Candi Pundong: Jejak Sejarah Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Medang di Kabupaten Jombang

Di tengah hamparan pedesaan yang tenang di Desa Pundong, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat sebuah situs bersejarah yang menyimpan misteri masa lalu: Candi Pundong. Meskipun tidak setenar candi-candi besar seperti Borobudur atau Prambanan, Candi Pundong memiliki nilai sejarah yang signifikan sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Candi ini, yang tersembunyi di halaman belakang rumah seorang warga, menarik perhatian para arkeolog dan sejarawan yang ingin mengungkap rahasia di balik pembangunannya. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang Candi Pundong, termasuk kapan candi ini dibuat, siapa yang membangunnya, apa tujuan pembuatannya, fungsinya, upaya pelestarian yang telah dilakukan, serta peran masyarakat dalam menjaga kelestarian warisan budaya ini.


Lokasi dan Deskripsi Candi Pundong

Candi Pundong terletak di Dusun Watutangi, Desa Pundong, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Secara administratif, candi ini berada di wilayah yang kaya akan peninggalan sejarah, dekat dengan situs-situs lain yang diyakini berasal dari masa kerajaan Hindu-Buddha. Lokasinya cukup tersembunyi, berada di halaman belakang rumah salah seorang warga, sehingga tidak ada petunjuk resmi yang mengarah ke sana. Pengunjung yang ingin melihat candi ini disarankan untuk bertanya kepada warga setempat untuk mendapatkan petunjuk arah yang tepat. Dari pusat Kota Jombang, Candi Pundong dapat dicapai melalui rute Jombang – Bypass Basuki Rahmad – perempatan lampu merah Jalan Pattimura ke selatan – Desa Pandanwangi – Desa Pundong.

Candi Pundong tersusun dari batu bata merah, sebuah material yang umum digunakan dalam pembangunan candi pada masa Hindu-Buddha di Jawa. Namun, kondisi candi ini saat ini tidak utuh lagi; hanya menyisakan kaki candi berdenah persegi dengan ukuran 495 cm x 495 cm (sekitar 5 x 5 meter). Struktur yang tersisa ini memberikan gambaran tentang fondasi candi yang kokoh, meskipun bagian atasnya telah hilang atau rusak akibat waktu dan faktor alam seperti erosi dan cuaca.


Kapan Candi Pundong Dibuat?

Menentukan kapan tepatnya Candi Pundong dibuat adalah tantangan tersendiri karena keterbatasan sumber sejarah tertulis yang secara eksplisit menyebutkan tanggal pembangunannya. Namun, berdasarkan analisis arkeologi dan konteks sejarah, ada dua pendapat utama mengenai asal-usul candi ini.

Pendapat Pertama: Masa Mpu Sindok (Abad ke-10 Masehi)

Pendapat pertama menyatakan bahwa Candi Pundong merupakan peninggalan dari masa pemerintahan Mpu Sindok, raja Kerajaan Medang (Mataram Kuno) periode Jawa Timur, yang berkuasa pada abad ke-10 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada lokasi Desa Pundong yang tidak jauh dari Desa Watu Galuh. Toponim “Watu Galuh” tercatat dalam beberapa prasasti yang dikeluarkan oleh Mpu Sindok sebagai ibu kota baru Kerajaan Medang setelah dipindahkan dari Jawa Tengah. Di Desa Watu Galuh sendiri, banyak ditemukan artefak seperti gerabah dan keramik kuno dari masa klasik, yang mendukung teori bahwa wilayah ini merupakan pusat aktivitas pada masa tersebut. Oleh karena itu, ada kemungkinan Candi Pundong dibangun sekitar abad ke-10 sebagai bagian dari perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa Timur.

Pendapat Kedua: Masa Kerajaan Majapahit (Abad ke-14 hingga ke-15 Masehi)

Pendapat kedua mengaitkan Candi Pundong dengan Kerajaan Majapahit, yang berkuasa pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada lokasi candi yang tidak jauh dari Trowulan, ibu kota Kerajaan Majapahit di Mojokerto. Hingga tahun 1909, Jombang masih merupakan bagian dari Kabupaten Mojokerto, dan wilayahnya mencakup Kecamatan Trowulan, yang kini masuk wilayah Mojokerto. Berdasarkan fakta sejarah ini, banyak yang berpendapat bahwa Jombang, termasuk Desa Pundong, masih termasuk dalam ranah pengaruh ibu kota Majapahit. Dalam ekskavasi yang dilakukan pada tahun 2022 oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, ditemukan struktur candi yang diperkirakan berasal dari era Majapahit, dengan ciri khas bata merah bervariasi ukuran.

Hingga kini, belum ada keterangan pasti yang dapat memastikan periode pembangunan Candi Pundong. Para ahli masih terus melakukan penelitian untuk mengungkap misteri di balik candi ini, dan kedua pendapat tersebut tetap menjadi hipotesis yang kuat.


Siapa Pembuat Candi Pundong?

Menentukan siapa yang membangun Candi Pundong adalah hal yang sulit karena tidak adanya prasasti atau dokumen tertulis yang menyebutkan nama pembuatnya. Namun, berdasarkan konteks sejarah dan tradisi pembangunan candi di Jawa, ada beberapa kemungkinan yang dapat dipertimbangkan.

Jika dari Masa Mpu Sindok

Jika Candi Pundong dibangun pada masa Mpu Sindok, maka kemungkinan besar candi ini didirikan atas perintah Mpu Sindok atau bangsawan dari Kerajaan Medang. Mpu Sindok dikenal sebagai raja yang memindahkan ibu kota Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur setelah krisis di wilayah Mataram Kuno. Ia juga dikenal sebagai pelindung agama Hindu-Buddha, dan pembangunan candi pada masa itu sering kali merupakan proyek kerajaan yang melibatkan arsitek, seniman, dan pekerja terampil di bawah pengawasan kerajaan.

Jika dari Masa Majapahit

Sebaliknya, jika candi ini berasal dari masa Majapahit, maka pembangunnya mungkin adalah raja atau bangsawan Majapahit. Kerajaan Majapahit dikenal dengan pembangunan candi-candi yang tersebar di wilayah kekuasaannya, termasuk di Jawa Timur. Candi-candi ini biasanya dibangun untuk keperluan keagamaan atau sebagai monumen peringatan, dan proyek pembangunannya biasanya dikoordinasikan oleh elit kerajaan.

Kemungkinan Lain

Selain itu, ada kemungkinan bahwa Candi Pundong didirikan oleh komunitas lokal atau kelompok keagamaan sebagai bentuk pengabdian kepada dewa atau untuk keperluan ibadah. Dalam tradisi Hindu-Buddha, candi tidak selalu dibangun oleh kerajaan, tetapi juga oleh masyarakat atau kelompok agama tertentu yang memiliki kemampuan dan sumber daya untuk membangun tempat suci.

Tanpa bukti tertulis yang jelas, identitas pembuat Candi Pundong tetap menjadi misteri yang menunggu penelitian lebih lanjut.


Apa Tujuan Pembuatan Candi Pundong?

Tujuan pembuatan Candi Pundong kemungkinan besar adalah untuk keperluan keagamaan. Berdasarkan struktur dan temuan arkeologi, candi ini diperkirakan sebagai tempat pemujaan atau bangunan suci. Dalam ekskavasi yang dilakukan pada tahun 2007 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, ditemukan kotak peripih yang ditempelkan di dinding sumuran candi. Peripih adalah artefak yang lazim ditemukan di candi-candi Hindu-Buddha, berfungsi sebagai penarik daya magis atau nilai suci dari roh leluhur. Temuan ini membuktikan bahwa Candi Pundong merupakan bangunan suci yang digunakan untuk pemujaan, kemungkinan untuk menghormati dewa-dewa Hindu atau Buddha.

Selain itu, candi-candi pada masa Hindu-Buddha sering kali dibangun sebagai monumen untuk mengenang raja, bangsawan, atau tokoh penting yang telah meninggal. Oleh karena itu, Candi Pundong mungkin juga berfungsi sebagai candi peringatan atau makam simbolis bagi seseorang yang dihormati pada masa itu.

Dari perspektif sosial dan politik, pembangunan candi juga dapat dilihat sebagai upaya untuk memperkuat legitimasi kekuasaan kerajaan. Dengan mendirikan tempat ibadah, seorang raja atau penguasa lokal dapat menunjukkan kesalehan dan kedekatannya dengan kekuatan ilahi, sehingga memperoleh dukungan dari rakyat dan para rohaniawan.


Apa Fungsi Candi Pundong?

Fungsi di Masa Lalu

Pada masa lampau, Candi Pundong berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan. Umat Hindu atau Buddha kemungkinan besar datang ke candi ini untuk melaksanakan ritual pemujaan, meditasi, dan upacara keagamaan lainnya. Keberadaan sumuran dan peripih menunjukkan bahwa candi ini memiliki peran penting dalam praktik keagamaan pada masanya, mungkin sebagai tempat untuk mempersembahkan sesaji atau melakukan ritual tertentu.

Selain itu, candi ini juga dapat berfungsi sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan. Para biksu atau pendeta mungkin menggunakan candi sebagai tempat untuk mengajarkan ajaran agama, filsafat, dan seni kepada murid-murid mereka. Dengan demikian, Candi Pundong tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat penyebaran pengetahuan dan budaya di komunitas sekitar.

Fungsi di Era Modern

Di zaman modern, fungsi Candi Pundong telah bergeser. Kini, candi ini lebih dikenal sebagai situs sejarah dan objek penelitian arkeologi. Para arkeolog dan sejarawan tertarik untuk mengungkap lebih lanjut tentang asal-usul dan fungsi candi ini melalui ekskavasi dan analisis artefak. Selain itu, candi ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mempelajari sejarah peradaban Hindu-Buddha di Jawa Timur.

Meskipun belum dikembangkan secara penuh sebagai destinasi wisata, potensi Candi Pundong sebagai objek wisata budaya sangatlah besar. Dengan promosi yang tepat dan pengelolaan yang berkelanjutan, candi ini dapat menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik di Kabupaten Jombang.


Apa Saja Upaya Pelestarian Candi Pundong?

Pelestarian Candi Pundong merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak yang peduli terhadap warisan budaya. Di Indonesia, upaya pelestarian situs bersejarah diatur melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menetapkan bahwa benda-benda seperti candi yang memiliki nilai sejarah, budaya, atau ilmiah harus dilindungi dan dikelola dengan baik.

1. Ekskavasi dan Penelitian Arkeologi

Salah satu upaya utama dalam pelestarian Candi Pundong adalah ekskavasi dan penelitian arkeologi. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur telah melakukan ekskavasi pada situs ini, terutama pada tahun 2007 dan 2022. Ekskavasi ini bertujuan untuk mengungkap struktur candi yang terkubur dan mencari artefak yang dapat memberikan petunjuk tentang sejarah dan fungsi candi. Pada ekskavasi tahun 2022, tim BPCB berhasil menampakkan seluruh struktur candi yang diperkirakan berasal dari era Majapahit, termasuk denah persegi seluas 5 x 5 meter.

2. Konservasi Fisik

Selain ekskavasi, upaya konservasi fisik juga dilakukan untuk menjaga integritas struktural candi. Tim ahli dari BPCB Jawa Timur secara rutin melakukan pemeliharaan dan restorasi terhadap struktur candi yang tersisa. Kegiatan ini meliputi pembersihan candi dari lumut dan kotoran, serta perbaikan bagian-bagian yang rusak akibat cuaca dan waktu. Konservasi ini penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada kaki candi yang tersisa.

3. Keamanan

Untuk mencegah vandalisme dan kerusakan lebih lanjut, pemerintah telah memasang pagar pembatas di sekitar situs. Selain itu, penjaga keamanan atau juru pelihara ditugaskan untuk menjaga situs ini dari aktivitas yang merusak, seperti pencurian bata atau pengrusakan struktur. Langkah ini sangat penting mengingat lokasi candi yang berada di tengah permukiman warga, yang membuatnya rentan terhadap gangguan.

4. Edukasi dan Promosi Budaya

Upaya pelestarian tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga budaya. Program edukasi di sekolah-sekolah setempat dan komunitas lokal diajak untuk memahami pentingnya melestarikan Candi Pundong. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, diharapkan situs ini dapat dijaga dengan lebih baik dan nilai sejarahnya dapat diwariskan ke generasi mendatang.

Tantangan Pelestarian

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, pelestarian Candi Pundong menghadapi beberapa tantangan, seperti:

  • Lokasi di Permukiman: Candi ini berada di halaman belakang rumah warga, yang menyulitkan akses dan pengawasan oleh pihak berwenang.
  • Keterbatasan Anggaran: Dana untuk pelestarian sering kali terbatas, terutama untuk situs yang kurang dikenal seperti Candi Pundong.
  • Faktor Alam: Curah hujan tinggi dan karakter tanah yang berupa pasir aluvial dari letusan gunung berapi membuat struktur candi rentan terhadap erosi dan kerusakan.

Bagaimana Peran Masyarakat dalam Melestarikan Candi Pundong?

Masyarakat lokal memainkan peran krusial dalam menjaga kelestarian Candi Pundong. Sebagai “penjaga pertama” situs ini, mereka memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi dan merawat warisan budaya di lingkungan mereka.

1. Partisipasi dalam Ekskavasi

Dalam kegiatan ekskavasi yang dilakukan oleh BPCB Jawa Timur, masyarakat setempat turut serta membantu tim arkeolog. Mereka membantu dalam proses penggalian dan pemindahan tanah, yang menunjukkan keterlibatan aktif dalam upaya pelestarian. Partisipasi ini tidak hanya meringankan beban tim arkeologi, tetapi juga meningkatkan rasa memiliki terhadap situs tersebut.

2. Menjaga Kebersihan dan Keamanan

Masyarakat juga berperan dalam menjaga kebersihan area candi dan mencegah aktivitas yang merusak, seperti membuang sampah sembarangan atau merusak struktur candi. Dengan kesadaran kolektif, mereka dapat meminimalkan dampak negatif terhadap situs ini dan memastikan candi tetap terjaga dalam kondisi yang baik.

3. Edukasi dan Kesadaran

Pendidikan adalah kunci untuk melibatkan masyarakat dalam pelestarian. Melalui ceramah, seminar, atau lokakarya yang diadakan oleh pemerintah atau organisasi budaya, warga diajak untuk memahami nilai sejarah dan budaya Candi Pundong. Dengan pemahaman ini, mereka dapat menjadi “duta pelestarian” yang menyebarkan pentingnya menjaga situs ini kepada generasi muda dan wisatawan.

4. Promosi Pariwisata Budaya

Masyarakat juga dapat berkontribusi melalui promosi pariwisata budaya. Dengan mengenalkan Candi Pundong kepada wisatawan, mereka membantu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya situs ini. Namun, pariwisata harus dikelola secara berkelanjutan untuk mencegah kerusakan akibat lonjakan pengunjung yang tidak terkontrol.


Kesimpulan

Candi Pundong adalah warisan berharga yang mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya Indonesia. Meskipun asal-usulnya masih misterius, candi ini kemungkinan besar dibangun pada masa Kerajaan Medang (abad ke-10) atau Majapahit (abad ke-14 hingga ke-15) untuk keperluan keagamaan. Fungsinya sebagai pusat pemujaan dan pendidikan pada masa lalu kini bergeser menjadi situs sejarah yang menarik perhatian arkeolog dan wisatawan. Upaya pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah melalui ekskavasi, konservasi fisik, dan edukasi, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan mempromosikan candi, menunjukkan komitmen untuk menjaga kelestarian candi ini. Dengan kolaborasi yang kuat antara semua pihak, Candi Pundong dapat terus lestari sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Jombang dan Indonesia.

Tinggalkan komentar