Situs Bedander di Kabuh, Jombang: Jejak Sejarah dan Tradisi Memutari Pager Banon yang Abadi

Di tengah perbukitan Dusun Bedander, Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat sebuah situs bersejarah yang menyimpan kekayaan sejarah dan budaya: Situs Bedander. Situs ini, yang ditandai dengan sebuah sumur dikelilingi pagar persegi bernama Pager Banon, bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga pusat tradisi yang masih hidup hingga kini. Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah kirab pengantin, di mana pengantin baru dari Bedander mengelilingi Pager Banon sebagai bagian dari upacara pernikahan mereka. Mitos yang menyertai tradisi ini menyebutkan bahwa jika pengantin wanita tidak melakukannya, ia berisiko kehilangan kewarasan atau menjadi gila. Artikel ini akan mengulas secara mendalam sejarah, temuan arkeologi, tradisi, mitos, serta makna Situs Bedander dalam konteks budaya dan sejarah Jawa Timur.


Lokasi dan Deskripsi Fisik Situs Bedander

Situs Bedander terletak di Dusun Bedander, sebuah dusun kecil di Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Secara geografis, situs ini berada di kawasan perbukitan yang dikenal sebagai Jladri, menjadikannya lokasi yang terpencil dan strategis. Untuk mencapai situs ini, pengunjung harus berjalan kaki sekitar satu kilometer melalui jalan setapak yang melintasi persawahan dan hutan, dengan medan yang menanjak dan berbatu. Ketinggian situs ini sekitar 65 meter di atas permukaan laut, memberikan kesan tersendiri akan keunikan dan kesakralannya.

Ciri utama Situs Bedander adalah sebuah sumur tua yang dikelilingi oleh pagar persegi bernama Pager Banon. Pagar ini terbuat dari bata merah kuno yang disusun rapi, membentuk perimeter yang mengelilingi sumur. Sumur tersebut diyakini sebagai sumber air yang vital pada masa lalu, sementara Pager Banon menjadi simbol penting dalam tradisi lokal. Selain sumur dan pagar, situs ini juga memiliki beberapa struktur tambahan, seperti gapura kecil dari batu andesit dan makam kuno yang ditutupi kain putih, menambah dimensi arkeologi dan spiritual pada tempat ini.

Keberadaan situs di tengah lanskap perbukitan tidak hanya menawarkan pemandangan yang indah, tetapi juga mengisyaratkan fungsinya sebagai tempat yang tersembunyi dan terlindungi, sesuai dengan cerita sejarah yang melekat padanya.


Latar Belakang Sejarah Situs Bedander

Situs Bedander memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Menurut cerita rakyat dan beberapa catatan sejarah, situs ini diyakini sebagai tempat persembunyian Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit yang memerintah dari tahun 1309 hingga 1328 Masehi. Pada tahun 1319, Raja Jayanegara terpaksa melarikan diri dari ibu kota akibat pemberontakan yang dipimpin oleh Ra Kuti, seorang penasihat kerajaan yang berkhianat. Dalam pelariannya, ia mencari tempat perlindungan di daerah terpencil, dan Bedander menjadi salah satu lokasi yang dipilih.

Nama “Bedander” sendiri memiliki makna dalam bahasa Jawa. Kata “beda” berarti berbeda atau terpisah, sementara “nder” dapat merujuk pada tempat atau lokasi. Nama ini mencerminkan karakter situs sebagai tempat yang terisolasi, cocok sebagai lokasi persembunyian. Posisinya yang jauh dari pusat kerajaan dan sulit diakses oleh musuh menjadikannya pilihan strategis bagi Raja Jayanegara untuk menghindari ancaman.

Sejarah ini tidak hanya memberikan konteks pada pentingnya Situs Bedander, tetapi juga menghubungkannya dengan dinamika politik dan militer Majapahit pada abad ke-14. Keberadaan situs ini menjadi bukti bagaimana kerajaan besar tersebut mengelola wilayahnya, bahkan di daerah pinggiran seperti Kabuh, Jombang.


Temuan Arkeologi di Situs Bedander

Penelitian arkeologi di Situs Bedander telah mengungkap berbagai peninggalan yang memperkuat nilai historisnya. Salah satu temuan paling signifikan adalah doorpel atau ambang pintu dari batu andesit, yang saat ini disimpan di rumah seorang warga bernama Bapak Ngateno. Doorpel ini memiliki ukiran yang rumit dan menunjukkan tingkat keahlian tinggi dalam seni bangunan pada masa itu. Keberadaannya mengindikasikan bahwa situs ini mungkin pernah menjadi lokasi bangunan penting, seperti kediaman bangsawan atau istana kecil.

Selain itu, ditemukan pula struktur bata merah kuno yang membentuk pondasi persegi dengan luas sekitar 30 meter persegi. Struktur ini dilengkapi dengan tiga anak tangga dan gapura kecil yang dihiasi arca, menambah bukti bahwa Situs Bedander bukan sekadar tempat sembunyi, tetapi juga kompleks pemukiman yang terorganisasi. Bata merah yang digunakan memiliki karakteristik khas era Majapahit, dengan warna merah tua dan tekstur yang kokoh, serupa dengan yang ditemukan di situs-situs lain seperti Trowulan.

Penelitian oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 2008 juga menemukan fragmen porselen dari masa Dinasti Song dan Yuan (Tiongkok), serta umpak batu yang biasanya digunakan sebagai penyangga tiang bangunan. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan perdagangan atau kontak budaya antara Majapahit dan dunia luar, sekaligus mengkonfirmasi usia situs yang sudah mencapai ratusan tahun.

Sumur dan Pager Banon sendiri merupakan bagian integral dari temuan arkeologi ini. Pagar bata yang mengelilingi sumur bukan hanya berfungsi sebagai pembatas, tetapi juga memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan tradisi lokal, sebagaimana akan dibahas lebih lanjut.


Tradisi Kirab Pengantin: Ritual dan Maknanya

Tradisi kirab pengantin adalah salah satu warisan budaya yang paling menonjol di Situs Bedander. Tradisi ini melibatkan prosesi di mana pengantin baru, khususnya dari warga asli Dusun Bedander, mengelilingi Pager Banon setelah akad nikah. Prosesi ini biasanya berlangsung dengan penuh warna, di mana pengantin mengenakan pakaian adat Jawa, seperti beskap dan kebaya, diiringi oleh keluarga dan kerabat yang membawa sesaji atau alat musik tradisional seperti gamelan sederhana.

Pager Banon, yang secara harfiah berarti “pagar bata” dalam bahasa Jawa, adalah fokus utama tradisi ini. Mengelilingi pagar persegi ini diyakini membawa berkah dan perlindungan bagi pasangan pengantin, menjamin kehidupan pernikahan yang harmonis dan sejahtera. Ritual ini juga merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan sejarah situs, menghubungkan generasi masa kini dengan masa lalu yang dianggap sakral.

Pelaksanaan kirab pengantin biasanya dilakukan dengan tiga atau tujuh putaran mengelilingi Pager Banon, angka-angka yang memiliki makna simbolis dalam budaya Jawa. Tiga melambangkan harmoni antara suami, istri, dan Tuhan, sementara tujuh sering dikaitkan dengan kesempurnaan dan keberuntungan. Selama prosesi, doa-doa dipanjatkan untuk memohon keselamatan dan kebahagiaan bagi pasangan tersebut.

Tradisi ini memiliki kemiripan dengan kirab manten dalam budaya Jawa secara umum, tetapi kekhasannya terletak pada hubungannya dengan Pager Banon dan Situs Bedander. Ritual ini tidak hanya memperkuat identitas komunal warga Bedander, tetapi juga menjadikan situs ini sebagai pusat spiritual yang hidup.


Mitos Kewarasan: Asal-usul dan Signifikansi

Di balik tradisi kirab pengantin, terdapat mitos yang kuat di kalangan masyarakat Bedander. Mitos ini menyatakan bahwa jika pengantin wanita tidak mengelilingi Pager Banon, ia berisiko menjadi gila atau kehilangan kewarasan. Keyakinan ini, meskipun terdengar seperti cerita takhayul, memiliki pengaruh besar dalam memastikan tradisi terus dilaksanakan hingga kini.

Asal-usul mitos ini tidak tercatat secara pasti, tetapi kemungkinan besar berkaitan dengan sejarah situs sebagai tempat perlindungan. Raja Jayanegara yang bersembunyi di Bedander mencari keselamatan dari ancaman fisik dan politik; demikian pula, mengelilingi Pager Banon dianggap sebagai cara untuk melindungi pengantin dari ancaman spiritual atau psikologis. Mitos ini mungkin juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya menghormati tradisi dan kesakralan situs.

Dalam perspektif antropologi, mitos seperti ini sering kali digunakan untuk menjaga kohesi sosial dan memastikan kepatuhan terhadap norma budaya. Di Bedander, mitos kewarasan menjadi alat untuk mempertahankan kirab pengantin sebagai bagian integral dari identitas masyarakat, sekaligus menguatkan rasa hormat terhadap warisan leluhur.


Status Terkini dan Upaya Pelestarian

Situs Bedander saat ini tetap terjaga sebagai situs budaya yang penting bagi warga Dusun Bedander. Upaya pelestarian dilakukan oleh masyarakat setempat bersama pemerintah desa, termasuk menjaga kebersihan sumur dan Pager Banon serta mencegah kerusakan akibat aktivitas manusia atau alam. Situs ini juga menarik perhatian wisatawan dan peneliti yang ingin mempelajari sejarah Majapahit dan budaya Jawa.

Tradisi kirab pengantin masih dilestarikan, meskipun ada penyesuaian dengan zaman modern. Beberapa keluarga mungkin mengurangi skala prosesi karena keterbatasan waktu atau biaya, tetapi inti ritual tetap dipertahankan. Keberlangsungan tradisi ini menunjukkan ketahanan budaya lokal di tengah perubahan sosial.

Namun, tantangan pelestarian tetap ada. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah pembongkaran makam palsu yang diklaim sebagai makam Sunan Candramata pada tahun 2025. Makam tersebut tidak memiliki dasar sejarah dan berpotensi mengaburkan keaslian situs. Langkah tegas dari pemerintah desa untuk membongkarnya menunjukkan komitmen untuk menjaga integritas Situs Bedander.


Makna Situs Bedander dalam Konteks Lebih Luas

Situs Bedander adalah cerminan dari kekayaan budaya dan sejarah Indonesia. Ia menghubungkan masa lalu Majapahit dengan kehidupan masyarakat modern, menunjukkan bagaimana tradisi dan sejarah dapat hidup berdampingan. Dalam konteks Jombang dan Jawa Timur, situs ini memperkaya narasi tentang pengaruh Majapahit di wilayah pinggiran, sekaligus menjadi bukti ketahanan budaya lokal.

Lebih jauh lagi, Situs Bedander mengajarkan pentingnya melestarikan warisan budaya. Tradisi kirab pengantin dan mitos kewarasan adalah contoh bagaimana masyarakat menjaga identitas mereka melalui ritual dan cerita. Pelestarian situs ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga komunitas lokal yang telah merawatnya selama berabad-abad.


Kesimpulan

Situs Bedander di Kabuh, Jombang, adalah lebih dari sekadar peninggalan arkeologi; ia adalah simbol hidup dari sejarah dan budaya Jawa. Dari perannya sebagai tempat persembunyian Raja Jayanegara hingga tradisi kirab pengantin yang penuh makna, situs ini menyimpan cerita tentang ketahanan, perlindungan, dan keberlanjutan. Mitos kewarasan yang menyertainya menambah lapisan spiritual yang mendalam, mengingatkan kita akan hubungan erat antara manusia, tradisi, dan tempat.

Dengan melestarikan Situs Bedander, kita tidak hanya menjaga jejak masa lalu, tetapi juga memastikan bahwa generasi mendatang dapat belajar dari dan menghargai warisan budaya yang kaya ini. Situs ini adalah permata tersembunyi yang layak mendapat perhatian lebih, baik sebagai destinasi wisata budaya maupun sebagai subjek penelitian sejarah.


 

Tinggalkan komentar