Cerita Rakyat Madura: Kolam Si Ko’ol Pembawa Petaka Keraton Pamekasan

Gambar Fotografi Alam - Aktifitas nelayan menjaring ikan di Waduk Selorejo Ngantang Malang
Gambar Fotografi Alam – Aktifitas nelayan menjaring ikan di Waduk Selorejo Ngantang Malang

Hallo blogger Jombang dan blogger Madura! Pada artikel sebelumnya telah diceritakan bahwa kota Pamekasan mengalami pembanguan yang pesat di bawah pemerintahan Raja Ronggosukowati yang dikenal sebagai Pangeran Ronggosukowati. Seri cerita rakyat Madura kali ini akan membahas sejarah Kolam Si Ko’ol di Pamekasan. Dari salah satu tempat wisata di Madura inilah seri cerita rakyat Madura berkembang.

Untuk mendidik rakyat Pamekasan agar mencintai lingkungan hidup, Pangeran Ronggosukowati senang memelihara ikan hias. Oleh karena itu, pada waktu kota Pamekasan di bawah kekuasaan Pangeran Ronggosukowati, ia memerintahkan pembuatan Kolam Si Kool di belakang Keraton Mandiraras. Ikan-ikan hias yang amat disenangi orang terdapat disana. Di tepi kolam Si Kool ditanami bunga beraneka warna dan pepohonan pelindung yang amat rindang.

Dalam waktu senggangnya, Pangeran Ronggosukowati dan Ratu Inten, isterinya, sering bercengkerama di sana. Tak seorang pun yang berani mendekati kolam itu, apa lagi mengambil ikan kesayangan Sang Pangeran dari Pamekasan ini. Untuk menjaga kebersihan kolam, Pangeran Ronggosukowati memiliki petugas khusus. Tak sembarang orang yang diizinkan berada di kolam itu. Sehingga Kolam Si Ko’ol kelihatan berwibawa dan cukup angker.

Kunjungan Pangeran Lemah Duwur Dari Bangkalan

Diceritakan bahwa Pangeran Lemah Duwur dari Keraton Anyar di wilayah Arosbaya, kota Bangkalan melakukan kunjungan ke keraton Pamekasan. Semula rombongan Pangeran Lemah Duwur akan bermalam di Pamekasan, mengingat perjalanannya yang akan ditempuhnya amat jauh, ditambah pula setelah keluarga Keraton Mandiraras menyilakan mereka beristirahat di pesanggrahan yang letaknya tidak jauh dari kolam si Ko’ol, maka senanglah mereka.

Pangeran Lemah Duwur memutuskan beristirahat di Keraton Mandiraras. Sebelum shalat ashar, Pangeran Lemah Duwur sudah bangun dari tidur siangnya. Kemudian dia duduk di teras depan pesanggrahan. Pandangannya dilayangkan ke kolam Si Kool yang anggun tersebut.

Pangeran Lemah Duwur Ingin Melihat Kolam Si Ko’ol

Pangeran Lemah Duwur bergumam bahwa hanya kolam itulah yang belum pernah dilihatnya. Kemudian Pangeran Lemah Duwur mengajak sebagian rombongannya untuk melihat kolam itu tanpa sepengetahuan Pangeran Ronggosukowati karena pada waktu itu ia masih berada di dalam Keraton Mandiraras.

Walau demikian, rombongan tamu agung dari Arosbaya itu disambut dengan ramah oleh penjaganya, kemudian terjadilah percakapan. Pangeran Lemah Duwur bertanya apakah dia boleh masuk untuk melihat keindahan kolam Si Ko’ol. Penjaga tersebut meminta maaf karena tidak bersedia membuka pintu menuju kolam.

Penjaga kolam Si Ko’ol mengatakan bahwa setiap orang yang akan mengunjungi kolam harus meminta ijin langsung kepada Pangeran Ronggosukowati. Dan tidak sembarang orang yang diizinkannya karena kolam ini adalah tempat untuk menenangkan, menyatukan pikiran dan perasaan, ketika beliau sedang menghadapi masalah yang agak ruwet pemecahannya. Selama ini, hanya Kanjeng Ratu Inten yang diperbolehkan masuk ke lokasi kolam Si Ko’ol.

Salah Paham Antara Pangeran Lemah Duwur Dan Pangeran Ronggosukowati

Dengan penuh rasa hormat, penjaga kolam si ko’ol yang terpercaya itu pergi menghadap Pangeran Ronggosukowati untuk meminta ijin membukakan pintu untuk Pangeran Lemah Duwur dari keraton Arosbaya. Pada saat itu Pangeran Ronggosukowati sedang tertidur pulas. Maka penjaga tidak berani membangunkan tidur sang raja.

Sementara itu Pangeran Lemah Duwur gelisah menanti kembalinya sang penjaga pintu gerbang kolam. Dia sudah lama berdiri di depan pintu kolam Si Ko’ol tetapi yang ditunggunya belum datang juga. Ia menyangka Pangeran Ronggosukowati tidak mengizinkannya. Berbagai perasaan dan prasangka buruk timbul di pikirannya. Demikian pula sumpah serapah telah dilontarkan kepada Pangeran Ronggosukowati.

Akhirnya Pangeran Lemah Duwur mengajak pulang rombongannya kembali ke keraton Arosbaya tanpa berpamitan kepada Pangeran Ronggosukowati selaku pemimpin keraton Mandiraras. Saat penjaga kolam kembali, alangkah terkejut ia karena Pangeran Lemah Duwur sudah pergi dari sana. Hal itu dianggap sebagai perilaku tidak baik.

Penjaga tersebut melaporkan kejadian ini kepada Pangeran Ronggosukowati yang baru terbangun dari tidurnya. Pangeran Ronggosukowato gusar mendengar laporan itu. Ia merasa diperlakukan secara tidak baik. Oleh karena itu, ia langsung menghunus keris Joko Piturun dan mengejar Pangeran Lemah Duwur ke Arosbaya. Tetapi Pangeran Lemah Duwur sudah pergi jauh dari Keraton Mandiraras. Melihat Pangeran Ronggosukowati marah, tak seorangpun berani mendekatinya.

Pangeran Lemah Duwur Bertemu Adipati Madegan Sampang

Sesampai di Sampang, rombongan Pangeran Lemah Duwur beristirahat sebentar di bawah pohon waru yang rindang. Ia menyandarkan dirinya di pohon itu. Sesaat kemudian datanglah adik Pangeran Ronggosukowati yang menjadi Adipati Madegan, Sampang. Adipati Madegan mengundang Pangeran Lemah Duwur untuk beristirahat di Kadipaten Madegan.

Tawaran Adipati Madegan tersebut bukannya diterima dengan senang hati, malah menimbulkan amarah Pangeran Lemah Duwur. Tanpa memberi jawaban, ia beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas meninggalkan tempat itu bersama rombongannya. Adipati Madegan heran dengan sikap Pangeran Lemah Duwur. Kejadian apakah yang sedang menimpa kangmas nya tersebut, ia bertanya dalam hati.

Tidak lama kemudian, ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat, datanglah Pangeran Ronggosukowati dengan menunggang kuda putih. Dengan tergopoh-gopoh, dari atas kuda putih Pangeran Ronggosukowati bertanya apakah Pangeran Lemah Duwur dan rombongannya tadi lewat kadipaten Madegan.

Adipati Madegan menceritakan pertemuannya dengan Pangeran Lemah Duwur. Pangeran Ronggo Suko Wati pun ikut menceritakan kedatangan Pangeran Lemah Duwur di Pamekasan dan maksud mereka untuk masuk ke area kolam Si Ko’ol tidak terlaksana. Pangeran Ronggo Suko Wati berniat untuk mengejar rombongan Pangeran Lemah Duwur. Tetapi keinginan tersebut berhasil dicegah oleh Adipati Madegan.

Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng
Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng

Kesaktian Keris Joko Piturun Membunuh Pangeran Lemah Duwur

Karena Pangeran Ronggosukowati menuruti nasehat adiknya, maka ia hanya menusukkan kerisnya pada batang pohon waru tempat Pangeran Lemah Duwur bersandar tadi. Saat menusukkan kerisnya, Pangeran Ronggosukowati berkata, “Wahai pohon waru. Sebenarnya aku tidak bermaksud membunuhmu, akan tetapi dengan keris sakti Joko Piturun ini, ku bunuh Pangeran Lemah Duwur yang tak tahu diri.”

Pada malam hari itu juga, Pangeran Lemah Duwur bermimpi kejatuhan keris sakti Joko Piturun milik Pangeran Ronggosukowati. Keris itu menancap di punggungnya. Ajaib sekali. Begitu Pangeran Lemah Duwur terbangun dari tidurnya, seluruh badannya terasa panas. Rasa panas itu diakibatkan oleh bisul kecil yang ada di punggungnya yang tertancap keris dalam mimpinya. Bisul itu berwarna merah dan semakin lama semakin membesar sehingga Pangeran Lemah Duwur pingsan.

Keesokan harinya, di seluruh Madura tersiar kabar bahwa Pangeran Lemah Duwur wafat. Berita duka ini terdengar juga oleh Pangeran Ronggosukowati. Ia sangat menyesal atas tindakannya dua hari lalu. Menurut perhitungan akal, kalau tidak karena keris Joko Piturun, kiranya Pangeran Lemah Duwur masih panjang umurnya. Kesaktian Keris Joko Piturun secara tidak langsung telah membunuh Pangeran Lemah Duwur.

Pangeran Ronggosukowati Membuang Keris Joko Piturun Ke Kolam Si Ko’ol

Penyesalan Pangeran Ronggosukowati selalu menghantui pikirannya. Ia merasa bahwa dirinya senantiasa dikejar-kejar oleh perasaannya sendiri. Ia baru menyadari bahwa dirinya terlalu emosi dan berprasangka buruk terhadap mendiang Pangeran Lemah Duwur. Akibat terburu-buru mengambil dugaan, maka Pangeran Ronggosukowati secara tidak langsung telah membunuh Pangeran Lemah Duwur melalui tuah Keris Joko Piturun.

Oleh karena rasa penyesalan yang mendalam itulah, ia segera bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil keris sakti Joko Piturun. Dengan penuh amarah, Keris Joko Piturun dibuangnya ke dalam kolam Si Ko’ol. Saat keris Joko Piturun menyentuh air, terdengar suara gaib dari kolam, “Pangeran Ronggosukowati! Sayang engkau buang aku. Kalau tidak, Pulau Jawa tentu akan berada di bawah kekuasaanmu.” Suara gaib tersebut terdengar keras sekali dari arah Kolam Si Ko’ol.

Pangeran Ronggosukowati terperanjat mendengar suara gaib itu. Ia seolah tersadar dari mimpinya. Semua orang yang ada di keraton dipanggilnya, lalu diperintahkan untuk mencari keris sakti yang dibuang ke dalam kolam Si Ko’ol. Namun upaya mereka itu sia-sia saja. Bahkan sampai sekarang pun keberadaan keris Joko Piturun belum ditemukan keberadaannya. Kolam Si Ko’ol yang legendaris mungkin telah dilupakan oleh masyarakat Madura pada jaman modern. Tetapi keangkerannya sampai sekarang masih dipercaya oleh masyarakat Pamekasan.

Inilah seri cerita rakyat dari Madura mengenai kolam Si Ko’ol di Keraton Mandiraras, Pamekasan. Semoga cerita rakyat ini bisa mengingatkan kita kembali bahwa nilai-nilai budaya di Indonesia begitu banyak. Akan selalu ada manfaat yang bisa kita petik dari cerita rakyat yang melegenda. Mari kita lestarikan kekayaan budaya bangsa dengan menampilkan artikel dan tulisan bertopik sejarah budaya!

3 Replies to “Cerita Rakyat Madura: Kolam Si Ko’ol Pembawa Petaka Keraton Pamekasan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *