Kentrung, sebagai salah satu bentuk seni tutur atau sastra lisan tradisional, telah lama menjadi denyut nadi kebudayaan di Jawa Timur, khususnya di wilayah Mataraman dan Pesisir. Di Kabupaten Lamongan, kesenian ini hadir dengan karakter dan kekhasannya sendiri yang unik, membedakannya dari saudara-saudaranya di Blitar, Tulungagung, atau Tuban. Kentrung Lamongan bukan sekadar pertunjukan teater rakyat yang disajikan untuk hiburan semata, melainkan sebuah media penyampaian pesan moral, ajaran Islam, dan sejarah lokal yang dibalut dalam tuturan seorang dalang yang piawai memainkan instrumen musiknya sendiri.
Artikel ini akan mengupas tuntas Kentrung Lamongan, mulai dari akarnya yang bernuansa spiritual, fungsi awalnya sebagai media dakwah, ciri khasnya yang monolog, hingga tantangan berat yang dihadapi dalam mempertahankan eksistensinya di tengah arus modernisasi.
Asal Usul Kentrung Lamongan: Berakar dari Solokuro dan Spiritual Sunan Drajat
Kentrung Lamongan merupakan kesenian tradisional yang berpusat di kawasan Solokuro, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Kesenian ini sering dikaitkan erat dengan penyebaran agama Islam di wilayah pesisir utara Jawa, khususnya yang diwariskan oleh Sunan Drajat, salah satu Wali Songo yang berdakwah di daerah tersebut.
Etimologi dan Makna Filosofis
Secara etimologi, nama “Kentrung” diambil dari suara musik yang dihasilkannya. Alat musik utama yang dimainkan yaitu rebana menghasilkan bunyi khas yang menyerupai “tung, tung, tung” atau “trung, trung”.
Secara filosofis, terdapat interpretasi Jawa yang populer mengenai Kentrung, yaitu “ngreken perkoro isane jluntrung” yang dapat diartikan sebagai “memperhitungkan perkara agar dapat lurus” atau “mempertimbangkan permasalahan agar mendapatkan jalan keluar”. Hal ini mencerminkan fungsi hakiki Kentrung sebagai media untuk menyampaikan ajaran dan tuntunan hidup.
Kelahiran dan Tokoh Sentral
Meskipun kentrung sebagai seni tutur diperkirakan sudah ada sejak era Walisongo, bentuk spesifik Kentrung Lamongan yang dikenal saat ini, terutama yang disebut Kentrung Sunan Drajat, dikembangkan dan dipopulerkan oleh tokoh-tokoh lokal. Salah satu dalang Kentrung yang paling dikenal dan dianggap sebagai maestro adalah H. Achmad Khusaeri, S.Pd.I., atau yang akrab disapa Mbah Khusaeri, yang mendirikan grup pada tahun 1991.
Mbah Khusaeri dan kelompoknya secara konsisten membawakan kisah-kisah yang bernuansa Islam dan cerita rakyat Lamongan dengan bahasa Jawa dialek Lamongan yang kental. Keberadaannya di Solokuro memperkuat Kentrung sebagai Warisan Budaya Tak Benda Lamongan yang memiliki kedekatan sejarah dengan pusat dakwah Sunan Drajat.
Tujuan Awal Munculnya Kesenian Kentrung Lamongan
Kelahiran Kentrung di Lamongan memiliki tujuan yang sangat jelas, sebagian besar berpusat pada konteks sosial, spiritual, dan edukasi masyarakat.
1. Media Dakwah dan Syiar Agama Islam
Fungsi utama Kentrung Lamongan, terutama Kentrung Sunan Drajat, adalah sebagai alat dakwah (syiar) agama Islam. Pada masa awal perkembangannya, Kentrung menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai akidah, syariat, dan akhlak Islam kepada masyarakat luas, terutama di pedesaan. Cerita-cerita yang dibawakan Dalang Kentrung tidak hanya menghibur, tetapi juga memuat kisah-kisah perjuangan Nabi, para ulama, dan Walisongo, dengan penekanan pada nilai-nilai luhur dan moral. Kesenian ini memanfaatkan elemen budaya lokal (musik dan sastra tutur) agar ajaran agama dapat lebih mudah diterima.
2. Pendidikan Moral dan Tuntunan Hidup
Kentrung berfungsi sebagai media pendidikan moral (tuntunan). Melalui lakon atau cerita yang dibawakan, Kentrung mengajarkan semangat perjuangan, persatuan, keadilan, serta etika hidup bermasyarakat. Cerita Kentrung sering menggunakan penokohan dan kehidupan masyarakat sehari-hari (representasi) sehingga pesan moralnya terasa relevan dan mendalam bagi penonton.
3. Hiburan Rakyat
Selain fungsi spiritual, Kentrung tentu saja berfungsi sebagai hiburan rakyat (tontonan). Kesenian ini menjadi pengisi acara pada berbagai hajatan penting seperti pernikahan, khitanan, peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra Miraj, dan Nuzulul Qur’an, bahkan acara-acara yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Perpaduan antara seni tutur (bercerita), seni peran (olah vokal dan gerak dalang), dan seni musik (tabuhan rebana) menjadikan Kentrung tontonan yang menarik.
4. Komunikasi dan Integritas Masyarakat
Kentrung juga menjadi media komunikasi bagi masyarakat Lamongan. Pementasan Kentrung seringkali menjadi ajang berkumpul dan berinteraksi sosial. Cerita yang dibawakan dapat pula memuat pesan-pesan yang relevan dengan kondisi sosial-politik lokal, menjadikannya sarana integritas dan komunikasi komunitas.
Perbedaan Kentrung Lamongan dengan Kentrung Blitar dan Tulungagung
Meskipun sama-sama bernama Kentrung, kesenian di Lamongan memiliki ciri khas yang signifikan dan membedakannya dari Kentrung di wilayah lain, terutama daerah Mataraman seperti Blitar dan Tulungagung. Perbedaan utama terletak pada jumlah pemain, alat musik yang digunakan, dan corak cerita.
| Aspek Pembeda | Kentrung Lamongan (Kentrung Sunan Drajat) | Kentrung Blitar / Tulungagung |
| Penyajian | Monolog (Seni Dalang Ontang-Anting) | Dialog atau didukung banyak pemain (Dalang dan Panjak/Wiyaga) |
| Jumlah Pelaku | Satu orang dalang yang merangkap sebagai penutur cerita (dalang) dan penabuh alat musik (panjak). Kadang dibantu satu/dua asisten. | Dua hingga lima orang (Dalang dan beberapa panjak yang menabuh alat musik terpisah). |
| Alat Musik Utama | Terbang/Rebana (dengan pola pukulan tung-tung-dang yang sederhana). Terkadang ditambahkan alat lain. | Kentrung (sejenis terbangan kecil), Jidor, Kendang, kadang juga Kenong dan Gong. |
| Corak Cerita | Kental dengan syiar Islam (Kisah Nabi, Walisongo, Sunan Drajat) dan sejarah lokal. | Lebih banyak membawakan cerita Panji, cerita rakyat, legenda kerajaan, dan kisah-kisah kepahlawanan lokal. |
| Gaya Tuturan | Pola tutur yang kuat dengan sedikit parikan (pantun), namun memungkinkan penggunaan syair-syair, selawat, dan kalimat toyyibah (kalimat pujian kepada Tuhan). | Lebih banyak menggunakan parikan dan humor sebagai selingan. |
| Bahasa | Bahasa Jawa dialek Lamongan dengan penekanan pada aspek moral dan dakwah. | Bahasa Jawa dialek Mataraman dengan penekanan pada aspek humor dan narasi. |
Inti Perbedaan:
- Kentrung Lamongan memiliki ciri khas monolog total, di mana dalang adalah pusat dari segala pertunjukan, memainkan rebana dan bertutur secara tunggal (dalang ontang-anting). Ceritanya pun sangat terfokus pada dakwah Islam dan spiritualitas Sunan Drajat.
- Kentrung Blitar/Tulungagung lebih mengarah pada teater rakyat dengan dukungan musik yang lebih beragam (gamelan sederhana) dan fokus cerita pada kisah-kisah kerajaan dan hiburan yang lebih menonjolkan humor.
Perkembangan Kentrung Lamongan
Sejak munculnya di Solokuro hingga mendapatkan pengakuan, Kentrung Lamongan telah mengalami dinamika perkembangan, terutama dalam upaya adaptasi terhadap zaman.
Awal Mula dan Penyebaran
Pada awal masa kemunculannya, kelompok Kentrung Lamongan, seperti yang dipimpin Mbah Khusaeri, aktif menyebarkan dakwah melalui seni ini hingga ke pelosok-pelosok desa di Lamongan, Gresik, Surabaya, bahkan sampai ke Madura. Kesenian ini menjadi primadona dalam setiap perayaan keagamaan.
Modernisasi dan Adaptasi
Dalam perkembangannya, Kentrung Lamongan mulai mengalami modifikasi dalam penyajian. Meskipun esensi monolog tetap dipertahankan, penambahan alat musik pengiring non-tradisional kadang-kadang dilakukan untuk memperkaya suasana dan menarik perhatian kaum muda. Namun, esensi alat musik terbang dan corak dakwah tetap menjadi ruh pertunjukan.
Pengakuan dan Dokumentasi
Puncak pengakuan terjadi ketika Kentrung Lamongan diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional. Pengakuan ini sangat penting karena mengangkat Kentrung dari sekadar seni pertunjukan lokal menjadi aset budaya nasional yang wajib dilindungi. Penetapan ini mendorong upaya dokumentasi dan riset yang lebih mendalam mengenai sejarah dan nilai-nilai Kentrung Lamongan.
Usaha Melestarikan Kentrung Lamongan
Melihat posisinya yang berada di ambang kepunahan, berbagai pihak, mulai dari seniman, komunitas, hingga pemerintah daerah, telah mengambil langkah serius untuk melestarikan Kentrung Lamongan.
1. Program Regenerasi dan Pelatihan
- Penerusan Dalang: Upaya vital adalah memastikan adanya regenerasi dalang. Putra dari maestro H. Achmad Khusaeri, yaitu Achmad Yazid, kini meneruskan tradisi Kentrung Sunan Drajat. Pemerintah daerah dan Dewan Kesenian Lamongan (DKL) memberikan dukungan penuh agar penerus ini dapat tetap eksis dan mengembangkan karyanya.
- Workshop dan Edukasi: Mengadakan Workshop “Tradisi Lisan dan Sastra Kentrung” secara berkala yang melibatkan generasi muda, pelajar, dan mahasiswa. Tujuan utamanya adalah mengenalkan teknik bertutur, memainkan rebana ontang-anting, dan mengajarkan filosofi serta cerita Kentrung.
2. Penguatan Kelompok Seni dan Pementasan
- Fasilitasi Panggung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan secara aktif memberikan ruang bagi Kentrung untuk tampil dalam acara-acara resmi pemerintahan, festival, dan peringatan hari besar. Ini memberikan pendapatan dan exposure yang diperlukan agar seniman tetap termotivasi.
- Dukungan Finansial: Memberikan bantuan dan dukungan finansial untuk perawatan alat musik, kostum, dan kebutuhan operasional kelompok Kentrung agar mereka dapat bertahan dari tekanan ekonomi.
3. Dokumentasi dan Digitalisasi
- Riset dan Publikasi: Melakukan riset akademik dan dokumentasi menyeluruh terhadap lakon, musik, dan teknik pementasan Kentrung. Hasil riset ini dipublikasikan dalam bentuk buku, jurnal, dan media digital.
- Pemanfaatan Media Digital: Membawa Kentrung ke platform media sosial dan YouTube. Dalang penerus didorong untuk membuat konten digital yang menarik bagi kaum milenial, sehingga Kentrung tetap eksis dan mudah diakses oleh audiens yang lebih luas.
Upaya Menjadikan Kentrung Lamongan sebagai Ekspresi Budaya Tradisional
Menjadikan Kentrung Lamongan sebagai ekspresi budaya yang kokoh dan berkelanjutan memerlukan strategi promosi dan integrasi budaya.
1. Integrasi dalam Kurikulum Pendidikan
Memasukkan materi tentang Kentrung Lamongan, termasuk sejarah, nilai moral, dan teknik seninya, ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah. Hal ini menanamkan rasa memiliki dan apresiasi sejak dini kepada anak-anak Lamongan.
2. Pembuatan Ikon dan Branding Budaya
- Menciptakan Ikon: Mempromosikan Kentrung sebagai ikon khas Kabupaten Lamongan yang bernilai spiritual dan historis.
- Festival Kentrung: Menggelar Festival Kentrung Lamongan secara tahunan yang mengundang kelompok kentrung dari berbagai daerah lain. Hal ini tidak hanya mempromosikan Lamongan, tetapi juga menjadi ajang dialog dan pertukaran budaya seni tutur.
3. Pengembangan Paket Wisata Spiritual-Budaya
Mengintegrasikan Kentrung Sunan Drajat ke dalam paket wisata religi dan budaya, terutama bagi wisatawan yang mengunjungi Makam Sunan Drajat. Kentrung dapat dijadikan atraksi tambahan yang menyampaikan kisah-kisah dakwah Walisongo, memperkaya pengalaman spiritual dan budaya pengunjung.
4. Kolaborasi Seni Kontemporer
Mendorong seniman Kentrung untuk berkolaborasi dengan seniman musik modern atau teater kontemporer. Kolaborasi ini dapat menghasilkan kreasi seni baru yang relevan dengan zaman, namun tetap menjaga esensi monolog, rebana, dan nilai-nilai dakwah yang menjadi ciri khas Kentrung Lamongan.
Hambatan Pelestarian Kentrung Lamongan
Meskipun upaya pelestarian telah dilakukan, Kentrung Lamongan menghadapi berbagai hambatan yang mengancam eksistensinya.
1. Krisis Regenerasi (Hambatan Internal)
Ini adalah hambatan paling kritis. Seni Kentrung membutuhkan Dalang yang multi-talenta: pandai bertutur, hafal banyak lakon, memiliki olah vokal dan gerak yang menarik, dan yang paling sulit, mahir memainkan rebana ontang-anting (monolog sambil menabuh). Keterampilan yang kompleks ini membutuhkan waktu belajar yang sangat lama. Sayangnya, kaum muda lebih memilih profesi atau hobi yang lebih instan dan menjanjikan secara finansial. Minimnya Dalang penerus menjadi ancaman nyata.
2. Persaingan dengan Hiburan Modern
Kentrung harus bersaing keras dengan bentuk hiburan modern yang lebih murah, praktis, dan populer, seperti organ tunggal atau bioskop/internet. Masyarakat, terutama di perkotaan, cenderung memilih hiburan yang lebih riang dan kurang fokus pada narasi panjang. Kentrung yang bersifat naratif dan sarat pesan moral sering dianggap kurang menghibur oleh sebagian besar penonton kontemporer.
3. Keterbatasan Dana dan Apresiasi Publik
Meskipun ada dukungan pemerintah, operasional sebuah kelompok kentrung, termasuk perawatan alat dan honor seniman, sangat bergantung pada apresiasi publik (pesanan tanggapan). Jika permintaan pementasan berkurang, seniman Kentrung terpaksa mencari mata pencaharian lain, yang pada akhirnya membuat kesenian ini menjadi aktivitas sambilan dan sulit berkembang.
4. Tantangan dalam Konsistensi Cerita Dakwah
Kentrung Lamongan sangat erat dengan corak dakwah Islam. Tantangannya adalah bagaimana cara Dalang Kentrung menyajikan cerita-cerita dakwah agar tetap menarik bagi audiens kontemporer tanpa menghilangkan nilai-nilai spiritualnya. Ada risiko bahwa demi mengejar popularitas, Dalang akan mengurangi porsi dakwah dan memperbanyak humor yang tidak relevan, yang pada akhirnya mengikis esensi Kentrung Sunan Drajat.
Penutup: Harapan Abadi Seni Tutur Pesisir
Kentrung Lamongan adalah cerminan dari identitas Pesisir Lamongan: religius, bersahaja, dan penuh kearifan lokal. Seni monolog Dalang Ontang-Anting ini adalah warisan adiluhung yang tidak hanya menyajikan tontonan, tetapi juga tatanan dan tuntunan. Penetapannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda adalah langkah awal yang baik, namun perjuangan sejati terletak pada kemampuan masyarakat dan seniman untuk meyakinkan generasi muda bahwa di balik bunyi rebana yang sederhana, tersimpan kekayaan spiritual dan sejarah yang tak ternilai harganya. Melalui regenerasi yang gigih dan adaptasi yang cerdas, Kentrung Lamongan memiliki harapan abadi untuk terus menyuarakan kearifan dari tanah Solokuro.


