Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang: Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang

Kabupaten Jombang di Jawa Timur tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan Islam dengan pesantren-pesantrennya, tetapi juga sebagai kawasan yang kaya akan warisan budaya. Di antara berbagai kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di wilayah ini, Sandur Manduro menonjol sebagai bentuk seni pertunjukan yang unik dan memikat. Berasal dari Desa Manduro di Kecamatan Kabuh, Sandur Manduro merupakan bukti nyata dari perpaduan budaya Jawa dan Madura yang harmonis. Kesenian ini menggabungkan elemen musik, tari, dan teater dalam satu harmoni yang memesona. Pada tahun 2017, Sandur Manduro telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Pengakuan ini menegaskan pentingnya kesenian ini dalam lanskap budaya Jombang.

Sandur Manduro bukan sekadar hiburan; ia adalah artefak budaya yang merangkum sejarah, nilai-nilai, dan ekspresi artistik masyarakat Jombang. Pertunjukannya menjadi jendela menuju masa lalu, memberikan wawasan tentang kehidupan dan kepercayaan komunitas yang telah memeliharanya selama beberapa generasi. Oleh karena itu, Sandur Manduro memainkan peran krusial dalam melestarikan identitas budaya Jombang dan membangkitkan rasa bangga di kalangan penduduknya. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri asal usul Sandur Manduro, upaya pelestariannya, serta peran pentingnya dalam Karnaval Budaya Jombang.


Asal Usul Sandur Manduro

Akar Sandur Manduro dapat ditelusuri kembali ke migrasi masyarakat Madura ke Jawa, yang meningkat pada abad ke-18 dan ke-19. Didorong oleh peluang ekonomi dan stabilitas relatif di bawah kekuasaan kolonial Belanda, banyak pendatang Madura menetap di perbukitan kapur yang kini dikenal sebagai Desa Manduro. Para migran ini tidak hanya membawa tenaga kerja, tetapi juga warisan budaya mereka yang kaya, termasuk berbagai bentuk seni pertunjukan. Seiring waktu, tradisi seni Madura ini bercampur dengan budaya Jawa setempat, melahirkan Sandur Manduro. Penggunaan bahasa Madura dalam pertunjukan menjadi indikator jelas dari asal-usulnya, sementara elemen-elemen Jawa yang terintegrasi mencerminkan asimilasi budaya yang terjadi di wilayah tersebut.

Perpaduan budaya ini adalah cerminan dari narasi sejarah Jawa yang lebih luas, di mana berbagai kelompok etnis telah hidup berdampingan dan saling memengaruhi selama berabad-abad. Nama “Sandur” sendiri diyakini memiliki akar dalam budaya Madura, meskipun etimologinya belum sepenuhnya jelas. Beberapa ahli menduga bahwa kata tersebut mungkin berasal dari bahasa Madura yang berarti “menari” atau “mementaskan,” namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikannya.

Seorang penggemar budaya dari Jombang, Dian Sukarno, mengatakan, “Sandur Manduro adalah bukti hidup dari koeksistensi harmonis antara budaya Jawa dan Madura. Ini mewujudkan semangat persatuan dalam keberagaman yang begitu khas di Indonesia.” Sinkretisme ini tidak hanya terlihat dalam bahasa dan gaya pertunjukan, tetapi juga dalam tema dan cerita yang diangkat, yang sering kali mengambil inspirasi dari folklor dan sejarah Jawa serta Madura.

Sandur Manduro kemungkinan besar berkembang dari seni pertunjukan Madura yang dibawa oleh para pendatang, kemudian disesuaikan dengan lingkungan lokal dan dipengaruhi oleh tradisi Jawa. Proses evolusi ini terjadi secara organik, didorong oleh interaksi sehari-hari antara komunitas Madura dan Jawa di Manduro. Hasilnya adalah sebuah kesenian yang tidak hanya mencerminkan identitas kedua budaya tersebut, tetapi juga menjadi simbol keunikan lokal Desa Manduro. Nama-nama tokoh seniman senior yang tergabung dalam Kelompok Sandur Panji Arum adalah Ripain, Sakim, Karis, Ngarji, dan Patrum.
Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang
Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang


Karakteristik Sandur Manduro

Sandur Manduro adalah seni pertunjukan yang kompleks, menggabungkan musik, tari, dan teater dalam satu kesatuan yang kaya akan pengalaman indrawi. Inti dari kesenian ini adalah medium bercerita, dengan pertunjukan yang sering kali berpusat pada legenda lokal, peristiwa sejarah, atau skenario kehidupan sehari-hari. Cerita-cerita yang ditampilkan bisa sangat beragam, mulai dari kisah epik tentang kerajaan kuno, seperti pembagian Kerajaan Airlangga, hingga anekdot lucu tentang kehidupan desa, seperti kisah “Lurah Klepek.” Dalam cerita ini, seorang kepala desa yang gagal menjadi teladan bagi masyarakatnya menghabiskan sumber daya desa, khususnya tanah bengkok, dan akhirnya menghadapi kehancurannya sendiri. Cerita seperti ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pelajaran moral tentang tanggung jawab dan integritas.

Musik memainkan peran penting dalam Sandur Manduro, dengan iringan yang khas menggunakan alat musik berbahan bambu. Alat-alat musik ini meliputi:

  • Kendang: Drum berdua sisi yang menjadi dasar ritme, mengatur tempo dan dinamika pertunjukan.
  • Trompet: Terompet bambu yang menambahkan elemen melodi, sering memainkan motif yang mencerminkan suasana adegan.
  • Kendang Cimplong: Drum kecil yang melengkapi kendang utama, menambah kompleksitas pada pola ritme.
  • Gong Tiup: Gong yang ditiup untuk menghasilkan nada resonan yang dalam, digunakan untuk menandai momen-momen penting.

Alat-alat musik ini menciptakan lanskap suara yang khas, bersahaja namun hidup, yang mendukung keindahan visual dari tarian dan teater.

Para penampil mengenakan topeng yang rumit, masing-masing mewakili karakter berbeda dalam cerita. Topeng ini dibuat dengan penuh perhatian dan sering dianggap sebagai pusaka yang diturunkan dari generasi ke generasi. Karakter yang ditampilkan bisa berupa pahlawan seperti pangeran atau prajurit, penjahat dengan wajah mengancam, hewan seperti harimau (Jepaplok), burung (Manuk), babi (Celeng), dan sapi (Sapen), serta makhluk supranatural yang mencerminkan mitologi lokal. Setiap topeng dipadankan dengan kostum khusus yang dilengkapi dengan aksesori seperti sayap, syal, kalung, dan gelang, untuk memperkuat identitas karakter.

Komponen tari dalam Sandur Manduro ditandai dengan gerakan yang lentur dan ekspresif, yang menyampaikan emosi dan aksi karakter. Koreografinya sering kali diimprovisasi, memungkinkan para penampil untuk menunjukkan kreativitas dan keahlian mereka. Aspek ini membuat setiap pertunjukan tetap segar dan menarik, bahkan bagi penonton yang sudah sering menyaksikannya. Sementara itu, elemen teater melibatkan dialog dan interaksi antar karakter, yang disampaikan dalam bahasa Madura. Pemilihan bahasa ini tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menambah keaslian pada pertunjukan. Dialognya sering kali cerdas dan penuh humor, menjadikan Sandur Manduro mudah diakses dan menghibur bagi berbagai kalangan usia.
Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang
Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang


Upaya Pelestarian Sandur Manduro

Di tengah modernisasi dan perubahan lanskap budaya, Sandur Manduro menghadapi tantangan besar. Minat generasi muda terhadap seni tradisional yang menurun, ditambah dengan kesulitan menguasai keterampilan yang diperlukan, mengancam kelangsungan kesenian ini. Menyadari hal ini, berbagai pihak telah berinisiatif untuk melestarikan dan mempromosikan Sandur Manduro. Pemerintah daerah, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, telah meluncurkan program untuk merevitalisasi kesenian ini, termasuk lokakarya, sesi pelatihan, dan pertunjukan di sekolah untuk memperkenalkan Sandur Manduro kepada generasi muda serta menginspirasi calon seniman baru. Dukungan finansial juga diberikan kepada sanggar dan seniman untuk membantu keberlanjutan aktivitas mereka.

Di Desa Manduro, beberapa sanggar menjadi pusat pembelajaran dan latihan Sandur Manduro. Sanggar Panji Arum, yang merupakan sanggar tertua, sangat menonjol. Didirikan oleh kakek dari mendiang Cak Ripain, sanggar ini menyimpan koleksi topeng antik dan berfungsi sebagai gudang pengetahuan tentang kesenian ini. Di sini, para penampil berpengalaman seperti Cak Ripain menurunkan keahlian mereka kepada generasi berikutnya, memastikan kontinuitas tradisi. Kelompok masyarakat seperti Komunitas Njombangan juga memainkan peran penting dalam mendokumentasikan dan mempromosikan Sandur Manduro. Melalui program seperti Jombang Sambang Sedulur, mereka memfasilitasi interaksi antara seniman dan publik, meningkatkan apresiasi terhadap kesenian ini. Mereka juga bekerja untuk membuat profil komunitas dan dokumentasi biografi seniman, yang membantu melestarikan sejarah dan perkembangan Sandur Manduro.

Namun, tantangan masih ada. Gerakan tari yang rumit dan keterampilan memainkan alat musik bambu tidak mudah dikuasai, menyebabkan kekurangan bakat baru. Cak Ripain pernah berkata, “Mengajarkan tarian dan permainan terompet sangat sulit. Kami telah mencoba melatih penampil baru, tetapi prosesnya lambat.” Selain itu, kurangnya dokumentasi tertulis tentang sejarah dan teknik kesenian ini menyulitkan pelestarian dan transmisi pengetahuan secara akurat. Sebagian besar pengetahuan diturunkan secara lisan, yang meskipun tradisional, rentan hilang jika tidak direkam dengan baik.

Pada tahun 2020, Pemerintah Kabupaten Jombang menyelenggarakan festival Sandur Manduro, mengundang kelompok-kelompok dari Desa Manduro untuk tampil dan berkompetisi. Acara ini juga mencakup lokakarya pembuatan topeng dan kerajinan alat musik, menarik peserta dari seluruh kabupaten. Inisiatif seperti ini tidak hanya merayakan kesenian tersebut, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi seniman dan pengrajin yang terlibat.


Penampilan di Karnaval Budaya Jombang

Karnaval Budaya Jombang (JCC) adalah acara tahunan yang merayakan kekayaan warisan budaya kabupaten ini. Acara ini menjadi panggung bagi berbagai kesenian tradisional, termasuk Sandur Manduro, untuk ditampilkan kepada publik yang lebih luas. Karnaval biasanya menampilkan parade di mana kelompok-kelompok budaya menampilkan tradisi unik mereka, diikuti oleh pertunjukan panggung yang memungkinkan presentasi yang lebih mendetail. Dalam parade, para penampil Sandur Manduro, yang mengenakan kostum cerah dan topeng, menari di sepanjang jalan dengan iringan alat musik bambu mereka. Musik yang hidup dan gerakan yang dinamis memikat penonton, menarik perhatian pada kesenian yang kurang dikenal ini. Parade ini bukan hanya tontonan visual, tetapi juga pengalaman auditori, dengan suara khas kendang, trompet, dan gong tiup memenuhi udara.

Di panggung, kelompok Sandur Manduro mempresentasikan pertunjukan penuh, mementaskan cerita yang berkisar dari kisah mitologi hingga komentar sosial kontemporer. Pertunjukan ini memungkinkan penonton untuk mengapresiasi nuansa kesenian ini, mulai dari desain topeng yang rumit hingga gerakan ekspresif para penari. Penggunaan bahasa Madura menambah sentuhan autentik, meskipun kadang-kadang subtitle atau narasi dalam bahasa Indonesia disediakan untuk pemahaman yang lebih luas.

Keikutsertaan Sandur Manduro dalam karnaval memiliki beberapa tujuan:

  1. Memberikan Panggung bagi Seniman: Ini menjadi kesempatan bagi para seniman untuk memamerkan bakat mereka dan mendapatkan pengakuan.
  2. Meningkatkan Kesadaran Publik: Eksposur ini dapat memicu minat untuk mempelajari atau mendukung kesenian ini.
  3. Mendukung Pariwisata Budaya: Karnaval menarik pengunjung yang tertarik dengan keragaman warisan budaya Indonesia, meningkatkan profil Jombang sebagai destinasi budaya.

Selain itu, karnaval sering kali menampilkan lokakarya atau sesi interaktif di mana penonton dapat belajar tentang pembuatan topeng atau mencoba memainkan alat musik, mempererat keterlibatan masyarakat dengan kesenian ini. Penampilan di karnaval juga telah meningkatkan minat terhadap Sandur Manduro, dengan beberapa sekolah memasukkannya ke dalam program pendidikan budaya mereka. Eksposur ini juga menarik perhatian peneliti dan penggemar budaya, yang berkontribusi pada dokumentasi dan studi lebih lanjut tentang kesenian ini.


Kesimpulan

Sandur Manduro lebih dari sekadar seni pertunjukan; ia adalah perwujudan hidup dari sinergi budaya Jawa dan Madura. Pengakuannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda menegaskan nilainya bagi komunitas dan bangsa. Namun, kelangsungannya bergantung pada upaya bersama dari semua pemangku kepentingan—pemerintah, seniman, dan masyarakat—untuk memastikan bahwa kesenian unik ini terus berkembang di masa depan. Karnaval Budaya Jombang memainkan peran penting dalam upaya ini dengan menyediakan panggung bagi Sandur Manduro untuk bersinar, mengingatkan kita semua akan keindahan dan keberagaman lanskap budaya Indonesia. Dengan merayakan dan mendukung ekspresi budaya seperti ini, kita tidak hanya melestarikan masa lalu, tetapi juga memperkaya masa kini dan masa depan.


Tinggalkan komentar