Kekayaan budaya Indonesia terwujud dalam berbagai macam seni tradisi yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Di tengah hiruk pikuk modernisasi, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tegak berdiri dengan salah satu warisan budayanya yang paling ikonik dan melegenda: Kesenian Ronteg Singo Ulung. Lebih dari sekadar tarian atau pertunjukan, Ronteg Singo Ulung adalah pengejawantahan sejarah lisan, nilai-nilai kearifan lokal, serta semangat masyarakat Bondowoso yang terus berjuang melestarikan identitas mereka. Kesenian ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, menjadikannya aset kultural yang tak ternilai harganya.
Artikel ini akan mengupas tuntas Ronteg Singo Ulung, mulai dari asal-usul sejarahnya yang mistis dan heroik, kedudukannya sebagai ekspresi budaya tradisi, perkembangan mutakhirnya, hingga berbagai tantangan serta hambatan dalam upaya pelestariannya.
Asal-Usul Sejarah Ronteg Singo Ulung: Dari Legenda Hingga Seni Pertunjukan
Ronteg Singo Ulung memiliki akar yang kuat dalam sejarah lisan (folklor) masyarakat Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Nama kesenian ini diambil dari sosok legendaris bernama Kiai Singo Ulung (atau terkadang disebut Juk Seng atau Kiai Singo Wulung). Sejarah mencatat bahwa Ronteg Singo Ulung bukan sekadar tarian, melainkan dramatisasi dari kisah pertarungan dua tokoh sakti mandraguna di masa lampau.
Tokoh Legenda: Kiai Singo Ulung dan Jasiman
Kisah Ronteg Singo Ulung berpusat pada dua tokoh utama:
- Kiai Singo Ulung (Juk Seng): Dipercaya sebagai tokoh sakti yang berasal dari kawasan Mataraman, bahkan disebut memiliki silsilah keturunan dari Batoro Katong (pendiri Kabupaten Ponorogo). Kiai Singo Ulung adalah seorang penyebar agama Islam. Dalam perjalanannya, ia singgah dan beristirahat di bawah pohon belimbing di sebuah hutan lebat, yang kini menjadi lokasi Desa Blimbing. Kesaktian Kiai Singo Ulung yang paling terkenal adalah kemampuannya untuk mengubah wujud menjadi Sardula Seta (Harimau Putih) atau Singa Putih yang ulung.
- Jasiman (Panji): Merupakan penguasa atau jagabaya (penjaga wilayah) hutan tersebut sebelum kedatangan Kiai Singo Ulung. Jasiman, sebagai tokoh lokal yang juga memiliki kesaktian, merasa terusik dan murka atas kedatangan Kiai Singo Ulung yang dianggap telah melangkahi wilayah kekuasaannya tanpa permisi.
Pertarungan dan Akulturasi Budaya
Perselisihan antara Kiai Singo Ulung dan Jasiman berujung pada pertarungan sengit yang dipercaya berlangsung selama 41 hari. Uniknya, senjata ampuh yang mereka gunakan adalah sebatang rotan. Pertarungan inilah yang kelak diabadikan dalam salah satu segmen Ronteg Singo Ulung yang disebut Seni Ojung, pertarungan rotan antar dua pria sebagai ritual adat.
Puncak dari pertarungan itu adalah ketika Kiai Singo Ulung mengeluarkan aji pamungkasnya dan mengubah wujud menjadi Harimau Putih (Singo Ulung). Jasiman yang kewalahan dan kalah, akhirnya mengakui kesaktian Kiai Singo Ulung dan menyerah. Kisah lisan menyebutkan, setelah kekalahan itu, Jasiman masuk Islam dan menjadi kerabat atau pengikut Kiai Singo Ulung. Kemudian, Kiai Singo Ulung diangkat menjadi demang (pemimpin) desa yang didirikan di wilayah tersebut, yang diberi nama Desa Blimbing.
Sejarah lisan ini kemudian diangkat ke dalam ritual tahunan Upacara Bersih Desa Blimbing yang diadakan setiap pertengahan bulan Sya’ban (Ruwah) dalam kalender Hijriah. Ritual ini kemudian berkembang menjadi seni pertunjukan yang lebih kolosal, yang dikenal sebagai Ronteg Singo Ulung.
Kata “Ronteg” sendiri diartikan sebagai “serentak” atau “gerakan bersama” yang dinamis. Ronteg Singo Ulung modern merupakan fusi atau akulturasi yang indah dari berbagai unsur budaya: kisah heroik lokal, tarian barongan Singo Ulung, Seni Ojung (pertarungan rotan), dan terkadang juga diiringi Tari Topeng Kona. Kesenian ini adalah simbol keberanian, spiritualitas, dan kerukunan di Bondowoso.
Ronteg Singo Ulung sebagai Ekspresi Budaya Tradisi
Ronteg Singo Ulung berfungsi lebih dari sekadar tontonan; ia adalah ekspresi budaya tradisi yang kaya makna dan nilai.
Ritual dan Seni Pertunjukan
Awalnya, Ronteg Singo Ulung sangat terikat dengan ritual adat tahunan di Desa Blimbing, yang diyakini sebagai upaya untuk menolak bala dan memohon keselamatan (bersih desa). Bagian dari ritual ini adalah Larung Sesaji Singo Ulung, yang menunjukkan dimensi mistis dan sakral dari tradisi ini.
Namun, seiring waktu, kesenian ini bertransformasi menjadi seni pertunjukan massal yang lebih terstruktur dan ditampilkan dalam berbagai acara formal dan non-formal, seperti Hari Jadi Kabupaten Bondowoso (HJB) dan festival seni budaya. Transformasi ini memperkuat kedudukannya sebagai ikon budaya Kabupaten Bondowoso.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal
Di balik topeng singa putih dan gerakan atraktifnya, Ronteg Singo Ulung mengandung sejumlah nilai kearifan lokal yang mendalam:
- Keberanian dan Ketangguhan: Melambangkan semangat pantang menyerah Kiai Singo Ulung dan Jasiman, terutama dalam adegan Seni Ojung yang membutuhkan ketahanan fisik.
- Spiritualitas dan Toleransi: Menggambarkan syiar Islam yang damai dan berakhirnya konflik dengan persatuan (akomodasi Jasiman terhadap Kiai Singo Ulung).
- Persatuan dan Gotong Royong: Pertunjukan kolosal ini melibatkan banyak penari, musisi, dan kru, menuntut kerja sama dan kekompakan (gotong royong) dalam penyajiannya.
- Multikulturalisme: Kesenian ini merupakan hasil akulturasi budaya Jawa (Mataraman/Ponorogo) dan lokal (Blambangan/Madura), bahkan terkadang menampilkan unsur yang diyakini serapan dari Tionghoa (kesenian Barongan).
Unsur dan Karakter Pertunjukan
Pertunjukan Ronteg Singo Ulung adalah sebuah sendratari kolosal yang melibatkan beberapa karakter dan unsur seni:
- Singo Ulung (Barongan): Tokoh sentral, biasanya dimainkan oleh dua orang penari yang menutupi diri dengan topeng kepala Singa Putih yang besar dan jubah karung goni yang tebal, melambangkan sosok Kiai Singo Ulung yang berubah wujud. Gerakannya lincah, kocak, dan terkadang mengandung akrobatik.
- Panji: Menggambarkan Jasiman.
- Kyai/Penari Perempuan: Melambangkan Kiai Singo Wulu atau istri Kiai Singo.
- Tari Ojung: Segmen pertarungan rotan antara dua pria yang penuh ketegangan, melambangkan konflik antara Kiai Singo Ulung dan Jasiman.
- Musik Pengiring: Berupa Gamelan khas Ronteg Singo Ulung yang ritmis dan dinamis, sering kali menggunakan paduan alat musik tradisional dan terkadang dikembangkan dengan aransemen modern.
Perkembangan Ronteg Singo Ulung
Sejak diangkat dari ritual adat menjadi seni pertunjukan, Ronteg Singo Ulung telah mengalami berbagai perkembangan signifikan.
Institusionalisasi dan Sanggar Seni
Salah satu tonggak penting perkembangan Ronteg Singo Ulung adalah munculnya lembaga dan sanggar seni yang fokus pada pelestariannya. Padepokan Seni Gema Buana di Desa Prajekan Kidul, misalnya, menjadi salah satu pusat utama yang secara konsisten melakukan regenerasi dan pengembangan kesenian ini. Adanya sanggar memberikan struktur pelatihan, pewarisan gerakan dan musik, serta sarana untuk inovasi.
Inovasi Artistik
Para pegiat seni Ronteg Singo Ulung tidak berhenti pada bentuk aslinya. Mereka terus melakukan inovasi untuk menjaga daya tarik kesenian ini di mata generasi baru dan penonton yang lebih luas.
- Aransemen Musik Baru: Musik pengiring sering kali diaransemen ulang, memasukkan unsur-unsur musikal modern tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya, menciptakan ritme yang lebih energik dan relevan.
- Koreografi dan Atraksi: Gerakan tarian dikembangkan menjadi lebih kompleks dan atraktif, seringkali menambahkan atraksi-atraksi menantang seperti bermain api atau atraksi kekebalan tubuh, terutama pada bagian Ojung atau klimaks pertunjukan Singo Ulung.
- Media Edukasi: Ronteg Singo Ulung mulai diintegrasikan ke dalam materi pendidikan sejarah dan kearifan lokal, terutama di tingkat sekolah menengah, menjadikannya alat yang efektif untuk menumbuhkan sikap gotong royong dan rasa cinta budaya pada peserta didik.
Pengakuan dan Promosi
Perkembangan paling membanggakan adalah pengakuan dari pihak eksternal:
- Warisan Budaya Tak Benda (WBTB): Ronteg Singo Ulung telah ditetapkan sebagai WBTB Nasional, meningkatkan statusnya dari sekadar seni lokal menjadi warisan penting bangsa.
- Daya Tarik Wisata: Pemerintah Kabupaten Bondowoso mempromosikan Ronteg Singo Ulung sebagai daya tarik utama pariwisata budaya, menjadikannya pertunjukan wajib di berbagai acara daerah dan bahkan internasional (diusulkan menjadi Culturesite UNESCO). Hal ini memperluas jangkauan dan apresiasi terhadap kesenian ini.
Perbedaan Ronteg Singo Ulung dan Can Macanan Singo Raung Cilik
Perbedaan antara Ronteg Singo Ulung dari Bondowoso dengan Can Macanan Singo Raung Cilik (atau Singo Raung secara umum, yang sering terkait dengan Jember atau kawasan Tapal Kuda) terletak pada beberapa aspek kunci, mulai dari sejarah, kostum, hingga elemen pertunjukan dan fungsinya:
| Aspek | Ronteg Singo Ulung (Bondowoso) | Can Macanan Singo Raung Cilik (Jember/Tapal Kuda) |
| Asal Daerah | Kabupaten Bondowoso (khususnya Desa Blimbing, Klabang). | Umumnya dikenal dari Kabupaten Jember, namun varian lain tersebar di wilayah Tapal Kuda Timur. |
| Sejarah & Legenda | Berakar kuat pada legenda Kiai Singo Ulung (Juk Seng) dan pertarungannya melawan Jasiman. Berkaitan erat dengan ritual Bersih Desa Blimbing. | Terkait dengan pertunjukan rakyat yang lebih fleksibel dan umum, sering menjadi bagian dari kesenian Jaranan atau Kuda Lumping gaya Tapal Kuda. |
| Warna Dominan | Warna putih yang melambangkan sosok Singo Ulung sebagai Harimau Putih (Sardula Seta) yang sakti dan heroik. | Warna lebih beragam, seperti putih, hitam, kuning, atau bahkan merah, mencerminkan variasi jenis macan atau barongan. |
| Kostum Kepala | Umumnya memiliki topeng kepala Singa/Harimau yang besar dengan ciri khas warna putih yang kuat. | Memiliki topeng kepala yang mungkin lebih kecil, lebih bervariasi warnanya, dan terkadang lebih menyerupai macan (harimau) loreng atau macan kumbang (hitam). |
| Elemen Pertunjukan Kunci | Wajib menyertakan segmen Seni Ojung (pertarungan rotan) yang melambangkan pertarungan Kiai Singo Ulung dan Jasiman. Sering ditampilkan sebagai sendratari kolosal. | Lebih fokus pada tarian barongan singa atau macan. Jika menjadi bagian Jaranan, mungkin melibatkan atraksi ndadi (kerasukan/trans) atau atraksi fisik lainnya (seperti makan beling atau pecahan kaca), meskipun varian cilik (anak-anak) umumnya dihindari. |
| Fungsi Utama | Awalnya merupakan Ritual Adat (Bersih Desa) dengan nilai kesakralan yang tinggi, kini dikembangkan sebagai ikon budaya daerah. | Umumnya berfungsi sebagai Hiburan Rakyat dan pelengkap pertunjukan Jaranan, meskipun tetap memiliki unsur mistis. |
| Gaya Gerakan | Gerakan cenderung dinamis, atraktif, dan sering kali memiliki struktur naratif yang jelas mengikuti alur legenda. | Gerakan lebih bebas, ekspresif, dan fleksibel, terkadang disesuaikan dengan irama Jaranan yang lebih cepat. |
Perbedaan paling mendasar terletak pada:
- Akar Sejarah dan Fungsi: Ronteg Singo Ulung adalah dramatisasi dari legenda lokal di Bondowoso dan berakar dari ritual bersih desa yang sakral. Sedangkan Singo Raung seringkali menjadi bagian dari kesenian Jaranan yang lebih berorientasi pada hiburan.
- Unsur Wajib: Ronteg Singo Ulung selalu menampilkan Seni Ojung, yang merupakan inti pertarungan dalam legendanya.
- Warna Kostum: Ronteg Singo Ulung konsisten dengan warna putih (melambangkan Singo Ulung atau Harimau Putih), sedangkan Singo Raung memiliki variasi warna yang lebih luas.
Meskipun keduanya termasuk dalam kategori kesenian “Barongan” (topeng singa atau macan) dari wilayah Tapal Kuda Timur, asal-usul, legenda, dan elemen pertunjukan mereka telah membentuk identitas budaya yang berbeda.
Hambatan Melestarikan Ronteg Singo Ulung
Meskipun telah meraih pengakuan dan mengalami perkembangan, upaya pelestarian Ronteg Singo Ulung tidak terlepas dari berbagai tantangan dan hambatan yang perlu diatasi.
Isu Regenerasi dan Minat Generasi Muda
Hambatan utama adalah menurunnya minat generasi muda untuk mempelajari dan mementaskan kesenian tradisi. Ronteg Singo Ulung, dengan topeng yang berat, gerakan yang lincah, serta atraksi fisik seperti Ojung, membutuhkan komitmen, ketangguhan fisik, dan pelatihan yang intensif. Sebagian besar generasi muda lebih tertarik pada budaya populer dan kesenian modern yang dianggap lebih praktis dan cepat viral. Kurangnya interaksi langsung dan hanya melihat melalui media juga dapat menyebabkan kebosanan dan kurangnya ketertarikan mendalam.
Keterbatasan Sarana dan Prasarana
Banyak sanggar seni tradisional, termasuk yang melestarikan Ronteg Singo Ulung, sering kali berjuang dengan keterbatasan dana dan fasilitas. Kostum, topeng Singo Ulung, dan alat musik gamelan memerlukan perawatan dan pembaruan rutin yang membutuhkan biaya besar. Dukungan finansial yang tidak stabil, baik dari pemerintah maupun swasta, menjadi kendala dalam menjaga kualitas dan kuantitas pertunjukan.
Tantangan Modernisasi dan Komodifikasi
Ketika Ronteg Singo Ulung bertransformasi menjadi komoditas wisata, ada risiko terjadinya komodifikasi budaya. Hal ini dapat menyebabkan:
- Penyederhanaan Makna: Nilai-nilai sakral dan filosofis dari pertunjukan (misalnya ritual Ojung atau nuansa mistis Singo Ulung) mungkin dikorbankan demi pertunjukan yang lebih “menghibur” atau cepat, mengurangi kedalaman makna budaya.
- Pergeseran Fungsi: Fungsi asli sebagai ritual bersih desa dan ungkapan kearifan lokal bergeser sepenuhnya menjadi fungsi hiburan semata.
Tantangan Pewarisan Pengetahuan Inti
Ronteg Singo Ulung melibatkan ilmu dan ritual khusus, terutama yang berkaitan dengan atraksi kekebalan tubuh (Ojung atau atraksi api). Pengetahuan ini bersifat esoterik dan diwariskan secara personal oleh para sesepuh atau guru. Jika pewarisan ini terputus, ada risiko hilangnya elemen-elemen paling otentik dan sakral dari kesenian tersebut, meninggalkan Ronteg Singo Ulung hanya sebagai cangkang tarian tanpa ruh spiritualitas aslinya.
Penutup: Menjaga Nafas Legenda Bondowoso
Ronteg Singo Ulung adalah denyut nadi budaya Bondowoso. Ia adalah kisah yang dihidupkan, legenda yang ditarikan, dan sejarah yang disuarakan melalui tabuhan gamelan. Dengan akarnya yang kuat pada legenda Kiai Singo Ulung dan Jasiman, kesenian ini mewakili semangat persatuan, keberanian, dan akulturasi yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Meskipun menghadapi tantangan dari arus modernisasi dan isu regenerasi, upaya pelestarian melalui institusionalisasi sanggar, inovasi artistik, dan promosi pariwisata adalah langkah krusial. Dukungan dari pemerintah, akademisi, media, dan yang terpenting, masyarakat Bondowoso sendiri, adalah kunci untuk memastikan bahwa Ronteg Singo Ulung akan terus menderu, menjadi harimau putih yang menjaga identitas dan kearifan lokal, tidak hanya untuk hari ini, tetapi hingga generasi mendatang.


