Tape Bondowoso, makanan fermentasi berbahan dasar singkong yang manis dan lembut, telah menjadi ikon kuliner dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Dijuluki sebagai “Kota Tape”, Bondowoso tidak hanya menyajikan rasa yang khas, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang mendalam. Kuliner ini bukan sekadar camilan, melainkan representasi dari kearifan lokal yang telah bertahan lintas generasi. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi asal usul Tape Bondowoso, statusnya sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, keterampilan tradisional dalam pembuatannya, serta upaya promosi sebagai makanan alternatif yang sehat dan lezat. Melalui pemahaman ini, diharapkan masyarakat semakin menghargai dan melestarikan warisan ini.
Asal Usul Tape Bondowoso
Asal usul Tape Bondowoso tidak bisa dipisahkan dari sejarah Kabupaten Bondowoso itu sendiri. Kabupaten ini, yang terletak di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur, memiliki akar sejarah yang panjang, mulai dari masa kerajaan Hindu-Buddha hingga era kolonial Belanda. Nama Bondowoso diyakini berasal dari kata “Wanawasa” yang berarti hutan belukar, sebagaimana tercantum dalam Babad Bondowoso Pupuh X Pangkur. Wilayah ini awalnya merupakan daerah pemberontakan pada abad ke-18, tepatnya pada 1743, ketika pemberontakan Ke Lesap menewaskan Adikoro IV. Raden Bagus Assra, seorang tokoh penting, menjadi pembuka dan pendiri wilayah ini setelah membersihkan hutan belukar tersebut.
Julukan “Kota Tape” muncul karena Bondowoso menjadi pusat produksi tape singkong yang terkenal sejak era 1970-an. Tape ini terbuat dari singkong lokal yang ditanam di tanah subur Bondowoso, yang memberikan rasa manis alami dan tekstur lembut yang tidak bisa ditiru oleh daerah lain. Singkong Bondowoso dikenal sebagai “fermented of cassava” oleh wisatawan mancanegara, mirip dengan peuyeum di Jawa Barat, tapi dengan cita rasa lebih khas. Proses fermentasi menggunakan ragi khusus dari Bondowoso membuat tape ini manis dan tidak benyek, berbeda dari tape di daerah lain seperti Bandung atau Blora.
Sejarah tape di Bondowoso dimulai dari industri rumah tangga yang berkembang pesat pada era 1970-an. Saat itu, hanya segelintir orang yang memproduksi, tetapi kini menjadi komoditas andalan yang diekspor hingga ke Belanda. Kabupaten ini memiliki 1.215 situs megalitik, tapi tape lah yang menjadi simbol modern dari kekayaan alam dan budaya. Asal usulnya juga terkait dengan masyarakat Madura yang bermigrasi ke Bondowoso, membawa teknik fermentasi yang kemudian disesuaikan dengan bahan lokal. Hari jadi Bondowoso pada 17 Agustus semakin memperkuat identitasnya sebagai pusat tape, di mana wisatawan datang hanya untuk membeli merek-merek terkenal seperti Tape 82, Tape 31, atau Tape Tjap Enak.
Fakta unik dari tape Bondowoso termasuk kemasannya yang menggunakan “bhise'” atau anyaman bambu dari pegunungan Bondowoso, yang menjaga kesegaran dan aroma. Singkong harus asli dari Bondowoso, karena tanah vulkanik di sekitar Pegunungan Iyang memberikan kualitas terbaik. Ini membuat tape Bondowoso tidak hanya makanan, tapi juga bagian dari sejarah agraris daerah tersebut.
Tape Bondowoso sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Pada Januari 2026, Tape Bondowoso resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Pengakuan ini diberikan bersama dengan Tari Topeng Kona dan Selametan Gugur Gunung, menjadikan Bondowoso memiliki tiga warisan baru dalam satu tahun. Proses pengajuan dimulai pada 2024, setelah sebelumnya ditolak karena minim kajian akademik, tapi akhirnya lolos dari 804 usulan nasional.
Sebagai WBTBI, Tape Bondowoso diakui sebagai identitas kuliner lokal yang mencerminkan nilai budaya masyarakat Desa Bondowoso. Ini bukan hanya makanan, tapi simbol gotong royong dan tradisi fermentasi yang turun-temurun. Tape mewakili domain kuliner dalam WBTBI, sementara Topeng Kona sebagai seni tari dan Gugur Gunung sebagai tradisi sosial. Pengakuan ini membuat tape bukan sekadar oleh-oleh, tapi aset budaya yang harus dilestarikan.
Tari Topeng Kona, misalnya, adalah kesenian asli Bondowoso yang menjadi bagian dari kebudayaan, sementara tape melengkapi sebagai elemen pangan. Status WBTBI ini diharapkan meningkatkan pariwisata dan ekonomi lokal, karena tape kini menjadi simbol nasional seperti tapai di daerah lain. Bondowoso, yang dikenal sebagai “Bumi Tape Bumi Sholawat Burdah Bumi Ki Ronggo Megalitikum”, semakin memperkaya khazanah budaya Indonesia.
Tape Bondowoso sebagai Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional
Pembuatan Tape Bondowoso adalah kerajinan tradisional yang memerlukan keterampilan tinggi. Proses dimulai dengan pemilihan singkong jenis ketan atau punel dari Bondowoso, yang ditanam di tanah subur. Singkong dikupas, dicuci bersih, dan dijemur hingga kering untuk menghilangkan air berlebih. Kemudian, dikukus hingga matang tapi tidak lembek, sekitar 30-45 menit.
Setelah dingin, singkong ditaburi ragi khusus Bondowoso, yang terbuat dari campuran beras dan rempah alami. Proses fermentasi dilakukan dalam wadah tertutup, seperti besek bambu, selama 2-3 hari pada suhu ruang. Keterampilan ini turun-temurun, di mana pengrajin harus memantau kelembaban dan suhu agar tape manis dan tidak asam. Varian seperti tape bakar dibungkus daun pisang lalu dibakar atau dioven untuk rasa karamel.
Kerajinan ini melibatkan pengetahuan lokal tentang mikroorganisme fermentasi, membuatnya sebagai kemahiran tradisional. Di desa-desa seperti Kerang atau Curahdami, produksi tape menjadi mata pencaharian utama. Ini bukan hanya kerajinan, tapi cara melestarikan biodiversitas singkong lokal.
Upaya Mempromosikan Tape Bondowoso sebagai Varian Makanan Alternatif yang Sehat dan Enak
Tape Bondowoso kaya manfaat kesehatan. Mengandung probiotik dari fermentasi, ia melancarkan pencernaan dan mencegah konstipasi. Kandungan vitamin B12 mencegah anemia, sementara kalori 169 per 100 gram memberikan energi instan. Tape juga menghangatkan tubuh, meningkatkan daya tahan, dan mengurangi risiko infeksi. Rendah lemak, ia cocok sebagai makanan alternatif sehat, bahkan untuk kulit dan fungsi seksual.
Upaya promosi meliputi branding melalui media sosial, di mana cerita asal usul dan proses dibagikan untuk menarik konsumen. Pemerintah Bondowoso menjadikan Kampung Tape di Curahdami, Binakal, dan Pakem sebagai destinasi wisata. Legalisasi dan product branding seperti keripik tape meningkatkan produktivitas UMKM. Program seperti Makan Sehat Bergizi di sekolah memasukkan tape sebagai menu bergizi. Ekspor ke luar negeri dan festival budaya memperluas pasar.
Strategi pemasaran online dan pelatihan UMKM membantu mengatasi minimnya promosi. Dengan status WBTBI, promosi semakin kuat, menjadikan tape sebagai makanan sehat yang enak dan berbudaya.
Kesimpulan
Tape Bondowoso adalah harta karun budaya Indonesia yang menyatukan sejarah, keterampilan, dan kesehatan. Dari asal usulnya sebagai ikon kota hingga status WBTBI, tape ini layak dilestarikan. Upaya promosi harus terus ditingkatkan untuk generasi mendatang. Mari kita dukung dengan mengonsumsi dan mempromosikan tape ini sebagai bagian dari identitas nasional.





