NAWALA MEDANG: 12 Jam Menari Bersama Jaringan Sanggar Tari Jombang Memperingati Hari Tari Sedunia 29 April 2026

Jombang bukan sekadar kabupaten di Jawa Timur yang dikenal sebagai kota santri. Setiap jengkal tanahnya menyimpan lapisan sejarah yang dalam, dari masa kerajaan-kerajaan kuno hingga perjuangan kemerdekaan. Di tengah kesuburan lembah Brantas dan kehidupan keagamaan yang kuat, Jombang menyimpan memori sebagai salah satu pusat peradaban penting di Jawa Timur: Watugaluh, ibu kota Kerajaan Medang pada masa Mpu Sindok.

Pada 29 April 2026, yang bertepatan dengan Hari Tari Internasional, Jaringan Sanggar Tari Jombang (Jaring Sang Tarjo) akan menghadirkan peristiwa budaya luar biasa: “Nawala Medang”, sebuah performa tari selama 12 jam nonstop. Acara ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ritual ingatan kolektif yang meneguhkan kembali posisi Jombang sebagai ruang sejarah hidup, bukan pinggiran sejarah. Melalui gerak tari, para penari dari berbagai sanggar akan menyampaikan “surat” dari masa lalu Medang ke masa kini, menyatukan fragmen-fragmen sejarah, etika kekuasaan, dan laku budaya Nusantara.

Jombang sebagai Historical Landscape

Kerajaan Medang, yang juga dikenal sebagai kelanjutan Mataram Kuno di Jawa Timur, mengalami perpindahan pusat kekuasaan setelah gejolak di Jawa Tengah. Menurut prasasti-prasasti yang ada, Mpu Sindok (Sri Isyana) memindahkan ibu kota dari Tamwlang ke Watugaluh. Lokasi ini diyakini berada di wilayah Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang saat ini. Prasasti Anjuk Ladang, yang dikeluarkan pada 10 April 937 Masehi (859 Saka), menjadi salah satu bukti penting periode ini.

Prasasti Anjuk Ladang mencatat pemberian status sima swatantra (tanah perdikan bebas pajak) kepada penduduk Anjuk Ladang sebagai penghargaan atas jasanya membantu Pu Sindok dalam menghadapi ancaman eksternal, termasuk serangan dari Malayu. Prasasti ini tidak hanya dokumen administratif, tetapi juga penanda konsolidasi kekuasaan Sindok di Jawa Timur dan pendirian Dinasti Isyana. Watugaluh menjadi pusat politik baru di tepi Kali Brantas, sebuah lokasi strategis yang menghubungkan jalur perdagangan dan pertanian subur.

Jombang sebagai historical landscape berarti setiap desa, sungai, dan bukit di sana berpotensi menyimpan jejak peradaban. Situs Watugaluh dengan Batu “Mbah Mbeh” di Dusun Nanggalan, Desa Watugaluh, serta reruntuhan candi dan prasasti lainnya, menjadi bukti bahwa tanah ini pernah menjadi pusat pemerintahan, bukan daerah pinggiran. Menjadikan April sebagai “bulan memori Medang” melalui peringatan Hari Tari Internasional adalah langkah cerdas. April 937 M menandai era baru pasca-pralaya (kehancuran lama) dan awal wiwit anyar (permulaan baru), simbolis dengan akhir musim hujan dan datangnya terang, sesuai siklus alam Jawa.

Hari Tari Internasional sendiri diperingati setiap 29 April sejak 1982 atas inisiatif Komite Tari Institut Teater Internasional (ITI), mitra UNESCO. Tanggal ini dipilih untuk menghormati kelahiran Jean-Georges Noverre (1727–1810), “Bapak Balet Modern”, yang menekankan tari sebagai ekspresi emosional dan naratif, bukan sekadar hiburan mewah. Di Indonesia, peringatan ini menjadi momentum melestarikan tari tradisional sekaligus menegaskan tari sebagai bahasa universal yang menyatukan manusia lintas budaya.

Kesenian Tradisional Jaranan Jur Ngasinan dari Kabupaten Blitar Jawa Timur
Kesenian Tradisional Jaranan Jur Ngasinan dari Kabupaten Blitar Jawa Timur

 

Konsep “Nawala Medang” sebagai Metafora Dramaturgis

Nawala dalam bahasa Jawa Kuno berarti surat, piweling (pesan wasiat), atau amanat tertulis. Konsep ini sangat kaya makna untuk sebuah karya tari kolaboratif. “Nawala Medang” dapat dibayangkan sebagai surat agung dari kerajaan kuno yang dikirim melintasi waktu. Isinya merangkum fragmen sejarah Medang: perpindahan ibu kota, konsolidasi kekuasaan, etika pemerintahan yang adil, hubungan raja dengan rakyat, serta nilai-nilai spiritual dan budaya yang masih relevan hari ini.

Keindahan konsep ini terletak pada kebebasan tafsir sekaligus kesatuan benang merah. Setiap sanggar tari tidak perlu menciptakan tarian yang berdiri sendiri. Sebaliknya, mereka menari “satu paragraf” dari surat besar Medang. Satu sanggar mungkin menari tentang perjalanan Sindok memindahkan pusat kekuasaan, yang lain tentang pemberian sima sebagai bentuk keadilan sosial, yang lain lagi tentang ritual suci di Watugaluh, atau tentang kehidupan rakyat di lembah Brantas. Semua fragmen itu menyatu menjadi satu narasi hidup selama 12 jam.

Dramaturgi 12 jam ini selaras dengan kosmologi Jawa: dina-ratri (siang-malam), purwa-madhya-wasana (awal-tengah-akhir). Durasi panjang bukanlah beban, melainkan kesempatan untuk menciptakan pengalaman ritual yang mendalam, mirip tradisi pentas wayang semalam suntuk atau upacara adat Nusantara yang melibatkan komunitas secara total. Penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi ikut merasakan alur waktu yang berputar: dari fajar yang menyapa memori purwa, hingga malam yang merenungkan wasana.

Pembabakan Waktu: Kerangka Kosmologis 12 Jam

Meski bukan jadwal teknis kaku, struktur dramatik dapat dibagi menjadi tiga fase utama sesuai siklus Jawa:

  1. Purwa Medang (Pagi) Fase pembuka yang penuh harapan dan energi baru. Tarian-tarian di sini menggambarkan awal perpindahan, perjuangan mendirikan Watugaluh, serta semangat pembaruan setelah pralaya. Gerak tari mungkin energik, menggunakan elemen tari Jawa Timur klasik seperti tari Remo, Jaranan, atau kreasi kontemporer yang menginterpretasikan perjalanan Sindok. Suasana pagi yang cerah melambangkan cahaya baru peradaban di tanah Jombang.
  2. Madhya Medang (Siang–Sore) Puncak kekuasaan dan kehidupan kerajaan. Bagian ini mengeksplorasi tata pemerintahan, hubungan raja-rakyat, kemakmuran pertanian di tepi Brantas, serta ritual keagamaan Hindu-Buddha yang bercampur dengan kepercayaan lokal. Sanggar-sanggar dapat menampilkan tarian kelompok massal, duet yang melambangkan harmoni, atau solo yang merepresentasikan figur raja dan patih. Intensitas gerak meningkat, diiringi gamelan yang semakin kaya irama.
  3. Wasana Medang (Malam) Fase refleksi, penutupan, dan pewarisan. Malam menjadi ruang untuk merenungkan warisan Medang yang terus hidup: nilai keadilan, pelestarian alam, dan ingatan kolektif. Tarian mungkin lebih kontemplatif, menggunakan cahaya obor atau lampu temaram, dengan elemen tari sakral atau kontemporer yang menyentuh tema kelestarian budaya di era modern. Penutupan bisa berupa tarian bersama seluruh peserta, simbol persatuan “surat” yang telah terbaca utuh.

Struktur ini memungkinkan transisi organik antar sanggar, menciptakan alur naratif yang mengalir seperti sungai Brantas yang menghubungkan masa lalu dan kini.

Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang
Kesenian Sandur Manduro dari Kabupaten Jombang Asal Usul, Upaya Pelestarian, dan Penampilan di Karnaval Budaya Jombang

Kekuatan Sosial-Budaya bagi Jombang

“Nawala Medang” memiliki potensi besar sebagai landmark budaya tahunan Jombang, setara dengan Grebeg Maulud di Yogyakarta atau Sekaten, tetapi dengan akar lokal yang lebih dalam pada masa Medang. Acara ini bisa menjadi panggung penyatu seluruh sanggar tari tanpa kompetisi atau hierarki sempit. Semua berkolaborasi dalam satu narasi besar.

Secara naratif, kegiatan ini mengubah persepsi publik: Jombang bukan hanya “kota santri”, melainkan juga kota peradaban kuno yang memiliki kontribusi signifikan terhadap sejarah Jawa. Narasi ini penting untuk membangun kebanggaan lokal dan pariwisata budaya berbasis sejarah. Secara politis kebudayaan, ia memperkuat argumen bahwa pelestarian warisan pra-Islam di Jombang harus seimbang dengan kekayaan Islam Nusantara yang dominan.

Dalam konteks pelestarian kesenian daerah, acara ini menjadi wahana regenerasi. Generasi muda diajak terlibat aktif, memahami bahwa tari bukan hiburan semata, melainkan medium ingatan dan identitas. Kolaborasi antar-sanggar juga memperkuat jaringan komunitas seni di Jombang.

Peserta dan Persiapan

Peserta utama adalah seluruh anggota Jaringan Sanggar Tari Jombang (Jaring Sang Tarjo), yang telah lama aktif menyelenggarakan uji pentas dan kegiatan pelestarian. Daftar kelompok kesenian yang diundang antara lain:

  • Pimpinan Kelompok Kesenian Jaring Sang Tarjo
  • Pimpinan Kelompok Kesenian Sasana Gebyar Seni
  • Pimpinan Kelompok Kesenian Sanggar IJ Art
  • Pimpinan Kelompok Kesenian Cinde Laras
  • Pimpinan Kelompok Kesenian Purwo Budoyo
  • Pimpinan Kelompok Kesenian Sekaring Jati Putro
  • Pimpinan Kelompok Kesenian Putro IJ Art
  • Pimpinan Kelompok Kesenian Panji Arum

Selain itu, diundang pula perwakilan dari lima kota di Jawa Timur: Malang, Pasuruan, Batu, Probolinggo, dan Madiun, dalam rangka program Pelestarian Kesenian Daerah. Kehadiran mereka memperkaya pertukaran budaya dan memperluas jaringan kolaborasi.

Persiapan telah dimulai dengan Rapat Persiapan Pentas Hari Tari pada Senin, 27 April 2026, pukul 09.00 WIB hingga selesai, di Ruang Rapat Sekretariat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Rapat ini membahas konsep pelaksanaan, teknis kegiatan, pembagian tugas, serta koordinasi antar pihak terkait untuk memastikan kelancaran acara.

Tari sebagai Bahasa Universal Ingatan

Dalam 12 jam menari, “Nawala Medang” mengajak kita memahami bahwa sejarah bukan dokumen mati di museum, melainkan sesuatu yang hidup melalui tubuh dan gerak. Tari menjadi medium yang paling tepat karena ia melibatkan seluruh indera: penglihatan, pendengaran, bahkan getaran tanah di bawah kaki penari. Setiap ngeseh (gerak), wirama, dan ekspresi wajah membawa pesan dari Watugaluh ke hadapan penonton tahun 2026.

Acara ini juga menegaskan bahwa April bukan hanya bulan biasa. Ia adalah bulan di mana prasasti ditulis, ibu kota didirikan, dan ingatan baru dibangun. Melalui “Nawala Medang”, Jombang mengirim surat balasan kepada masa lalu: kami masih ingat, kami masih menari, dan kami akan terus mewariskan.

Bagi generasi muda Jombang, ini adalah undangan untuk menggali akar mereka lebih dalam. Bagi wisatawan dan seniman dari luar, ini adalah kesempatan melihat Jombang dengan perspektif baru, sebagai pusat peradaban yang terus bernyawa. Bagi seluruh peserta Jaring Sang Tarjo, ini adalah momen persatuan: satu tubuh, satu napas, satu narasi Medang yang abadi.

Ketika fajar 29 April 2026 menyingsing di langit Jombang, dan penari pertama melangkah ke panggung, “Nawala Medang” akan dimulai. Surat dari masa lalu akan dibacakan melalui gerak tari selama 12 jam penuh, hingga malam menutup siklus. Dan ketika wasana tiba, harapannya bukan akhir, melainkan awal dari ingatan kolektif yang lebih kuat.

Jombang, tanah yang penuh sejarah, kini siap menari. Watugaluh berbisik melalui kaki-kaki penari. Medang hidup kembali, bukan dalam batu prasasti, melainkan dalam denyut nadi budaya yang tak pernah padam.

Tinggalkan komentar