Yang Tersisa Dari Pilpres 9 Juli 2014

aktifitas ekonomi masyarakat muslim indonesia
aktifitas ekonomi masyarakat muslim indonesia

Hajatan pesta demokrasi Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden RI tanggal 9 Juli 2014 memang sudah lewat jauh. Momen Pilpres sepertinya sudah tidak ada gaungnya lagi jelang Lebaran Idul Fitri. Namun baru sekarang ini saya baru sempat menuliskan pengalaman menjadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Tempat Pemungutan Suara (TPS) 03 Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Never too late to start sharing what we had done.

Coblosan waktu itu dimulai dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang. Animo masyarakat di TPS 03 kelihatan sekali mengalami penurunan dibanding Pileg bulan April 2014 lalu. Dari 394 Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tercantum, warga yang menggunakan hak pilih hanya 285 orang, itupun masih ada 1 suara yang tidak sah. Berkurangnya minat masyarakat untuk mencoblos ini boleh jadi disebabkan oleh berkurangnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap calon-calon yang ada. Atau bisa juga karena pilpres kali ini berlangsung di bulan puasa sehingga masyarakat ogah-ogahan keluar rumah di cuaca panas.

Bagaimana dengan hasil coblosan di TPS 03? Proses penghitungan suara dari jam 1 siang sampai jam 2 siang. Hasil Pilpres di TPS 03 adalah 141 suara untuk pasangan capres-cawapres nomor urut 1 (Prabowo-Hatta). Sedangkan pasangan capres-cawapres nomor urut 2 (Jokowi-JK) unggul tipis dengan 143 suara. Peristiwa saling kejar suara terjadi dalam proses penghitungan suara. Dua orang saksi dari masing-masing pasangan capres-cawapres kelihatan deg-degan sepanjang proses penghitungan suara. Dengan kemenangan tipis ini, seolah menunjukkan gambaran mini Pilpres Indonesia secara umum.

Apa yang berkesan dari gelaran Pilpres kali ini? Bagi saya anggota KPPS, menggelar Pilpres di TPS 03 dalam situasi bulan puasa menjadi tantangan tersendiri. Kondisi siang hari yang panasnya menyengat adalah tantangan bagi KPPS untuk tetap aktif bekerja dengan energi yang terus menurun. Untungnya di sekitar lokasi TPS 03 ditumbuhi pohon mangga yang daunnya rimbun sehingga efek panas matahari bisa sedikit dikurangi. Lain halnya dengan TPS 01 yang berada di tengah lapangan sepakbola, wedew bukan main panasnya. Untungnya jam 3 sore semua aktifitas di TPS 03 sudah selesai dan tenda coblosan sudah dibongkar pula.

Hal lain yang menarik dari Pilpres 2014 adalah hasil hitung cepat (quick count) sejumlah media menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Tivi satu menyatakan pasangan capres-cawapres nomor urut 1 sebagai pemenang. Tivi yang lain malah sebaliknya. Begitu juga dengan pemberitaan media cetak yang saling mengklaim sebagai yang paling benar. Masyarakat dibuat bingung dengan hasil penghitungan cepat yang simpang-siur ini. Dari sekian banyak media yang memberitakan hasil pilpres, hanya ada satu atau dua media saja yang bisa netral. Pengumuman resmi hasil pilpres dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 20 Juli 2014 dan memang pemenangnya pasangan Jokowi-JK.

Overall, masyarakat sepertinya tidak mau ambil pusing dengan hasil hitung cepat Pilpres 2014. Siapapun presiden dan wakil presiden yang terpilih seolah tidak akan berpengaruh bagi mereka. Masyarakat lebih menunggu pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) daripada ingin tahu siapa presiden mereka untuk kurun waktu lima tahun mendatang. Ya, acuh tak acuh adalah pilihan setiap orang. Tapi mengabaikan masa depan dengan berpasrah pada keadaan bukanlah pilihan bijak. Namun perkembangan kedewasaan berpolitik masyarakat terus berkembang seiring dengan kemajuan dalam pendidikan demokrasi di Indonesia.

Selepas penyelenggaraan Pemilu tahun 2014 lalu, masing-masing petugas KPPS di tempat saya bertugas sudah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Seperti itulah keadaan masyarakat. Momen guyub-rukun akan tercipta kalau memang akan dihelat kegiatan penting. Selebihnya, masing-masing manusia disibukkan dengan aktifitasnya masing-masing. Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi bagi Anda. Bagaimanakah keadaan masyarakat di desa tempat tinggal Anda? Apakah senasib dengan keadaan di lingkungan tempat tinggal saya?

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Yang Tersisa Dari Pilpres 9 Juli 2014”

  1. Motif ekonomi masih dominan. Habis kerja untuk negara ya fokus cari makan untuk anak istri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *