Cakee Sumenep, Kuliner Khas Pulau Madura sebagai Warisan Budaya tak Benda

Di tengah hiruk-pikuk hajatan pernikahan di Kabupaten Sumenep, Madura, satu hidangan selalu menjadi pembuka yang paling ditunggu: Cakee (atau Cake). Bukan kue manis yang dibayangkan orang kota, melainkan sup kental berkuah merah dengan isian daging, lidah sapi, udang, dan sayuran yang gurih mewah. Cakee bukan sekadar makanan, tapi simbol kemakmuran dan kebersamaan dalam tradisi Sumenep. Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia sejak 2020, kuliner ini kini menjadi kebanggaan Madura yang terus berevolusi.

Asal Usul Cakee Sumenep

Sejarah Cakee Sumenep yang tercatat dimulai pada 1972, ketika Ibu Amaningsih, istri Bapak Imam, pegawai Kantor Bimas Kabupaten Sumenep, berusia 25 tahun. Ia memperoleh resep ini melalui kursus memasak yang diselenggarakan Ikatan Dharma Wanita (IDHATA) Sumenep. Guru yang mengajarinya adalah Ibu Sadiq dari Sekolah Kepandaian Putri (SKP). Resep itu langsung menjadi andalan Ibu Amaningsih. Karena suaminya sering bertugas ke berbagai desa, ia membagikan ilmunya kepada ibu-ibu setempat. Kepiawaiannya memasak Cakee pun menyebar luas. Banyak yang meminta jasanya untuk hajatan, meski ia hanya menerima hadiah berupa kain atau beras, bukan uang, demi menjaga martabat.

Namun, akar budayanya lebih dalam. Cakee lahir dari akulturasi di Keraton Sumenep era kolonial. Pengaruh Eropa (khususnya Belanda) terlihat dari kuah sup merah yang menggunakan salted butter atau rombutter, mirip sup merah Eropa. Sementara sentuhan Tionghoa hadir dalam gaya capcay dengan sayuran dan protein yang dimasak cepat. Di tangan masyarakat Sumenep, keduanya dilokalisasi: kuah dibuat kental, lidah sapi asin menjadi ikon, dan disajikan sebagai pembuka dalam urutan makan hajatan khas Sumenep, minum, jajanan, cakee, nasi goreng, dan es. Awalnya, Cakee hanya disajikan di kalangan bangsawan dan acara penting, mencerminkan status sosial.

Perkembangan Cakee Sumenep

Dari hidangan elit, Cakee berkembang pesat menjadi kuliner rakyat. Pada era 1970-an hingga 1990-an, ia masih langka dan hanya muncul di pernikahan besar. Namun, seiring mobilitas masyarakat dan penyebaran resep, Cakee masuk ke rumah-rumah biasa. Generasi penerus Ibu Amaningsih, para ibu rumah tangga dan juru masak hajatan, menjadikannya menu wajib. Di Sumenep, Cakee kini tak hanya untuk pesta, tapi juga dijual di warung makan, restoran, dan bahkan jadi oleh-oleh wisatawan.

Pengakuan sebagai WBTB pada 2020 semakin mendorong perkembangannya. Pemerintah daerah mempromosikannya dalam festival kuliner dan pelatihan. Media sosial pun berperan besar: video resep Cakee di YouTube dan TikTok ditonton jutaan kali, membuat generasi muda tertarik memasaknya sendiri. Kini, Cakee hadir di acara Lebaran, Maulid, dan bahkan gathering kantor. Kehadirannya yang konsisten memperkuat identitas kuliner Madura di tengah persaingan makanan cepat saji.

Ragam Inovasi Pembuatan Cakee

Inovasi adalah kunci kelestarian Cakee. Resep tradisional tetap dijaga: kuah dari salted butter, bawang putih-merah, saus tomat, dan tepung maizena; isian lidah sapi, ayam, ampela, kembang kol, wortel, kubis; ditambah bakwan udang dan kerupuk udang homemade; pelengkap kentang goreng dan cabai rawit. Semua direbus hingga kuah kental gurih.

Namun, pembuat modern berani bereksperimen. Versi “low budget” mengganti lidah sapi asin dengan daging sapi segar atau ayam kampung, tetap enak karena rombutter yang dominan. Ada yang menambahkan brokoli, kacang polong, atau sosis halal untuk variasi rasa. Inovasi paling menarik adalah “Cake Dimsum” perpaduan cake dengan isian dimsum seperti siomay udang di atasnya, cocok untuk anak muda. Di beberapa rumah makan, Cakee disajikan dengan nasi putih atau lontong, mirip masak pae versi ringan.

Teknik pembuatan juga berevolusi. Dulu semuanya manual dengan tungku kayu; kini blender dan mixer mempercepat pembuatan bakwan udang. Beberapa pelaku usaha kecil menjual bumbu instan Cakee Sumenep agar mudah dibuat di rumah. Bahkan, ada workshop Cakee untuk wisatawan, di mana peserta belajar variasi vegan menggunakan jamur dan tahu sebagai pengganti protein hewani. Inovasi ini tak mengubah esensi gurih-kentalnya, melainkan membuatnya lebih inklusif dan adaptif terhadap tren kesehatan serta ekonomi.

Cakee Sumenep bukan hanya makanan, tapi cerita akulturasi yang hidup. Dari resep kursus 1972 yang dibawa Ibu Amaningsih hingga inovasi kekinian, ia terus berkembang tanpa kehilangan jiwa Madura. Di tengah globalisasi, pelestarian Cakee melalui dokumentasi, pelatihan, dan kreasi baru menjadi tanggung jawab bersama. Setiap suapan Cakee adalah penghormatan pada leluhur kuliner yang mengajarkan: kelezatan lahir dari kesederhanaan yang dimuliakan.

Cakee sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Cakee (atau sering disebut Cake) merupakan salah satu kuliner ikonik Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Hidangan pembuka berupa sup kental berkuah merah dengan isian daging ayam kampung, lidah sapi asin, bakwan udang, sayuran segar seperti wortel, kol, brokoli, kentang goreng, serta pelengkap kerupuk udang homemade ini bukan sekadar makanan lezat, melainkan warisan budaya tak benda (WBTB) yang diakui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sejak 2020 (beberapa sumber menyebut 2021). Terdaftar dengan nomor objek AA001381 di situs resmi warisan budaya Kemendikbud, Cakee mencerminkan kekayaan akulturasi budaya Sumenep sekaligus potensi sebagai sumber daya genetik yang berkelanjutan.

Cakee diakui sebagai WBTB karena sifatnya yang hidup, diturunkan secara lisan dan praktik dari generasi ke generasi, serta melekat kuat pada identitas masyarakat Sumenep. Hidangan ini wajib hadir sebagai pembuka dalam urutan makan hajatan pernikahan khas Sumenep: minum, jajanan, cakee, nasi goreng, dan es. Maknanya mendalam melambangkan kemakmuran, kebersamaan, dan harapan bahagia bagi pasangan pengantin baru. Kuah kental dari salted butter (rombatter) yang gurih, dipadukan dengan lidah sapi kenyal dan bakwan udang renyah, menciptakan rasa unik yang sulit ditiru.

Sejarahnya dimulai tahun 1972, ketika Ibu Amaningsih (istri pegawai Bimas Sumenep) memperoleh resep dari kursus memasak Ikatan Dharma Wanita (IDHATA) yang diajarkan Ibu Sadiq dari Sekolah Kepandaian Putri. Ia menyebarkannya ke ibu-ibu desa, sehingga Cakee menyebar luas meski awalnya hanya untuk kalangan elit keraton. Akar budayanya lebih tua: pengaruh Eropa (Belanda) pada kuah sup merah, Tionghoa pada gaya capcay cepat saji, dan lokal Madura pada penggunaan bahan segar pesisir. Cakee menjadi simbol harmoni budaya di tengah sejarah kerajaan Sumenep yang kaya akulturasi.

Sebagai WBTB, Cakee dilindungi melalui promosi pariwisata, pelatihan juru masak hajatan, dan integrasi ke festival kuliner. Pemerintah daerah Sumenep memasukkannya ke dalam agenda wisata budaya, sementara generasi muda mendokumentasikannya via media sosial. Ini memastikan tradisi tidak punah di tengah gempuran makanan instan.

Cakee sebagai Sumber Daya Genetik

Meski Cakee lebih dikenal sebagai ekspresi budaya kuliner, ia juga mewakili sumber daya genetik (plasma nutfah) yang berharga. Bahan utamanya ayam kampung, lidah sapi dari sapi lokal Madura, udang segar dari pesisir Sumenep, serta sayuran seperti wortel, kol, brokoli, dan kentang berasal dari keanekaragaman hayati lokal yang unik.

Ayam kampung Madura memiliki genetik adaptif terhadap iklim tropis kering, memberikan daging lebih gurih dan tekstur kenyal yang khas. Sapi Madura (termasuk sapi kerapan) menghasilkan lidah asin berkualitas tinggi setelah proses pengasinan tradisional, yang bergantung pada pengetahuan leluhur tentang pengawetan alami. Udang dari perairan sekitar Sumenep kaya nutrisi omega-3, sementara sayuran organik dari lahan pesisir menambah nilai gizi dan rasa segar tanpa pestisida berlebih.

Pengetahuan tradisional dalam memilih dan mengolah bahan ini merupakan bentuk sumber daya genetik tak langsung: varietas lokal yang lestari karena praktik budaya. Misalnya, penggunaan ayam kampung bukan hanya soal rasa, tapi juga pelestarian breed asli yang tahan penyakit dan efisien pakan. Begitu pula dengan kerupuk udang homemade yang menggunakan udang segar, mendukung keberlanjutan perikanan kecil pesisir.

Dalam konteks biodiversitas, Cakee menjadi medium transmisi pengetahuan tentang sumber daya genetik. Resep yang diturunkan menjaga keanekaragaman bahan lokal, mencegah homogenisasi kuliner akibat impor. Di era perubahan iklim, bahan-bahan ini berpotensi sebagai sumber gen untuk pengembangan varietas tahan cuaca ekstrem, sejalan dengan upaya nasional pelestarian plasma nutfah.

Tantangan dan Pelestarian

Meski berstatus WBTB, Cakee menghadapi tantangan: penurunan minat generasi muda terhadap profesi juru masak hajatan, persaingan dengan makanan cepat saji, dan ancaman terhadap sumber bahan lokal akibat urbanisasi. Namun, inovasi seperti workshop pembuatan Cakee untuk wisatawan, variasi vegan, dan penjualan bumbu instan membantu menjaga kelestariannya.

Cakee Sumenep bukan hanya hidangan gurih, melainkan jembatan antara warisan budaya tak benda dan kekayaan sumber daya genetik. Ia mengajarkan bahwa kuliner tradisional bisa menjadi aset berkelanjutan: melestarikan identitas sekaligus biodiversitas. Dengan dukungan pemerintah, komunitas, dan generasi muda, Cakee akan terus menjadi kebanggaan Madura yang hidup dan bernilai.

Tinggalkan komentar