat kepercayaan yang berkembang di masyarakat sekitar Dieng bahwa setiap orang yang berhasil melemparkan batu dari tepi satu ke sisi tepi yang lain, apabila lemparan sampai ke tepi yang sana maka permohonannya akan dikabulkan. Kebenaran mitos ini boleh dipercaya maupun tidak dipercaya namun banyak wisatawan yang mencoba melakukannya dan mereka mengaku berhasil melaksanakan hajatnya.

Mitos Gua Jaran

Selain Kawah Sikidang dan Sumur Jalatunda, di sekitar obyek wisata Dieng terdapat gua yang disebut Gua Jaran. Konon ceritanya, jaman dulu ada seekor kuda yang pernah masuk ke dalam gua ini. Anehnya, begitu si kuda keluar ia dalam keadaan sudah bunting, dan kemudian melahirkan anak. Itulah cerita rakyat sekitar Dieng yang terdengar tidak masuk akal namun dipercaya kebenarannya.

Akibat mitos tersebut, saat ini banyak pasangan suami-istri yang datang ke Gua Jaran dengan maksud agar segera mendapatkan anak. Beberapa ritual tertentu dilakukan oleh mereka dengan tujuan agar hajatnya terkabulkan. Kepercayaan ini menjadikan Pegunungan Dieng sebagai salah satu tempat wisata keramat dan angker di Jawa Tengah. Kesakralan Dieng mampu mengundang kunjungan wisatawan dari berbagai kota di Pulau Jawa.

Keramat Gua Semar

Selain Gua Jaran, ada juga titik wisata yang disebut Gua Semar di bagian lain dari obyek wisata alam Dieng. Gua Semar termasuk gua keramat dan terdapat larangan bagi wisatawan untuk memasukinya. Di depan Gua Semar tertera tulisan: Dilarang masuk, sedang berisi. Menurut cerita rakyat sekitar Dieng, Gua Semar sering dipakai sebagai tempat semedi, sehingga kita tidak diperkenankan masuk, agar tidak mengganggu orang yang sedang bersemedi.

Gua Semar saat ini berkembang menjadi tempat wisata keramat di Wonosobo dan dihadiri oleh para wisatawan yang meyakini kekuatan magis Sang Hyang Semar. Mereka adalah kelompok Kejawen yang mempercayai adanya kekuatan khusus pada sosok Semar, salah satu punakawan yang menjadi penjelmaan dewa.

Gua Upas Penebar Maut

Gua jimat yang lain di kawasan wisata Dieng adalah Gua Upas. Gua Upas berada 8 km dari kompleks candi-candi Dieng. Gua Upas terletak di atas bukit yang tinggi. Gua ini dianggap keramat karena barang siapa yang berani masuk ke dalamnya maka dia akan mati. Menurut cerita rakyat Dieng, di gua inilah para Pendawa menyimpan pusaka-pusakanya. Misalnya: pusaka pasopati, pulanggeni, dan gada rujak polo. Bukan hanya itu, Gua Upas dijaga dengan ketat oleh para makhluk halus sehingga tidak seorang pun yang berani masuk ke dalamnya.

Herman Keller, seorang wisatawan Jerman yang nekat memasuki Gua Upas meninggal dunia. Setelah diselidiki, meninggalnya wisatawan yang masuk Gua Upas bukan karena diganggu oleh para makhluk halus yang menunggu Gua Upas, tetapi ternyata karena adanya gas beracun yang terdapat dalam gua itu. Jadi bukan karena keramatnya makhluk halus, melainkan keramatnya gas beracun. Makam Herman Keller kini membujur di depan gua, merupakan batas daerah keramat bagi wisatawan yang ingin menyaksikan gua ini.

Keunikan Tari Angguk Dieng

Daya tarik obyek wisata Dieng juga tampak dari keragaman seni budaya tari daerah setempat. Apabila ada pembesar dari negara lain berkunjung ke Dieng, sebagai tamu negara, maka untuk menghormati tamu itu ditampilkan seni tari yang merupakan kesenian khas Dieng, yang disebut Kesenian Angguk. Meskipun kesenian tari ini disebut Tari Angguk, namun gerakan angguk-angguknya tidak berapa banyak.

Seniman Tari Angguk terdiri dari beberapa orang. Mereka berdiri berbanjar dan bersap. Mereka berpakaian seragam bergaya ketoprak dengan kaos kaki hitam, celana hitam batas lutut, baju putih lengan panjang, selendang dan sabuk remong. Kehadiran para penari Angguk ini berfungsi sebagai ucapan selamat datang untuk tamu kehormatan yang mengunjungi kawasan wisata Dieng.

Penari Angguk mengenakan kuluk (topi khas Jawa) dan anting-anting, memakai upu wajah, dan mengenakan kalung kain hitam yang digantungi oleh butir manik-manik. Di pergelangan tangan penari Angguk memakai gelang kain hitam dengan lingkaran manik-manik. Para penari Angguk menari diiringi oleh irama sebuah jidur, sebuah kendang, dan dua buah rebana. Maka menari-narilah para anggota angguk.

Demikian keunikan yang bisa Anda jumpai pada tempat wisata alam Pegunungan Dieng di Jawa Tengah. Semoga keindahan alam Dieng tidak menyurutkan langkah Anda untuk menjelajahi ratusan obyek wisata di Wonosobo yang mempunyai nilai historis sekaligus mistis. Ayo jalan-jalan ke destinasi wisata Jawa Tengah!

Daftar Pustaka:

Sunaryo, BA. 1984. Mengenal Kebudayaan Daerah. Tiga Serangkai: Solo

16 Replies to “Sisi Angker Obyek Wisata Alam Pegunungan Dieng di Jawa Tengah yang Belum Anda Ketahui”

  1. sangat aneh ya, banyak wisatawan justru datang ke dieng buat uji nyali. harusnya niat mereka untuk melestarikan budaya lokal, bukan menyembah hantu.

  2. Dunia mistis tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Mau tidak mau, itulah kenyataan yang harus kita terima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *