Di tengah pesatnya perkembangan zaman, tradisi dan ritual budaya tetap bertahan sebagai warisan leluhur yang tak ternilai. Salah satu tradisi yang masih lestari di Jawa Timur adalah ritual calon pesinden baru di Sendang Made, Kabupaten Jombang. Ritual ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga merupakan perwujudan dari kepercayaan, spiritualitas, dan identitas budaya masyarakat setempat. Artikel ini akan mengupas tuntas tentang ritual tersebut, mulai dari sejarah Sendang Made, legenda yang melingkupinya, prosesi ritual, makna yang terkandung, hingga dampaknya bagi masyarakat dan pelestarian budaya.
Pengantar tentang Sendang Made
Sendang Made adalah kompleks sendang yang terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tempat ini dikenal sebagai situs bersejarah yang memiliki delapan sendang, masing-masing dengan nama dan fungsi yang berbeda: Sendang Drajat, Sendang Condong, Sendang Sumber Payung, Sendang Pengilon, Sendang Gede, Sendang Pomben, dan Sendang Kamulyaan. Sendang Made bukan hanya sekadar sumber air, tetapi juga tempat yang diyakini memiliki tuah atau kekuatan magis, terutama terkait dengan legenda Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan. Keberadaan sendang ini menjadi pusat spiritual dan budaya bagi masyarakat sekitar, khususnya dalam konteks ritual calon pesinden.
Keunikan Sendang Made terletak pada jumlah sendangnya yang beragam dan nilai historis yang melekat padanya. Setiap sendang memiliki peran tertentu dalam kepercayaan lokal, tetapi Sendang Drajat menjadi yang paling terkenal karena menjadi lokasi utama ritual calon pesinden. Lokasinya yang berada di kawasan pedesaan menambah kesan alami dan sakral, menjadikannya tempat yang ideal untuk kegiatan spiritual dan budaya.
Sejarah dan Legenda Sendang Made
Sejarah Sendang Made tidak lepas dari kisah pelarian Raja Airlangga pada abad ke-11. Menurut Prasasti Pucangan, Airlangga, yang saat itu berusia 16 tahun, terpaksa melarikan diri dari Kerajaan Medang yang diserang oleh Raja Wurawari dari Lwaram. Bersama istrinya, Galuh Sekar, serta beberapa dayang dan prajurit, Airlangga bersembunyi di lereng Gunung Pucangan, tepatnya di Sendang Made, selama tiga tahun. Di tempat ini, Airlangga bertapa, menimba ilmu dari gurunya, Mbah Jenggot, dan menyusun kekuatan untuk mendirikan Kerajaan Kahuripan.
Selama masa persembunyiannya, dayang-dayang yang ikut serta dalam pelarian menyamar sebagai pesinden, sementara prajurit menyamar sebagai penabuh gamelan. Hal ini dilakukan untuk mengelabui musuh yang mencari mereka. Kisah ini menjadi dasar dari tradisi ritual calon pesinden di Sendang Made, yang dipercaya sebagai cara untuk menghormati dan melestarikan warisan sejarah tersebut. Sendang Made pun menjadi tempat yang disakralkan, dan airnya dianggap memiliki kekuatan untuk memberi berkah, termasuk bagi para pesinden yang ingin meningkatkan kualitas suara dan penampilan mereka.
Legenda ini tidak hanya menjadi cerita lisan, tetapi juga diperkuat oleh keberadaan delapan sendang yang masing-masing memiliki nama dan makna simbolis. Misalnya, Sendang Drajat melambangkan derajat atau kemuliaan, sedangkan Sendang Kamulyaan mengandung makna kehormatan. Kepercayaan ini semakin mengukuhkan posisi Sendang Made sebagai situs yang kaya akan nilai sejarah dan spiritual.

Deskripsi Ritual Calon Pesinden
Ritual calon pesinden di Sendang Made adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh calon pesinden sebagai bentuk inisiasi atau wisuda sebelum mereka resmi tampil di hadapan publik. Ritual ini biasanya diadakan setahun sekali, terutama pada bulan Suro (Muharram) yang dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dalam kalender Jawa. Prosesi ritual ini melibatkan beberapa tahapan yang sarat makna spiritual dan budaya.
Persiapan Ritual
Sebelum ritual dimulai, calon pesinden menjalani persiapan yang meliputi puasa atau tapa, serta membersihkan diri secara fisik dan spiritual. Mereka juga mempersiapkan sesajen berupa bunga setaman, yang akan digunakan dalam prosesi mandi di sendang. Sesajen ini melambangkan kesucian dan permohonan restu kepada leluhur serta kekuatan spiritual yang ada di Sendang Made. Persiapan ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum hari H, sebagai wujud keseriusan dan penghormatan terhadap tradisi.
Prosesi Menuju Sendang
Ritual dimulai dengan prosesi arak-arakan menuju Sendang Drajat, yang merupakan sendang utama untuk ritual ini. Calon pesinden, yang telah berdandan cantik dengan pakaian tradisional Jawa seperti kebaya dan kain jarik, berjalan beriringan diiringi oleh alunan musik gending Jawa. Mereka dituntun oleh cucuk lampah, seorang penari yang bergerak lemah gemulai sebagai petunjuk jalan. Ratusan warga setempat turut menyaksikan prosesi ini, menambah suasana sakral dan meriah. Musik tradisional yang mengiringi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pengantar spiritual yang menghubungkan peserta dengan dunia leluhur.
Mandi atau Berendam di Sendang Drajat
Sesampainya di Sendang Drajat, calon pesinden satu per satu turun ke dalam sendang untuk menjalani ritual mandi atau berendam. Dalam tradisi awal, ritual ini melibatkan kumkum, yaitu berendam seluruh tubuh di dalam air sendang. Namun, seiring berkurangnya debit air, ritual ini dimodifikasi menjadi siraman atau membasahi kepala dan leher dengan air sendang. Air dari Sendang Drajat dipercaya memiliki khasiat untuk membuat suara pesinden menjadi merdu, awet muda, dan meningkatkan pamor atau popularitas mereka.
Selama prosesi ini, juru kunci sendang bernama Mbah Pono, adalah tokoh yang dihormati dan dianggap memiliki pengetahuan spiritual, memberikan siraman air kepada calon pesinden. Mereka juga mencuci wajah dengan air sendang dan dimandikan dengan air kembang yang telah dicampur dengan air dari padusan (sumber air suci). Kegiatan ini diiringi oleh doa-doa dan mantra yang dipanjatkan untuk memohon berkah dan kesuksesan dalam karir sebagai pesinden. Proses ini dilakukan dengan penuh khidmat, mencerminkan hubungan erat antara manusia, alam, dan leluhur.
Penyematan Selendang dan Penutupan Ritual
Setelah ritual mandi selesai, calon pesinden menerima penyematan selendang warna hijau sebagai tanda bahwa mereka telah resmi diwisuda menjadi pesinden sejati. Warna hijau dipilih karena melambangkan kesuburan, harapan, dan kehidupan baru. Penyematan ini biasanya dilakukan oleh tokoh masyarakat atau pejabat setempat, seperti istri bupati atau kepala dinas kebudayaan, sebagai bentuk pengakuan resmi. Ritual ini ditutup dengan doa bersama dan kenduri, di mana tumpeng dan sesajen dinikmati oleh seluruh peserta dan warga yang hadir, melambangkan kebersamaan dan rasa syukur.
Makna dan Tujuan Ritual
Ritual calon pesinden di Sendang Made bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi juga sarat dengan makna spiritual dan sosial. Tujuan utama dari ritual ini adalah:
- Memperoleh Berkah Spiritual: Calon pesinden memohon restu kepada leluhur dan kekuatan spiritual yang ada di Sendang Made agar diberi kelancaran dalam karir, suara yang merdu, dan penampilan yang memukau. Air sendang dipercaya sebagai media untuk mentransfer berkah tersebut, menjadikannya elemen penting dalam ritual.
- Penghormatan kepada Leluhur: Ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada Raja Airlangga dan dayang-dayangnya yang pernah bersembunyi di Sendang Made. Dengan menjalani ritual yang sama, calon pesinden merasa terhubung dengan sejarah dan warisan budaya yang agung, sekaligus melanjutkan tradisi yang telah ada selama berabad-abad.
- Inisiasi dan Pengakuan Sosial: Ritual ini berfungsi sebagai inisiasi atau wisuda yang menandai kesiapan calon pesinden untuk tampil di hadapan publik. Pengakuan dari masyarakat dan sesama seniman memperkuat identitas mereka sebagai pesinden profesional, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri mereka.
- Pelestarian Budaya: Ritual ini menjadi sarana untuk melestarikan tradisi dan budaya lokal, khususnya seni karawitan dan pertunjukan wayang kulit yang merupakan bagian integral dari kebudayaan Jawa. Dengan melibatkan generasi muda, ritual ini memastikan bahwa seni tradisional tetap hidup dan relevan.

Dampak bagi Masyarakat dan Budaya Lokal
Ritual calon pesinden di Sendang Made memiliki dampak yang signifikan bagi masyarakat dan budaya lokal di Jombang. Beberapa dampak positifnya meliputi:
- Penguatan Identitas Budaya: Ritual ini memperkuat identitas budaya masyarakat Jombang sebagai pewaris tradisi yang kaya dan bersejarah. Masyarakat merasa bangga dengan warisan budaya yang dimiliki dan berupaya untuk melestarikannya, menjadikannya simbol kebanggaan lokal.
- Peningkatan Pariwisata Budaya: Sendang Made dan ritual yang diadakan di sana menjadi daya tarik wisata budaya dan religi. Wisatawan dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan ritual ini, yang pada gilirannya mendukung ekonomi lokal melalui sektor pariwisata, seperti homestay, kuliner, dan kerajinan tangan.
- Pelestarian Seni Tradisional: Ritual ini mendorong regenerasi seniman pesinden dan dalang, serta mempertahankan eksistensi seni karawitan dan wayang kulit di tengah gempuran budaya populer. Generasi muda terinspirasi untuk mempelajari dan melestarikan seni tradisional, memastikan keberlangsungan budaya Jawa.
- Kohesi Sosial: Ritual ini menjadi ajang berkumpulnya masyarakat dari berbagai lapisan, mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan. Kegiatan kenduri dan doa bersama memperkuat kohesi sosial di antara warga, menciptakan harmoni dalam komunitas.
Pemerintah Kabupaten Jombang, melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disporabudpar), turut mendukung ritual ini sebagai bagian dari agenda tahunan. Dukungan ini mencakup fasilitasi acara, promosi wisata, dan pelestarian situs Sendang Made, yang semakin memperkuat nilai budaya dan ekonomi dari tradisi ini.
Kesimpulan
Ritual calon pesinden baru di Sendang Made adalah tradisi yang kaya akan makna spiritual dan budaya. Melalui serangkaian prosesi yang sarat simbolisme, calon pesinden tidak hanya mempersiapkan diri untuk karir profesional, tetapi juga terhubung dengan sejarah dan warisan leluhur. Ritual ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi budaya dapat bertahan dan berkembang di tengah arus modernitas, sekaligus menjadi perekat sosial dan identitas bagi masyarakat Jombang. Dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, ritual ini diharapkan terus lestari sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.


