Dampak Penghapusan Program Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia

Pendidikan merupakan pilar utama dalam pembangunan sebuah bangsa. Di Indonesia, pemerintah telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk meningkatkan mutu pendidikan, salah satunya melalui Program Sekolah Penggerak (PSP) dan Program Guru Penggerak (GP) yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kedua program ini dirancang untuk mengakselerasi transformasi pendidikan dengan fokus pada penguatan hasil belajar siswa, pengembangan kapasitas guru dan kepala sekolah, serta pembentukan ekosistem pendidikan yang lebih baik.

Namun, jika kedua program ini dihapuskan, dampaknya terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia bisa sangat signifikan. Artikel ini akan mengulas secara mendalam apa itu PSP dan GP, serta menganalisis konsekuensi penghapusannya terhadap berbagai aspek pendidikan di Indonesia.

Apa Itu Program Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak?

Program Sekolah Penggerak (PSP)

Program Sekolah Penggerak adalah inisiatif strategis yang bertujuan mewujudkan visi pendidikan Indonesia yang berorientasi pada penciptaan Profil Pelajar Pancasila. Program ini menekankan pengembangan hasil belajar siswa secara holistik, mencakup aspek kognitif seperti literasi dan numerasi, serta aspek nonkognitif seperti karakter dan nilai-nilai Pancasila. PSP melibatkan sekolah-sekolah terpilih untuk menjadi pelopor transformasi pendidikan, dengan target meningkatkan kualitasnya satu hingga dua tahap lebih maju dalam tiga tahun ajaran. Selain itu, PSP memberikan pendampingan intensif kepada kepala sekolah, guru, dan pengawas untuk memperkuat kapasitas mereka dalam mengelola pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada siswa.

Program Guru Penggerak (GP)

Sementara itu, Program Guru Penggerak fokus pada pengembangan guru sebagai agen perubahan dan pemimpin pembelajaran. Guru yang mengikuti program ini dilatih selama 6-9 bulan untuk meningkatkan kompetensi pedagogis, kepemimpinan, dan kemampuan kolaborasi. Mereka diharapkan menjadi penggerak komunitas belajar di sekolah, menginspirasi rekan guru, serta mendorong kepemimpinan siswa dalam proses pembelajaran. Guru Penggerak juga memiliki peran strategis sebagai calon kepala sekolah atau pengawas, sehingga berkontribusi pada peningkatan manajemen pendidikan secara keseluruhan.

Dampak Penghapusan Program Sekolah Penggerak

Penghapusan PSP dapat memberikan efek domino yang merugikan sistem pendidikan. Berikut adalah beberapa dampak utamanya:

1. Berkurangnya Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran

PSP dirancang untuk mendorong sekolah mengadopsi pendekatan pembelajaran yang inovatif, fleksibel, dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Program ini memberikan panduan dan dukungan teknis agar sekolah dapat mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara efektif. Tanpa PSP, sekolah mungkin kehilangan arah dalam melakukan transformasi pembelajaran. Banyak sekolah, terutama di daerah tertinggal, bergantung pada pendampingan ini untuk mengatasi tantangan seperti keterbatasan sumber daya atau rendahnya kompetensi guru. Akibatnya, kualitas pembelajaran bisa stagnan, dan siswa tidak mendapatkan pengalaman belajar yang optimal.

2. Hilangnya Dukungan untuk Pengembangan Kapasitas SDM Sekolah

Salah satu keunggulan PSP adalah pelatihan intensif yang diberikan kepada kepala sekolah dan guru. Kepala sekolah dilatih untuk menjadi pemimpin visioner yang mampu mengelola sekolah secara efektif, sementara guru didorong untuk mengembangkan metode pengajaran yang berbasis refleksi dan kebutuhan siswa. Jika PSP dihapuskan, akses ke pelatihan dan pendampingan ini akan hilang. Hal ini dapat menghambat kemampuan sekolah untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, seperti digitalisasi pendidikan atau tuntutan kurikulum baru, sehingga mutu pendidikan sulit ditingkatkan.

3. Terganggunya Kolaborasi dan Ekosistem Pendidikan

PSP tidak hanya berfokus pada sekolah individu, tetapi juga pada penciptaan ekosistem pendidikan yang kolaboratif. Sekolah Penggerak diharapkan melakukan pengimbasan—berbagi praktik baik dengan sekolah lain di wilayahnya—sehingga terjadi pemerataan mutu pendidikan. Penghapusan program ini dapat memutus rantai kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya. Akibatnya, sekolah-sekolah cenderung bekerja secara terisolasi, dan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di tingkat regional atau nasional menjadi terhambat.

Dampak Penghapusan Program Guru Penggerak

Penghapusan GP juga memiliki konsekuensi serius terhadap peningkatan mutu pendidikan, khususnya dari sisi pengembangan sumber daya manusia pendidikan. Berikut analisisnya:

1. Penurunan Motivasi dan Kompetensi Guru

Program Guru Penggerak memberikan kesempatan bagi guru untuk meningkatkan keterampilan melalui pelatihan berkualitas dan pendampingan berkelanjutan. Guru yang telah mengikuti program ini sering kali menunjukkan motivasi yang lebih tinggi karena merasa dihargai dan didukung dalam peran mereka sebagai pendidik. Jika GP dihapuskan, guru kehilangan akses ke peluang pengembangan profesional ini. Tanpa insentif atau dukungan, motivasi mereka bisa menurun, dan kompetensi pedagogis yang tidak terus diasah berpotensi stagnan atau bahkan menurun, yang berdampak langsung pada kualitas pembelajaran di kelas.

2. Berkurangnya Inovasi dalam Pembelajaran

Guru Penggerak memiliki peran sebagai inovator yang membawa ide-ide segar ke dalam proses pembelajaran. Mereka dilatih untuk menciptakan metode pengajaran yang kreatif, seperti pembelajaran berbasis proyek atau pendekatan berbasis teknologi, yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa. Tanpa keberadaan Guru Penggerak, sekolah mungkin kekurangan figur yang mendorong inovasi. Pembelajaran bisa kembali ke pola konvensional yang monoton, mengurangi minat siswa, dan akhirnya menurunkan prestasi akademik mereka.

3. Hilangnya Peluang untuk Meningkatkan Manajemen Sekolah

GP juga bertujuan menyiapkan guru untuk mengambil peran kepemimpinan, seperti menjadi kepala sekolah atau pengawas. Guru Penggerak yang terlatih memiliki pemahaman mendalam tentang manajemen pendidikan dan kepemimpinan pembelajaran. Jika program ini dihapuskan, sekolah akan kesulitan menemukan pemimpin yang kompeten dan terlatih untuk mengelola institusi secara efektif. Manajemen sekolah yang lemah dapat menyebabkan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan, kurangnya koordinasi, dan lingkungan belajar yang kurang kondusif.

Implikasi Jangka Panjang Penghapusan Program

Penghapusan PSP dan GP tidak hanya berdampak pada aspek operasional sekolah dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki konsekuensi jangka panjang yang dapat mengubah wajah pendidikan di Indonesia. Berikut adalah beberapa implikasinya:

1. Stagnasi Peningkatan Mutu Pendidikan

Tanpa program yang mendorong transformasi dan inovasi, sistem pendidikan Indonesia berisiko stagnan. Sekolah mungkin terus menggunakan metode lama yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan abad 21, seperti keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan literasi digital. Hal ini dapat membuat pendidikan Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain yang terus berinovasi dalam sistem pendidikannya.

2. Menurunnya Daya Saing Lulusan

Kualitas pendidikan yang stagnan akan berdampak langsung pada lulusan. Siswa yang tidak mendapatkan pembelajaran berkualitas akan kesulitan bersaing di pasar kerja nasional maupun global. Dalam konteks ekonomi global yang semakin kompetitif, lulusan Indonesia bisa kehilangan daya saing, yang pada akhirnya menghambat pembangunan sumber daya manusia yang menjadi salah satu prioritas nasional.

3. Meningkatnya Ketimpangan Pendidikan

PSP dan GP dirancang untuk mendukung pemerataan mutu pendidikan, termasuk di daerah terpencil dan tertinggal. Penghapusan kedua program ini dapat memperlebar kesenjangan antara sekolah di perkotaan dan pedesaan, serta antara sekolah negeri dan swasta. Sekolah-sekolah di daerah terpencil, yang sering kali kekurangan sumber daya, akan semakin sulit meningkatkan kualitasnya tanpa dukungan eksternal seperti yang diberikan PSP dan GP.

4. Berkurangnya Partisipasi Pemangku Kepentingan

Kedua program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, komunitas, dan orang tua, dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Penghapusan PSP dan GP dapat mengurangi keterlibatan mereka, yang berarti sekolah kehilangan dukungan tambahan baik dalam bentuk sumber daya maupun moral. Hal ini dapat melemahkan ekosistem pendidikan yang seharusnya menjadi kekuatan utama dalam transformasi pendidikan.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Program Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak memiliki peran krusial dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. PSP memberikan kerangka kerja untuk transformasi sekolah, sementara GP memastikan bahwa guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki kompetensi dan motivasi yang tinggi. Penghapusan kedua program ini dapat menyebabkan berkurangnya inovasi, penurunan kompetensi SDM pendidikan, dan terganggunya kolaborasi dalam ekosistem pendidikan.

Dalam jangka panjang, dampaknya bisa berupa stagnasi mutu pendidikan, menurunnya daya saing lulusan, dan semakin lebarnya ketimpangan pendidikan.
Untuk menghindari dampak negatif tersebut, pemerintah perlu mempertimbangkan kelanjutan dan penguatan kedua program ini. Beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan meliputi:

  • Evaluasi dan Penyempurnaan Program: Alih-alih menghapus, pemerintah dapat mengevaluasi PSP dan GP untuk mengidentifikasi kekurangan dan meningkatkan efektivitasnya.
  • Peningkatan Anggaran: Alokasi dana yang memadai akan memastikan program ini dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan guru, terutama di daerah terpencil.
  • Integrasi dengan Kebijakan Lain: PSP dan GP dapat diintegrasikan dengan inisiatif lain, seperti digitalisasi pendidikan, untuk memperkuat dampaknya.

Investasi dalam pendidikan, khususnya melalui pengembangan SDM dan transformasi sekolah, adalah langkah strategis untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia yang maju, inklusif, dan berkualitas. Penghapusan PSP dan GP bukanlah solusi, melainkan langkah mundur yang dapat menghambat kemajuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, komitmen untuk melanjutkan dan memperbaiki program-program ini sangat diperlukan demi masa depan generasi mendatang.

Tinggalkan komentar