Jejak Kreativitas Budayawan Jombang Sejak Masa Kerajaan Medang Kamulan Sampai Pasca-Merdeka

Kabupaten Jombang, yang terletak di jantung Jawa Timur, bukan sekadar kota santri yang terkenal dengan pesantren-pesantren besarnya. Di balik gemerlap spiritualitas itu, Jombang menyimpan jejak panjang kreativitas budaya yang mengalir sejak zaman kerajaan kuno hingga era modern. Kreativitas ini bukanlah sekadar hiburan, melainkan bentuk perlawanan, penegasan identitas, dan sarana transformasi sosial. Dari panggung wayang yang megah di keraton kuno, hingga kidungan tajam yang menyindir penjajah, para budayawan Jombang telah menorehkan sejarah dengan tinta emas.

Artikel ini menelusuri jejak itu secara kronologis, mulai dari masa Kerajaan Medang Kamulan hingga pasca-kemerdekaan. Setiap era menghadirkan inovasi yang unik, mencerminkan bagaimana masyarakat Jombang selalu mampu mengolah tradisi menjadi sesuatu yang hidup, dinamis, dan penuh makna. Kreativitas ini bukan monopoli elite, melainkan milik rakyat, dari dalang keraton hingga seniman ludruk kampung. Dengan demikian, Jombang bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga pencipta budaya yang pengaruhnya melampaui batas wilayah, bahkan hingga ke mancanegara.

Masa Kerajaan Medang Kamulan: Wayang sebagai Media Peresmian Sima

Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, pada abad ke-10 Masehi Kerajaan Medang Kamulan (kelanjutan Mataram Kuno) memindahkan pusat kekuasaannya ke wilayah Jombang. Raja pertama, Mpu Sindok, yang memerintah dari 929 hingga 936 M di Tamwelang (sekarang Tembelang) dan kemudian pindah ke Watugaluh (Diwek) pada 937–949 M, menjadikan tanah ini sebagai pusat peradaban baru. Saat meresmikan sima, wilayah suci yang dibebaskan dari pajak, upacara tidak sekadar ritual keagamaan Hindu-Buddha, melainkan diisi dengan pertunjukan seni yang megah.

Menurut catatan Prasasti Wukajana, setiap peresmian sima selalu dimulai dengan pentas Wayang Wang (wayang orang) yang dilanjutkan Wayang Kulit semalam suntuk dengan lakon Bhima Kumara. Lakon ini mengisahkan perjuangan Bima mencari ilmu dan keadilan, mencerminkan semangat kerajaan yang sedang membangun kembali setelah bencana alam Merapi. Wayang Wang menghadirkan aktor hidup yang menari dan berdialog, sementara Wayang Kulit membawa dimensi mistis melalui bayangan dan suara dalang.

Kreativitas budayawan Jombang saat itu terlihat pada perpaduan dua bentuk wayang ini. Bukan sekadar hiburan, pertunjukan ini menjadi alat propaganda kerajaan sekaligus media pendidikan moral bagi rakyat. Dalang-dalang keraton menciptakan variasi lakon lokal, menggabungkan cerita Mahabharata dengan elemen Jawa seperti gamelan dan tari. Ini menandai awal transformasi seni pertunjukan dari pengaruh India menjadi khas Nusantara. Hingga kini, warisan ini terlihat dalam pagelaran wayang modern di Jombang yang masih memadukan wayang orang dan kulit dalam festival budaya. Kreativitas Mpu Sindok dan para senimannya membuktikan bahwa Jombang telah menjadi laboratorium seni sejak 1.000 tahun lalu.

Arca koleksi Galeri Mpu Sindok Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang
Arca koleksi Galeri Mpu Sindok Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang

 

Pemerintahan Dharmawangsa Teguh: Penerjemahan Kitab Wirataparwa

Memasuki masa Dharmawangsa Teguh (985–1017 M), Kerajaan Medang Kamulan mencapai puncak intelektual. Raja yang bergelar Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa ini masih berkeraton di Watugaluh, wilayah yang kini masuk Kecamatan Diwek, Jombang. Pada 996 M, ia memerintahkan penerjemahan Kitab Wirataparwa, bagian Mahabharata yang menceritakan perang saudara Pandawa-Kaurawa, dari bahasa Sanskerta ke Jawa Kuno.

Penerjemahan ini bukan sekadar salinan, melainkan kreasi budaya. Para pujangga keraton menyisipkan elemen Jawa seperti nilai gotong royong, keadilan, dan filsafat lokal. Wirataparwa menjadi bacaan rakyat, dibacakan di balai-balai desa dan pesantren proto. Kreativitas budayawan Jombang terlihat pada adaptasi ini: bahasa Jawa Kuno yang indah, penuh metafor alam Brantas, membuat kisah epik itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dharmawangsa Teguh menggunakan karya ini untuk memperkuat legitimasi kerajaan. Di tengah ancaman eksternal, sastra menjadi senjata ideologi. Hingga kini, manuskrip Jawa Kuno ini menjadi inspirasi lakon wayang dan drama di Jombang. Tokoh seperti Bima dan Arjuna dalam Wirataparwa masih hidup dalam cerita rakyat, membuktikan bahwa kreativitas intelektual Jombang telah menyatukan agama, sastra, dan politik sejak masa klasik.

Era Erlangga: Transformasi Wiraswara di Sendang Made

Setelah kerajaan runtuh akibat serangan Aji Wurawari, Erlangga, menantu Dharmawangsa, melakukan perjuangan panjang merebut kembali tahta. Dalam pelariannya, ia menyempatkan diri di Sendang Made, Kecamatan Kudu, Jombang. Di sumber air suci ini, Erlangga mentransformasi wiraswara (nyinden atau penyanyi wanita) menjadi elemen spiritual dan seni yang lebih dalam.

Hingga kini, tradisi ini dilestarikan dalam Upacara Kumkum Sinden yang digelar setiap bulan Suro. Para sinden berkumkum (berendam) di Sendang Made sambil melantunkan tembang-tembang Jawa Kuno. Ritual ini diyakini berasal dari masa Erlangga yang bersembunyi dan mendapat ilham spiritual di tempat itu. Kreativitasnya terletak pada perpaduan seni suara, air suci, dan meditasi. Wiraswara bukan lagi sekadar penghibur, melainkan medium komunikasi dengan leluhur dan dewa.

Upacara ini kini menjadi wisata budaya yang diresmikan Pemkab Jombang. Para seniman muda Jombang mengembangkannya dengan komposisi musik kontemporer, menjaga esensi spiritual sekaligus menarik generasi baru. Ini bukti bahwa kreativitas Erlangga telah bertahan lebih dari seribu tahun, menjadi simbol ketahanan budaya di tengah modernisasi.

Tradisi Kungkum Sinden dan Jejak Airlangga di Situs Sendang Made Jombang
Tradisi Kungkum Sinden dan Jejak Airlangga di Situs Sendang Made Jombang

 

Masa Kerajaan Majapahit: Penyebaran Budaya Panji ke Mancanegara

Puncak kejayaan Majapahit (abad 13–16) menjadikan Jombang sebagai bagian integral kerajaan. Konon, 60 persen wilayah Kota Raja Majapahit kini berada di Kabupaten Jombang. Empat titik berjarak 9 x 11 km, Dusun Sedah Desa Japanan dan Tugu Badas di Sumobito (Jombang), serta Klinterrejo Sooko dan Lebak Jabung (Mojokerto), menjadi saksi pusat kekuasaan.

Di era ini, budaya Panji diangkat sebagai narasi utama. Cerita Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji menyebar luas, bahkan hingga Malaysia, Thailand, dan Madagaskar melalui jalur perdagangan dan migrasi. Kreativitas budayawan Jombang terlihat pada adaptasi cerita ini ke dalam wayang, tari, dan sastra Jawa. Panji bukan lagi mitos India, melainkan cerita lokal yang menggambarkan cinta, petualangan, dan keadilan raja Jawa.

Pentas Panji di keraton Majapahit menjadi hiburan rakyat, menginspirasi nama desa dan ritual. Pengaruhnya hingga kini terlihat dalam tari Panji di Jombang dan adaptasi modern di teater. Ini menunjukkan bagaimana budayawan Jombang menciptakan soft power yang menembus batas benua.

Legenda Utama Jombang: Kebo Kicak dan Kebo Danu

Pada masa Majapahit pula lahir dua legenda utama yang memberi nama puluhan desa. Kebo Kicak Karang Kejambon di selatan Sungai Brantas dan Kebo Danu di utara. Kebo Kicak (Joko Tulus), putra patih yang dikutuk menjadi manusia berkepala kerbau karena durhaka, berguru pada kyai sakti hingga menjadi pahlawan. Ia bertarung melawan perampok Surontanu, menghasilkan cahaya ijo-abang, asal nama “Jombang”.

Pertarungan epik ini menenggelamkan keduanya di Rawa Tebu, melahirkan nama desa seperti Dapurkejambon, Megaluh, dan Mojongapit. Sementara Kebo Danu mengisahkan kerbau suci yang menjaga wilayah utara Brantas. Legenda ini penuh kreativitas: menggabungkan mitos, moral, dan toponimi. Hingga kini, makam Kebo Kicak di Dapurkejambon menjadi situs ziarah, dan cerita ini diabadikan dalam drama rakyat. Budayawan Jombang menggunakan legenda untuk memperkuat identitas lokal, mengajarkan bahwa kesalahan bisa ditebus dengan perjuangan.

Seni Lukis Karya Komunitas Pelukis Jombang dalam Pameran METAFORA 30 Juli 2025 - 03 Agustus 2025 (4)
Seni Lukis Karya Komunitas Pelukis Jombang dalam Pameran METAFORA 30 Juli 2025 – 03 Agustus 2025

 

Masa Kolonial Belanda: Lahirnya Kesenian Rakyat Dinamis

Di bawah penjajahan Belanda, kreativitas Jombang meledak dalam kesenian rakyat. Lahir Lerok, Besutan, Ludruk, dan Gambus Misri. Pak Santik (cicit Pak Sadran, pengikut Pangeran Diponegoro) dari Desa Ceweng, Diwek, meletakkan pondasi. Ia menciptakan Lerok, ngamen dengan musik mulut, pada 1907–1915, yang berkembang menjadi Besutan dan akhirnya Ludruk modern.

Pak Santik mengawasi lapangan terbang Belanda di Plandi sambil menyisipkan sindiran halus. Pak Asfandi (ayah Pak Asmuni Srimulat) bersama kaum santri mengembangkan Gambus Misri, perpaduan gambus Arab dan musik Jawa. Sepupunya, Pak Syafii, mendirikan Gambus Misri Mawar Bersemi di Plandi. Kesenian ini dinamis: ludruk menyindir kolonialisme, gambus menggabungkan Islam dan tradisi.

Kreativitas ini menjadi perlawanan tanpa senjata. Ludruk Jombang kini diakui sebagai cikal bakal seni nasional, dengan Pak Santik sebagai pelopor. Warisannya hidup dalam festival ludruk tahunan.

Masa Pendudukan Jepang: Cak Durasim dan Kidungan Perlawanan

Di era Jepang, kreativitas mencapai puncak perlawanan. Lahir Sang Pahlawan Cak Durasim dari Desa Kaliwungu, Jombang. Melalui ludruk, ia menyampaikan kidungan tajam: “Bekupon omahe doro, Melok Nipon tambah sangsoro” (Burung dara di kandangnya, ikut Nippon tambah sengsara). Parikan ini menyindir penjajah secara halus.

Cak Durasim ditangkap dan disiksa di Mojorejo, tapi nyanyiannya mengobarkan semangat kemerdekaan. Kreativitasnya mengubah panggung ludruk menjadi arena perjuangan. Hingga kini, namanya diabadikan di jalan Kaliwungu dan monumen di Surabaya. Ia simbol bagaimana budayawan Jombang menggunakan seni untuk melawan tirani.

Rekonstruksi dan Dokumentasi Kesenian Tradisi Gambus Misri: Menghidupkan Kembali Fajar Budaya Jombang
Rekonstruksi dan Dokumentasi Kesenian Tradisi Gambus Misri: Menghidupkan Kembali Fajar Budaya Jombang

 

Pasca-Merdeka: Tokoh Kreatif Modern

Setelah 1945, kreativitas mekar melalui tokoh-tokoh visioner. Pak Bolet (Sastro Bolet Amenan) dari Tawangsari menciptakan Remo Boletan, tarian remo yang energik dengan gerak khas, menggabungkan ludruk dan tari Jawa Timur. Ali Markasa menambahkan atraksi sampur (pedang) dalam remonya, menjadikannya lebih dramatis.

Pak Asmuni Srimulat, putra Pak Asfandi, menjadi maestro ludruk dan komedian nasional. Gombloh, penyanyi legendaris, menghasilkan lagu-lagu protes sosial yang menggema. Puncaknya, Emha Ainun Najib atau Cak Nun, lahir 27 Mei 1953 di Jombang, menjadi budayawan serbabisa: essais, kolumnis, sastrawan, dramawan. Karyanya seperti “Sastra yang Menggugat” dan Kiai Kanjeng menggabungkan tasawuf, humor, dan kritik sosial. Tokoh-tokoh ini membawa Jombang ke panggung nasional, menginspirasi generasi muda melalui festival dan komunitas seni.

Jejak kreativitas budayawan Jombang adalah bukti ketahanan budaya Nusantara. Dari wayang kuno hingga Cak Nun, setiap era melahirkan inovasi yang menyatu dengan kehidupan rakyat. Kini, Pemkab Jombang melestarikannya melalui festival, wisata Sendang Made, dan pendidikan seni. Kreativitas ini bukan masa lalu, melainkan modal masa depan, mengajarkan bahwa seni adalah perlawanan, identitas, dan harapan.

Tinggalkan komentar