Pada Senin, 25 Agustus 2025, Pendopo Kabupaten Jombang menjadi saksi bisu dari sebuah acara yang penuh makna: Pameran Kearsipan dengan tema “Tetenger Kabupaten Jombang”. Acara ini merupakan bagian integral dari Gelar Pengawasan Internal dan Inovasi Daerah SOS LINA NUMPAK SEPEDA JENGKI, yang merupakan singkatan dari Sosialisasi Literasi Arsip Anak Menuju Peningkatan Wawasan Sejarah dan Pembangunan Daerah Jaringan Informasi Kearsipan Nasional Berkibar. Dimulai pukul 08.00 WIB, pameran ini tidak hanya menyajikan dokumen-dokumen bersejarah, tetapi juga menjadi wadah untuk membangkitkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya arsip sebagai pondasi pembangunan daerah. Di tengah era digital yang serba cepat, acara seperti ini mengingatkan kita bahwa sejarah bukanlah barang mati, melainkan tetenger—atau landmark—yang membentuk identitas sebuah wilayah.
Kabupaten Jombang, yang dikenal sebagai “Kota Santri” di Jawa Timur, memiliki warisan sejarah yang kaya. Tema “Tetenger Kabupaten Jombang” dipilih untuk menyoroti berbagai landmark bersejarah yang menjadi simbol kejayaan masa lalu, seperti Ringin Contong yang legendaris. Ringin Contong, sebuah monumen berupa tower air tinggi yang dibangun pada masa kolonial, bukan hanya struktur fisik, tetapi juga representasi dari perjalanan panjang Jombang dari era Majapahit hingga menjadi kabupaten mandiri pada 1910. Pameran ini dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari pejabat daerah hingga siswa sekolah, menunjukkan komitmen bersama dalam melestarikan arsip sebagai aset nasional. Melalui pameran ini, Pemerintah Kabupaten Jombang berupaya mengintegrasikan literasi arsip ke dalam pendidikan anak-anak, sejalan dengan program nasional untuk meningkatkan wawasan sejarah.
Acara ini bukan sekadar pameran statis; ia diramaikan dengan penampilan budaya seperti tari Remo dan nyanyian keroncong, yang melibatkan siswa dan komunitas lokal. Hadirnya Plh. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, serta Komunitas Pelestari Sejarah (KOMPAS) menambah nuansa kolaboratif. Total, lebih dari 100 peserta dari berbagai sekolah seperti SMPN 1 Jombang, SMPN 2 Jombang, SMAN 1 Jombang, SMAN 2 Jombang, SMP Katolik Wijana Jombang, dan SMA PGRI Jombang turut serta, membawa semangat muda untuk mengeksplorasi arsip. Ini adalah langkah konkret dalam membangun jaringan informasi kearsipan nasional yang berkibar, di mana anak-anak diajak untuk tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari pelestariannya.
Latar Belakang Program SOS LINA NUMPAK SEPEDA JENGKI
Program SOS LINA NUMPAK SEPEDA JENGKI lahir dari kebutuhan mendesak untuk meningkatkan literasi arsip di kalangan anak-anak Indonesia. Di tengah maraknya informasi digital yang sering kali tidak terverifikasi, arsip statis menjadi sumber primer yang autentik untuk memahami akar budaya dan sejarah bangsa. Program ini, yang dicanangkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bekerja sama dengan pemerintah daerah, bertujuan untuk mensosialisasikan literasi arsip sebagai alat peningkatan wawasan sejarah dan pembangunan daerah. Singkatan yang unik—Sosialisasi Literasi Arsip Anak Menuju Peningkatan Wawasan Sejarah dan Pembangunan Daerah Jaringan Informasi Kearsipan Nasional Berkibar—mencerminkan semangat inovatif dan inklusif, di mana “numpak sepeda jengki” mungkin melambangkan perjalanan panjang dan nostalgik menuju kemajuan.
Di Indonesia, literasi arsip anak masih menjadi tantangan. Banyak anak yang lebih akrab dengan gadget daripada dokumen sejarah. Menurut data dari Yayasan Literasi Anak Indonesia, hanya sebagian kecil anak usia sekolah yang terlibat dalam kegiatan literasi berbasis arsip. Program seperti ini telah diimplementasikan di berbagai daerah, seperti di Jawa Tengah melalui pameran virtual ANRI, yang menampilkan jejak budaya provinsi. Di Jombang, program ini disesuaikan dengan konteks lokal, di mana sejarah santri dan pesantren menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas daerah. Gelar Pengawasan Internal dan Inovasi Daerah ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa pengelolaan arsip daerah sesuai standar nasional, sehingga arsip tidak hanya disimpan, tetapi juga dimanfaatkan untuk pendidikan.
Pameran “Tetenger Kabupaten Jombang” menjadi puncak dari program ini di tingkat kabupaten. Tema tetenger dipilih karena mencerminkan landmark yang menjadi penanda sejarah Jombang, seperti Pal Titik Nol Kilometer yang menandai hitungan metrologis sekaligus tetenger kota. Ini sejalan dengan upaya nasional untuk memanfaatkan arsip statis melalui pameran, sebagaimana dilakukan oleh Kementerian Sekretariat Negara dalam pameran arsip kepresidenan tentang perpindahan ibu kota. Dengan demikian, program ini tidak hanya edukatif, tetapi juga inovatif, menggabungkan elemen tradisional seperti tari dan musik dengan teknologi digital untuk akses arsip.
Sejarah Kabupaten Jombang dan Makna Tetenger
ntuk memahami esensi pameran ini, kita perlu menyelami sejarah Kabupaten Jombang. Wilayah ini memiliki akar yang dalam, dimulai dari era prasejarah dengan penemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas, menunjukkan bahwa Jombang telah dihuni sejak ribuan tahun lalu. Pada masa Kerajaan Majapahit, Jombang berfungsi sebagai gerbang barat kerajaan, dengan gapura di Desa Tunggorono dan gapura timur di Desa Banyuarang. Legenda asal usul nama Jombang berasal dari kisah Kebo Kicak dan Surontanu, dua tokoh yang bertarung sengit, di mana “Jombang” konon berasal dari “jomplang” atau tidak seimbang, mencerminkan dinamika sejarahnya.
Pada abad ke-19, Jombang masih bagian dari Kabupaten Mojokerto. Baru pada 1910, Jombang memisahkan diri dan menjadi kabupaten mandiri dengan Raden Adipati Arya Soeroadiningrat sebagai bupati pertama. Ini menandai era baru, di mana Jombang berkembang sebagai pusat pendidikan Islam, melahirkan tokoh-tokoh seperti Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan pahlawan nasional lainnya. Sebagai “Kota Santri”, Jombang memiliki ratusan pesantren yang menjadi pusat penyebaran ilmu dan budaya.
Tetenger, dalam bahasa Jawa, berarti tanda atau landmark yang menjadi ciri khas suatu daerah. Di Jombang, tetenger paling ikonik adalah Ringin Contong, sebuah pohon ringin yang “conthong” atau miring, yang kemudian menjadi monumen di Jalan KH. Wahid Hasyim. Monumen ini bukan hanya simbol kota, tetapi juga saksi sejarah kolonial Belanda, dibangun sebagai tower air pada awal abad ke-20. Selain itu, ada Pal Titik Nol Kilometer, yang menjadi penanda metrologis dan tetenger kota sejak lama. Dalam konteks pameran, tetenger diinterpretasikan sebagai arsip sejarah yang menjadi landmark immaterial, seperti dokumen tentang berdirinya kabupaten atau jejak pesantren.
Pemerintah daerah pernah menggelar lomba desain landmark pada 2021, dengan karya seperti “Tetenger Panca Srasah” yang menggabungkan kultur dan futuristik. Ini menunjukkan bahwa tetenger bukan statis, tetapi evolusi yang terus berkembang. DPRD Jombang pun mendukung pengembangan tetenger sebagai ikon hari jadi kabupaten, seperti gapura ikonik. Melalui pameran ini, arsip tentang tetenger ini dipamerkan untuk mengedukasi anak-anak, agar mereka memahami bahwa sejarah adalah fondasi pembangunan.
Deskripsi Acara di Pendopo Kabupaten Jombang
Pendopo Kabupaten Jombang, lokasi acara, adalah bangunan bersejarah yang dibangun pada 1911 oleh pemerintah Hindia Belanda. Awalnya berbentuk joglo tradisional, pendopo ini direnovasi total pada 1968 menjadi struktur cungkup tiga atap, dengan anggaran signifikan pada masanya. Lokasi ini sempurna untuk pameran, karena pendopo sendiri adalah tetenger arsitektur kolonial yang menyimpan banyak cerita.
Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan pembukaan oleh pejabat daerah, diikuti penganugerahan penghargaan kearsipan 2025. Suasana pendopo dipenuhi panel-panel arsip, foto-foto lama, dan dokumen digital yang bisa diakses via QR code. Hadirin mencakup Plh. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, yang membawa penari Remo dari Bidang Kebudayaan (2 orang), serta delegasi dari SMPN 1 dan SMPN 2 Jombang—masing-masing 10 orang termasuk kepala sekolah, 2 guru sejarah, dan 7 siswa.
Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang hadir dengan delegasi lebih besar: SMAN 1 Jombang (10 orang), SMAN 2 Jombang (20 orang termasuk 10 penyanyi keroncong), SMP Katolik Wijana Jombang (10 orang), dan SMA PGRI Jombang (10 orang). Komunitas Pelestari Sejarah (KOMPAS) diwakili 4 sejarawan yang memberikan ceramah singkat. Total, acara ini dihadiri ratusan orang, menciptakan atmosfer hidup dengan diskusi dan pertunjukan.
Penampilan tari Remo membuka acara, diikuti nyanyian keroncong yang membawakan lagu-lagu sejarah Jombang. Siswa-siswa diajak tur interaktif, di mana mereka belajar membaca arsip lama dan mendiskusikan maknanya.
Isi Pameran dan Inovasi Literasi
Pameran menyajikan berbagai arsip statis tentang tetenger Jombang, seperti dokumen pembangunan Ringin Contong tahun 1930-an, foto-foto pendopo, dan naskah legenda Kebo Kicak. Ada juga arsip digital tentang evolusi kabupaten dari Mojokerto, termasuk SK pemisahan 1910. Untuk anak-anak, disediakan sudut literasi dengan permainan interaktif, seperti puzzle sejarah dan storytelling.
Inovasi ini sejalan dengan pameran virtual nasional, di mana arsip dimanfaatkan untuk pendidikan. Anak-anak dari sekolah peserta belajar bahwa arsip adalah “tetenger” masa lalu yang menyongsong masa depan.
Partisipasi dan Dampak
Partisipasi aktif dari sekolah dan komunitas membuat acara ini sukses. Guru sejarah memandu siswa, sementara sejarawan KOMPAS berbagi cerita. Dampaknya: peningkatan minat baca arsip di kalangan anak, sebagaimana program wisata literasi di perpustakaan. Ini berkontribusi pada Indonesia Emas 2045 melalui generasi berwawasan sejarah.
Kesimpulan
Pameran ini adalah tonggak penting dalam literasi arsip anak. Dengan tema tetenger, Jombang menunjukkan komitmennya melestarikan sejarah untuk pembangunan. Semoga acara serupa terus berkibar, membangun bangsa yang kuat dari akarnya.


