Ditemukan Bangunan Kuno Lebih Tua Dari Majapahit di Desa Bejijong

Di tengah hamparan sejarah yang terpendam di tanah Trowulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kembali berbisik. Suara masa lalu yang telah lama terdiam kini menggema melalui temuan arkeologi yang menyingkap tabir peradaban kuno. Meskipun dalam kueri awal disebutkan “Terawulan, Desa Bejijong, Blitar,” tampaknya terjadi kekeliruan, karena Desa Bejijong yang kaya akan peninggalan sejarah terletak di Mojokerto, bukan Blitar. Kawasan Trowulan sendiri dikenal sebagai pusat peninggalan Kerajaan Majapahit, tetapi penemuan terbaru menunjukkan adanya jejak peradaban yang lebih tua, bahkan mendahului kejayaan Majapahit.

Tim arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur telah menyelesaikan misi eksplorasi arkeologis di selatan Candi Brahu. Candi ini diyakini menjadi bagian dari warisan leluhur bangsa yang memiliki akar jauh sebelum Majapahit berdiri. Dari tanah yang lama diam, terkuak struktur bangunan kuno berupa susunan bata merah yang tersusun rapi, meski hanya tersisa satu hingga dua lapis dan memanjang sekitar 30 meter. Kondisi struktur ini banyak yang rusak dan terputus-putus, namun setiap bata yang tergali tetap membawa cerita serta teka-teki dari masa lampau.

Candi Brahu: Saksi Bisu Sejarah

Candi Brahu, yang berdiri kokoh di Dusun Jambu Mente, Desa Bejijong, adalah candi Buddha yang diperkirakan lebih tua dari Kerajaan Majapahit. Majapahit, yang berdiri pada abad ke-13 hingga ke-16, dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. Namun, Candi Brahu diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Medang atau Mataram Kuno, khususnya pada masa pemerintahan Mpu Sindok di abad ke-10. Bukti ini didukung oleh Prasasti Alasantan, yang ditemukan tak jauh dari candi dan bertarikh 861 Saka (939 Masehi), menunjukkan bahwa candi ini jauh lebih tua dari Majapahit.

Candi Brahu dibangun dari bata merah dengan tinggi mencapai 20 meter, panjang 22,5 meter, dan lebar 18 meter. Bangunan ini menghadap ke barat dan diyakini berfungsi sebagai tempat peribadatan atau bangunan suci. Nama “Brahu” sendiri diperkirakan berasal dari kata “Wanaru” atau “Warahu,” yang merujuk pada bangunan suci sebagaimana disebut dalam prasasti. Candi ini pertama kali didokumentasikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1815 dan kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya nasional pada 1998 setelah pemugaran pada 1990–1995.

Temuan Arkeologis Terbaru

Ekskavasi di selatan Candi Brahu mengungkap struktur bata merah yang memanjang sekitar 30 meter. Struktur ini tersusun rapi dalam satu hingga dua lapis, tetapi kondisinya banyak yang rusak dan terputus-putus. Tim arkeolog menduga struktur ini bisa menjadi dinding penyekat, pemisah ruang, tempat tinggal, atau bahkan bagian dari ruang peribadatan. Namun, fungsinya belum sepenuhnya terkonfirmasi, menjadikan setiap bata yang ditemukan sebagai serpihan puzzle sejarah yang menanti penyelesaian.

Tak jauh dari sana, penggalian juga menemukan struktur persegi empat berukuran 285 x 130 cm yang memanjang dari utara ke selatan. Menariknya, sebagian struktur ini ditemukan tepat di bawah jalan, seperti nadi sejarah yang masih mengalir di bawah kehidupan modern. Struktur ini mengarah ke halaman Candi Brahu, membuka kemungkinan adanya jalan kuno atau kompleks permukiman yang terhubung dengan pusat spiritual masyarakat pada masa itu.

Selain itu, ekskavasi menghasilkan temuan lepas berupa fragmen gerabah yang menceritakan aktivitas harian masyarakat lampau. Fragmen ini mencakup wadah, genteng, dan bebungan, menunjukkan kehidupan yang dinamis dan berbudaya tinggi dari era sebelum Majapahit hingga masa kejayaannya. Di tengah persawahan dan tanaman tebu, ditemukan pula struktur bata memanjang sepanjang sekitar 8 meter, yang diduga merupakan pagar keliling candi, meskipun konfirmasi lebih lanjut masih diperlukan.

Kondisi Struktur Saat Ini

Kondisi struktur yang ditemukan dalam ekskavasi ini memang banyak yang rusak. Susunan bata merah sering kali terputus-putus, dan saat ini hanya tersisa satu hingga dua lapis. Beberapa bata masih utuh, tetapi banyak pula yang patah atau rusak akibat faktor alam dan aktivitas manusia selama berabad-abad. Lokasi struktur yang berada di bawah jalan raya dan persawahan menunjukkan perubahan penggunaan lahan yang signifikan sejak masa lampau.

Menurut tim arkeolog, kerusakan ini mungkin disebabkan oleh erosi tanah, aktivitas pertanian, atau bahkan penggunaan lahan untuk pembuatan bata oleh warga setempat di masa lalu. Lokasi ekskavasi yang berada sekitar 1 meter di bawah permukaan tanah modern juga menunjukkan bahwa struktur ini telah terkubur dan terdegradasi seiring waktu. Meski demikian, temuan ini tetap berharga sebagai bukti adanya perencanaan tata ruang yang matang pada masa itu.

Signifikansi Temuan

Temuan ini memiliki makna besar dalam memahami sejarah peradaban di Trowulan. Struktur bata merah dan fragmen gerabah menunjukkan bahwa wilayah ini telah menjadi pusat aktivitas manusia sejak sebelum Majapahit. Keberadaan Candi Brahu yang terkait dengan era Mpu Sindok, ditambah temuan di Situs Gemekan (berjarak 4-5 km dari Trowulan) yang juga berasal dari masa Medang, memperkaya narasi tentang peradaban yang mendahului Majapahit.

Ekskavasi ini juga menegaskan bahwa Trowulan bukan hanya pusat Majapahit, tetapi juga wilayah dengan jejak peradaban yang lebih tua. Struktur yang ditemukan, meskipun rusak, memberikan petunjuk tentang arsitektur dan kehidupan masyarakat pada masa itu, menjadikannya jendela penting untuk memahami sejarah Nusantara.

Pelestarian dan Penelitian ke Depan

Ekskavasi ini bukan hanya tentang menggali tanah, tetapi juga menggali makna. Melalui kerja keras para arkeolog, Candi Brahu dan struktur di sekitarnya menjadi lebih dari sekadar simbol kejayaan masa lalu; mereka adalah jendela menuju masa depan. Temuan ini mengingatkan kita bahwa peradaban besar dibangun dari warisan, ketekunan, dan cinta akan sejarah.

Untuk melestarikan temuan ini, diperlukan upaya bersama antara pemerintah, masyarakat lokal, dan para ahli. Langkah konservasi harus segera diambil untuk melindungi struktur yang rapuh dari kerusakan lebih lanjut. Penelitian lanjutan juga penting untuk mengungkap fungsi pasti dari struktur ini dan hubungannya dengan Candi Brahu serta peradaban yang lebih luas.

Pendidikan dan keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci dalam pelestarian. Dengan meningkatkan kesadaran akan nilai sejarah dan budaya, warisan ini dapat dijaga untuk generasi mendatang. Program wisata sejarah dan edukasi dapat dikembangkan untuk memperkenalkan kekayaan sejarah Trowulan kepada dunia.

Kesimpulan

Bangunan kuno yang lebih tua dari Majapahit di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, adalah bukti nyata dari kekayaan sejarah Indonesia. Candi Brahu, yang berdiri sejak masa Mpu Sindok, bersama dengan temuan struktur bata merah yang rusak dan terputus-putus, menawarkan wawasan tentang peradaban yang telah ada sebelum Majapahit mencapai puncaknya.

Meskipun kondisi struktur saat ini banyak yang rusak, dengan hanya satu hingga dua lapis bata yang tersisa, temuan ini tetap menjadi saksi bisu dari kehidupan masa lampau. Dengan melanjutkan upaya pelestarian dan penelitian, kita dapat menghormati warisan leluhur sekaligus membuka peluang untuk memahami lebih dalam asal-usul peradaban di Nusantara. Bangunan kuno ini bukan sekadar reruntuhan; mereka adalah cermin masa lalu yang menerangi jalan menuju masa depan.

Tinggalkan komentar