Di tengah gemerlap budaya Jawa Timur, terdapat sebuah tradisi yang unik dan sarat makna di Kabupaten Jombang, tepatnya di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno. Tradisi ini dikenal sebagai Unduh-Unduh, sebuah perayaan tahunan yang dirayakan sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah. Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Unduh-Unduh telah menjadi bagian integral dari identitas budaya masyarakat Mojowarno, memadukan nilai-nilai spiritual, sosial, dan seni dalam satu harmoni yang indah. Setiap tahun, perayaan ini tidak hanya menarik perhatian jemaat GKJW, tetapi juga masyarakat luas, termasuk umat Muslim, yang turut serta dalam merayakan kebersamaan dan toleransi antarumat beragama.
Unduh-Unduh, yang berasal dari kata “ngunduh” dalam bahasa Jawa yang berarti memetik atau memanen, adalah bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkah yang diberikan selama musim tanam. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun sejak tahun 1930 dan terus berkembang, mencerminkan perpaduan harmonis antara ajaran Kristen dan budaya Jawa. Dalam perayaannya, Unduh-Unduh tidak hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga wadah untuk melestarikan seni dan budaya lokal, seperti musik tradisional, tarian, dan pertunjukan wayang kulit. Melalui artikel ini, kita akan menyelami lebih dalam tentang sejarah, rangkaian acara, pengisi acara, serta antusiasme masyarakat dalam merayakan tradisi yang kaya akan nilai ini.
Sejarah dan Makna Unduh-Unduh
Akar dari tradisi Unduh-Unduh dapat ditelusuri kembali ke tahun 1930, saat GKJW Mojowarno mulai merayakan musim panen dengan cara yang khas. Inspirasi dari tradisi ini berasal dari ajaran Musa yang bersifat agraris, di mana umat diajarkan untuk mempersembahkan hasil panen terbaik mereka kepada Tuhan. Bagi masyarakat Mojowarno yang mayoritas petani, Unduh-Unduh menjadi wujud nyata dari rasa syukur atas hasil bumi yang mereka peroleh. Namun, tradisi ini tidak terbatas pada petani saja; warga yang bekerja di bidang lain, seperti pegawai atau pedagang, juga turut serta dengan mempersembahkan sebagian dari penghasilan mereka.
Menariknya, Unduh-Unduh juga mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Hasil dari persembahan yang dilelang dalam acara ini digunakan untuk mendukung pelayanan gereja dan membantu masyarakat yang kurang mampu, tanpa memandang latar belakang agama. Hal ini sejalan dengan filosofi “Lumbung Pirukunan,” yang merupakan bentuk patungan masyarakat Mojowarno untuk mendirikan bangunan GKJW pada tahun 1871. Tradisi ini menunjukkan bahwa Unduh-Unduh bukan hanya sekadar perayaan panen, tetapi juga simbol persatuan dan kepedulian antarwarga.
Seiring waktu, Unduh-Unduh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kalender budaya Jombang. Bahkan, pada tahun 2017, tradisi ini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, menegaskan pentingnya pelestarian tradisi ini bagi generasi mendatang. Perayaan ini tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana agama dan tradisi dapat berjalan seiring untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Unduh-unduh tahun ini rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 11-12 Mei 2025.
Rangkaian Acara Unduh-Unduh
Perayaan Unduh-Unduh di GKJW Mojowarno biasanya berlangsung pada bulan Mei, bertepatan dengan musim panen padi. Rangkaian acara ini dimulai dengan serangkaian ritual yang sarat makna, melibatkan seluruh jemaat dan masyarakat setempat. Berikut adalah rangkaian acara utama dalam perayaan Unduh-Unduh:
1. Kebetan
Kebetan adalah doa bersama yang dilakukan sebelum para petani turun ke sawah untuk memulai musim tanam. Dalam ritual ini, jemaat berkumpul untuk mengucap syukur, memohon perlindungan, dan keselamatan selama bekerja di sawah. Mereka juga meminta agar Tuhan memberikan hujan yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Tradisi ini biasanya disertai dengan membawa makanan seperti urap-urap, ayam, dan arem-arem, yang kemudian dimakan bersama di kantor desa sebagai simbol kebersamaan. Kebetan menjadi langkah awal yang menandai keterkaitan spiritual masyarakat dengan alam dan penciptanya.
2. Keleman
Setelah Kebetan, rangkaian berikutnya adalah Keleman, yang merupakan doa syukur atas pertumbuhan tanaman yang baik. Dalam ritual ini, jemaat kembali berkumpul untuk mengucap syukur dan memohon agar tanaman mereka terhindar dari hama dan penyakit. Keleman biasanya dilakukan di tengah musim tanam, sebagai bentuk penguatan spiritual bagi para petani. Ritual ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Mojowarno tidak hanya bersyukur atas hasil akhir, tetapi juga atas proses yang mereka lalui selama bercocok tanam.
3. Unduh-Unduh
Puncak dari rangkaian acara adalah Unduh-Unduh, yang dirayakan saat panen tiba. Acara ini dimulai dengan prosesi arak-arakan gerobak hias yang dihiasi dengan berbagai hasil bumi, seperti padi, sayuran, buah-buahan, dan hewan ternak. Gerobak-gerobak ini didorong oleh jemaat dari berbagai blok di Desa Mojowarno, termasuk Blok Mojowarno, Blok Mojoroto, Blok Mojotengah, Blok Mojojejer, Blok Mojowangi, Blok Mojodukuh, dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno.
Setiap gerobak dihias dengan tema yang berbeda, sering kali menampilkan simbol-simbol Kristen seperti patung Yesus Kristus atau adegan Jalan Salib. Prosesi ini diiringi oleh musik tradisional, termasuk alunan lesung yang dimainkan oleh jemaat, menciptakan suasana yang meriah dan penuh semangat. Lesung, alat tradisional untuk menumbuk padi, menjadi simbol keseharian petani yang diangkat dalam konteks perayaan ini.
Setelah tiba di halaman gereja, persembahan hasil bumi tersebut didoakan dalam misa khusus Unduh-Unduh. Kemudian, hasil bumi dilelang kepada jemaat dan masyarakat umum. Hasil lelang ini digunakan untuk mendukung kegiatan gereja dan program sosial, seperti membantu warga yang kurang mampu. Proses lelang ini tidak hanya menjadi ajang pengumpulan dana, tetapi juga simbol partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga keberlangsungan tradisi.
4. Pertunjukan Seni dan Budaya
Selain prosesi dan lelang, perayaan Unduh-Unduh juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya. Salah satu yang paling dinantikan adalah pagelaran wayang kulit, yang biasanya mengangkat kisah epik dengan pesan moral dan spiritual. Wayang kulit, sebagai salah satu warisan budaya Jawa, menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan keimanan kepada penonton.
Selain itu, ada pula tarian tradisional, seperti tari remo, yang ditampilkan sebagai wujud syukur dan persembahan kepada Tuhan. Tari remo, dengan gerakan yang dinamis dan penuh makna, mencerminkan kekayaan budaya Jawa Timur yang diintegrasikan dalam perayaan ini. Musik tradisional, seperti gamelan atau angklung, juga turut mengiringi pertunjukan, menambah kemeriahan suasana.
Pada tahun 2024, misalnya, perayaan Unduh-Unduh di GKJW Mojowarno dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit yang dihadiri oleh Penjabat Bupati Jombang, Sugiat S.Sos, M.Psi, beserta jajaran pemerintah daerah. Kehadiran pejabat ini menunjukkan dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya lokal dan penguatan toleransi antarumat beragama.
Pengisi Acara Unduh-Unduh
Unduh-Unduh bukan hanya melibatkan jemaat GKJW, tetapi juga seniman lokal, musisi, dan tokoh masyarakat. Berikut adalah beberapa pengisi acara yang biasanya turut serta dalam perayaan ini:
-
Pendeta GKJW Mojowarno: Sebagai pemimpin spiritual, pendeta memimpin doa dan misa khusus Unduh-Unduh. Pendeta Wimbo Sancoko, misalnya, pernah menyampaikan pesan tentang pentingnya kepedulian terhadap gereja dan sesama dalam perayaan ini. Kehadiran pendeta menjadi inti dari dimensi keagamaan acara ini.
-
Jemaat dari Berbagai Blok: Setiap blok di Desa Mojowarno bertanggung jawab untuk menyiapkan gerobak hias dan persembahan hasil bumi. Mereka juga turut serta dalam prosesi arak-arakan dan lelang, menunjukkan kerja sama yang erat antarwarga.
-
Seniman dan Musisi Lokal: Pagelaran wayang kulit dan pertunjukan musik tradisional biasanya diisi oleh seniman lokal yang ahli dalam bidangnya. Dalang wayang kulit, misalnya, membawakan cerita dengan penuh makna, sementara musisi tradisional menghidupkan suasana dengan alunan gamelan atau lesung.
-
Tokoh Masyarakat dan Pemerintah: Kehadiran tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah, seperti Penjabat Bupati Jombang, menambah kemeriahan acara dan menunjukkan dukungan terhadap tradisi ini. Partisipasi mereka juga menjadi simbol bahwa Unduh-Unduh adalah milik seluruh masyarakat, bukan hanya jemaat gereja.
Selain itu, acara ini juga sering melibatkan kelompok-kelompok kesenian dari luar Mojowarno, seperti grup tari dari kota tetangga atau musisi dari Surabaya, yang diundang untuk memeriahkan perayaan. Kolaborasi ini memperkaya ragam seni yang ditampilkan dan memperluas jangkauan budaya Unduh-Unduh.
Antusiasme Masyarakat
Unduh-Unduh bukan sekadar perayaan keagamaan; ia adalah pesta rakyat yang dinantikan oleh seluruh masyarakat Mojowarno dan sekitarnya. Ribuan warga, baik Kristen maupun Muslim, memadati jalanan untuk menyaksikan prosesi arak-arakan dan mengikuti lelang hasil bumi. Bahkan, pengunjung dari luar Jombang, seperti Surabaya, Kediri, dan Mojokerto, turut hadir untuk merasakan kemeriahan acara ini.
Salah satu aspek yang paling menarik dari Unduh-Unduh adalah kemampuannya untuk mempersatukan masyarakat lintas agama. Meskipun digelar di gereja, perayaan ini terbuka untuk semua kalangan. Banyak warga Muslim yang turut serta dalam prosesi, membantu persiapan, atau sekadar menikmati pertunjukan seni. Hal ini mencerminkan tingginya toleransi dan harmoni antarumat beragama di Mojowarno, yang telah terjalin sejak lama.
Seorang pengunjung dari Surabaya, Jacob Johan, pernah menyatakan kekagumannya terhadap perayaan ini: “Mengagumkan. Masyarakatnya menyatu, toleransi mereka sangat tinggi.” Pernyataan ini menggambarkan betapa Unduh-Unduh tidak hanya merayakan panen, tetapi juga merayakan kebersamaan dan kebhinekaan. Kehadiran lintas agama ini menjadi salah satu daya tarik utama yang membedakan Unduh-Unduh dari tradisi lain.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari partisipasi aktif dalam lelang hasil bumi. Lelang ini tidak hanya menjadi ajang untuk mendukung kegiatan gereja, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian sosial. Hasil lelang sering kali digunakan untuk membantu warga yang membutuhkan, tanpa memandang agama atau latar belakang sosial. Banyak warga yang sengaja datang untuk membeli hasil bumi, seperti padi, sayuran, atau hewan ternak, sebagai wujud dukungan terhadap tradisi ini.
Selain itu, anak-anak dan remaja juga turut antusias mengikuti acara ini. Mereka sering kali membantu menghias gerobak, menari, atau bermain musik tradisional bersama orang tua mereka. Partisipasi generasi muda ini menjadi harapan bahwa tradisi Unduh-Unduh akan terus hidup dan relevan di masa depan.
Media lokal dan sosial juga turut meningkatkan antusiasme masyarakat. Setiap tahun, perayaan ini sering diberitakan di surat kabar atau dibagikan melalui platform seperti Instagram dan YouTube, menarik perhatian publik yang lebih luas. Dokumentasi video prosesi gerobak hias atau pertunjukan wayang kulit menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang belum pernah menyaksikan langsung.
Kesimpulan
Unduh-Unduh di GKJW Mojowarno Jombang adalah lebih dari sekadar tradisi syukur panen; ia adalah cerminan dari kekayaan budaya, toleransi, dan kebersamaan masyarakat Jawa Timur. Melalui rangkaian acara yang meriah—mulai dari Kebetan, Keleman, hingga prosesi Unduh-Unduh dan pertunjukan seni—perayaan ini tidak hanya memperkuat iman jemaat, tetapi juga melestarikan seni dan budaya lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Pengisi acara, dari pendeta hingga seniman lokal, turut menghidupkan tradisi ini dengan semangat dan dedikasi.
Dengan antusiasme yang tinggi dari masyarakat, baik Kristen maupun Muslim, Unduh-Unduh terus hidup sebagai simbol persatuan dan gotong royong. Sebagai warisan budaya takbenda, tradisi ini layak untuk terus dijaga dan dirayakan, mengingatkan kita semua akan pentingnya rasa syukur, kepedulian, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap tahun, Unduh-Unduh tidak hanya menjadi perayaan panen, tetapi juga perayaan kehidupan, kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.


