1. Rivalitas Antar Kelompok Desa atau Basis (Dendam Lama dan Kompetisi Prestise)
- Dendam lama menjadi pemicu utama. Contohnya, tawuran karnaval kemerdekaan di Desa Rejosopinggir, Tembelang (2024), dipicu balas dendam antar dua dusun yang sudah lama bermusuhan.
- Kompetisi prestise juga berperan: kelompok ingin menunjukkan bahwa “banteng” mereka lebih kuat, lebih atraktif, atau lebih “berwibawa” secara spiritual. Provokasi kecil seperti sorak-sorai berlebihan atau ejekan bisa memicu bentrok.
Fenomena ini mirip dengan tawuran antar basis di perkotaan, di mana identitas kelompok menjadi sumber kebanggaan sekaligus konflik.
2. Elemen Trance (Kesurupan) yang Memprovokasi Kekerasan Massa
Kesenian Bantengan sangat bergantung pada proses kesurupan (trance), di mana penari diyakini dirasuki roh hewan. Saat “ngamuk”, penari bergerak liar, menyeruduk, atau mengamuk ke arah penonton jika pawang gagal mengendalikan.
- Secara sosial, trance ini menciptakan suasana emosional tinggi dan sugestif. Penonton yang terbawa suasana (terutama remaja) mudah terpancing ikut “amuk” atau saling tuding bahwa kelompok lain “mengganggu” roh.
- Kasus nyaris anak diseruduk banteng mengamuk di tengah ratusan warga menunjukkan betapa rapuhnya kendali massa. Amukan penari sering disalahartikan sebagai provokasi antar kelompok, sehingga tawuran meletus.
- Dari perspektif sosial, trance memperkuat keyakinan mistis masyarakat agraris, tapi juga menjadi alasan pembenaran kekerasan (“roh yang marah”).
3. Pengaruh Pergaulan Remaja dan Kurangnya Pengawasan Keluarga
Banyak tawuran melibatkan remaja (usia SMP-SMA hingga awal dewasa), yang datang berkelompok untuk nonton kesenian. Faktor sosial di sini meliputi:
- Pengaruh teman sebaya yang kuat: Remaja cenderung ikut-ikutan jika teman provokasi atau terlibat.
- Kurangnya pengawasan orang tua: Di desa agraris Jombang, banyak remaja bebas berkeliaran malam hari saat acara kesenian digelar.
- Pergaulan bebas dan konsumsi minuman keras/obat terlarang: Beberapa kasus tawuran usai nonton Jaranan/Bantengan dipicu gesekan sepele yang diperburuk alkohol, membuat emosi mudah meledak.
Penelitian tentang tawuran remaja di Jawa Timur menunjukkan bahwa lingkungan pergaulan dan faktor keluarga (kurang harmonis) menjadi penyebab utama perilaku menyimpang.
4. Faktor Sosial-Ekonomi dan Lingkungan Pedesaan
Masyarakat Jombang mayoritas agraris dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Kesenian Bantengan menjadi hiburan murah dan bergengsi, tapi juga menjadi ajang “unjuk gigi” bagi kelompok yang merasa tertinggal.
- Frustrasi sosial: Remaja dari dusun miskin atau pinggiran sering menyalurkan energi negatif melalui kekerasan massa.
- Minim infrastruktur dan akses hiburan alternatif: Di kecamatan seperti Plandaan atau Mojowarno, hiburan malam terbatas, sehingga pertunjukan kesenian menjadi satu-satunya ajang berkumpul besar-besaran.
- Pengaruh geng motor atau kelompok preman desa: Beberapa tawuran melibatkan pemotor yang saling serang, sering tumpang tindih dengan penonton kesenian.
5. Budaya Kompetitif dalam Tradisi Bela Diri
Bantengan berakar dari pencak silat dan ritual tolak bala. Banyak penari berlatar belakang perguruan silat (seperti PSHT atau kelompok lokal), sehingga pertunjukan menjadi ajang unjuk kekuatan.
- Rivalitas antar perguruan silat kadang meluas ke penonton, terutama jika ada sejarah konflik lama.
- Budaya “jantan” atau maskulinitas toksik di kalangan pemuda pedesaan mendorong sikap agresif untuk mempertahankan kehormatan kelompok.
Kesimpulan
Penyebab sosial tawuran kesenian Bantengan di Jombang bukan semata kenakalan remaja, melainkan perpaduan antara rivalitas kelompok desa, elemen trance yang sugestif, pengaruh pergaulan remaja, faktor ekonomi pedesaan, dan budaya kompetitif bela diri. Kasus berulang seperti tawuran ratusan remaja usai nonton pertunjukan kesenian Jaranan atau Bantengan (2021–2024) menunjukkan bahwa tanpa pengawasan ketat, kesenian yang seharusnya melestarikan budaya justru menjadi pemicu kekerasan massa.
Untuk mengatasinya, diperlukan pendekatan holistik: penguatan peran pawang dan keamanan acara, sosialisasi anti-tawuran oleh pemerintah desa, serta regenerasi kesenian yang lebih inklusif agar tidak hanya menjadi ajang unjuk kekuatan. Dengan demikian, Bantengan bisa kembali menjadi simbol persatuan masyarakat Jawa Timur, bukan pembagian.



