Kabupaten Jombang, yang terletak di Provinsi Jawa Timur, dikenal sebagai “Kota Santri” berkat tradisi keagamaan dan pendidikan Islam yang kuat. Namun, di balik identitas keagamaannya, Jombang juga menyimpan kekayaan budaya yang unik, salah satunya adalah Lakon Gambus Misri. Kesenian ini merupakan bentuk pertunjukan tradisional yang menggabungkan musik, tari, dan teater, dengan instrumen gambus—sejenis lut yang berasal dari Timur Tengah—sebagai elemen utamanya. Lakon Gambus Misri tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga cerminan identitas budaya dan keagamaan masyarakat santri di Jombang. Artikel ini akan mengulas secara mendalam sejarah, perkembangan, peran Grup Gambus Misri Bintang 9 dari Kedungsari, Sumobito, serta tantangan dalam melestarikan seni tradisi langka ini.
Apa Itu Lakon Gambus Misri?
Lakon Gambus Misri adalah bentuk pertunjukan crito menak, yaitu cerita yang mengangkat tema kepahlawanan atau kisah-kisah heroik, yang disajikan dalam format teater musikal dengan iringan musik gambus. Kesenian ini lahir dari lingkungan pesantren di Jombang dan menjadi bagian integral dari budaya santri. Instrumen gambus, yang berakar dari tradisi musik Arab, menjadi ciri khas yang membedakan Gambus Misri dari kesenian tradisional Jawa lainnya seperti Ludruk. Lakon yang dibawakan biasanya mengangkat tema-tema dari sejarah Islam, kisah para sahabat Nabi, atau cerita yang mengandung hikmah dan pesan moral.
Saat ini, terdapat tiga grup Lakon Gambus Misri yang masih aktif, salah satunya adalah Grup Gambus Misri Bintang 9 dari Desa Kedungsari, Kecamatan Sumobito, Jombang. Kelompok ini telah berperan besar dalam mempopulerkan dan melestarikan kesenian ini, meskipun membutuhkan kerja keras untuk menjaga tradisi langka ini tetap hidup di tengah tantangan zaman.
Sejarah dan Asal-Usul Lakon Gambus Misri
Untuk memahami Lakon Gambus Misri, kita perlu menelusuri sejarahnya yang erat kaitannya dengan perkembangan budaya dan agama di Jombang. Kesenian ini diciptakan oleh Asfandi, seorang santri dari Pesantren Tebuireng, salah satu pesantren paling terkenal di Jombang yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari. Asfandi, yang juga dikenal sebagai ayah dari seniman terkenal Asmuni, mengembangkan Gambus Misri sebagai respons budaya terhadap popularitas Ludruk, sebuah teater tradisional Jawa Timur yang digemari oleh masyarakat abangan—kelompok muslim yang kurang ketat dalam praktik keagamaan.
Pada masa itu, Ludruk dianggap oleh sebagian kalangan santri sebagai hiburan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, karena sering kali mengandung unsur-unsur yang dianggap kurang Islami. Sebagai alternatif, Lakon Gambus Misri diciptakan untuk menyajikan hiburan yang lebih Islami, dengan lakon-lakon yang mengangkat kisah-kisah dari sejarah Islam, seperti “Masuk Islamnya Umar bin Khattab”, “Keteguhan Iman Sahabat Bilal”, atau “Kepahlawanan Amir Hamzah”. Dengan demikian, Lakon Gambus Misri tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media dakwah dan pendidikan moral bagi masyarakat.
Nama “Misri” sendiri merujuk pada kata “Mesir”, yang menunjukkan pengaruh lagu-lagu padang pasir dari Timur Tengah, khususnya Mesir, yang populer pada masa itu. Hal ini mencerminkan perpaduan budaya Jawa dan Islam yang menjadi karakteristik unik kesenian ini.
Perbedaan dengan Ludruk
Meskipun sama-sama merupakan bentuk teater rakyat, Lakon Gambus Misri dan Ludruk memiliki perbedaan yang signifikan:
- Tema: Ludruk biasanya mengangkat cerita rakyat Jawa, legenda, atau kisah kehidupan sehari-hari, sementara Lakon Gambus Misri berfokus pada tema-tema Islami.
- Musik: Ludruk menggunakan gamelan sebagai pengiring, sedangkan Gambus Misri didominasi oleh musik Melayu dengan instrumen gambus yang bernuansa Arab.
- Tujuan: Ludruk sering mengandung humor dan kritik sosial, sedangkan Gambus Misri menekankan pesan moral dan hikmah.
Perbedaan ini mencerminkan dinamika sosial di Jombang antara kelompok santri dan abangan pada masa lalu.
Grup Gambus Misri Bintang 9: Pelopor dan Pelestari
Dari tiga grup Lakon Gambus Misri yang masih ada, Grup Gambus Misri Bintang 9 dari Kedungsari, Sumobito, adalah yang paling terkenal dan aktif. Kelompok ini didirikan sebagai upaya untuk melestarikan kesenian yang hampir punah akibat perubahan zaman dan munculnya hiburan modern.
Menurut Anasrul Hakim, pimpinan Grup Gambus Misri Bintang 9, kesenian ini sempat vakum selama beberapa tahun sebelum dihidupkan kembali pada tahun 2017. Berkat kerja keras dan dedikasi para seniman muda, grup ini berhasil merevitalisasi Gambus Misri dan menjadikannya sebagai salah satu ikon budaya Jombang. Mereka tidak hanya tampil di acara lokal, tetapi juga di tingkat nasional, seperti di Anjungan Jawa Timur Taman Miniatur Indonesia Indah (TMII), serta berbagai festival budaya.
Selain Bintang 9, dua grup lain yang masih aktif juga turut berkontribusi dalam menjaga tradisi ini, meskipun informasi tentang mereka lebih terbatas. Keberadaan tiga grup ini menunjukkan adanya komunitas kecil namun berdedikasi yang berjuang untuk melestarikan Lakon Gambus Misri.
Struktur Pertunjukan Lakon Gambus Misri
Sebuah pertunjukan Lakon Gambus Misri biasanya terdiri dari beberapa bagian yang terstruktur:
- Pembukaan dengan Musik Gambus: Pertunjukan dimulai dengan alunan musik gambus yang khas, menciptakan suasana Islami dan mempersiapkan penonton untuk cerita yang akan disajikan.
- Nyanyian dan Tarian: Sebelum masuk ke lakon utama, ada sesi nyanyian dan tarian bernuansa Islami, sering kali diiringi lagu-lagu Melayu klasik atau lagu padang pasir.
- Lakon Cerita: Bagian utama adalah lakon atau cerita, yang mengangkat kisah-kisah dari sejarah Islam atau cerita dengan pesan moral. Dialog disampaikan dalam bahasa Jawa dengan dialek lokal, diselingi humor dan interaksi dengan penonton.
- Penutup: Pertunjukan diakhiri dengan pesan moral atau hikmah dari cerita yang dibawakan.
Musik gambus mengiringi seluruh pertunjukan, memperkuat tema Islami dan memberikan nuansa khas.
Tantangan dalam Pelestarian Lakon Gambus Misri
Meskipun memiliki nilai budaya yang tinggi, Lakon Gambus Misri menghadapi berbagai tantangan dalam pelestariannya:
- Perubahan Sosial: Munculnya hiburan modern seperti televisi, internet, dan media sosial mengurangi minat masyarakat, terutama generasi muda, terhadap kesenian tradisional.
- Kurangnya Dukungan Finansial: Banyak grup kesenian kesulitan mendapatkan dana untuk latihan, pertunjukan, dan promosi, yang menyebabkan aktivitas mereka terbatas.
- Regenerasi Seniman: Banyak seniman tua telah meninggal atau tidak aktif, sementara generasi muda kurang tertarik untuk mempelajari kesenian ini.
Tantangan-tantangan ini membuat Lakon Gambus Misri menjadi seni tradisi yang langka, dan membutuhkan kerja keras untuk menjaga kelangsungannya.
Upaya Pelestarian yang Dilakukan
Berbagai upaya telah dilakukan untuk melestarikan Lakon Gambus Misri:
- Edukasi dan Promosi: Grup Gambus Misri Bintang 9 mengadakan workshop dan dialog budaya untuk mengenalkan kesenian ini kepada generasi muda. Pada tahun 2024, sesi dialog kebudayaan di Gedung Kesenian Jombang menjadi salah satu contoh inisiatif ini.
- Dukungan Pemerintah: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang mengadakan festival budaya dan melibatkan sekolah-sekolah dalam pelestarian, seperti menjadikan Gambus Misri bagian dari muatan lokal di Kecamatan Sumobito.
- Media Sosial: Grup-grup kesenian memanfaatkan YouTube, Instagram, dan Facebook untuk mempromosikan pertunjukan mereka, menjangkau audiens yang lebih luas.
Upaya ini menunjukkan komitmen untuk menjaga Lakon Gambus Misri tetap relevan di era modern.
Pentingnya Melestarikan Lakon Gambus Misri
Lakon Gambus Misri adalah bagian dari identitas budaya Jombang yang mencerminkan perpaduan tradisi Jawa dan Islam. Melestarikannya berarti menjaga warisan budaya yang unik, yang dapat menjadi sumber pendidikan dan inspirasi. Selain itu, kesenian ini memiliki potensi sebagai daya tarik wisata budaya, yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kesimpulan
Lakon Gambus Misri dari Jombang adalah kesenian tradisional berupa crito menak yang kaya makna dan sejarah. Dipopulerkan oleh Grup Gambus Misri Bintang 9 dari Kedungsari, Sumobito, dan didukung oleh dua grup lain, kesenian ini menghadapi tantangan besar namun tetap dipertahankan melalui kerja keras para pelestarinya. Dengan melestarikan Lakon Gambus Misri, kita menjaga warisan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya.


