Kesenian Gambus Misri: Warisan Budaya Santri dari Jombang

Kabupaten Jombang di Jawa Timur dikenal sebagai kota santri yang kaya akan tradisi dan budaya. Salah satu kesenian yang menjadi kebanggaan daerah ini adalah Gambus Misri, sebuah bentuk seni pertunjukan tradisional yang lahir dari lingkungan pesantren. Gambus Misri tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana dakwah dan pendidikan moral yang menggabungkan elemen musik, tari, dan teater dengan cerita-cerita bernafaskan Islam. Kesenian ini mencerminkan harmoni antara nilai-nilai keagamaan dan ekspresi budaya lokal, menjadikannya bagian penting dari identitas Jombang.

Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang Gambus Misri, mencakup asal usulnya, komunitas pecinta yang berperan dalam pelestariannya, cara mengundang kelompok Gambus Misri untuk tampil, serta penampilan rutinnya di Karnaval Budaya Jombang. Artikel ini diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap tentang kesenian ini dan menginspirasi pembaca untuk turut mendukung pelestarian budaya tradisional.


Asal Usul Gambus Misri

Gambus Misri pertama kali muncul pada awal abad ke-20 di lingkungan Pesantren Tebuireng, Jombang, sebuah pesantren ternama yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Kesenian ini diciptakan oleh seorang santri bernama Asfandi, yang juga dikenal sebagai ayah dari pelawak terkenal Asmuni. Asfandi mengembangkan Gambus Misri sebagai respons budaya terhadap kesenian Ludruk, teater tradisional Jawa Timur yang populer di kalangan masyarakat abangan (non-santri) pada masa itu. Ludruk, dengan cerita-cerita yang sering bertema kehidupan sehari-hari dan perjuangan rakyat, dianggap kurang selaras dengan nilai-nilai yang dianut oleh komunitas santri. Oleh karena itu, Asfandi menciptakan Gambus Misri sebagai alternatif yang lebih sesuai dengan identitas keagamaan santri.

Nama “Gambus Misri” sendiri terdiri dari dua kata: “Gambus” merujuk pada alat musik petik tradisional yang sering digunakan dalam musik Melayu dan Arab, sedangkan “Misri” berarti “Mesir,” menunjukkan pengaruh budaya Timur Tengah, khususnya Mesir, dalam kesenian ini. Pengaruh ini terlihat dari penggunaan lagu-lagu padang pasir dengan nuansa Arab yang menjadi ciri khas Gambus Misri. Menurut budayawan Emha Ainun Najib, Gambus Misri dapat disebut sebagai “Ludruk Islam” karena mengadaptasi format teater Ludruk namun mengisinya dengan konten Islami.

Pada awalnya, Gambus Misri dipentaskan oleh para santri di lingkungan pesantren sebagai hiburan sekaligus media penyampaian pesan moral dan keagamaan. Cerita-cerita yang diangkat biasanya berasal dari sejarah Islam, seperti kisah para nabi, sahabat Nabi Muhammad, atau perjuangan penyebaran agama Islam. Pertunjukan diawali dengan lagu pembuka berjudul “Selamat Datang,” sebuah tradisi yang hingga kini masih dipertahankan. Setelah itu, pertunjukan dilanjutkan dengan kombinasi tarian, nyanyian, lawakan, dan lakon utama yang menjadi inti cerita.

Musik yang digunakan dalam Gambus Misri sangat khas. Selain alat musik gambus, instrumen lain seperti rebana, gendang, dan terompet sering dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu Melayu klasik, seperti karya A. Kadir dan A. Rafiq, atau lagu-lagu ciptaan lokal yang sarat makna. Lawakan dalam Gambus Misri juga menjadi daya tarik tersendiri, dengan humor yang cerdas dan penuh sindiran sosial yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam.

Pada puncak kejayaannya di era 1960-an, Gambus Misri menjadi hiburan yang digemari masyarakat Jombang, tidak hanya di kalangan santri tetapi juga warga umum. Namun, masuknya musik dangdut dan hiburan modern pada tahun 1980-an menyebabkan kesenian ini mulai meredup. Banyak kelompok Gambus Misri bubar, dan pengetahuan tentang kesenian ini hampir hilang. Untungnya, upaya revitalisasi yang dilakukan sejak awal 2000-an berhasil membawa Gambus Misri kembali ke panggung budaya Jombang.


Komunitas Pecinta Gambus Misri

Pelestarian Gambus Misri tidak akan berhasil tanpa peran aktif komunitas pecinta kesenian yang berdedikasi menjaga warisan budaya ini. Salah satu kelompok yang paling dikenal adalah Gambus Misri Bintang Sembilan, berbasis di Kendalsari, Kecamatan Sumobito, Jombang. Kelompok ini didirikan pada tahun 1963 dan mewarisi tradisi Gambus Misri dari generasi sebelumnya, seperti Gambus Misri Al-Qoma. Pada masa keemasannya, Bintang Sembilan sering tampil di berbagai acara lokal dan menjadi salah satu kelompok paling disegani.

Namun, seperti banyak kelompok seni tradisional lainnya, Gambus Misri Bintang Sembilan sempat vakum akibat minimnya regenerasi dan perubahan selera masyarakat. Baru pada tahun 2017, sekelompok pemuda Jombang yang peduli terhadap budaya lokal bertemu dengan pelaku seni Gambus Misri generasi lama dan meminta bimbingan untuk menghidupkan kembali kesenian ini. Berkat usaha mereka, Bintang Sembilan kembali aktif dan mulai tampil di berbagai acara, termasuk pertunjukan di Gedung Kesenian Jombang pada tahun 2024. Acara tersebut tidak hanya menampilkan seni pertunjukan, tetapi juga sesi dialog budaya yang melibatkan sejarawan dan budayawan untuk membahas pentingnya Gambus Misri.

Selain Bintang Sembilan, ada pula PKBM Permata Bangsa Jombang, sebuah pusat kegiatan belajar masyarakat yang turut berperan dalam pelestarian Gambus Misri. Pada tahun 2024, PKBM Permata Bangsa mengadakan acara bertajuk “Pentas Gambus Misri Permata” di SDN Kepuhkembeng, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan Gambus Misri kepada generasi muda sekaligus mempromosikan program pemerintah melalui seni budaya. Ketua PKBM Permata Bangsa, Abdul Machin, menegaskan bahwa Gambus Misri adalah bagian tak terpisahkan dari identitas Jombang yang harus terus dijaga.

Komunitas pecinta Gambus Misri juga melibatkan tokoh-tokoh budaya seperti Nasrul Ilahi, seorang budayawan Jombang yang sering menjadi narasumber dalam acara-acara pelestarian Gambus Misri. Kolaborasi antara kelompok seni, budayawan, dan pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan revitalisasi kesenian ini. Selain pertunjukan, komunitas ini juga mengadakan lokakarya dan pelatihan untuk mengajarkan Gambus Misri kepada generasi muda, memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan tentang kesenian ini tidak punah.


Cara Mengundang Gambus Misri

Bagi masyarakat atau organisasi yang ingin mengundang kelompok Gambus Misri untuk tampil di acara seperti pernikahan, hajatan, atau festival budaya, ada beberapa langkah yang dapat diikuti. Berikut adalah panduan praktisnya:

  1. Menghubungi Kelompok Secara Langsung
    Cara termudah adalah menghubungi kelompok Gambus Misri yang aktif, seperti Gambus Misri Bintang Sembilan atau PKBM Permata Bangsa. Informasi kontak biasanya dapat diperoleh melalui pemerintah desa setempat, komunitas seni, atau media sosial kelompok tersebut. Masyarakat dapat mendiskusikan jadwal, biaya, dan jenis pertunjukan yang diinginkan langsung dengan pengelola kelompok.
  2. Melalui Dinas Kebudayaan
    Jika sulit menemukan kontak kelompok, masyarakat dapat mengajukan permohonan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Dinas ini sering memfasilitasi penampilan kesenian tradisional dan dapat menghubungkan penyelenggara acara dengan kelompok Gambus Misri yang tersedia. Permohonan biasanya harus disertai dengan surat resmi yang menjelaskan tujuan acara.
  3. Proposal untuk Acara Besar
    Untuk acara berskala besar seperti festival atau karnaval, penyelenggara dapat mengajukan proposal resmi kepada pemerintah daerah atau panitia acara. Proposal ini harus mencakup informasi seperti tanggal, lokasi, durasi penampilan, dan alasan mengundang Gambus Misri. Pengajuan ini biasanya dilakukan beberapa bulan sebelum acara untuk memastikan ketersediaan kelompok.

Mengundang Gambus Misri tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mendukung pelestarian budaya lokal. Oleh karena itu, penyelenggara diharapkan menghargai nilai seni dan sejarah yang dibawa oleh kesenian ini, termasuk dengan memberikan dukungan finansial atau fasilitas yang memadai bagi para pemain.


Penampilan Rutin di Karnaval Budaya Jombang

Karnaval Budaya Jombang, atau Jombang Culture Carnival (JCC), adalah acara tahunan yang menjadi panggung utama bagi kesenian tradisional Jombang, termasuk Gambus Misri. Karnaval ini biasanya digelar untuk memperingati hari jadi Kabupaten Jombang atau Hari Santri Nasional, menarik ribuan penonton dari berbagai daerah. Gambus Misri menjadi salah satu penampilan yang dinantikan karena keunikan dan kekayaan budayanya.

Dalam karnaval, Gambus Misri biasanya tampil dalam dua format: parade jalanan dan pertunjukan panggung. Pada parade, para pemain mengenakan kostum tradisional berwarna cerah, membawa alat musik seperti gambus dan rebana, serta menyanyikan lagu “Selamat Datang” sambil berjalan di rute karnaval. Penampilan ini sering disambut tepuk tangan meriah, terutama saat rombongan Gambus Misri melintas di depan panggung kehormatan yang dihadiri pejabat daerah.

Di panggung utama, Gambus Misri menampilkan pertunjukan penuh yang mencakup tarian pembuka, nyanyian, lawakan, dan lakon cerita. Salah satu contoh penampilan memorable adalah pada JCC 2022, ketika Gambus Misri Bintang Sembilan membawakan lakon tentang perjuangan Kebo Kicak melawan Surontanu. Cerita ini, meskipun berlatar sejarah lokal, dikemas dengan pesan moral Islami yang relevan dengan kehidupan modern.

Keikutsertaan Gambus Misri dalam Karnaval Budaya Jombang memiliki beberapa tujuan penting:

  • Promosi Budaya: Memberikan panggung bagi seniman Gambus Misri untuk memamerkan bakat mereka.
  • Edukasi Publik: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan kesenian tradisional.
  • Daya Tarik Wisata: Mendukung pariwisata budaya Jombang dengan menarik wisatawan yang tertarik pada seni tradisional.

Penampilan rutin di karnaval ini menjadi bukti bahwa Gambus Misri tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. Dukungan dari pemerintah daerah dan antusiasme penonton menjadi pendorong utama keberlangsungan kesenian ini.


Kesimpulan

Gambus Misri adalah warisan budaya yang unik dari Kabupaten Jombang, menggabungkan nilai-nilai Islam dengan seni pertunjukan tradisional. Dari asal usulnya di lingkungan pesantren hingga peran komunitas pecinta yang gigih melestarikannya, Gambus Misri menunjukkan kekayaan budaya Jombang yang patut dibanggakan. Cara mengundangnya yang sederhana memungkinkan masyarakat untuk turut menikmati dan mendukung kesenian ini, sementara penampilan rutin di Karnaval Budaya Jombang menjadi simbol kebangkitannya di era modern.

Melestarikan Gambus Misri bukan hanya tugas komunitas seni atau pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama masyarakat. Dengan menghargai dan mendukung kesenian ini, kita turut menjaga khazanah budaya Indonesia agar tetap hidup untuk generasi mendatang. Mari kita dukung Gambus Misri sebagai bagian dari identitas budaya Jombang yang tak ternilai harganya.


Tinggalkan komentar