Kesenian Musik Tong Tong Sumenep yang Meriah dan Mewah

Musik Tong Tong Sumenep, atau yang dikenal juga sebagai musik Ul-Daul, merupakan salah satu warisan budaya tak benda khas Madura yang paling ikonik. Suara dentang khasnya yang ritmis dan dinamis sering terdengar di malam hari, membangunkan semangat kebersamaan masyarakat. Berasal dari Kabupaten Sumenep di ujung timur Pulau Madura, musik ini bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan karakter masyarakat Madura yang tegar, adaptif, dan penuh harmoni. Artikel ini akan mengupas asal usulnya, perkembangan inovasi yang terus berlanjut, serta persebarannya hingga kini, yang menjadikannya simbol identitas budaya yang hidup.

Asal Usul Musik Tong Tong

Akar musik Tong Tong dapat ditelusuri hingga berabad-abad lalu di Sumenep, tepatnya di daerah Pasongsongan. Menurut catatan sejarah dan tradisi lisan masyarakat Madura, tong-tong awalnya bukanlah bentuk musik yang rumit, melainkan alat komunikasi sederhana berupa kentongan bambu atau kayu yang disebut “tong”. Nama ini berasal dari bunyi “tong… tong…” yang dihasilkan saat dipukul dengan kayu kecil. Alat ini digunakan untuk berbagai fungsi praktis: menandai bahaya seperti gerhana bulan (bulân gherring) untuk menolak bala, patroli ronda malam (kaleleng), hingga membangunkan warga untuk sahur di bulan Ramadhan.

Pada masa Hindu, tong-tong sudah dikenal sebagai penanda waktu dan sinyal desa. Seiring masuknya pengaruh Islam, fungsinya semakin kuat sebagai bagian dari tradisi patrol atau arak-arakan. Di Batuputih dan Ambuten, Sumenep, kentongan bambu bercelah ini menjadi cikal bakal seni yang lebih kompleks. Awalnya hanya terdiri dari tiga nada dasar tinggi, sedang, dan rendah dari bambu betung dengan lubang kecil. Masyarakat Madura, dengan tanah gersang dan kehidupan yang keras, menjadikan ritme ini sebagai representasi denyut nadi budaya mereka: tegas, bersahaja, tapi penuh makna kebersamaan.

Perkembangan dan Inovasi yang Kreatif

Perkembangan musik Tong Tong mencerminkan jiwa inovatif masyarakat Sumenep. Dari alat sederhana, tong-tong berevolusi menjadi orkes rakyat yang kaya. Kolaborasi dengan alat musik lain menjadi kunci: kendang, gong, kennong (gong kecil), terompet, kalenang (mirip gamelan), tram-tam (rebana), bas sok dari tong minyak berlapis karung, hingga saronen (seruling kayu). Nada yang dulu terbatas kini divariasi lebih banyak, dengan dominasi tong drum plastik besar yang menghasilkan suara bertalu-talu.

Inovasi visual pun tak kalah mencengangkan. Kereta dorong dari bangkai mobil dirangkai menjadi panggung bergerak, dihias ornamen ukiran khas Madura, busa berbentuk binatang legenda seperti kuda terbang atau naga, serta lampu warna-warni yang gemerlap di malam hari. Grup-grup seperti Tong-tong Angin Ribut bahkan mengadopsi konsep pewayangan Bali, menciptakan pertunjukan yang memadukan musik, tarian, dan cerita rakyat. Pada 2013, Pemerintah Kabupaten Sumenep resmi menjadikannya ikon budaya melalui Festival Musik Tong-Tong tahunan, yang kini masuk Kalender Event Nasional (KEN) 2025-2026.

Transformasi ini bukan hanya estetika, melainkan juga fungsional. Dari alat komunikasi, tong-tong menjadi media hiburan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian identitas. Penelitian akademis menyebut perubahan ini sebagai inovasi sosial, di mana masyarakat adaptif dengan modernisasi tanpa kehilangan akar. Kini, musik ini sering diiringi nyanyian qosidah atau lagu Madura seperti Olle Olaang, menjadikannya hiburan yang mendidik sekaligus menghibur.

Persebaran yang Meluas

Awalnya terbatas di Sumenep, musik Tong Tong kini menyebar luas ke seluruh Pulau Madura dan bahkan luar pulau. Di Pulau Garam ini, hampir setiap desa memiliki grup tong-tong yang aktif saat Ramadhan atau festival. Di Jawa Timur, khususnya Surabaya, ia berevolusi menjadi musik Daul, pengembangan dari tong-tong dan odrot yang sering tampil di perayaan kota.

Festival Musik Tong-Tong Sumenep menjadi magnet utama persebaran. Setiap tahun, ribuan warga dan peserta dari luar daerah memadati arak-arakan, memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Sumenep. Melalui media digital seperti YouTube dan Instagram, tong-tong menjangkau penonton nasional dan internasional. Bahkan, di kalangan diaspora Madura, musik ini menjadi pengingat akar budaya.

Pemerintah pusat dan daerah mendukungnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Bupati Sumenep Busyro Karim pernah menyatakan, “Berbanggalah memiliki budaya yang unik ini, karena menjadi jati diri masyarakat Madura.” Persebaran ini tak hanya geografis, tapi juga sosial-ekonomi: festival mendongkrak UMKM, pariwisata, dan pelibatan generasi muda.

Musik Tong Tong Sumenep adalah bukti bahwa tradisi bisa bertahan dan berkembang di era modern. Dari kentongan bambu sederhana di Pasongsongan hingga parade megah yang memukau ribuan orang, ia terus berdentang sebagai simbol kebersamaan dan kreativitas Madura. Dengan inovasi yang tak henti dan persebaran yang semakin luas, musik ini bukan hanya masa lalu, melainkan masa depan budaya Indonesia yang kaya. Mari kita lestarikan, agar dentang “tong… tong…” ini terus menggema di hati generasi mendatang.

Sumenep celebrates 748th anniversary with Tong Tong Music Parade - News -  The Jakarta Post

Musik Tong-Tong Sumenep merupakan salah satu kekayaan budaya tak benda Indonesia yang paling hidup dan dinamis. Berasal dari Kabupaten Sumenep, ujung timur Pulau Madura, kesenian ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui SK No. 372/M/2021 tahun 2021. Status ini menegaskan posisinya sebagai bagian integral dari identitas nasional, sekaligus cerminan karakter masyarakat Madura yang tegar, adaptif, dan penuh semangat kebersamaan. Dentang ritmis “tong… tong…” yang menjadi ciri khasnya bukan sekadar suara, melainkan denyut nadi tradisi yang terus berdetak hingga era modern.

Akar Sejarah dan Fungsi Awal sebagai Ekspresi Budaya

Sejarah Musik Tong-Tong dapat ditelusuri hingga berabad-abad lalu, terutama di wilayah Batuputih, Ambuten, dan Pasongsongan, Sumenep. Awalnya, alat ini berupa kentongan bambu bercelah (disebut juga kulkul, titir, atau gulgul) yang menghasilkan bunyi “tong” ketika dipukul. Pada masa Hindu-Buddha, kentongan besar digunakan sebagai penanda bahaya, khususnya saat gerhana bulan (bouvier atau bulân gherring) yang dianggap membawa kesialan, sehingga masyarakat memukulnya untuk menolak bala.

Setelah masuknya Islam, fungsi tong-tong berkembang menjadi bagian ritual keagamaan dan sosial. Ia menjadi alat pembangun sahur di bulan Ramadhan, penanda patroli ronda malam (kaleleng), serta pengiring arak-arakan patrol. Di daerah Pasongsongan, tong-tong pertama kali muncul sebagai media mengingatkan sahur, kemudian berevolusi menjadi orkes rakyat kelompok. Bunyi sederhana dari bambu atau kayu itu mencerminkan kehidupan masyarakat Madura yang keras namun harmonis: tanah gersang, angin kencang, dan solidaritas tinggi. Musik ini menjadi ekspresi budaya tradisi yang mewakili nilai-nilai gotong royong, kewaspadaan, dan kegembiraan kolektif.

Transformasi menjadi Seni Pertunjukan yang Kaya Makna

Seiring waktu, tong-tong bertransformasi dari alat komunikasi sederhana menjadi seni pertunjukan kompleks. Kini, satu grup tong-tong biasanya terdiri dari berbagai instrumen: tong drum plastik besar sebagai pemimpin ritme, kendang, gong, kennong, terompet Madura, kalenang, tram-tam (rebana), bas sok (dari tong minyak), hingga saronen. Irama yang energik dan bertalu-talu menciptakan semangat yang menggugah, sering diiringi nyanyian lagu Madura atau qasidah.

Ekspresi budaya ini semakin kaya dengan elemen visual. Kereta dorong dari rangka mobil dihias ukiran khas Madura, busa berbentuk naga, kuda terbang, atau tokoh pewayangan, serta lampu warna-warni yang menyala di malam hari. Inovasi ini menjadikan tong-tong bukan hanya musik, melainkan pertunjukan total yang memadukan irama, gerak, dan cerita rakyat. Maknanya melampaui hiburan: tong-tong merepresentasikan adaptasi masyarakat Madura terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan akar. Ia menjadi simbol ketangguhan, kreativitas, dan kebanggaan lokal di tengah modernisasi.

Status Warisan Budaya Tak Benda dan Upaya Pelestarian

Penetapan sebagai WBTB tahun 2021 menjadi tonggak penting. Pemerintah Kabupaten Sumenep menjadikannya ikon budaya daerah, dengan Festival Musik Tong-Tong yang digelar rutin sejak 2013 bertepatan Hari Jadi Kabupaten. Festival ini kini masuk Kalender Event Nasional (KEN) untuk tahun 2025 dan 2026, menarik ribuan penonton, termasuk dari luar Madura. Pada 2025, misalnya, 38 grup dari berbagai kabupaten Madura tampil, menciptakan parade ritme yang memukau dan mendongkrak ekonomi lokal melalui UMKM serta pariwisata.

Pelestarian dilakukan melalui pendidikan generasi muda, pelatihan grup di desa-desa, dan integrasi dalam acara keagamaan serta perayaan daerah. Bupati Sumenep sering menekankan agar musik ini tidak “dinodai” dan tetap menjaga nama baik Madura. Inovasi seperti kolaborasi dengan musik modern atau tampilan teatrikal justru memperkuat daya tariknya, menjadikannya warisan hidup yang relevan di era digital.

Makna Lebih Dalam sebagai Ekspresi Identitas

Musik Tong-Tong bukan sekadar kesenian; ia adalah ekspresi budaya tradisi yang mencerminkan jiwa Madura. Di balik dentangnya tersirat nilai solidaritas, kewaspadaan, kegembiraan, dan kemampuan beradaptasi. Sebagai warisan tak benda, tong-tong mengajarkan bahwa budaya bukan barang mati, melainkan sesuatu yang terus berkembang bersama masyarakatnya.

Di tengah arus globalisasi, dentang “tong… tong…” ini tetap menggema sebagai pengingat identitas. Melalui festival, dokumentasi, dan partisipasi generasi muda, musik ini terus hidup, membuktikan bahwa warisan budaya tak benda terkuat ketika ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mari kita jaga agar suara ini tak pernah padam, agar generasi mendatang tetap merasakan getar kebersamaan khas Madura.

Tinggalkan komentar