Sultan Ageng Tirtayasa, Pahlawan Banten yang Berjuang Mengusir VOC dari Batavia

Cerita Hikayat Raja Arief Imam - Wedding ilustration by Hidayat Said
Cerita Hikayat Raja Arief Imam – Wedding ilustration by Hidayat Said

Usaha mengusir VOC telah dilakukan banyak pahlawan di Indonesia. Kali ini penulis membagikan perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa dalam mengusir VOC di Batavia. Banten adalah pelabuhan yang ramai sejak jaman dulu kala. Banyak kapal-kapal berlabuh. Kapal-kapal itu datang dari berbagai negeri, seperti Parsi, Arab, India, negeri Cina, bahkan Inggris, Denmark, Perancis dan Belanda. Kapal-kapal itu mengambil lada dan gula serta menurunkan bahan-bahan kain, barang pecah-belah dan sebagainya.

Di kota Banten terdapat pasar yang ramai pula. Beraneka ragam bangsa membuka perwakilannya di sana. Bandar Banten menjadi besar, sesudah orang-orang Portugis menguasai Malaka pada tahun 1511. Saudagar-saudagar lebih senang berdagang di Banten. Banten juga pusat perlawanan terhadap penjajahan.

Hubungan antara VOC di Batavia dan Banten tidak baik. Ada juga masa-masa yang aman. Tetapi seringkali terjadi bentrokan antara pasukan Banten dengan Belanda. Lebih-lebih bilamana mereka bertemu di daerah perbatasan. Kebun-kebun tebu dan penggilingan gula banyak yang dibakar. Banyak orang menjadi korban.

Pada tahun 1627, yaitu setahun sebelum Sultan Agung menyerang Batavia, orang Banten pernah menyusup ke kota. Mereka merebut benteng VOC. Tetapi sayang benar, rencana mereka diketahui musuh. Walaupun demikian, mereka serang juga tentara Belanda di Betawi.

Usaha Melawan VOC

Banten mempunyai raja yaitu Sultan Abdul Fatah. Ia dinobatkan menjadi sultan pada tahun 1651. Ia juga terkenal dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa. Ia membangun keraton terbuat dari batu bernama Tirtayasa. Sultan seorang yang bersemangat. Ia taat pada agama. Sebutan Sultan Abdul Fatah itu didapatnya dari tanah suci Mekkah.

Nama kecil Sultan adalah Pangeran Surya, artinya matahari. Sultan mempunyai wajah dan hati yang bersinar-sinar seperti Sang Surya. Sultan gemar berolahraga. Ia gemar sekali mengendarai kuda. Ia sering berpacu dengan para taruna dan perwira. Sultan seorang yang cinta kemerdekaan. Ia tidak suka penjajahan.

Sebagaimana Sultan Iskandar Muda, Sultan Agung dan Hasanuddin, Sultan Ageng Tirtayasapun bercita-cita mengusir VOC dari Indonesia. la segera menghimpun angkatan perangnya. Ia menyerang kubu pertahanan Belanda sepanjang sungai Angke dan Tanggerang. Pasukan itu berjumlah 60.000 orang.

Penyerangan ini gagal. Tetapi Sultan Ageng sudah menunjukkan dengan bukti, bahwa ia memang tidak setuju pada penjajahan. Dengan senang hati ia menerima orang-orang Makasar yang tidak mau kembali ke negerinya sesudah Perjanjian Bongaya.

Sultan berkata, “Silakan saudara-saudara menganggap Banten sebagai kampung halaman sendiri. Kekalahan saudara tempo hari adalah kekalahan kami juga. Lawan saudara adalah musuh kami juga. Sebenarnya kami mempunyai nasib yang sama dan tujuan yang sama!”

Ketika pecah Perang Trunojoyo, Sultan Ageng Tirtayasa juga membantu. Tetapi sayang sekai, bantuan itu tidak penuh. Banten sendiri sedang mengalami kesulitan. Walaupun demikian, Sultan seringkali mengirim pasukan-pasukan untuk menyerang VOC.

Kegagalan Usaha Damai

Apakah Sultan Ageng hanya memikirkan perang? Sudah tentu tidak! Sultan ingin memajukan rakyat dan negerinya. Sultan sering berkumpul dengan para pembesar negara dan kaum cerdik-cendikiawan di Banten.

Sultan berkata, “Tanah Banten ini memang banyak menghasilkan lada. Uang pendapatannya kita belikan kain-kain, senjata dan juga beras. Keadaan seperti ini mengandung bahaya. Bagaimana kalau terjadi perang? Bagaimana kalau kita tidak bisa berdagang karena misalnya, bandar Banten dikepung musuh? Niscaya kita tidak bisa mendatangkan beras. Sebenarnya tanah kita ini subur dan masih banyak yang belum digarap. Karena itu kita harus banyak-banyak membuat sawah baru!”

Pada jaman Sultan Ageng Tirtayasa, banyak hutan-hutan diubah menjadi sawah. Sultan juga menggali terusan-terusan, misalnya saluran air dari sungai Cikande. Juga di daerah Pontang dan Tanahara digali terusan untuk pengairan. Banten pada jaman Sultan Ageng sungguh-sungguh makmur. Penduduk menjadi tambah banyak.

Sultan berkata, “Manusia perlu sekali akan rumah yang layak. Sekarang penduduk Banten makin banyak. Sebaiknya kita bangun kampung besar yang dapat menampung banyak orang”.

Sultan lalu menyuruh membangun kampung besar di sebelah Barat. Kampung itu dapat dihuni oleh 6000 orang. Sultan juga membangun istana bernama Tirtayasa. Sultan banyak pula membangun langgar-langgar dan masjid-masjid.

Cerita Rakyat Kalimantan Selatan: Dongeng Raja Baik Hati Memberikan Putrinya
Cerita Rakyat Kalimantan Selatan: Dongeng Raja Baik Hati Memberikan Putrinya

Pengkhianatan Putra Mahkota

Di Banten ada kebiasaan yang baik. Apabila Putera Mahkota meningkat dewasa, lalu diserahi jabatan untuk ikut mengurus negara. Pada tahun 1671, Putera Mahkota bernama Abdul Kahar diangkat sebagai Sultan pembantu. Sesudah pulang dari Mekkah, Sultan Abdul Kahar terkenal sebagai Sultan Haji.

Berlainan dengan Sultan Ageng, Sultan Haji ini tidak bermusuhan terhadap VOC. Ia menganjurkan agar Banten bersahabat dengan Belanda di Batavia. Sultan Ageng tidak senang akan sikap puteranya. Berkali-kali Sultan Ageng memberi nasehat.

“Abdul Kahar, lepaskan hubunganmu dengan VOC. Orang-orang Belanda di Betawi itu berbahaya bagi kita. Niscayalah perdagangan kita akan mundur bilamana VOC sampai berkuasa di Banten,” demikian nasehat Sultan Ageng kepada putranya.

Tetapi Sultan Abdul Kahar tidak mau mendengar nasehat ayahnya. Ia tetap bersahabat dengan VOC. Kesabaran Sultan Ageng ada batasnya. Pada tahun 1681, Sultan mengerahkan pasukan dengan senjata tombak, panah, golok dan meriam. Keraton Sultan Haji dikepung rapat-rapat dan diserbu. Kampung-kampung di sekitarnya ikut menjadi lautan api.

Sultan Haji sangat bingung. Ia terjepit. Kemudian ia minta bantuan VOC di Batavia. Bukan main senang hati orang-orang Belanda di Batavia. Mereka berkata, “Sekarang tiba waktunya untuk menguasai Banten. Bandar Banten itu menjadi saingan Batavia. Mesti kami bantu Sultan Haji dan Sultan Ageng harus kita turunkan.”

Kapal-kapal Belanda lalu dikerahkan di bandar Batavia. Mulailah kapal-kapal itu menyusur pantai. Kemudian mendarat di Banten. Pasukan Belanda langsung menuju keraton Tirtayasa.

Sultan Ageng berkata, “Dari pada istana ini dijamah musuh, lebih baik kuhancurkan saja.”

Pertempuran laut antara pasukan Belanda dan Banten terjadi pada tahun 1596. Pasukan Sultan Ageng melakukan bumi hangus terhadap istana mereka sendiri. Sultan Ageng menyingkir ke Banten Selatan bersama puteranya, Pangeran Purbaya. Dalam perang melawan Belanda ini Sultan Ageng dibantu orang Makasar dan orang-orang Lampung. Tetapi kekuatan musuh memang lebih besar. Lagi pula senjatanya lebih lengkap.

Pasukan Sultan Ageng melakukan perang gerilya. Belanda bersikap licik. Mereka mengirim utusan kepada Sultan Ageng untuk bermusyawarah. Ketika Sultan Ageng pada tahun 1683 datang di Banten, terus saja ditawan. Sultan dipenjarakan di Betawi. Dan apa yang terjadi dengan Sultan Haji? Ia harus menerima syarat-syarat VOC.

Prabu Selang Kuning melepaskan diri sebagai Patih Kerajaan Galuh dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Kerajaan Pulau Majeti
Prabu Selang Kuning melepaskan diri sebagai Patih Kerajaan Galuh dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Kerajaan Pulau Majeti

Perebutan Tahta Banten

Utusan VOC berkata kepada Sultan Haji, “Sultan, Ayahanda Sultan Ageng Tirtayasa sudah kami amankan di Betawi. Sekarang Banten perlu seorang Sultan baru dan tiada pilihan lain, kecuali Paduka Sultan Haji.”

“Tetapi VOC sudah tentu ingin mengajukan syarat yaitu daerah Cirebon itu apalah gunanya bagi Banten? Lebih baik Sultan lepaskan saja dan serahkan kepada kami. Orang-orang asing, terutama sekali orang Inggris lebih baik Sultan usir saja dari Banten dan selanjutnya serahkanlah perdagangan kain-kain dan lada itu kepada Belanda saja. Batas-batas kerajaan Banten dengan VOC hendaknya berada di sepanjang aliran sungai Cisadane,” demikian permintaan VOC.

Sultan Haji setuju dengan syarat-syarat Belanda. Tetapi apakah seluruh rakyat Banten telah diminta pendapatnya? Sudah tentu tidak. Pada waktu itu rnemang tidak ada Dewan Perwakilan Rakyat seperti sekarang. Jangankan meminta pendapat seluruh rakyat, bahkan pangeran-pangeran dan saudara-saudara Sultan tidak pula diajak bermusyawarah.

Itulah sebabnya perlawanan terus berjalan saat Sultan Haji memimpin. Kyai Topo, Ratu Bagus dan Pangeran Purbaya berkata, “Kita tidak mengakui perjanjian antara Sultan Haji dengan Belanda. Kami tetap setia pada Sultan Ageng Tirtayasa. Berperanglah terus melawan Belanda”.

Perang belum juga berhenti. Daerah Bogor dan Parahiyangan tidak pernah aman selama abad ke-17 dan ke-18. Hidup rakyat menjadi sulit. Perdagangan lada mundur. Rakyat banyak yang jatuh miskin. Sementara itu Sultan Ageng Tirtayasa tetap ditawan Belanda. Pada tahun 1692, Sultan Ageng wafat. Jenazahnya dibawa ke Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa adalah pahlawan bangsa. Ia sudah mengorbankan kedudukan, harta benda, dan jiwa raganya karena merasa yakin bahwa penjajahan bertentangan dengan peri-keadilan dan peri-kemanusiaan.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

8 Replies to “Sultan Ageng Tirtayasa, Pahlawan Banten yang Berjuang Mengusir VOC dari Batavia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *