Cerita Riwayat Kehidupan Barzawaih Dimata Wazir Buzurjumihr

Cerita Rakyat Gorontalo: Legenda Telapak Kaki Lahilote di Pantai Pohe
Cerita Rakyat Gorontalo: Legenda Telapak Kaki Lahilote di Pantai Pohe

Hai sobat blogger Jombang! The Jombang Taste tak henti berbagi inspirasi motivasi kehidupan untuk Anda. Kali ini kita akan membahas riwayat hidup Barzawaih, penulis Hikayat Kalilah dan Dimnah dalam Bahasa Persia. Biografi Barzawaih ini ditulis oleh Buzurjumihr dengan gaya penuturan orang pertama.

Berikut ini cerita kehidupan Barzawaih selengkapnya…..

Adalah aku, kata Barzawaih, turunan ibu-bapa yang berbangsa. Kedua ibu-bapakku amat kasih kepadaku. Saat usiaku genap tujuh tahun, bapakku lalu menyerahkan aku belajar kepada seorang guru. Alangkah besar hatiku ketika aku telah pandai menulis dan membaca. Ketika itu mulai aku memikirkan ilmu apa yang akan kudalami, dan akhirnya kupilihlah ilmu tabib, karena nyata kepadaku ketinggian derajatnya.

Sudah itu kutanyai diriku, yang manakah di antara empat perkara yang biasa jadi cita-citaku seseorang dalam hidupnya, yang harus jadi tujuanku dalarn pekerjaanku? Hartakah atau nama yang terpuji atau kesenangan, atau bahagia akhirat? Aku pernah membaca, bahwa tabib yang mulia budi ialah yang mau mengobati orang, semata-mata karena mengharap pahala akhirat.

Orang jadi tabib bukan dengan tujuan demikian, sama halnya dengan orang menjual permata intan dengan harga yang amat murah. Jika seseorang bekerja untuk akhirat, hajat keduniaannya akan tercapai juga olehnya. Seseorang yang menanam padi di sawahnya, kalau perlu akan tumbuh rumput di celah-celah padi akan diperolehnya juga, sekalipun tiada ditanamnya. Oleh sebab itu aku pun bekerja karena pahala akhirat.

Tiap-tiap bertemu orang sakit kuobati sedapat-dapatnya, sekalipun yang sudah tiada diharap akan sembuh lagi, sekurang-kurangnya peringankan sakit yang dideritanya. Dan bagi semua pekerjaanku itu tiadalah aku mengharap balasan. Kepada teman-teman sesama tabib, sekalipun pengetahuannya kurang daripadaku dan kekayaan lebih, tiadalah aku mau dengki. Kadang-kadang melihat kesenangan hidup mereka timbul juga keinginanku hendak mengumpulkan harta dunia, tetapi keinginan itu segera kulawan.

“Hai nafsu,” kataku, “belum jugakah engkau mau berhenti daripada mengharapkan barang yang hanya akan menyusahkan kalau telah kauperoleh, dan meremukkan hati kalau nanti terpaksa engkau ceraikan pula? Hai nafsu, tiadakah engkau ingat akan negeri dimana engkau lalai mencari jalan kebahagiaannya? Tak malukah engkau terbawa-bawa oleh orang bodoh mencintai nikmat yang lekas lenyap yang pada hakikatnya seorang pun tiada patut dinamai mempunyai tak lama antaranya akan direnggutkan pula dari tangan yang sedang menggenggamnya?

Hanya orang yang telah tertipu dan terpedaya jua yang mau mencintai barang itu. Oleh sebab itu hai nafsu, pandanglah dirimu dan enyahkanlah kebodohan itu, dan berusahalah mencari yang berguna, dan menjauhi yang berbahaya. Ingatlah badanmu dijadikan tempat bermacam-macam penyakit tumbuh, tersusun bagian-bagian yang lekas rusak disimpai dengan jiwa. Tetapi jiwa tidak kekal dalam badan. Tak ubah badanmu dengan paku. Apabila paku itu dicabut, robohlah ia berserak-serak semua bagiannya. Jangan pula engkau terpedaya karena banyak sahabatmu, karena sekalipun hal itu dapat memberi kesenangan, banyak pula kesusahannya.

Terutama hendaklah diingat tiada persahabatan yang tiada disudahi perceraian. Persahabatan ibarat sebuah senduk terpakai selama masih baik, akan tetapi apabila bercerai dengan tangkainya, jadi kayu keduanya. Kemudian janganlah karena cintamu kepada kaum kerabat maka engkau mau terpedaya mencari barang yang tiada berguna, bahkan besar bahayanya. Karena kalau demikian engkau serupa dengan tempat pedupaan jadinya, orang lain kenyang dengan baumu wangi, tetapi engkau sendiri terbakar.

Hai nafsu, janganlah engkau pertukarkan yang banyak dengan yang sedikit. Jangan seperti saudagar yang mempunyai kayu cendana. Oleh karena banyaknya maka terpikir “Jika kujual bercarah tentu lama baru habis.” Sebab itu dijualnya saja borongan dengan harga amat rendah.

Kemudian nampak pula olehku bahwa manusia berlawan-lawan pendapatnya. Tidak ada yang sama, tiap-tiapnya mengaku dia yang benar, orang lain salah. Oleh sebab itu aku harus menjaga diri jangan menerima saja tiap-tiap kata orang yang disampaikan kepadaku. Takut aku akan menjadi seperti pencuri yang mau saja menerima kata Tuan rumah yang hendak dimalingnya.

Setelah kujaga diriku daripada pemandangan-pemandangan orang yang tiada gunanya kuterima, mulailah aku menyelidiki agama. Ditentang itu pun tiada aku beroleh jawab yang memuaskan bagi per-tanyaanku, hingga akhirnya kuputuskan akan tetap berdiri dalam agama orang tua-tuaku yang dahulu-dahulu saja.

Akan tetapi kurasai hatiku masih haus hendak memilih-milih di antara agama yang banyak itu. Tetapi tiba-tiba teringat pula olehku alangkah singkatnya umur manusia, berapa banyak yang sampai kepada ajal, sebelum yang dimaksud tercapai. Oleh sebab itu kesudahannya kutetapkan saja hendak berbuat segala pekerjaan, yang terpandang baik dalam segala agama, menjauhi segala perbuatan yang sepanjang akal buruk dalam segala agama.

Maka kujauhkan diriku dari segala perbuatan yang jahat dan sifat yang tercela, umpama pemarah, khianat, pendusta, suka memfitnah, bergunjing, dan kutanamkan dalam hatiku niat tak akan menyakiti seseorang pun. Seiring dengan itu tiada aku mendustakan hidup yang kekal di akhirat, dan bahwa kiamat akan terjadi, tiada pula aku membantah dosa dan pahala.

Kujaga diriku daripada bersahabat dengan orang yang jahat-jahat, dan kuusahakan sedapat-dapat bersaudara dengan orang baik-baik. Tampak pula olehku bahwa ibadah adalah teman yang tiada taranya, tiada pula berat mengerjakannya kalau dengan petunjuk Tuhan.

Ibadah senantiasa menuntun kepada kebajikan, tak ubahnya dengan sahabat yang setia. Ialah kekayaan yang tiada akan habis dibelanjakan, tetapi makin bertambah-tambah, bertambah bagus dan moleknya. Tiada pula yang akan merampasnya, raja yang aniaya pun tidak kuasa atasnya, air tiada menghayutkannya, dan api tiada membakarnya, tiada binatang buas yang dapat menerkamnya, tiada pencuri yang akan mencurinya.

Makin kuperhatikan dunia dengan kesenangannya, makin benci aku kepadanya, dan makin jauh aku menyingkirnya. Sering dengan itu bertambah terang kepadaku, bahwa amal saleh itulah perbekalan untuk akhirat, pintu kepada nikmat yang kekal. Orang saleh teratur semua pekerjaannya karena tiap-tiap perbuatannya dipikirkannya dengan tenang. Suatu pun tak ada yang menyusahkan hatinya.

Dunia dijauhinya, sebab itu terhindar ia daripada segala rupa kejahatan. Nafsu dilawannya, maka suci ia. Dijauhi dengki, sebab itu ia dikasihi orang. Ia pemurah, akalnya digunakannya, jadi terpelihara ia daripada sesal. Manusia tiada ditakutinya; tiada disembah-sembahnya, maka sentosa ia daripada mereka.

Demikianlah makin dalam kuperhatikan hidup yang saleh, makin ingin hatiku kepadanya, hingga akhirnya kuputuskanlah hendak menjadi seorang saleh pula. Tetapi setelah kupikirkan lebih lanjut timbul takut dalam hatiku kalau-kalau tiada akan tahan diriku menanggung pahit hidup semacam itu. Kuatir aku kalau-kalau diriku tidak berdaya meninggalkan kesenangan dunia dan memasuki pertapaan, sedang pekerjaan yang kuharap akan berfaedah bagi duniaku telah kutinggalkan pula.

Karena semua itu, relalah aku dengan halku sebagai sekarang ini dan bersungguh-sungguh memperbaiki amal sekuasa diriku, mudah-mudahan dalam umurku yang masih tinggal dapat hendaknya suatu masa yang membawa petunjuk menimbulkan tenaga dalam diriku untuk mengusasai nafsu, supaya dalam semua pekerjaan dapat aku berhati tetap.

Maka tetaplah aku dalam keadaan selama ini, dan berusahalah aku menyalin beberapa kitab, bahkan telah kembali pula aku dari tanah Hindi sesudah menyalin hikayat ini di sana.

3 Replies to “Cerita Riwayat Kehidupan Barzawaih Dimata Wazir Buzurjumihr”

  1. sayangnya anak muda jaman sekarang sudah mulai lupa budaya sastra. semoga masih ada sosok agus siswoyo lain di dunia ini agar lebih banyak nasehat bijak dibagikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *