Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, wilayah administratif Kabupaten Jombang pada masa Kerajaan Majapahit (1293–1527 M) telah menjadi bagian integral dari kekuasaan kerajaan terbesar di Nusantara. Meskipun pusat pemerintahan Majapahit berada di Trowulan (sekarang Mojokerto), wilayah Jombang berperan strategis sebagai gerbang barat kerajaan. Gapura barat terletak di Desa Tunggorono (Kecamatan Jombang), sementara gapura selatan di Desa Ngrimbi (Kecamatan Bareng). Tanah subur di lembah Brantas, posisi persimpangan jalur perdagangan utara-selatan (Surabaya–Madiun–Solo–Yogyakarta), serta jalur Surabaya–Tulungagung dan Malang–Tuban menjadikan Jombang sebagai benteng pertahanan dan pusat ekonomi pendukung.
Namun, keunikan sejarah wilayah ini terletak pada kemunculan nama “Jombang” itu sendiri. Berbeda dengan masa Mataram Kuno yang memiliki prasasti-prasasti seperti Turyyan dan Anjukladang, pada era Majapahit tidak ditemukan bukti epigrafi atau arkeologis yang secara langsung menyebut nama Jombang. Tidak ada prasasti batu, candi utama, atau catatan resmi kerajaan yang menyebut “Jombang” sebagai kadipaten atau desa. Inilah kelemahan utama: sejarah administratif Jombang pada masa Majapahit hanya bersandar pada tradisi lisan, legenda rakyat, dan babad lokal. Tidak ada dokumen tertulis bernilai sejarah tinggi yang bisa dijadikan acuan ilmiah mutlak.
Sebaliknya, kelebihan yang luar biasa adalah betapa legenda-legenda tersebut melekat kuat di hati rakyat Jombang. Banyak warga yang masih meyakini kebenarannya sebagai babad (sejarah lisan), bukan sekadar dongeng. Legenda ini dituturkan turun-temurun, diabadikan dalam ludruk, besutan, jaran kepang, serta makam-makam yang dijaga keturunan. Mereka menjadi sumber identitas, nilai moral, dan semangat perjuangan. Di sinilah letak kekayaan budaya Jombang: meski tanpa prasasti, nama Jombang lahir dari semangat konsistensi memperjuangkan keyakinan nilai janji, keutamaan melaksanakan kewajiban guru dan negara, perjuangan berlandaskan pengabdian pada kebenaran, serta semangat penyatuan kembali kerajaan besar yang kelak melahirkan karya adiluhung bernama Budaya Panji.

Legenda Kebo Kicak Karang Kejambon: Asal Usul Nama Jombang dan Nilai Janji serta Kewajiban Guru-Negara
Legenda paling ikonik yang menjelaskan kemunculan nama Jombang adalah Babad Kebo Kicak Karang Kejambon. Konon, pada masa akhir kejayaan Majapahit di bawah Prabu Brawijaya V (Bre Kertabumi), di sebuah dusun subur bernama Karang Kejambon (sekarang Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang) hidup seorang pemuda bernama Joko Tulus. Ia putra Patih Panggulang Jagad (atau Patih Pranggulang Jagat), seorang pejabat tinggi Majapahit. Karena durhaka terhadap orang tuanya, Joko Tulus dikutuk menjadi “Kebo Kicak”, kepalanya berubah menjadi kepala kerbau (kebo), sementara “kicak” merujuk pada keadaan pincang atau patah karena dosa.
Kebo Kicak kemudian sadar akan kesalahannya. Ia berkelana, berguru kepada Kyai Sumoyono (atau Ki Ageng Pranggang dalam versi lain) di padepokan. Bertahun-tahun ia menuntut ilmu agama dan kesaktian, menebus dosa, hingga menjadi sosok soleh dan sakti mandraguna. Sementara itu, wilayah Karang Kejambon diganggu oleh perampok sakti bernama Surontanu. Surontanu menyebabkan huru-hara, merampok, dan membunuh, termasuk membunuh ayah Kebo Kicak.
Kebo Kicak berpamitan kepada gurunya untuk menolong orang tua dan masyarakat. Ia mengejar Surontanu. Pertarungan dahsyat berlangsung berhari-hari di rawa-rawa. Dari pertarungan itu muncul cahaya hijau (ijo) dari kesaktian Kebo Kicak dan cahaya merah (abang) dari Surontanu. Cahaya keduanya bercampur, melambangkan perpaduan. Akhirnya, Kebo Kicak menenggelamkan diri bersama Surontanu ke dalam Rawa Tebu agar konflik berakhir. Sejak itu, daerah tersebut dinamai Jombang, akronim dari “ijo” dan “abang”.
Versi lain menyebut Kebo Kicak mencari ayahnya ke pusat Majapahit, mengangkat batu hitam di Sungai Brantas, mengalahkan Bajul Ijo, lalu diberi wewenang menguasai wilayah barat. Namun, ia bertarung dengan saudara seperguruan Surontanu untuk merebut pusaka. Pertarungan yang sama menghasilkan cahaya ijo-abang.
Legenda ini menjelaskan asal-usul puluhan nama desa di Jombang, seperti Pondok Pesantren Tebu Ireng, Megaluh, Mojongapit, Tampingmojo, Parimono, Mojosongo, Jambu, Ringincontong, Sumber Peking, Bantengan, Ngrawan, Petengan, Glugu, Dukuh Klopo, dan Tengaran. Makam Kebo Kicak di Dapurkejambon dan makam Surontanu di Tanjung Gunung masih dijaga hingga kini.
Nilai luhur yang diambil: Konsistensi memperjuangkan keyakinan akan nilai janji (Surontanu sebagai simbol konsistensi atau konsekuensi dari janji yang dilanggar, sekaligus pengingat bahwa janji harus ditepati meski dengan pengorbanan). Serta keutamaan melaksanakan kewajiban guru dan negara (Kebo Kicak menaati guru, menebus dosa kepada ayah, dan mengabdi untuk keamanan wilayah Majapahit). Ini mencerminkan semangat pengabdian total, penebusan dosa melalui perjuangan, dan harmoni santri-abangan yang hingga kini menjadi ciri Jombang.

Legenda Damarwulan: Perjuangan Berlandaskan Pengabdian pada Kebenaran
Legenda kedua yang melekat di wilayah Jombang adalah Damarwulan (atau Dhamarwulan). Tokoh ini populer dalam cerita rakyat Jawa sebagai kesatria Majapahit yang naik tahta setelah mengalahkan pemberontak Minak Jinggo dari Blambangan. Di Jombang, Damarwulan memiliki jejak konkret: petilasan di tengah sawah Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh. Situs ini berupa bangunan kuno dengan tiga punden, dua kolam, dan pohon besar. Menurut cerita lokal, Damarwulan lahir dan besar di Desa Mojogulung (sekarang Karangmojo, Kecamatan Plandaan).
Cerita lengkap: Damarwulan anak Patih Maudara dan Palupi. Ia dibesarkan sederhana jauh dari istana. Masuk istana sebagai penjaga kuda di bawah Patih Logender. Ketika Ratu Kencana Wungu mengumumkan sayembara – siapa mengalahkan Minak Jinggo dan membawa kepalanya akan dinikahi – Damarwulan berangkat. Ia mengalahkan pengawal, tapi sempat kalah oleh Gada Wesi Kuning. Dibantu selir Minak Jinggo (Dewi Wahita dan Puyengan), ia mencuri gada, membunuh Minak Jinggo, lalu kembali ke Majapahit. Sepupu-sepupunya Layang Seta dan Layang Kumitir merebut kepala itu, tapi Damarwulan membuktikan kebenaran melalui pertarungan.
Akhirnya, ia menjadi suami ratu dan raja Majapahit. Petilasan di Megaluh menjadi bukti lokal bahwa Jombang adalah tanah asal tokoh heroik ini.
Nilai yang diambil: Perjuangan dengan landasan pengabdian pada kebenaran. Damarwulan bukan sekadar kesatria sakti, melainkan simbol ketekunan, keadilan melawan kecurangan, dan pengabdian pada negara. Ini selaras dengan semangat Majapahit sebagai superpower yang menyatukan Nusantara melalui kebenaran dan diplomasi.
Legenda Mbok Rondo Ayu Kaligunting: Persatuan Dua Kerajaan dan Asal Nama Mojotrisno
Legenda ketiga adalah Mbok Rondo Ayu Kaligunting di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung. Mbok Rondo Ayu adalah pengasuh putri Raja Majapahit. Ia tinggal di perbatasan istana. Suatu hari, seorang putra Raja Pajajaran (dari Jawa Barat) datang mencari informasi tentang Majapahit dan menginap di rumahnya.
Putra Pajajaran bertemu putri Majapahit di rumah Mbok Rondo Ayu. Mereka jatuh cinta di bawah pohon mojo. Nama desa Mojotrisno berasal dari “Mojo” (pohon) + “Trisno” (cinta). Untuk mempersunting putri, rambut gondrong sang putra harus dipotong. Rambut sakti itu hanya bisa dipotong oleh gunting milik Mbok Rondo Ayu – senjata pamungkasnya. Setelah rambut dipotong, hujan petir deras terjadi berhari-hari, membentuk sungai berbentuk gunting: Kali Gunting.
Hujan dianggap tanda restu Tuhan atas pernikahan lintas kerajaan. Legenda ini melambangkan persatuan dua kerajaan besar melalui cinta dan pengorbanan.
Nilai: Persatuan, kesabaran menghadapi rintangan, dan tanda alam sebagai pengesahan jodoh – semangat yang selaras dengan penyatuan wilayah di bawah Majapahit.

Dari Legenda-Legenda Lokal Menuju Budaya Panji: Kristalisasi Nilai Adiluhung Majapahit
Legenda Kebo Kicak, Damarwulan, dan Mbok Rondo Ayu bukan berdiri sendiri. Mereka bagian dari semangat besar Kerajaan Majapahit Raya yang menyatukan kembali wilayah Jenggala dan Panjalu, warisan pembagian Kerajaan Erlangga abad ke-11. Majapahit di bawah Raden Wijaya dan keturunannya menjadi superpower yang menguasai Nusantara. Dari semangat penyatuan ini lahir karya seni budaya adiluhung bernama Budaya Panji.
Cerita Panji (Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji) lahir di era Majapahit. Kisah cinta, pengembaraan, kepahlawanan, dan diplomasi ini menyebar ke seluruh Jawa Timur, termasuk Jombang. Wayang Topeng Jombang adalah salah satu manifestasi tertinggi Budaya Panji. Nilai-nilai yang terkristal: kepahlawanan, penghargaan kemanusiaan, etika pergaulan, diplomasi, kesetiaan, dan pengabdian. Nilai-nilai ini mirip dengan yang terkandung dalam legenda lokal Jombang: pengabdian pada kebenaran (Damarwulan), kewajiban guru-negara (Kebo Kicak), dan persatuan (Mbok Rondo Ayu).
Saat ini, Budaya Panji semakin gencar digali dan diekspos. Festival Panji Nusantara (2019 di lima kota Jawa Timur dengan tema “Transformasi Budaya Panji”), ASEAN Panji Festival 2023 (di Kediri dengan kolaborasi 9 negara ASEAN), serta berbagai seminar dan pekan cipta karya “Panji Milenial” menjadikannya Agenda Nasional Berkelanjutan. Pemerintah pusat dan daerah Jawa Timur mempromosikan Panji sebagai warisan bersama ASEAN (dikenal sebagai Inao di Thailand, dll.). Nilai-nilai Panji dijadikan inspirasi pendidikan karakter, diplomasi budaya, dan pariwisata. Jombang turut serta melalui Wayang Topeng dan situs petilasan yang terkait.
Relevansi Hari Ini: Dari Legenda ke Identitas Modern
Kelemahan tanpa bukti prasasti bukanlah akhir. Justru kekuatan legenda yang hidup membuat Jombang memiliki identitas yang autentik dan emosional. Masyarakat meyakini makam Kebo Kicak, petilasan Damarwulan, dan Kali Gunting sebagai bukti nyata. Nilai-nilai seperti konsistensi janji, pengabdian guru-negara, perjuangan kebenaran, dan persatuan menjadi pondasi karakter masyarakat Jombang yang dikenal religius, toleran, dan produktif.
Administratif Jombang hari ini – dengan 21 kecamatan dan ratusan desa yang nama-namanya lahir dari legenda – terus merawat warisan ini melalui festival budaya, pendidikan sejarah di sekolah, dan pengembangan wisata petilasan. Logo Kabupaten Jombang sendiri mengambil warna ijo-abang dari legenda Kebo Kicak, ditambah gerbang Majapahit.
Kesimpulan: Semangat Panji untuk Masa Depan Jombang
Sejarah wilayah administratif Jombang pada masa Majapahit bukan cerita batu prasasti, melainkan cerita jiwa rakyat. Nama Jombang lahir dari cahaya ijo-abang pertarungan Kebo Kicak, dari perjuangan Damarwulan di Megaluh, dan dari cinta di bawah pohon mojo di Mojotrisno. Kelemahan bukti tertulis diimbangi kelebihan kepercayaan masyarakat yang kuat.
Semangat yang diambil adalah konsistensi memperjuangkan nilai janji (Surontanu), keutamaan kewajiban guru dan negara (Kebo Kicak), pengabdian pada kebenaran (Damarwulan), serta penyatuan kerajaan besar yang melahirkan Budaya Panji. Kini, saat Budaya Panji menjadi agenda nasional dan ASEAN, Jombang memiliki kesempatan emas untuk mengangkat legenda-legenda lokal ini sebagai bagian dari warisan adiluhung Nusantara.
Dari Karang Kejambon yang dulu menjadi Jombang, semangat Majapahit terus mengalir: membangun harmoni, pengabdian, dan persatuan untuk Indonesia yang lebih maju. Legenda bukan masa lalu; ia adalah napas identitas yang membuat Jombang tetap berdiri teguh sebagai “Kota Santri” dengan akar Majapahit yang hidup.


