Pagelaran Wayang Kulit Spektakuler: Empat Dalang Menuntaskan “Satria Duksina Geni” dalam Satu Malam

Pada Sabtu malam, 6 September 2025, lapangan Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menjadi saksi sebuah perhelatan budaya yang luar biasa. Pagelaran wayang kulit dengan empat dalang ternama yang bergantian dalam satu malam untuk menuntaskan cerita berjudul Satria Duksina Geni berhasil menyedot ribuan penonton dari berbagai penjuru. Acara ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian seni tradisional Jawa, tetapi juga sarana peringatan dua momen penting: Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dengan durasi yang panjang hingga subuh, pagelaran ini menyuguhkan harmoni antara hiburan, pendidikan moral, dan spiritualitas, membuat penonton betah bertahan hingga akhir.

Desa Bareng, yang dikenal sebagai salah satu pusat seni budaya di Jombang, memang sering menjadi tuan rumah acara-acara seperti ini. Lapangan desa yang luas, dikelilingi pepohonan rindang dan rumah-rumah penduduk, diubah menjadi panggung raksasa dengan kelir (layar wayang) yang megah. Lampu-lampu warna-warni menghiasi sekitar, menciptakan suasana magis yang memukau mata. Acara ini diselenggarakan oleh panitia desa bekerja sama dengan pemerintah kecamatan dan kabupaten, dengan tujuan memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Desa Bareng dalam sambutannya, “Pagelaran ini adalah bentuk syukur kita atas kemerdekaan dan ajaran Rasulullah, sekaligus upaya menjaga warisan leluhur agar tidak punah.”

Latar Belakang Cerita “Satria Duksina Geni”

Duksina Geni adalah nama kerajaan di Kahyangan yang dimiliki oleh Bathara  Brahma dan kelak akan ditempati oleh Wisanggeni. Cerita Satria Duksina Geni merupakan adaptasi dari lakon wayang purwa yang mengangkat kisah Wisanggeni, putra Arjuna dari Dewi Dresanala. Wisanggeni dikenal sebagai satria pemberani dengan kekuatan api (geni) yang dahsyat, simbol dari semangat juang dan keteguhan hati. Dalam cerita ini, Wisanggeni menghadapi berbagai ujian, mulai dari pertarungan melawan raksasa hingga konflik internal di kerajaan. Judul “Satria Duksina Geni” mungkin merujuk pada “daksina” yang berarti selatan atau hadiah, tapi dalam konteks wayang, ia menggambarkan perjalanan Wisanggeni yang penuh api semangat untuk membela kebenaran. Cerita ini sering dimainkan dalam pagelaran wayang untuk menyampaikan pesan moral tentang keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan.

Menurut tradisi wayang kulit, cerita seperti ini diambil dari epos Mahabharata, di mana Wisanggeni muncul sebagai tokoh pendukung Pandawa. Ia lahir dari api suci, memiliki kekuatan superhuman, dan sering digambarkan sebagai pemberontak yang tak kenal takut. Dalam versi yang dimainkan malam itu, cerita dibagi menjadi dua sesi untuk empat dalang, memungkinkan penonton menyaksikan kelanjutan cerita secara utuh dalam satu malam. Setiap sesi menampilkan dua orang pedalang. Konsep “empat dalang satu malam” ini jarang dilakukan karena membutuhkan koordinasi tinggi, tapi di Desa Bareng, hal ini menjadi tradisi untuk menjaga keberlanjutan cerita tanpa jeda panjang.

Pagelaran wayang kulit sendiri adalah seni pertunjukan yang telah ada sejak abad ke-9, diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Manusia pada 2003. Wayang kulit dimainkan dengan boneka kulit sapi yang diukir rumit, diproyeksikan pada kelir dengan cahaya blencong (lampu minyak). Dalang bertindak sebagai narator, pengisi suara, dan pengatur gamelan, membuatnya menjadi seni multi-dimensi. Di Jombang, yang dikenal sebagai “Kota Santri”, wayang sering dikaitkan dengan dakwah Islam, di mana cerita wayang diadaptasi untuk menyampaikan nilai-nilai agama.

Dalang Ki Zudhistiro Bayu Pamungkas dan istri
Dalang Ki Zudhistiro Bayu Pamungkas dan istri

Profil Para Dalang: Maestro dan Generasi Muda

Empat dalang yang tampil malam itu adalah putra-putra terbaik dari tanah Jombang, khususnya Desa Bareng. Mereka mewakili perpaduan antara pengalaman dan semangat muda, memastikan pagelaran tetap segar dan relevan.

Pertama, Ki Heru Cahyono SSn MPd, seorang dalang senior dengan gelar sarjana seni dan magister pendidikan. Ki Heru saat ini menjabat Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Ki Heru telah malang melintang di dunia wayang sejak usia muda, sering tampil di acara nasional. Ia dikenal dengan gaya narasi yang mendalam, penuh falsafah Jawa, dan kemampuan menyisipkan humor kontemporer. Dalam pagelaran sebelumnya, seperti lakon “Rabine Raden Abimanyu”, Ki Heru berhasil membuat penonton terpukau dengan dialog-dialog yang menyentuh hati.

Kedua, Ki David Gondo Mulyo, dalang karismatik dari Wonosalam, Jombang. Ki David sering tampil di live streaming dan acara desa, dengan lakon favorit seperti “Wahyu Purbo Kayun”. Gaya Ki David energik, dengan penekanan pada adegan pertarungan yang dramatis. Ia juga mahir dalam campursari, sering menyanyi sendiri untuk menghibur penonton. Dalam acara di Desa Bareng ini, Ki David menjadi salah satu daya tarik utama bagi generasi muda.

Ketiga, Ki Zudhistiro Bayu Pamungkas SSn, atau sering disebut Ki Yudis Pamungkas dalam beberapa referensi. Dengan latar belakang sarjana seni, Ki Bayu dikenal sebagai dalang inovatif yang menggabungkan elemen modern seperti efek suara digital dengan tradisi klasik. Ia pernah tampil di pagelaran besar di Jawa Tengah, dan gaya pedalangannya penuh dinamika, terutama dalam menggambarkan karakter-karakter heroik seperti Wisanggeni.

Terakhir, Ki Wisnu Wardana, dalang muda yang sedang naik daun. Masih berusia remaja, Ki Wisnu telah menunjukkan bakat luar biasa sejak kecil, sering tampil di parade dalang bocah. Dari Kecamatan Bareng, ia multitalenta: selain dalang, ia juga penari tradisional. Penampilannya dalam lakon seperti “Dewa Ruci” pernah viral di media sosial, membuatnya menjadi idola bagi anak muda yang ingin belajar wayang.

Keempat dalang ini berasal dari “telatah tanah Bareng”, membuat pagelaran ini terasa seperti reuni keluarga besar seni Jawa.

Jalannya Acara: Dari Pembukaan hingga Puncak Pagelaran

Acara dimulai tepat pukul 20.00 WIB dengan penampilan tarian Walang Kekek oleh empat gadis kecil dari desa setempat. Tarian ini, yang menggambarkan keindahan alam dan kegembiraan hidup, menjadi pembuka yang manis. Gerakan lincah para penari cilik, diiringi gamelan lembut, langsung menyita perhatian penonton yang mulai memadati lapangan. Suasana malam yang sejuk, dengan angin semilir, menambah kehangatan acara.

Dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desa Bareng, yang menyampaikan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia ke-80. Ia menekankan bagaimana wayang kulit menjadi simbol perjuangan bangsa, mirip dengan semangat para pahlawan. Perwakilan Camat Bareng kemudian menambahkan, bahwa acara ini juga bagian dari program pemerintah untuk melestarikan budaya di tengah era digital. Sambutan singkat ini diikuti tepuk tangan meriah.

Selanjutnya, Kyai Sungkono, ulama lokal yang dihormati, memberikan ceramah selama 20 menit. Tema ceramahnya adalah “Menjaga Kebersihan Hati sebagai Bentuk Keteladanan terhadap Nabi Muhammad SAW”. Kyai Sungkono menghubungkan nilai-nilai wayang dengan ajaran Islam, seperti bagaimana Wisanggeni melambangkan hati yang bersih dari api dendam. Ceramah ini menyentuh, membuat penonton merenung sejenak sebelum hiburan selanjutnya.

Pukul 21.00, panggung berganti dengan penampilan enam penyanyi perempuan dari grup Campursari Manunggal Laras asal Bareng, Jombang. Dipimpin Mbak Heni, mereka menyanyikan lagu-lagu campursari klasik seperti “Loro Bronto” dan dangdut kekinian seperti “Sik Asik”. Suara merdu mereka, diiringi gamelan dan keyboard, membuat penonton bergoyang. Mbak Heni, dengan karisma panggungnya, bahkan mengajak penonton bernyanyi bersama, menciptakan interaksi hangat.

Tepat pukul 22.00, momen sakral tiba: para dalang menerima Gunungan Wayang sebagai tanda dimulainya pagelaran. Gunungan, simbol alam semesta, diserahkan oleh kepala desa, diiringi doa bersama. Lampu kelir warna-warni menyala, menghias pemandangan malam. Sesi pertama dimulai dengan pasangan Ki Zudhistiro Bayu Pamungkas dan Ki Wisnu Wardana. Mereka membuka cerita dengan adegan lahirnya Wisanggeni dari api suci, di mana Arjuna melakukan tapa brata. Narasi Ki Zudhistiro penuh falsafah, sementara Ki Wisnu menambahkan sentuhan muda dengan dialog lucu antar tokoh punakawan seperti Semar dan Petruk.

Sesi ini berlangsung sekitar dua jam, penuh dengan adegan dramatis. Penonton terhibur dengan efek suara gamelan yang menggelegar saat Wisanggeni menunjukkan kekuatan apinya. Lampu warna-warni pada kelir menambah visual, membuat bayangan wayang seolah hidup. Banyak penonton, terutama anak muda, merekam momen ini dengan ponsel.

Pagelaran Wayang Kulit Spektakuler Empat Dalang Menuntaskan Satria Duksina Geni dalam Satu Malam
Pagelaran Wayang Kulit Spektakuler Empat Dalang Menuntaskan Satria Duksina Geni dalam Satu Malam

Sesi-Sesi Selanjutnya: Ketegangan dan Hiburan

Setelah jeda singkat, sesi kedua dimulai sekitar pukul 01.15 WIB dengan Ki David Gondo Mulyo berkolaborasi dengan Ki Heru Cahyono. Mereka berdua melanjutkan cerita di mana Wisanggeni menghadapi raksasa dari kerajaan antagonis. Gaya Ki David energik, dengan pertarungan yang intens. Ia menyisipkan lagu campursari di tengah adegan, membuat penonton ikut bernyanyi. Adegan ini mencapai klimaks ketika Wisanggeni menggunakan “Duksina Geni” – api dahsyat yang membakar musuh – simbol dari pembakaran nafsu buruk.

Penampilan menarik disajikan oleh Ki Heru Cahyono. Sebagai senior, ia membawa kedalaman emosional, menggambarkan konflik internal Wisanggeni dengan keluarganya. Dialog antara Wisanggeni dan Arjuna penuh nasihat, menghubungkan dengan tema ceramah Kyai Sungkono. Ki Heru mahir dalam suara-suara tokoh, dari suara lembut dewi hingga gemuruh raksasa.

Sesi terakhir, menjelang subuh pukul 04.00, kembali ke pasangan awal untuk menuntaskan cerita. Wisanggeni akhirnya menang, membawa kedamaian ke kerajaan. Pagelaran berakhir pukul 05.00 pagi, dengan doa penutup dan tepuk tangan panjang. Penonton sangat terhibur, banyak yang tidak mau pulang meski malam telah larut. Mereka duduk di tikar, menikmati kopi dan camilan gratis dari panitia.

Reaksi Penonton dan Dampak Budaya

Penonton, yang mencapai ribuan, datang dari Jombang hingga luar kota. Seorang warga, Bapak Suryo, mengatakan, “Ini pagelaran terbaik yang pernah saya lihat. Empat dalang dalam satu malam membuat cerita utuh, tidak terpotong.” Anak muda seperti Rina, 20 tahun, terkesan dengan Ki Wisnu: “Dia muda tapi hebat, membuat wayang tidak kuno.” Atmosfer khidmat terasa saat ceramah dan doa, sementara hiburan campursari menambah semarak.

Acara ini berdampak positif: meningkatkan pariwisata desa, mendidik generasi muda tentang budaya, dan memperkuat toleransi beragama. Dalam rangka HUT Kemerdekaan dan Maulid Nabi, pagelaran ini mengingatkan bahwa kebebasan dan spiritualitas harus berjalan seiring.

Secara keseluruhan, pagelaran wayang kulit Satria Duksina Geni di Desa Bareng adalah masterpiece budaya. Ia tidak hanya menghibur, tapi juga menginspirasi, memastikan seni wayang tetap hidup di hati masyarakat. Semoga acara seperti ini terus digelar, menjaga api semangat leluhur tetap menyala.

Tinggalkan komentar