Mengevaluasi Ulang Konsep Pembelian Produk di Mata Pembeli

121715_0558_4.pngApa kabar blogger Jombang dan pembaca blog The Jombang Taste! Artikel marketing ini akan membahas cara menjual barang dari sudut pandang pembeli. Anggaplah calon pembeli telah muncul dari tahap perlindungan dengan keyakinan yang lebih kuat bahwa penawaran Anda akan membawa manfaat bagi mereka seperti yang telah diiklankan. Jumlah orang yang skeptis sekarang telah semakin berkurang melalui beberapa bentuk perlindungan, mulai dari versi beta, uji coba, dan seterusnya.

Hal ini telah membuktikan, jauh melampaui keraguan banyak orang, bahwa penawaran produk yang telah Anda lakukan akan sesuai dengan manfaat fungsional barang di dalam penjualan. Pada saat ini, pembeli akan meninggalkan tahap perlindungan dan bergerak menuju fase pertama tahap konsensus, yaitu fase mengevaluasi ulang konsep. Mereka akan berpikir kembali apakah benar-benar membutuhkan produk Anda atau akan berhenti sampai disini saja.

Kegiatan mengevaluasi ulang konsep terjadi ketika para pembuat keputusan ingin meyakinkan bahwa konsep ini masih sesuai dengan konteks situasi organisasi dewasa ini. Pertanyaan lain dalam tahap perlindungan adalah bagaimana kita dapat memulai dan melindungi penawaran produk kita sebelum melompat masuk, sedangkan psikologi pada fase pertama ini adalah memastikan bahwa konsep ini masih sesuai. Tahap ini lebih kritis dari fase sebelumnya.

Ingatlah, organisasi penjualan dewasa ini tidak henti-hentinya mendapat gangguan. Gangguan ini semakin meningkat tajam dan semakin sering terjadi. Perubahan ekonomi, pergeseran kompetitif, perubahan manajemen, serta merger dan akuisisi hanyalah sebagian kecil variabel yang memaksa pembeli menengok kembali pada penawaran produk Anda sebelum melakukan pembelian sepenuhnya. Bagaimanapun, sejarah masa lalu perusahaan turut mempengaruhi persepsi konsumen. Induk perusahaan dan anak perusahaan memiliki identitas yang tidak jauh berbeda dan berpeluang membingungkan calon konsumen.

Hal yang sama berlaku juga dalam persaingan produk retail atau minimarket dan pasar sepeda motor di Indonesia. Dalam bisnis minimarket kita mengenal Alfamart dan Alfamidi sebagai minimarket lokal yang memiliki keterikatan sejarah berdirinya maupun kegiatan operasional. Di mata masyarakat, keduanya seolah kembar siam yang sengaja dilahirkan untuk menguasai pasar waralaba minimarket lokal. Cara pelayanan atau service Alfamart, Alfamidi, AlfaExpress dan beberapa supermarket yang berafiliasi memiliki kesamaan. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan serius bagi calon pembeli barang kebutuhan sehari-hari di Indonesia.

Dalam bisnis waralaba kuliner Jepang, terdapat anggapan bahwa aneka makanan Jepang harganya mahal. Chicken Teriyaki, Beef Yakiniku, Bento, dan aneka kreasi makanan sehat dan berpenampilan menarik ternyata bisa bersahabat dengan isi kantong. Saat ini makin banyak perusahaan waralaba lokal yang mengadopsi kelebihan waralaba asing dan kearifan lokal ke dalam satu paket bisnis franchise yang menguntungkan. Makanan bento pun bisa berwujud dan berasa lebih Indonesia dengan tidak meninggalkan konsep dasar kuliner bento dari Negeri Matahari Terbit. Yup! Pembeli pun dapat diedukasi agar lebih mencintai produk lokal meski dengan label asing.

Sedangkan produk sepeda motor Honda memiliki pencitraan relatif lebih stabil di mata masyarakat. Label Honda menjadi jaminan mutu produk sepeda motor. Walaupun produk pesaing motor Honda makin gencar berinovasi dan berpromosi, Honda tampak sigap dengan melakukan promosi kombinasi antara offline dan online. Salah satunya adalah mengadakan program We Love Honda bagi pengguna internet di Indonesia. Langkah ini bisa memberi sumbangan berarti bagi keputusan pembeli sepeda motor dalam berbelanja kebutuhan mereka. Semoga artikel marketing ini bisa memberi inspirasi bagi Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *