Kabupaten Jombang, yang terletak di Provinsi Jawa Timur, merupakan salah satu wilayah yang kaya akan sejarah dan budaya. Dikenal sebagai “Kota Santri” karena banyaknya pondok pesantren, Jombang memiliki identitas budaya yang unik, yang tercermin dalam bahasa daerahnya. Bahasa daerah di Jombang, khususnya bahasa Jawa, dipengaruhi oleh dua budaya utama: Mataraman dan Madura. Selain itu, budaya Islam yang kuat di wilayah ini juga turut membentuk karakter bahasa lokal.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam bagaimana pengaruh budaya Mataraman dan Madura, serta budaya Islam, membentuk bahasa daerah di Kabupaten Jombang. Melalui analisis ini, kita dapat memahami bagaimana interaksi budaya mempengaruhi perkembangan bahasa di suatu wilayah dan pentingnya melestarikan identitas linguistik yang unik ini.
Jombang memiliki posisi geografis yang strategis, berada di antara wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta berdekatan dengan Selat Madura. Kondisi ini memungkinkan terjadinya interaksi budaya yang intens antara berbagai kelompok etnis, termasuk Jawa Mataraman dan Madura. Bahasa, sebagai salah satu elemen budaya yang paling dinamis, menjadi cerminan dari interaksi tersebut. Dalam konteks ini, bahasa daerah di Jombang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda identitas budaya yang mencerminkan sejarah, nilai-nilai, dan dinamika sosial masyarakatnya.
Pengaruh Budaya Mataraman
Budaya Mataraman merujuk pada warisan Kesultanan Mataram, yang pada masa kejayaannya mencakup wilayah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, termasuk Jombang. Kesultanan Mataram, yang berdiri pada abad ke-16, memainkan peran penting dalam penyebaran budaya Jawa, termasuk bahasa, seni, dan tradisi.
Pengaruh Mataram di Jombang tercermin dalam penggunaan dialek Jawa Mataraman, yang dikenal dengan tingkat bahasa yang lebih halus dan formal. Dialek ini mencerminkan hierarki sosial dan kesopanan yang kuat, yang merupakan ciri khas budaya keraton Mataram.
Penggunaan Krama Inggil
Salah satu aspek utama dari pengaruh Mataraman adalah penggunaan krama inggil, yaitu tingkat bahasa Jawa yang paling halus, yang biasanya digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua atau memiliki status sosial yang lebih tinggi. Di Jombang, penggunaan krama inggil masih lazim, terutama dalam konteks formal seperti upacara adat, pertemuan resmi, atau dalam interaksi dengan tokoh agama. Krama inggil mencerminkan nilai-nilai kesopanan dan penghormatan yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Mataraman.
Contohnya, dalam dialek Mataraman, kata “makan” dalam bahasa Indonesia disebut “nedha” dalam krama inggil, sedangkan dalam dialek Jawa lainnya mungkin menggunakan “mangan” atau “dhahar”. Penggunaan kata-kata seperti ini menunjukkan bahwa bahasa di Jombang masih mempertahankan elemen-elemen tradisional dari budaya Mataram. Selain itu, intonasi dan cara berbicara dalam dialek Mataraman cenderung lebih lambat dan lembut, mencerminkan sikap santun dan hormat yang diajarkan dalam budaya keraton.
Struktur Kalimat dan Tata Bahasa
Pengaruh Mataraman juga terlihat dalam struktur kalimat dan tata bahasa yang digunakan. Misalnya, dalam dialek Mataraman, terdapat penggunaan sufiks dan prefiks yang lebih kompleks untuk menunjukkan rasa hormat atau formalitas. Hal ini berbeda dengan dialek Jawa di wilayah lain, seperti dialek Arek di Surabaya, yang cenderung lebih lugas dan kurang formal. Dengan demikian, budaya Mataraman memberikan sentuhan kesopanan dan hierarki yang kuat dalam bahasa daerah Jombang.
Misalnya, ketika seseorang ingin mengatakan “Saya ingin makan” dalam dialek Mataraman yang sopan, mereka mungkin mengatakan “Kula badhe nedha” dalam krama inggil, dibandingkan dengan “Aku arep mangan” dalam dialek Jawa ngoko yang lebih kasual. Penggunaan krama inggil ini tidak hanya mencerminkan kesopanan, tetapi juga menunjukkan pengaruh budaya Mataraman yang sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jombang, terutama dalam konteks formal.
Kosakata Khas Mataraman
Selain tingkat bahasa, kosakata dalam dialek Mataraman di Jombang juga mencerminkan pengaruh budaya keraton, dengan penggunaan kata-kata yang lebih klasik dan puitis dibandingkan dialek Jawa lainnya. Misalnya, kata “rumah” dalam bahasa Indonesia disebut “griya” dalam krama inggil Mataraman, sedangkan dalam dialek lain mungkin disebut “omah”. Penggunaan kosakata seperti ini menunjukkan bahwa bahasa daerah di Jombang masih mempertahankan elemen-elemen tradisional yang berasal dari budaya Mataram.
Pengaruh budaya Mataraman ini sangat terasa dalam konteks kehidupan masyarakat Jombang yang masih mempertahankan tradisi-tradisi keraton, seperti dalam upacara adat, seni pertunjukan, dan interaksi sosial. Dengan demikian, budaya Mataraman tidak hanya mempengaruhi bahasa, tetapi juga memperkaya identitas budaya Jombang secara keseluruhan.
Pengaruh Budaya Madura
Selain pengaruh Mataraman, budaya Madura juga memainkan peran penting dalam membentuk bahasa daerah di Jombang. Madura, yang merupakan pulau di sebelah timur Jawa, memiliki budaya dan bahasa yang khas. Kabupaten Jombang memiliki sejarah interaksi yang panjang dengan penduduk Madura, terutama melalui perdagangan dan migrasi. Akibatnya, terdapat komunitas Madura yang menetap di Jombang, khususnya di daerah seperti Manduro, yang membawa serta bahasa dan budaya mereka.
Aksen dan Kosakata Madura
Pengaruh Madura dalam bahasa daerah Jombang terlihat dalam aksen dan kosakata yang mirip dengan bahasa Madura. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari, masyarakat Jombang, terutama yang tinggal di daerah perbatasan, sering menggunakan kata-kata Madura seperti “engghi” (ya) dan “enten” (tidak). Selain itu, aksen khas Madura, yang cenderung lebih tegas dan berintonasi tinggi, juga dapat ditemukan dalam cara berbicara sebagian penduduk Jombang. Hal ini menunjukkan adanya akulturasi bahasa antara Jawa dan Madura di wilayah ini.
Studi tentang akulturasi bahasa di Manduro, Jombang, menunjukkan bahwa komunitas Madura di sana sering menggunakan code-switching, yaitu berganti-ganti antara bahasa Madura, Jawa, dan Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Fenomena ini disebabkan oleh interaksi sosial yang intens, seperti pernikahan antar-etnis dan perdagangan. Akibatnya, kosakata Madura mulai masuk ke dalam dialek Jawa lokal, menciptakan variasi bahasa yang unik di Jombang.
Kosakata Praktis dari Madura
Contoh lain dari pengaruh Madura adalah penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti perdagangan atau pertanian, yang diadopsi dari bahasa Madura. Misalnya, kata “sabhah” (sawah) dalam bahasa Madura sering digunakan oleh masyarakat Jombang yang memiliki latar belakang Madura. Pengaruh ini menunjukkan bahwa bahasa daerah di Jombang tidak hanya dipengaruhi oleh budaya Mataraman yang formal, tetapi juga oleh budaya Madura yang lebih praktis dan berorientasi pada kehidupan sehari-hari.
Interaksi Geografis dan Sosial
Interaksi geografis antara Jombang dan Madura, seperti perdagangan melalui jalur laut dan darat, serta migrasi penduduk Madura ke Jombang, telah memperkuat pengaruh budaya Madura dalam bahasa daerah. Komunitas Madura di Jombang, khususnya di daerah Manduro, sering kali mempertahankan tradisi dan bahasa mereka, yang kemudian berinteraksi dengan dialek Jawa lokal. Akibatnya, bahasa daerah di Jombang menjadi lebih dinamis, dengan elemen-elemen dari budaya Madura yang memperkaya kosakata dan aksen.
Pengaruh Budaya Islam
Selain pengaruh Mataraman dan Madura, budaya Islam juga memainkan peran penting dalam membentuk bahasa daerah di Jombang. Sebagai “Kota Santri”, Jombang memiliki banyak pondok pesantren yang menjadi pusat pendidikan Islam. Pondok pesantren seperti Tebuireng dan Denanyar tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mempengaruhi penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Penyerapan Istilah Keagamaan
Bahasa Arab, yang merupakan bahasa liturgi dalam Islam, banyak diserap ke dalam bahasa daerah Jombang, terutama dalam konteks keagamaan. Misalnya, istilah-istilah seperti “salat”, “zakat”, dan “haji” digunakan secara luas dalam percakapan sehari-hari. Selain itu, banyak ungkapan dan doa dalam bahasa Arab yang diucapkan dalam bahasa Jawa, menciptakan perpaduan yang unik antara bahasa Jawa dan Arab.
Pengaruh Pendidikan Pesantren
Pengaruh budaya Islam juga terlihat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang lebih formal dalam konteks pendidikan dan ceramah agama. Di pondok pesantren, santri diajarkan untuk berbicara dengan sopan dan menggunakan bahasa yang baik, yang kemudian mempengaruhi cara mereka berbicara dalam bahasa daerah. Hal ini memperkuat penggunaan tingkat bahasa yang halus, seperti krama inggil, yang sejalan dengan pengaruh budaya Mataraman.
Selain itu, budaya Islam di Jombang juga mempromosikan penggunaan bahasa yang mencerminkan nilai-nilai moral dan etika Islam. Misalnya, penggunaan kata-kata yang sopan dan menghindari kata-kata kasar sangat ditekankan dalam pendidikan pesantren. Dengan demikian, budaya Islam turut memperkaya dan membentuk karakter bahasa daerah di Jombang.
Perbandingan dan Analisis
Ketika membandingkan pengaruh budaya Mataraman dan Madura, kita dapat melihat bahwa keduanya memberikan kontribusi yang berbeda namun saling melengkapi dalam membentuk bahasa daerah di Jombang. Budaya Mataraman, dengan penekanannya pada kesopanan dan hierarki, memberikan dasar formalitas dalam bahasa, terutama dalam konteks resmi dan agama. Sementara itu, budaya Madura, yang lebih berorientasi pada kehidupan sehari-hari dan interaksi sosial, menambahkan elemen praktis dan dinamis ke dalam bahasa daerah.
Interaksi antara kedua budaya ini menciptakan dialek Jawa yang unik di Jombang, di mana penggunaan bahasa dapat bervariasi tergantung pada konteks dan latar belakang sosial pembicara. Misalnya, dalam situasi formal seperti upacara adat atau pertemuan dengan tokoh agama, masyarakat Jombang cenderung menggunakan dialek Mataraman yang halus. Namun, dalam percakapan sehari-hari, terutama di daerah yang memiliki komunitas Madura, aksen dan kosakata Madura lebih sering muncul.
Selain itu, pengaruh budaya Islam berperan sebagai jembatan yang menghubungkan kedua pengaruh tersebut. Dengan menekankan pentingnya kesopanan dan etika dalam berbicara, budaya Islam memperkuat penggunaan bahasa yang halus dari budaya Mataraman, sambil juga mengakomodasi elemen-elemen dari budaya Madura dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Bahasa daerah di Kabupaten Jombang merupakan hasil dari perpaduan yang harmonis antara pengaruh budaya Mataraman, Madura, dan Islam. Budaya Mataraman memberikan sentuhan kesopanan dan formalitas, yang tercermin dalam penggunaan tingkat bahasa yang halus dan kosakata klasik. Sementara itu, budaya Madura menambahkan elemen aksen dan kosakata yang praktis, mencerminkan interaksi sosial dan perdagangan yang intens. Budaya Islam, dengan penekanannya pada etika dan moral, turut memperkaya bahasa daerah dengan istilah-istilah keagamaan dan memperkuat penggunaan bahasa yang sopan.
Melalui analisis ini, kita dapat memahami bahwa bahasa daerah di Jombang bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan dari sejarah dan budaya yang kaya. Pengaruh budaya Mataraman dan Madura, serta budaya Islam, telah membentuk identitas linguistik yang unik di Jombang, yang patut dilestarikan dan dipelajari lebih lanjut. Dengan melestarikan bahasa daerah ini, kita juga melestarikan warisan budaya yang menjadi bagian integral dari identitas masyarakat Jombang.
Referensi:
-
Jombang Regency – Wikipedia
-
Mataram Sultanate – Wikipedia
-
Madurese people – Wikipedia
-
Language Acculturation: A Case Study of Madurese Community in Manduro, Jombang, East Java
-
Jombang – Travel guide at Wikivoyage


