Jelle Eeltje Jellesma: Penginjil Pertama dari Hindia Belanda di Mojowarno

Jelle Eeltje Jellesma adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran agama Kristen di Jawa Timur, khususnya di desa Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang pada masa itu merupakan bagian dari Hindia Belanda. Kedatangannya pada tahun 1851 menandai babak baru dalam perkembangan Kekristenan di wilayah tersebut. Jellesma tidak hanya dikenal sebagai penginjil, tetapi juga sebagai pendidik dan pelopor pelayanan sosial yang meletakkan dasar bagi institusi seperti Rumah Sakit Kristen Mojowarno. Artikel ini akan mengulas perjalanan hidup Jellesma, perannya dalam menyebarkan agama Kristen, kontribusinya terhadap perkembangan kesehatan dan pendidikan, dampak pengajaran Injil yang dibawanya, peninggalan tertua Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Jawa Timur, serta tradisi unik unduh-unduh yang masih dilestarikan oleh jemaat GKJW Mojowarno hingga kini.

Latar Belakang dan Kedatangan Jellesma di Mojowarno

Jelle Eeltje Jellesma lahir di Friesland, Belanda, sebuah wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan pada masa itu. Ia diutus oleh Nederlands Zending Genootschap (NZG), organisasi misionaris Belanda, untuk menyebarkan agama Kristen di Hindia Belanda, khususnya di Jawa Timur. Pada tahun 1851, Jellesma tiba di Mojowarno, sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Jombang. Saat itu, Mojowarno dipimpin oleh Kyai Abisai Ditotaruno, seorang tokoh lokal yang telah memeluk agama Kristen dan menjadi salah satu pendukung awal penyebaran Kekristenan di wilayah tersebut.

Menariknya, ketika Jellesma tiba, Mojowarno sudah memiliki 244 jemaat Kristen. Angka ini cukup signifikan untuk sebuah desa terpencil pada pertengahan abad ke-19, menunjukkan bahwa benih Kekristenan telah ditanam sebelumnya, kemungkinan oleh tokoh seperti Coenrad Laurens Coolen, seorang peranakan Rusia-Jawa yang dikenal sebagai pelopor evangelisasi di Jawa. Kehadiran Jellesma memperkuat komunitas Kristen yang ada dan membawa pendekatan baru dalam misi penginjilan.

Peran Jellesma dalam Penyebaran Agama Kristen

Jellesma bukan sekadar penginjil yang fokus pada pengajaran doktrin Kristen. Ia memiliki pendekatan yang lebih holistik, menggabungkan evangelisasi dengan pendidikan dan pelayanan sosial. Salah satu kontribusi awalnya adalah mendirikan sekolah di Mojowarno. Sekolah ini bertujuan untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada anak-anak setempat, sehingga mereka dapat memahami Alkitab secara mandiri. Pendidikan menjadi alat penting dalam misinya, karena memungkinkan jemaat untuk lebih mendalami ajaran Kristen dan mengurangi ketergantungan pada penginjil asing.

Pendekatan Jellesma juga mencerminkan kepekaannya terhadap budaya lokal. Ia tidak memaksakan doktrin Kristen secara kaku, melainkan berusaha memahami dan menghormati tradisi Jawa. Kolaborasinya dengan Kyai Abisai Ditotaruno menjadi kunci keberhasilannya. Kyai Abisai, sebagai pemimpin desa yang disegani, membantu Jellesma menjangkau masyarakat lokal dan membangun kepercayaan terhadap ajaran Kristen. Bersama-sama, mereka mengorganisir jemaat yang ada dan memperluas pengaruh Kekristenan ke desa-desa tetangga.

Namun, misi Jellesma di Mojowarno tidak berlangsung lama. Ia meninggal dunia pada tahun 1858, hanya tujuh tahun setelah kedatangannya. Meskipun masa tugasnya singkat, fondasi yang ia bangun sangat kuat. Setelah kematiannya, penginjil lain seperti Paulus Tosari, Pdt. Hoezoo, dan Pdt. Kruyt melanjutkan pekerjaannya dengan penuh dedikasi. Mereka meneruskan semangat Jellesma untuk menyebarkan Injil sambil tetap memperhatikan kebutuhan sosial masyarakat.

Cikal Bakal Rumah Sakit Kristen Mojowarno

Salah satu warisan Jellesma yang kurang mendapat sorotan adalah perannya dalam meletakkan dasar bagi pelayanan kesehatan di Mojowarno. Meskipun Rumah Sakit Kristen Mojowarno secara resmi didirikan jauh setelah kematiannya, upaya awal Jellesma dalam bidang kesehatan dan pendidikan kemungkinan besar menjadi cikal bakal institusi tersebut. Pada masa itu, para misionaris sering kali juga berfungsi sebagai penyedia layanan kesehatan dasar, terutama di daerah pedesaan yang kekurangan fasilitas medis. Dengan semangat pelayanan kasih Kristen, Jellesma diyakini turut memperkenalkan konsep perawatan bagi masyarakat Mojowarno.

Rumah Sakit Kristen Mojowarno yang ada saat ini adalah salah satu institusi kesehatan tertua di Jawa Timur. Rumah sakit ini tidak hanya melayani jemaat Kristen, tetapi juga masyarakat umum tanpa memandang latar belakang agama. Pelayanannya mencerminkan nilai-nilai Kristen seperti kasih dan kepedulian terhadap sesama, yang pertama kali diperkenalkan oleh Jellesma dan para penginjil lainnya. Rumah sakit ini juga menjadi simbol bagaimana misi Kristen di Mojowarno berkembang dari sekadar pengajaran agama menjadi pelayanan yang lebih luas bagi komunitas.

Dampak Pengajaran Injil di Mojowarno

Pengajaran Injil yang dibawa Jellesma memiliki dampak besar terhadap masyarakat Mojowarno. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah pertumbuhan jumlah jemaat Kristen. Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Banyak orang Jawa yang memeluk Kristen pada masa itu masih mempertahankan kebiasaan lama seperti penggunaan opium, mabuk-mabukan, dan perjudian. Hal ini menimbulkan kekecewaan di kalangan beberapa penginjil Belanda, seperti Pdt. Harthoorn, yang bahkan menyebut misi zending di Jawa sebagai kegagalan.

Meski demikian, penginjil lain seperti Pdt. Kruyt menunjukkan pendekatan yang lebih sabar dan pragmatis. Ketika tiba di Mojowarno pada tahun 1864, Kruyt bahkan diangkat sebagai kepala desa oleh penduduk setempat. Ia membuat peraturan desa berdasarkan nilai-nilai Kristen, seperti larangan bekerja di sawah pada hari Minggu dan kewajiban mengikuti kebaktian. Upaya ini bertujuan untuk membentuk komunitas Kristen yang lebih disiplin dan bermoral tinggi.

Selain itu, pendidikan yang dikenalkan oleh Jellesma membawa perubahan sosial yang signifikan. Anak-anak Mojowarno yang sebelumnya tidak memiliki akses ke pendidikan formal kini dapat belajar membaca dan menulis. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka terhadap ajaran Kristen, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pengetahuan dan keterampilan baru. Dampak pendidikan ini terus terasa hingga generasi berikutnya, menjadikan Mojowarno sebagai salah satu pusat Kekristenan yang maju di Jawa Timur.

Peninggalan GKJW Tertua di Jawa Timur

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno adalah salah satu peninggalan tertua dan paling bersejarah dari masa awal penyebaran Kekristenan di Jawa Timur. Gereja ini diresmikan pada 8 Maret 1881 dan menjadi pusat kegiatan rohani bagi jemaat setempat. Bangunan gereja bergaya neo-gotik ini mencerminkan pengaruh arsitektur Eropa, namun di dalamnya terdapat sentuhan budaya Jawa yang kuat. Salah satu contohnya adalah tulisan aksara Jawa di bagian fronton gereja yang berbunyi, “Duh Gusti ingkang kawula sinten malih? Paduka kagungan Pangandikanipun gesang tanggeng” dan “Margane slamer rahe pamenthangan,” yang menggambarkan kepasrahan jemaat kepada Tuhan.

Gereja Mojowarno juga memainkan peran penting dalam pembentukan GKJW. Pada 11 Desember 1931, Majelis Agung GKJW didirikan di gedung gereja ini, menyatukan 29 majelis jemaat di Jawa Timur. Pemerintah kolonial Hindia Belanda secara resmi mengakui gereja ini sebagai Oost Javaansche Kerk, yang kemudian dikenal sebagai GKJW. Gereja ini menjadi simbol kemandirian jemaat Kristen Jawa dan warisan dari perjuangan Jellesma serta para penginjil lainnya.

Tradisi Unduh-Unduh Jemaat GKJW Mojowarno

Tradisi unduh-unduh adalah salah satu warisan budaya yang unik dari jemaat GKJW Mojowarno. Tradisi ini merupakan perayaan panen tahunan yang diadakan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah. Kata “unduh” dalam bahasa Jawa berarti “memanen,” dan tradisi ini mencerminkan keterkaitan erat antara ajaran Kristen dan kehidupan agraris masyarakat Jawa.

Dalam perayaan unduh-unduh, jemaat dari berbagai dusun di Mojowarno mengarak hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan hewan ternak yang dihias secara kreatif menuju halaman gereja. Arak-arakan ini biasanya dimulai dari arah utara dan diikuti oleh ribuan peserta, termasuk warga Muslim yang turut membantu, menunjukkan harmoni antarumat beragama di Mojowarno. Setelah diarak, hasil bumi dilelang, dan dana yang terkumpul digunakan untuk mendukung kegiatan gereja serta kesejahteraan jemaat.

Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1930 dan menjadi wujud nyata bagaimana jemaat GKJW Mojowarno mengintegrasikan iman Kristen dengan budaya lokal. Unduh-unduh tidak hanya memperkuat rasa syukur, tetapi juga memupuk solidaritas dan kebersamaan di antara anggota jemaat.

Kesimpulan

Jelle Eeltje Jellesma adalah pelopor yang meletakkan fondasi kuat bagi penyebaran agama Kristen di Mojowarno. Meskipun masa tugasnya singkat, ia berhasil memperkenalkan pendidikan, pelayanan sosial, dan nilai-nilai Kristen yang terus berkembang hingga kini. Warisannya terlihat dalam Rumah Sakit Kristen Mojowarno, gereja GKJW tertua di Jawa Timur, dan tradisi unduh-unduh yang unik. Melalui kerja kerasnya dan para penginjil yang melanjutkan misinya, Kekristenan di Mojowarno tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan sosial masyarakat setempat.

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar