80 Persen Ibu Kota Majapahit di Jombang: Sebuah Analisis Mendalam

Kerajaan Majapahit adalah salah satu kebanggaan sejarah Indonesia, sebuah imperium besar yang menguasai Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-16. Secara tradisional, ibu kotanya dikenal berlokasi di Trowulan, yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Namun, sebuah klaim menarik muncul belakangan ini: 80% wilayah ibu kota Majapahit sebenarnya terletak di Kabupaten Jombang, sementara sisanya berada di Trowulan, Mojokerto. Klaim ini didukung oleh argumen bahwa pada masa lalu, Trowulan termasuk dalam wilayah administrasi Jombang. Artikel ini akan menggali lebih dalam klaim tersebut, menelusuri bukti sejarah dan arkeologi, mengevaluasi perdebatan akademis, serta menyoroti dampaknya bagi identitas lokal.

Konteks Sejarah Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293 setelah berhasil mengalahkan pasukan Mongol yang dikirim oleh Kubilai Khan. Puncak kejayaannya terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389) dengan dukungan patih legendarisnya, Gajah Mada. Dalam teks Negarakertagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365, ibu kota Majapahit disebutkan berada di Trowulan. Teks ini menggambarkan Trowulan sebagai pusat pemerintahan yang megah, lengkap dengan istana, candi, dan infrastruktur yang menunjukkan kebesaran kerajaan.

Namun, batas wilayah pada masa Majapahit tidak sama dengan batas administratif modern. Sungai Brantas, yang mengalir melalui Jombang dan Mojokerto, memainkan peran penting sebagai jalur transportasi dan perdagangan. Wilayah di sekitar sungai ini diperkirakan menjadi bagian integral dari kekuasaan Majapahit. Klaim bahwa Trowulan pada masa lalu masuk wilayah Jombang muncul dari interpretasi peta lama dan catatan sejarah yang menunjukkan perubahan batas wilayah seiring waktu. Meskipun saat ini Trowulan berada di Kabupaten Mojokerto, ada kemungkinan bahwa wilayah tersebut pernah berada di bawah administrasi yang mencakup Jombang pada periode tertentu.

Bukti Arkeologi: Trowulan dan Jombang

Bukti arkeologi menjadi kunci untuk memahami luas dan letak ibu kota Majapahit. Baik Trowulan maupun Jombang memiliki situs-situs bersejarah yang terkait erat dengan kerajaan ini. Mari kita bahas temuan-temuan utama di kedua wilayah tersebut.

Situs di Trowulan, Mojokerto

Trowulan dikenal sebagai pusat arkeologi Majapahit yang paling signifikan. Beberapa situs penting meliputi:

  • Candi Brahu: Terletak di Desa Bejijong, candi ini diperkirakan merupakan tempat kremasi para raja Majapahit. Strukturnya yang besar dan kokoh menunjukkan fungsi penting dalam kehidupan kerajaan.
  • Candi Tikus: Sebuah petirtaan (tempat pemandian suci) yang digunakan untuk ritual keagamaan. Nama “tikus” berasal dari cerita rakyat tentang tikus yang ditemukan saat situs ini digali.
  • Kolam Segaran: Kolam besar ini diduga berfungsi sebagai reservoir air atau tempat rekreasi bagi keluarga kerajaan. Ukuran dan desainnya mencerminkan kecanggihan teknologi Majapahit.

Situs-situs ini, bersama dengan temuan seperti arca, keramik, dan bata merah, memperkuat posisi Trowulan sebagai inti ibu kota Majapahit. Namun, luas wilayahnya masih menjadi pertanyaan: apakah Trowulan mencakup semua ibu kota, atau hanya bagian dari kompleks yang lebih besar?

Situs di Jombang

Kabupaten Jombang juga memiliki situs-situs yang menunjukkan hubungan dengan Majapahit. Beberapa di antaranya adalah:

  • Candi Jolotundo: Terletak di lereng Gunung Penanggungan, petirtaan ini digunakan untuk ritual penyucian. Airnya yang jernih dan lokasinya yang strategis menunjukkan pentingnya situs ini dalam konteks keagamaan Majapahit.
  • Candi Rimbi: Candi ini didedikasikan untuk Tribhuwana Wijayatunggadewi, ratu Majapahit yang memerintah pada abad ke-14. Keberadaannya menunjukkan bahwa wilayah Jombang memiliki peran dalam struktur kekuasaan kerajaan.

Selain itu, kepadatan situs arkeologi di sekitar Sungai Brantas di wilayah Jombang, seperti temuan arca dan reruntuhan bangunan, menambah bobot pada argumen bahwa wilayah ini merupakan bagian dari ibu kota Majapahit. Namun, apakah situs-situs ini cukup untuk mendukung klaim bahwa 80% ibu kota berada di Jombang? Penelitian lebih lanjut, termasuk pemetaan arkeologi yang komprehensif, diperlukan untuk menjawab pertanyaan ini.

Perdebatan Akademis: Trowulan vs Jombang

Klaim bahwa 80% ibu kota Majapahit berada di Jombang telah memicu diskusi sengit di kalangan sejarawan dan arkeolog. Ada dua kubu utama dalam perdebatan ini.

Pendapat Tradisional: Trowulan sebagai Pusat

Sebagian besar ahli, yang mengacu pada sumber seperti Negarakertagama dan Pararaton, berpendapat bahwa Trowulan adalah pusat utama ibu kota Majapahit. Bukti arkeologi yang melimpah di Trowulan mendukung pandangan ini. Mereka menganggap wilayah Jombang sebagai bagian dari kekuasaan perifer, bukan inti ibu kota. Argumen ini diperkuat oleh temuan struktur besar seperti candi dan kolam yang menunjukkan Trowulan sebagai pusat administrasi dan keagamaan.

Pendapat Alternatif: Jombang sebagai Bagian Mayoritas

Pendukung klaim Jombang berargumen bahwa batas administratif modern tidak mencerminkan realitas sejarah. Mereka menyoroti bahwa pada masa lalu, wilayah Trowulan mungkin termasuk dalam domain yang lebih luas yang mencakup Jombang. Sungai Brantas, yang mengalir melalui kedua wilayah, dianggap sebagai tulang punggung ekonomi dan logistik Majapahit, sehingga wilayah Jombang di sekitar sungai ini memiliki peran besar. Kepadatan situs arkeologi di Jombang menjadi bukti bahwa aktivitas kerajaan tidak terbatas pada Trowulan saja.

Namun, klaim bahwa 80% ibu kota berada di Jombang masih dianggap spekulatif oleh banyak ahli karena kurangnya data kuantitatif yang jelas tentang luas wilayah ibu kota dan distribusinya. Perdebatan ini menunjukkan perlunya pendekatan interdisipliner yang menggabungkan arkeologi, sejarah, dan geografi untuk mencapai kesimpulan yang lebih pasti.

Implikasi bagi Identitas Lokal

Klaim ini tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga memiliki dampak sosial dan budaya yang signifikan bagi masyarakat Jombang dan Mojokerto.

Jombang: Kebanggaan dan Peluang

Bagi masyarakat Jombang, pengakuan bahwa wilayah mereka merupakan bagian besar dari ibu kota Majapahit dapat meningkatkan rasa bangga akan warisan sejarah. Ini juga membuka peluang untuk pengembangan pariwisata budaya, seperti promosi Candi Jolotundo dan Candi Rimbi sebagai destinasi wisata. Upaya pelestarian situs-situs ini dapat menjadi prioritas, sekaligus memperkuat identitas lokal sebagai bagian dari peradaban besar.

Mojokerto: Tantangan dan Kolaborasi

Di sisi lain, Mojokerto, yang telah lama dikenal sebagai pusat Majapahit, mungkin menghadapi tantangan terkait pengakuan sejarahnya. Trowulan telah menjadi magnet pariwisata dengan museum dan situs arkeologi yang mapan. Klaim Jombang dapat memicu kekhawatiran tentang penurunan minat wisatawan, meskipun hal ini belum tentu terjadi. Kolaborasi antarwilayah menjadi kunci untuk memastikan bahwa warisan Majapahit dipromosikan sebagai milik bersama, bukan sumber konflik.

Visualisasi Kejayaan Majapahit

Bayangkan Anda berdiri di tepi Sungai Brantas pada masa kejayaan Majapahit. Di sekitar Anda, perahu-perahu berlayar membawa barang dagangan, sementara candi-candi megah menjulang di kejauhan. Di Trowulan, Candi Brahu berdiri kokoh sebagai simbol kekuasaan, sementara di Jombang, Candi Jolotundo memancarkan ketenangan dengan air suci yang mengalir. Pemandangan ini menggambarkan betapa luasnya wilayah yang dikuasai Majapahit, melintasi batas-batas yang kita kenal hari ini.

Kesimpulan

Klaim bahwa 80% ibu kota Kerajaan Majapahit berada di Kabupaten Jombang, dengan sisanya di Trowulan, Mojokerto, adalah topik yang mengundang rasa ingin tahu sekaligus kontroversi. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa kedua wilayah memiliki peran penting dalam sejarah Majapahit, tetapi untuk memverifikasi persentase tersebut, diperlukan penelitian yang lebih mendalam, termasuk pemetaan wilayah dan analisis sumber sejarah. Terlepas dari perdebatan ini, yang terpenting adalah bahwa warisan Majapahit adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Dengan memahami dan melestarikan sejarah ini secara bersama-sama, kita dapat menghormati kontribusi setiap wilayah dalam membentuk salah satu peradaban terbesar di Nusantara.

Tinggalkan komentar