Lampu panggung menyala terang, irama gambus yang khas mengalun pelan di awal, lalu meledak bersama dentingan alat musik tradisional dan tepuk tangan penonton yang memenuhi kursi. Bukan sekadar pertunjukan biasa, melainkan rekonstruksi dan dokumentasi kesenian tradisi Gambus Misri yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang.
Malam itu, satu-satunya grup yang masih bertahan, Bintang Sembilan dari Desa Kedungsari, Kecamatan Sumobito, membawakan lakon legendaris “Fajar Islam”. Acara gratis dan terbuka untuk umum ini bukan hanya tontonan, tetapi juga langkah strategis pemerintah daerah dalam melestarikan identitas budaya Jombang di tengah arus modernisasi yang semakin deras.
Gedung Kesenian yang baru direnovasi itu penuh sesak. Penonton dari berbagai kalangan, dari santri, pelajar, seniman, hingga masyarakat umum, datang untuk menyaksikan bagaimana sebuah kesenian yang lahir dari rahim pesantren ini dihidupkan kembali. Udara malam Februari yang sejuk bercampur aroma kopi dan jajanan pasar yang dijual di luar gedung menambah suasana khas Jombang: santri, sederhana, namun kaya makna.
Dalam rangka rekonstruksi dan pendokumentasian kesenian tradisional yang hampir punah, Kabupaten Jombang akan menyaksikan momentum penting pada Jumat, 6 Februari 2026. Pentas Kesenian Gambus Misri Bintang Sembilan dari Dusun Kedungsari, Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito, digelar di Gedung Kesenian Kabupaten Jombang, Jalan Kusuma Bangsa, mulai pukul 18.00 WIB hingga selesai. Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya serius pelestarian warisan budaya tak benda yang sarat nilai sejarah, religi, dan sosial.
Undangan resmi menyebutkan pakaian batik bagi tamu undangan. Tamu lintas organisasi dan pejabat daerah yang diundang antara lain Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang beserta Ibu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Tim Pemutakhiran Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Jombang, Camat Sumobito, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Sumobito, Kepala Desa Kendalsari beserta jajarannya termasuk Ketua Tim Penggerak PKK Desa dan Ketua BPD, serta para pengampu ekstrakurikuler teater dari SMA Negeri 2 dan 3 Jombang, Kepala SMP Negeri 2 Sumobito, pengampu ekstrakurikuler Gambus Misri di SMP tersebut, serta Kepala SD Negeri Kendalsari 1 dan 2. Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan komitmen kolektif pemerintah, pendidikan, dan masyarakat dalam melestarikan identitas budaya Jombang.
Gambus Misri Bintang Sembilan bukan kesenian biasa. Ia lahir sebagai respons budaya santri di tengah ketegangan sosial-politik era 1960-an, berkembang dari tradisi ludruk menjadi teater musik bernuansa Islami yang kental. Kini, setelah vakum puluhan tahun, rekonstruksi ini menjadi simbol kebangkitan seni pesantren yang hampir hilang. Artikel ini akan mengupas panjang sejarah, nilai, proses rekonstruksi, serta makna acara 6 Februari 2026 bagi pelestarian budaya Jombang.
Asal-Usul Gambus Misri: Lahir dari Ketegangan Sejarah
Gambus Misri bukan kesenian yang muncul begitu saja. Ia lahir pada awal 1960-an di tengah gejolak politik dan sosial pasca-peristiwa 1965. Jombang, sebagai kota santri yang kental dengan pengaruh Pesantren Tebuireng, menyaksikan ketegangan antara kelompok abangan dan putihan (santri). Seni Ludruk yang saat itu populer, sering dikaitkan dengan kelompok abangan dan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam oleh kalangan pesantren.
Seorang santri bernama Asfandi dari lingkungan Pesantren Tebuireng kemudian menciptakan alternatif. Terinspirasi dari struktur Ludruk, yang meliputi cerita, lawakan, tari, dan musik, ia mengadaptasinya dengan nuansa Islam yang kuat. Musiknya menggunakan gambus, yaitu alat musik petik mirip oud dari Timur Tengah, rebana, dan irama Melayu-Arab yang disebut “Misri” karena pengaruh kuat musik Mesir, seperti Ummi Kalsum yang populer saat itu. Tariannya mengadopsi Zapin, komedinya tetap ringan namun sarat hikmah, dan ceritanya selalu bernuansa dakwah.
Dalam waktu singkat, Gambus Misri meledak popularitasnya di era 1960-an hingga 1980-an. Hampir setiap desa di Jombang memiliki grupnya sendiri. Pertunjukan sering digelar di halaman masjid, pendopo desa, atau acara hajatan. Masyarakat menikmatinya sebagai hiburan yang halal sekaligus sarana pendidikan agama. Namun, seiring modernisasi, televisi, dan perubahan gaya hidup, kesenian ini mulai redup. Banyak grup bubar, kostum dan alat musik tersimpan di gudang, bahkan hilang.
Hingga kini, hanya Bintang Sembilan yang masih bertahan secara konsisten. Didirikan di Dusun Kedungsari, Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito, grup ini seperti mercusuar terakhir yang menjaga api tradisi. Nama “Bintang Sembilan” sendiri diyakini merujuk pada sembilan wali atau simbol keberkahan. Para anggotanya bukan seniman profesional semata, melainkan petani, guru ngaji, dan warga desa yang mewarisi ilmu dari generasi sebelumnya.

Karakteristik Kesenian Gambus Misri Bintang Sembilan
Pertunjukan Gambus Misri biasanya berlangsung 2–4 jam, terdiri dari beberapa bagian:
- Pembukaan: Qasidah atau shalawat dengan iringan gambus dan biola.
- Lakon Utama: Cerita panjang dengan tokoh-tokoh historis atau alegoris. Contoh legendaris adalah “Fajar Islam” yang menceritakan dakwah Syeh Maulana Ishak di Kerajaan Blambangan, atau “Sokhabat Bilal” tentang sahabat Nabi.
- Dagelan: Sisipan komedi ringan yang menyampaikan pesan moral tanpa vulgar.
- Tari Zapin: Gerakan tari yang anggun, biasanya dilakukan penari pria dan wanita dengan kostum Islami.
- Penutup: Doa dan shalawat bersama.
Alat musik utama meliputi gambus (petik melodi utama), biola (melodi tinggi), kendang atau rebana (ritme), dan kadang seruling atau harmonium sederhana. Kostum biasanya baju koko, sarung, peci, atau gamis untuk nuansa Islami, dengan sentuhan batik Jombang.
Kemunduran dan Upaya Awal Pelestarian
Sejak akhir 1980-an hingga 2010-an, Gambus Misri Bintang Sembilan mengalami kemunduran drastis. Faktor utama adalah modernisasi hiburan (televisi, dangdut, dan media digital), kurangnya regenerasi karena generasi muda lebih tertarik pada kesenian pop, serta perubahan sosial-ekonomi di pedesaan. Banyak pelaku seni senior meninggal atau berhenti karena usia. Pada 2020, kesenian ini hampir punah; hanya tersisa ingatan kolektif dan sedikit rekaman lama.
Pada 2017, sekelompok pemuda Dusun Kedungsari mulai melakukan penelusuran. Mereka mendatangi pelaku seni tua, merekam cerita lisan, mempelajari lagu-lagu, dan mencoba merekonstruksi lakon. Proses ini didukung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Generasi muda, termasuk Gen Z dari sekolah-sekolah sekitar, dilibatkan melalui ekstrakurikuler. SMP Negeri 2 Sumobito bahkan memiliki pengampu khusus Gambus Misri, sementara SMA Negeri 2 dan 3 Jombang mengintegrasikan teater tradisional dalam kurikulum seni.
Rekonstruksi: Mengembalikan Pakem Asli
Proses rekonstruksi yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bukan pekerjaan mudah. Tim ahli budaya, bersama para sesepuh Bintang Sembilan, melakukan riset mendalam. Mereka menggali arsip lama, mewawancarai pelaku sejarah yang masih hidup, dan mempelajari rekaman audio-video yang tersisa dari era keemasan.
Kostum dikembalikan ke bentuk asli: baju koko panjang dengan sarung, peci, dan selendang untuk penari. Alat musik seperti gambus utama, gambus pengiring, rebana, dan terbang disesuaikan kembali. Dialog yang menggunakan bahasa Jawa halus bercampur istilah Arab dan Indonesia disempurnakan agar tetap autentik. Gerakan tari Zapin yang energik namun penuh sopan santun juga dilatih ulang.
Yang paling menantang adalah menghidupkan kembali “rasa” pertunjukan. Gambus Misri bukan sekadar teater; ia adalah perpaduan tontonan dan tuntunan. Lawakan (stambul) harus lucu tapi tidak kasar. Nyanyian harus merdu dan penuh penghayatan. Dan yang terpenting, pesan dakwah harus tersampaikan tanpa terasa menggurui.
Proses Rekonstruksi dan Pendokumentasian
Rekonstruksi bukan sekadar menghidupkan kembali pertunjukan lama. Ia melibatkan pendekatan ilmiah dan partisipatif:
- Penelitian Sejarah: Wawancara dengan pelaku senior, studi arsip, dan analisis lakon lama.
- Pelatihan Generasi Muda: Workshop musik, tari, dan akting yang melibatkan siswa SD Kendalsari 1 & 2, SMP, dan SMA.
- Adaptasi Zaman: Menjaga pakem inti (nuansa Islami, struktur lakon) sambil menyesuaikan dengan selera kontemporer, seperti penambahan proyeksi visual atau lighting modern tanpa mengubah esensi.
- Pendokumentasian: Rekaman video full HD, audio multi-track, pembuatan naskah lakon digital, dan rencana buku sejarah. Semua ini untuk arsip daerah dan bahan ajar sekolah.
Pimpinan grup saat ini, Anasrul Hakim, menyatakan bahwa rekonstruksi ini bertujuan agar kesenian diterima generasi muda sambil memberikan keseimbangan nilai seni dan keberlanjutan ekonomi bagi pelaku budaya. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Anom Antono, menekankan bahwa Gambus Misri Bintang Sembilan adalah satu-satunya kesenian sejenis di Jombang, sehingga pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.
Lakon “Fajar Islam”: Kisah Dakwah yang Menggetarkan
Malam itu, Bintang Sembilan membawakan lakon Fajar Islam. Cerita ini mengisahkan perjalanan dakwah Syekh Maulana Ishak (juga dikenal sebagai Maulana Ishaq), salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di Jawa Timur. Beliau adalah ayah dari Sunan Giri dan dikenal sebagai perintis dakwah di wilayah timur Pulau Jawa.
Dalam lakon ini, Syekh Maulana Ishak tiba di Kerajaan Blambangan (sekarang wilayah Banyuwangi) yang masih kuat dipengaruhi ajaran Hindu-Buddha di bawah Prabu Menak Sembuyu. Raja memiliki putri cantik yang sakit parah. Syekh Maulana menawarkan pengobatan dengan syarat raja bersedia mendengarkan dakwah Islam. Melalui kesabaran, kebijaksanaan, dan mukjizat spiritual, beliau berhasil menyembuhkan putri raja dan perlahan menanamkan benih Islam di kerajaan tersebut.
Cerita ini penuh konflik: ada patih yang menentang (seperti Bajul Sengara dalam beberapa versi), intrik istana, serta perjuangan batin para tokoh. Namun, akhirnya “fajar” Islam menyingsing, melambangkan awal cahaya agama baru di tanah yang selama ini gelap oleh tradisi lama.
Para aktor Bintang Sembilan memerankan tokoh-tokoh ini dengan luar biasa. Suara gambus yang mendayu saat adegan romantis-spiritual, dentuman rebana yang menggema saat adegan perjuangan, serta tarian Zapin yang indah saat menggambarkan kegembiraan dakwah yang berhasil, membuat penonton terhanyut. Banyak yang terlihat meneteskan air mata saat adegan penyembuhan putri raja dan saat Syekh Maulana Ishak berdoa untuk keselamatan kerajaan.
Dokumentasi: Meninggalkan Warisan untuk Generasi Mendatang
Selain pertunjukan, acara ini juga fokus pada dokumentasi. Seluruh proses mulai dari latihan, rekonstruksi kostum, hingga pertunjukan direkam secara profesional dalam format video resolusi tinggi, audio multi-channel, dan foto dokumenter. Transkripsi dialog, notasi musik, serta catatan proses kreatif juga disusun.
Arsip ini akan disimpan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta dibagikan secara digital untuk kepentingan pendidikan dan penelitian. Rencananya, akan dibuat buku dokumentasi serta video dokumenter yang bisa digunakan sebagai materi pembelajaran di sekolah-sekolah dan pesantren di Jombang.
Langkah ini sangat penting. Di era digital, dokumentasi bukan hanya pelestarian, melainkan juga strategi penyebaran. Generasi muda yang lebih akrab dengan TikTok dan YouTube bisa mengenal Gambus Misri melalui konten yang menarik dan berkualitas.
Komitmen Pemerintah Daerah
Acara ini menjadi bukti konkret komitmen Pemerintah Kabupaten Jombang di bawah kepemimpinan Bupati untuk melestarikan warisan budaya tak benda. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tidak hanya menyediakan dana dan fasilitas, tetapi juga melibatkan langsung para seniman dan tokoh masyarakat.
Kepala Dinas menyatakan bahwa pelestarian Gambus Misri adalah bagian dari upaya lebih besar untuk memperkuat identitas Jombang sebagai kota santri yang kaya seni. “Kita tidak ingin anak cucu kita hanya mengenal budaya luar. Mereka harus bangga dengan warisan leluhur sendiri,” ujarnya dalam sambutan.
Upaya ini juga selaras dengan program nasional pelestarian warisan budaya tak benda yang didorong Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Dampak dan Harapan ke Depan
Pertunjukan malam itu berhasil memukau ratusan penonton. Banyak yang datang pertama kali menyaksikan Gambus Misri mengaku terkesan dan ingin melihat lagi. Pelajar dan mahasiswa terinspirasi untuk mempelajari lebih dalam sejarah lokal. Para orang tua yang pernah menyaksikan di masa kecil mereka menangis haru melihat generasi muda masih mau melestarikannya.
Namun, tantangan tetap ada. Para anggota Bintang Sembilan mayoritas sudah berusia lanjut. Regenerasi menjadi kunci. Diperlukan pelatihan bagi generasi muda, integrasi dengan kurikulum pendidikan, serta dukungan ekonomi agar seniman bisa hidup layak dari kesenian mereka.
Ke depan, Pemkab Jombang berencana menggelar festival tahunan Gambus Misri, mengajak grup dari daerah lain, serta mempromosikannya sebagai daya tarik wisata budaya. Bayangkan jika wisatawan datang ke Jombang tidak hanya untuk ziarah makam wali, tapi juga menikmati pertunjukan Gambus Misri yang autentik.
Signifikansi Lebih Luas bagi Jombang dan Indonesia
Jombang, kota santri dengan Pesantren Tebuireng sebagai ikon, memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Rekonstruksi Gambus Misri bukan hanya soal satu kesenian, melainkan model pelestarian warisan tak benda di era digital. Ia mengajarkan bahwa budaya bisa bertahan jika diwariskan secara aktif kepada generasi muda, didukung kebijakan pemerintah, dan diintegrasikan dengan pendidikan.
Secara ekonomi, pengembangan kesenian ini berpotensi menjadi daya tarik pariwisata budaya. Desa Kendalsari bisa dikembangkan sebagai desa wisata seni, dengan workshop Gambus Misri, homestay, dan festival tahunan. Bagi generasi muda, terlibat dalam kesenian ini membangun rasa bangga lokal, disiplin, kerja sama tim, dan pemahaman nilai-nilai Islam yang moderat khas NU.
Tantangan ke depan tetap ada: menjaga kualitas artistik, mencari pendanaan berkelanjutan, dan melawan dominasi hiburan digital. Namun, komitmen yang ditunjukkan melalui acara 6 Februari 2026 memberikan harapan besar. Seperti kata Sekda Agus Purnomo, pelestarian Gambus Misri penting karena generasi muda belum sepenuhnya mengenalnya, dan pemerintah berkomitmen mendukung agar warisan ini lestari.
Sebuah Tradisi yang Kembali Bernyawa
Tanggal 6 Februari 2026 di Gedung Kesenian Jombang bukan akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal babak baru. Gambus Misri yang sempat hampir punah kini kembali bernyawa. Melalui rekonstruksi dan dokumentasi, ia tidak lagi hanya kenangan, tetapi warisan hidup yang bisa dinikmati dan dipelajari generasi mendatang.
Bintang Sembilan, dengan lakon Fajar Islam-nya, telah membawa kita menyelami kekayaan seni tradisi Jombang yang penuh makna. Sebuah kisah dakwah, irama gambus yang merdu, tarian yang anggun, dan humor yang bijak, semua itu menyatu menjadi satu kesatuan yang indah.
Di tengah hiruk-pikuk modernitas, Jombang memilih untuk tidak melupakan akarnya. Karena sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan melestarikan budayanya. Dan malam itu, di Gedung Kesenian Jombang, fajar budaya lokal kembali bersinar terang.
Acara ini mengingatkan kita semua: pelestarian budaya bukan tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama. Mari kita dukung, mari kita lestarikan, agar “Fajar Islam” dan irama Gambus Misri terus menggema di tanah Jombang untuk selamanya.


