Jaran Jenggo Lamongan: Ekspresi Budaya Tradisional Pesisir yang Melegenda

Karya warisan budaya tak benda (WBTB) merupakan cerminan otentik dari identitas sebuah masyarakat, yang diwariskan secara turun-temurun melalui praktik, pengetahuan, dan ekspresi. Di wilayah Pesisir Utara Jawa Timur, tepatnya Kabupaten Lamongan, berdiri tegak sebuah warisan seni pertunjukan yang tak lekang oleh waktu, memadukan kelincahan kuda dengan irama musik tradisional: Jaran Jenggo Lamongan. Kesenian ini tidak sekadar hiburan, melainkan sebuah narasi budaya, sejarah, dan nilai-nilai sosial yang terjalin erat dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.

Artikel ini akan mengupas tuntas seluk-beluk Jaran Jenggo, mulai dari asal-usulnya yang unik, tujuan awal kelahirannya, dinamika perkembangannya, hingga upaya-upaya pelestarian yang dilakukan untuk menjadikannya ekspresi budaya tradisional yang abadi, serta tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut.


 

Asal Usul Jaran Jenggo Lamongan: Lahir dari Nazar dan Kepedulian

Jaran Jenggo, yang secara harfiah berarti “Kuda yang Mengangguk-angguk” (karena jenggo diartikan sebagai gerakan kuda yang mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama musik), merupakan kesenian arak-arakan pengantin khitanan yang khas dari Lamongan. Kesenian ini diperkirakan lahir dan berkembang di Desa Solokuro, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1907.

Kelahiran Jaran Jenggo memiliki kisah latar belakang yang sarat akan unsur personal dan kepedulian seorang tokoh lokal. Sosok sentral di balik kemunculan kesenian ini adalah H. Rosyid, yang pada masa itu menjabat sebagai Kepala Desa Solokuro.

Inspirasi dari Tingkah Laku Kuda

Kisah bermula ketika H. Rosyid memiliki seekor kuda peliharaan. Kuda ini, yang sering diamati oleh sang kepala desa, menunjukkan tingkah laku yang menarik dan tidak biasa. Konon, kuda tersebut memiliki keunikan senang mengangguk-anggukkan kepalanya setiap kali mendengar suara atau irama musik, khususnya alat musik jedhor (atau bandjedhor), yang merupakan alat musik khas bernuansa Islami.

Melihat potensi artistik dari tingkah laku kudanya, H. Rosyid mulai mencoba melatih kuda tersebut. Latihan ini dilakukan dengan melibatkan saudara-saudaranya yang memainkan alat musik terbang jedhor. Dari sinilah embrio pertunjukan kuda yang menari dan beratraksi mengikuti irama lahir.

Nazar Sang Ayah untuk Putra yang Takut Khitan

Titik pemicu yang benar-benar mematenkan bentuk pertunjukan ini menjadi kesenian arak-arakan adalah peristiwa khitanan (sunatan) anak laki-laki H. Rosyid. Pada saat itu, seperti lazimnya anak-anak, putra beliau merasa takut untuk menjalani prosesi khitan.

Sebagai seorang ayah yang mendambakan kelancaran upacara penting dalam daur hidup anaknya, H. Rosyid kemudian membuat nazar (janji suci). Ia berjanji akan menyelenggarakan arak-arakan yang sangat meriah untuk anaknya setelah khitanan, dengan menunggangi kuda yang telah ia latih, sebagai bentuk hadiah, hiburan, sekaligus pengalihan rasa sakit dan ketakutan.

Setelah sang anak berhasil dikhitan, nazar tersebut ditepati. Kuda yang telah dilatih, dihias layaknya seekor kuda perang dengan pakaian zirah Jawa, ditunggangi oleh putranya yang didandani seperti seorang raja atau ksatria. Arak-arakan ini menarik perhatian besar masyarakat. Kuda tersebut tidak hanya berjalan, tetapi juga melakukan berbagai atraksi, seperti “Nyemba” atau bersujud (menekuk kaki depan dan menundukkan kepala) di hadapan anak yang dikhitan dan orang tuanya, serta berjoget mengikuti irama musik.

Peristiwa inilah yang kemudian melahirkan kelompok kesenian Jaran Jenggo pertama, yang diberi nama “Aswo Kaloko Joyo”. Dari Solokuro, kesenian ini kemudian menyebar luas di Lamongan dan menjadi tradisi arak-arakan khitanan yang bergengsi dan wajib ada bagi keluarga yang mampu.


 

Tujuan Awal Munculnya Kesenian Jaran Jenggo

Pada dasarnya, tujuan awal kemunculan Kesenian Jaran Jenggo terbagi menjadi beberapa fungsi utama, yang berpusat pada konteks upacara khitanan (sunatan), sebuah ritus peralihan penting dalam budaya Jawa-Islam.

1. Sarana Hiburan dan Pengalihan Perhatian (Fungsi Hiburan Personal)

Tujuan utama yang paling inheren adalah sebagai sarana hiburan untuk anak yang baru saja dikhitan dan keluarganya. Dalam konteks historis, khitanan seringkali menjadi momen yang menakutkan bagi anak laki-laki. Jaran Jenggo berfungsi sebagai kompensasi atau pengalih perhatian dari rasa sakit dan ketakutan yang dialami. Dengan menunggangi kuda yang gagah dan didandani bak raja, si anak merasa diistimewakan, bahagia, dan rasa sakitnya teralihkan oleh kemeriahan arak-arakan.

2. Ekspresi Syukur dan Penunaian Nazar

Bagi keluarga yang menyelenggarakan hajatan, Jaran Jenggo adalah wujud ekspresi rasa syukur atas kelancaran proses khitanan. Terutama dalam kisah awal H. Rosyid, kesenian ini muncul sebagai bentuk penunaian nazar atas keberanian dan keselamatan anaknya. Menghadirkan Jaran Jenggo saat itu juga merupakan penanda telah pulihnya si anak dan kebahagiaan keluarga.

3. Simbol Status Sosial dan Kemakmuran (Presentasi Estetis)

Sejak awal kemunculannya, menyewa Jaran Jenggo membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena melibatkan kuda hidup yang terlatih, pawang (jenggo), dan banyak seniman musik (pemain jedhor). Oleh karena itu, kehadiran Jaran Jenggo secara otomatis menjadi simbol status sosial dan kemakmuran bagi keluarga yang punya hajat. Kesenian ini menjadi penanda bahwa keluarga tersebut adalah “orang berkepunyaan” yang mampu mengadakan perayaan mewah, menunjukkan citra estetis dan sosial kepada khalayak.

4. Media Ritual Semu dan Doa Keselamatan

Meskipun tidak murni sebagai sarana ritual dalam artian persembahan kepada kekuatan tak kasat mata, Jaran Jenggo memiliki elemen ritual semu. Prosesi arak-arakan yang berkeliling desa dan kembali ke rumah, serta ritual “nyembah” (sujud) yang dilakukan kuda di hadapan anak yang dikhitan, melambangkan doa keselamatan dan penanda bahwa si anak telah “pulang” dengan selamat dan siap menjalani fase hidup baru sebagai seorang muslim dewasa. Kuda yang bersujud diibaratkan sebagai penghormatan tertinggi atas pencapaian sang anak.


 

Perkembangan Jaran Jenggo Lamongan

Sejak kelahirannya di Solokuro pada 1907, Jaran Jenggo telah mengalami perkembangan signifikan, baik dari segi fungsi, popularitas, maupun pengakuan resmi.

Awal Penyebaran dan Popularitas

Setelah kemunculannya yang fenomenal, Jaran Jenggo dengan cepat menjadi populer di kalangan masyarakat Lamongan, terutama sebagai elemen puncak dalam perayaan khitanan. Ia juga mulai digunakan dalam acara besar lainnya seperti pernikahan dan karnaval desa. Kesenian ini lekat dengan citra kemeriahan dan prestise.

Perubahan Fungsi dan Pementasan

Seiring berjalannya waktu, fungsi Jaran Jenggo mulai bergeser. Meskipun tetap melekat pada upacara khitanan, ia juga merambah ke ranah pementasan yang lebih umum. Jaran Jenggo mulai ditampilkan pada:

  • Peringatan Hari Besar Nasional dan Keagamaan: Menjadi atraksi utama dalam karnaval kemerdekaan atau perayaan hari besar Islam.
  • Acara Instansi: Diundang untuk memeriahkan acara-acara yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah atau swasta, menunjukkan identitas budaya Lamongan.

Unsur-unsur pertunjukannya juga mengalami penyempurnaan, termasuk ragam gerak kuda yang makin kompleks dan atraktif, serta iringan musik Bandjedhor (perpaduan terbang/rebana dengan alat musik modern/tradisional lainnya) yang mengiringi. Elemen gerak kuda yang “Nyemba” atau sujud, berjoget, dan atraksi berdiri menjadi daya tarik utama.

Pengakuan sebagai Ekspresi Budaya Tradisional

Puncak perkembangan dan pengakuan Jaran Jenggo terjadi pada tahun 2023. Kesenian Jaran Jenggo Lamongan secara resmi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia.

Penetapan ini merupakan pengakuan penting yang membawa Jaran Jenggo ke panggung nasional, menandai bahwa karya budaya ini memiliki nilai sejarah, seni, dan sosial yang diakui secara luas sebagai bagian integral dari kekayaan budaya Indonesia. Pengakuan WBTB Nasional memberikan dorongan besar dalam upaya pelestarian dan dokumentasi seni pertunjukan ini.


 

Upaya Melestarikan Jaran Jenggo Lamongan

Pelestarian Jaran Jenggo memerlukan kolaborasi sinergis antara seniman, masyarakat, dan pemerintah. Beberapa usaha yang telah dan sedang dilakukan meliputi:

1. Pembinaan dan Regenerasi Pelaku Seni

  • Latihan Rutin: Melakukan latihan rutin dan berkelanjutan, baik untuk pawang (jenggo) dalam melatih kuda maupun untuk para seniman musik pengiring. Hal ini penting untuk menjaga kualitas pertunjukan dan keterampilan teknis yang tinggi.
  • Edukasi Generasi Muda: Mengadakan edukasi dan workshop tentang Jaran Jenggo yang dikemas secara modern dan menarik. Upaya ini sering dilakukan melalui media sosial, vlog, atau dalam bentuk pertunjukan kolaboratif yang menggabungkan unsur tradisional dan kontemporer untuk menarik minat kaum milenial.

2. Penguatan Kelompok Kesenian

  • Dukungan Organisasi: Mendukung keberadaan kelompok-kelompok seni Jaran Jenggo, seperti Paguyuban “Aswo Kaloko Joyo” yang merupakan kelompok pelopor, agar tetap eksis dan memiliki job pementasan yang stabil.
  • Fasilitasi Pertunjukan: Pemerintah daerah secara aktif memfasilitasi pertunjukan Jaran Jenggo dalam acara-acara resmi atau festival budaya, memberikan panggung bagi para seniman untuk terus berkarya.

3. Dokumentasi dan Digitalisasi

  • Pencatatan WBTB: Dokumentasi lengkap Jaran Jenggo sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional merupakan langkah krusial. Proses ini mencakup pencatatan sejarah, filosofi, unsur-unsur pertunjukan, dan data para pelaku seni.
  • Publikasi Digital: Memanfaatkan teknologi digital dan media sosial untuk mempublikasikan video dan informasi mengenai Jaran Jenggo, agar jangkauannya meluas ke tingkat nasional bahkan internasional.

4. Revitalisasi Fungsi Kesenian

  • Festival dan Dialog Budaya: Menggelar acara khusus seperti “Arak-arakan dan Dialog Jaran Jenggo” yang menggabungkan pementasan dengan diskusi budaya. Hal ini menjaga Jaran Jenggo tetap relevan sebagai bahan kajian dan apresiasi publik, tidak hanya sebagai hiburan semata.
  • Kolaborasi Seni: Mendorong kolaborasi antara Jaran Jenggo dengan jenis seni modern atau seni tradisional lainnya untuk menciptakan kreasi baru yang tetap berakar pada tradisi.

 

Upaya Menjadikan Jaran Jenggo sebagai Ekspresi Budaya Tradisional

Menjadikan Jaran Jenggo Lamongan sebagai ekspresi budaya tradisional yang mapan dan berharga memerlukan langkah-langkah strategis di luar pelestarian internal:

1. Penguatan Identitas Lokal

Jaran Jenggo harus terus dipromosikan sebagai ikon budaya khas Lamongan. Setiap pementasan harus menonjolkan keunikan Lamongan, mulai dari gaya berpakaian, iringan musik jedhor-nya, hingga narasi filosofis di balik ritual nyembah-nya.

2. Integrasi dalam Kurikulum dan Wisata Budaya

  • Edukasi Formal: Memperkenalkan Jaran Jenggo dalam materi muatan lokal di sekolah-sekolah Lamongan, sehingga generasi muda memiliki pemahaman dan rasa kepemilikan sejak dini.
  • Paket Wisata: Mengembangkan Jaran Jenggo sebagai atraksi utama dalam paket wisata budaya Lamongan. Wisatawan dapat disuguhkan pertunjukan atau bahkan berinteraksi langsung dengan pawang dan kuda.

3. Membangun Jaringan dan Apresiasi Global

  • Partisipasi Festival Internasional: Mendorong Jaran Jenggo untuk berpartisipasi dalam festival seni dan budaya di tingkat internasional. Hal ini tidak hanya mempromosikan, tetapi juga memberikan standar kualitas pertunjukan yang lebih tinggi.
  • Narasi Kebudayaan: Memperkuat narasi filosofis Jaran Jenggo sebagai cerita budaya yang universal, misalnya tentang transisi masa kanak-kanak ke kedewasaan (rite of passage), yang dapat dipahami oleh audiens global.

 

Hambatan Pelestarian Jaran Jenggo Lamongan

Meskipun telah ditetapkan sebagai WBTB, Jaran Jenggo menghadapi sejumlah tantangan serius dalam upaya pelestariannya.

1. Keterbatasan Hewan Kuda dan Biaya Perawatan

  • Faktor Kuda Hidup: Hambatan terbesar adalah penggunaan kuda hidup sebagai objek utama kesenian. Kuda memerlukan perawatan, pakan, dan pelatihan yang intensif dan mahal. Hal ini menyebabkan minimnya jumlah kelompok seni Jaran Jenggo di Lamongan—konon hanya ada beberapa kelompok saja, termasuk yang legendaris seperti Aswo Kaloko Joyo. Tidak semua masyarakat mampu memelihara dan melatih kuda secara maksimal.
  • Risiko dan Keselamatan: Kuda juga memerlukan jenggo (pawang) yang sangat terampil dan memiliki ikatan batin kuat dengan kudanya. Risiko kecelakaan atau cedera pada kuda dan pawang juga menjadi pertimbangan yang menambah biaya operasional.

2. Kurangnya Minat Generasi Muda (Hambatan Eksternal)

Arus deras hiburan modern yang lebih praktis, murah, dan instan, seperti pertunjukan musik atau organ tunggal, seringkali lebih diminati oleh masyarakat milenial. Akibatnya, minat generasi muda untuk bergabung menjadi pawang, pemain musik, atau penerus Jaran Jenggo masih rendah. Hal ini mengancam terjadinya kepunahan regenerasi.

3. Keterbatasan Dana dan Dukungan Finansial

Meskipun Pemerintah Daerah memberikan dukungan, keberlanjutan finansial kelompok seni Jaran Jenggo masih bergantung pada tanggapan (pesanan pementasan) dari masyarakat. Ketika permintaan berkurang, atau biaya operasional meningkat, eksistensi kelompok menjadi terancam.

4. Pengaruh Modernisasi Pertunjukan

Terdapat kekhawatiran bahwa demi mengikuti selera pasar, unsur-unsur tradisional Jaran Jenggo, seperti musik jedhor yang bernuansa Islami, akan tergantikan oleh musik pop atau dangdut. Upaya untuk memadukan modernisasi dan tradisi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menghilangkan esensi otentik dari kesenian ini.


 

Penutup: Jaran Jenggo Sebagai Jati Diri Lamongan

Jaran Jenggo Lamongan adalah mahakarya seni pertunjukan yang kompleks, lahir dari perpaduan antara kearifan lokal, spiritualitas Islam, dan kecintaan terhadap tradisi. Dari nazar seorang kepala desa hingga menjadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional, Jaran Jenggo telah membuktikan dirinya sebagai ekspresi budaya yang tangguh dan memiliki nilai historis yang tinggi.

Kesenian ini tidak hanya menjadi side-show dalam hajatan, melainkan inti dari perayaan, simbol dari transisi hidup, dan penanda identitas Lamongan di mata Indonesia. Tantangan yang ada, terutama terkait mahalnya biaya dan regenerasi, harus dijawab dengan inovasi tanpa menghilangkan otentisitas. Dengan sinergi yang kuat antara masyarakat, seniman, dan pemerintah, Jaran Jenggo akan terus “menari” dan “mengangguk-angguk” mengikuti irama zaman, menjadi pusaka tak ternilai bagi generasi Lamongan di masa depan.

Tinggalkan komentar