Asal-Usul dan Makna yang Mendalam
Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dikenal sebagai kawasan yang kaya akan warisan budaya, di mana tradisi kesenian tradisional masih lestari di tengah arus modernisasi. Salah satu kesenian yang paling menonjol adalah Jaranan Tril, sebuah tarian kuda lumping yang unik dan energik. Kesenian ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa nilai-nilai filosofis dan sejarah yang dalam bagi masyarakat setempat. Jaranan Tril telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada 7 Desember 2021, menandai pengakuan nasional atas keberadaannya sebagai ekspresi budaya asli Blitar. Berbeda dari varian jaranan di daerah lain, Jaranan Tril menonjol dengan gerakan cepat dan atraktif, mencerminkan karakter masyarakat Blitar yang tegas dan tangkas. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi asal-usul, makna, serta elemen-elemen yang membuat kesenian ini tetap relevan hingga kini.
Asal-usul Jaranan Tril dapat ditelusuri ke akar budaya masyarakat pesisir dan pedesaan Blitar, yang dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan dinamisme sejak era prasejarah. Kesenian ini berasal dari Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, dan mulai berkembang sekitar tahun 1971 di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan. Seniman asal Udanawu bernama Maryis memainkan peran penting dalam pembentukannya, di mana ia mengadaptasi tarian kuda lumping tradisional dengan elemen gerak yang lebih dinamis. Nama “Tril” sendiri berasal dari bahasa Mblitaran, yang menggambarkan gerakan cepat, tangkas, dan trengginas, mirip dengan kecepatan motor tril yang populer di masa itu. Awalnya, Jaranan Tril bukanlah seni pertunjukan semata, melainkan ritual untuk menolak bala, mengatasi musibah, meminta kesuburan lahan pertanian, dan mengharapkan keberhasilan panen. Ini terkait dengan kepercayaan primitif masyarakat Austronesia, di mana roh leluhur (disebut iyang atau hyang) dimasukkan ke tubuh seseorang melalui trance untuk mendapatkan ramalan atau informasi gaib dari punden leluhur.
Lebih jauh, asal-usul kesenian ini terkait dengan jejak kebudayaan Mataram di Blitar. Pada abad ke-17, prajurit Mataram yang melarikan diri dari konflik internal membuka hutan belantara di Dusun Sanan, dipimpin oleh Mbah Kento Surowijoyo bersama sembilan priyayi. Mereka membawa serta kesenian jaranan sebagai warisan, yang kemudian berkembang menjadi Jaranan Mataraman, varian yang memengaruhi Jaranan Tril. Pada masa kolonial Belanda, kesenian ini digunakan sebagai bentuk tipu muslihat untuk menyembunyikan perlawanan. Kuda, yang melambangkan kekuasaan penjajah, direpresentasikan melalui properti anyaman, sehingga masyarakat bisa mengungkapkan ketidakpuasan tanpa menimbulkan kecurigaan. Sejarah ini juga terlihat dalam varian seperti Jaranan Jur Ngasinan, yang berasal dari cerita rakyat tentang ditemukannya Gong Kyai Pradah yang hilang, diarak menggunakan jaranan sebagai simbol kekuatan spiritual. Seiring waktu, Jaranan Tril berevolusi dari ritual murni menjadi pertunjukan rakyat, dengan penambahan elemen seperti barongan dan celengan pada era modern, menjadikannya lebih lengkap dibanding varian lain.
Makna Jaranan Tril bagi masyarakat Blitar sangatlah dalam, mencerminkan filosofi kehidupan yang harmonis antara manusia, alam, dan roh leluhur. Secara filosofis, kesenian ini menggambarkan prajurit andalan sekelas panglima, dengan gerakan tegas dan cepat yang melambangkan kekuatan, ketangkasan, dan ketegasan karakter orang Blitar. Ini bukan hanya hiburan, tetapi juga simbol perlawanan terhadap penindasan, seperti pada masa kolonial di mana jaranan menjadi media ekspresi tersirat melawan kekuasaan Belanda. Makna simbolik terlihat dalam elemen-elemennya: kuda anyaman melambangkan kendaraan spiritual untuk menghubungkan dunia nyata dengan gaib, sementara trance (kesurupan) merepresentasikan komunikasi dengan roh nenek moyang untuk menolak musibah dan meminta berkah.
Dari perspektif sosial, Jaranan Tril memperkuat kerukunan masyarakat melalui nilai kolektif dan gotong royong. Ritual persembahan sesaji seperti candu, kembang telon, menyan, rokok klobot, ayam, dan dawet kepada danyang (roh penjaga) di tempat sakral seperti Sumber Sanan, mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan dan sumber air sebagai kearifan lokal. Ini sejalan dengan kepercayaan abangan dalam masyarakat Jawa, di mana animisme dan dinamisme menyatu dengan nilai-nilai Islam yang masuk kemudian. Makna pendidikan juga kuat, di mana kesenian ini mengajarkan sejarah pendirian desa, identitas budaya, dan moral seperti menjaga harmoni sosial. Di era modern, makna ini berkembang menjadi alat pelestarian identitas, terutama setelah ditetapkan sebagai WBTB, yang mendorong minat generasi muda untuk terlibat. Berbeda dari Jaranan Buto di Banyuwangi atau Reyog Kendang di Tulungagung, Jaranan Tril menekankan kecepatan ritme gamelan dan variasi gerak yang lebih atraktif, membuatnya simbol dinamisitas masyarakat Blitar.
Proses pertunjukan Jaranan Tril dimulai dengan persiapan ritual, di mana penari dan musisi melakukan puasa atau doa untuk memanggil roh. Pertunjukan biasanya digelar di lapangan terbuka atau panggung, dengan durasi hingga beberapa jam. Elemen utama meliputi jaranan (penari kuda), barongan (singa atau macan), dan celengan (babi hutan), yang saling berinteraksi dalam adegan dramatis. Gerakan penari cepat dan lincah, dengan variasi tegas seperti rempeg (pukulan kaki) dan seseg irama (sinkronisasi dengan musik), diiringi alat musik tradisional seperti kentongan, angklung, kendang, dan gamelan dengan tempo tinggi. Adegan trance sering muncul, di mana penari kesurupan dan melakukan aksi ekstrem seperti makan kaca atau api, melambangkan kekuatan gaib. Kostum mencakup blangkon Jogja, lurik, selempang, celana kombor, jarik motif parang barong, dan centing, mencerminkan pengaruh Mataram. Perkembangan dari tahun 1971 hingga 2015 menunjukkan inklusi penari perempuan dan anak-anak, meski awalnya hanya laki-laki dewasa.
Meski menghadapi ancaman punah karena minim minat generasi muda dan pengaruh budaya asing, Jaranan Tril terus dilestarikan melalui paguyuban seperti Turonggo Anom dan festival tahunan. Pemerintah Kabupaten Blitar aktif mempromosikannya sebagai daya tarik wisata, mengintegrasikannya dengan agenda budaya untuk mendukung ekonomi lokal.
Tradisi Kesenian Jaranan Tril di Kabupaten Blitar adalah bukti hidup bagaimana warisan leluhur dapat bertahan sebagai simbol identitas dan filosofi. Dari asal-usul ritual animisme hingga makna perlawanan dan ketegasan, kesenian ini tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga menginspirasi harmoni sosial. Dengan status WBTB, diharapkan Jaranan Tril terus berkembang, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan bagi masyarakat Blitar.

Pembeda dengan Varian Kesenian Jaranan Lain di Jawa Timur
Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dikenal sebagai gudangnya kesenian tradisional yang kaya akan nilai filosofis dan sejarah. Di antara berbagai bentuk seni pertunjukan, Jaranan Tril menonjol sebagai ekspresi budaya unik yang mencerminkan karakter masyarakat setempat. Kesenian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI pada 7 Desember 2021, menandai pengakuan atas keaslian dan keberlanjutannya. Jaranan Tril bukan sekadar tarian kuda lumping biasa; ia membawa ciri khas gerakan cepat, lincah, dan tegas yang membedakannya dari varian jaranan lain di Jawa Timur, seperti Jaran Dor dari Jombang, Jaranan Jur Ngasinan, Jaran Jenggo dari Lamongan, Jaran Kencak dari Lumajang, dan Jaran Bodhag dari Probolinggo. Melalui artikel ini, kita akan mengeksplorasi ciri khas Jaranan Tril dan perbedaannya dengan kesenian-kesenian tersebut, berdasarkan aspek gerak, musik, properti, dan fungsi ritual.
Jaranan Tril berasal dari Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, dan mulai berkembang sekitar tahun 1971 di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, berkat kreativitas seniman lokal bernama Maryis. Nama “Tril” diambil dari dialek Mblitaran yang menggambarkan gerakan trengginas, tangkas, dan cepat, mirip kecepatan motor trail. Ciri khas utamanya terletak pada gerakan yang relatif cepat, sigrak (energik), rampak (sinkron), dan rémpég (tegas), yang mencerminkan semangat prajurit andalan sekelas panglima. Gerakan ini lebih variatif dan sedikit keras dibanding jaranan lain, sesuai karakter orang Blitar yang tegas dan berani. Properti kuda anyaman bambu berbentuk lancip dengan kepala mendongak ke depan, melambangkan kuda agresif yang dikendarai ksatria gagah. Musik pengiring tidak menggunakan gamelan logam, melainkan alat dari kayu dan kulit seperti kentongan, jedor, kendang, dan angklung, menciptakan ritme tinggi yang membuat pertunjukan lebih atraktif. Elemen lengkap seperti barongan (singa/macan) dan celengan (babi hutan) menambah keunikan, dengan adegan trance (kesurupan) yang sering menampilkan aksi ekstrem seperti makan kaca atau api. Kostum sederhana bergaya kidulan: blangkon, lurik, jarik motif parang barong, dan centing, dengan wajah tajam untuk tampilan medeni (menakutkan). Fungsinya tidak hanya hiburan, tapi juga ritual tolak bala, permohonan kesuburan, dan pemersatu masyarakat melalui gotong royong.
Perbedaan pertama terlihat ketika membandingkan Jaranan Tril dengan Jaran Dor dari Jombang. Jaran Dor, yang telah ada sejak 1835 dan dibawa oleh Wiroguno (eks prajurit Diponegoro), dikenal dengan alat musik jidor yang menghasilkan bunyi “dor” khas, terdiri dari kendang, gong, dan saron. Ciri khasnya adalah karakter keras (berani dan jujur), kostum tradisional cerah tanpa make up gemerlap, dan properti kuda anyaman dengan ekor melengkung atau lancip. Penari membawa panthek (potongan bambu) dan pentas diawali lagu seperti Sekarsari. Berbeda dengan Jaranan Tril yang menekankan kecepatan gerak dan ritme tinggi non-logam, Jaran Dor lebih fokus pada bunyi dor yang membangkitkan semangat, dengan gerakan yang lebih lugas dan kurang variatif. Selain itu, Jaran Dor sering tampil tanpa elemen barongan lengkap seperti di Tril, dan lebih menonjolkan aspek akulturasi modern. Ini membuat Tril terasa lebih dinamis dan atraktif bagi penonton muda, sementara Dor mempertahankan nuansa tradisional yang sederhana.
Selanjutnya, Jaranan Jur Ngasinan, yang juga berasal dari Blitar (Desa Sukorejo, Kecamatan Sutojayan, sejak 1921), memiliki fungsi utama sebagai sarana ritual dan pengiring Gong Kyai Pradah. Ciri khasnya adalah pemilihan tempat sakral, gerak lembut dan kasar yang dipengaruhi pola musik, serta makna simbolik pada nama “Jur” (mungkin merujuk pada juragan atau elemen ritual). Kesenian ini berfungsi sebagai pengikat solidaritas dan presentasi estetis, dengan elemen seperti ngepruk klapa oleh barongan. Berbeda dengan Jaranan Tril yang lebih menekankan kecepatan dan atraksi hiburan, Jur Ngasinan lebih ritualistik, dengan gerakan yang tidak secepat Tril dan fokus pada simbolisme seperti sumber air Ngasinan yang tetap mengalir di musim kemarau. Tril juga lebih lengkap dengan celengan, sementara Jur Ngasinan menonjolkan hubungan dengan artefak suci seperti Gong Kyai Pradah.
Berpindah ke Jaran Jenggo dari Lamongan, kesenian ini unik karena menggunakan kuda asli yang dilatih untuk bergoyang atau menari, bukan anyaman bambu seperti di Tril. Ciri khasnya adalah musik jedhor (kendang besar) dan aroma bawang putih pada kuda, dengan pertunjukan atraktif dalam tradisi khitanan atau acara adat. Dari Solokuro, Lamongan, Jenggo berkembang secara turun-temurun dan ditetapkan sebagai WBTB pada 2023. Perbedaannya dengan Tril sangat mencolok: Tril menggunakan properti buatan dan fokus pada gerakan penari manusia, sementara Jenggo bergantung pada kelincahan kuda hidup, membuatnya lebih realistis tapi kurang fleksibel dalam atraksi trance. Musik jedhor Jenggo lebih berat dan ritmis, kontras dengan ritme tinggi non-logam di Tril.
Jaran Kencak dari Lumajang juga menggunakan kuda asli yang dihias zirah perang, diyakini berasal dari kuda Ranggalawe (pendiri Majapahit). Ciri khasnya adalah tarian kuda (kencak berarti menari), dengan varian manjeng yang minim aksesoris, dan sering digelar dalam festival dengan ratusan kuda. Berbeda dengan Tril yang mengandalkan penari manusia dan elemen mistis, Kencak lebih menonjolkan harmoni antara penunggang dan kuda hidup, dengan musik khas Lumajang yang mendukung gerak menari. Tril terasa lebih teatrikal dan cepat, sementara Kencak ikonik sebagai simbol identitas Lumajang selain pisang agung.
Terakhir, Jaran Bodhag dari Probolinggo merupakan tiruan dari Jaran Kencak, menggunakan bodhag (wadah) untuk tubuh kuda, dipentaskan sebagai arak-arakan dengan iringan kenong telo dan sronen (musik Madura). Ciri khasnya adalah kostum lugas, tembang tradisi, dan nilai simbolik pendhalungan (campuran Jawa-Madura), sering untuk pernikahan atau sunatan. Berbeda dengan Tril yang dinamis dan atraktif, Bodhag lebih sederhana, tanpa trance ekstrem, dan fokus pada arak-arakan jalanan dengan elemen Madura yang kuat. Properti bodhag membuatnya unik, tapi kurang cepat dibanding gerak Tril.
Jaranan Tril Blitar unggul dengan kecepatan gerak, musik non-logam, dan elemen atraktif yang membuatnya lebih modern dan menghibur, sementara tetap mempertahankan akar ritual. Perbedaannya dengan Jaran Dor (bunyi dor dan lugas), Jur Ngasinan (ritual Gong), Jenggo (kuda asli jedhor), Kencak (tarian kuda Majapahit), dan Bodhag (arak-arakan pendhalungan) menunjukkan keragaman budaya Jawa Timur. Pelestarian Tril melalui festival dan paguyuban menjadi kunci agar tetap lestari sebagai identitas Blitar di tengah globalisasi.

Ekspresi Budaya yang Penuh Energi dan Identitas
Kabupaten Blitar, Jawa Timur, menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa, salah satunya adalah kesenian tradisional Jaranan Tril. Kesenian ini bukan sekadar pertunjukan tari rakyat, melainkan ekspresi mendalam dari jiwa masyarakat Blitar yang tegas, tangkas, dan penuh semangat. Ditabuhkan dengan ritme gamelan yang dinamis, gerakan cepat penari, serta elemen atraktif seperti trance atau kesurupan, Jaranan Tril telah menjadi simbol identitas lokal yang kuat. Pada 7 Desember 2021, kesenian ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, menegaskan posisinya sebagai aset budaya nasional yang perlu dilestarikan. Bersama Reog Bulkiyo dan Larung Sesaji Pantai Tambakrejo, Jaranan Tril memperkaya mozaik budaya Blitar, sekaligus menjadi daya tarik wisata yang potensial di era pasca-pandemi.
Asal-usul Jaranan Tril dapat ditelusuri ke Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, sekitar tahun 1971. Kesenian ini lahir dari kreativitas seorang seniman lokal bernama Maryis, yang membawa pengaruh tari kuda lumping ke Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan. Maryis mengadaptasi bentuk tradisional jaranan dengan menambahkan elemen gerak yang lebih cepat, atraktif, dan energik, sehingga melahirkan varian unik yang kemudian dikenal sebagai Jaranan Tril. Nama “Tril” berasal dari dialek Mblitaran (bahasa Blitar), yang merujuk pada gerakan trengginas, tangkas, dan lincah, mirip dengan kelincahan motor trail yang populer di masa itu. Istilah ini mencerminkan karakter gerak yang menjadi ciri khas: cepat, tegas, dan penuh tenaga.
Secara historis, Jaranan Tril berakar dari tradisi animisme dan dinamisme masyarakat Jawa pesisir dan agraris. Pada masa prasejarah hingga era kerajaan Hindu-Buddha, kesenian serupa seperti jaranan atau jathilan berfungsi sebagai ritual shamanisme, di mana roh leluhur (iyang atau hyang) “masuk” ke tubuh penari untuk memberikan ramalan, menolak bala, atau memohon kesuburan tanah. Pengaruh Mataram Islam kemudian menyatu, di mana elemen mistis tetap ada tetapi disesuaikan dengan nilai-nilai lokal. Di Blitar, kesenian ini juga dipengaruhi oleh perlawanan rakyat terhadap kolonial Belanda, di mana kuda sebagai simbol kekuasaan penjajah direpresentasikan melalui properti anyaman bambu untuk menyamarkan ekspresi perlawanan. Meski asal-usul tepatnya tidak tercatat secara pasti seperti banyak kesenian rakyat Jaranan Tril telah berkembang secara turun-temurun, terutama melalui paguyuban seperti Turonggo Anom Budoyo di Rejowinangun.
Sebagai ekspresi budaya tradisi, Jaranan Tril memiliki makna filosofis yang mendalam. Gerakan cepat dan tegasnya melambangkan kekuatan serta ketangkasan prajurit andalan sekelas panglima, mencerminkan karakter masyarakat Blitar yang dikenal gagah berani dan tegas. Budayawan Henri Nurcahyo dalam bukunya “Jaranan Tril” menjelaskan bahwa kesenian ini menggambarkan semangat perjuangan dan keberanian, di mana penari seolah “menunggang” kuda agresif yang mendongak ke depan, simbol ksatria yang tidak gentar menghadapi tantangan. Elemen trance atau kesurupan merepresentasikan hubungan harmonis antara dunia nyata dan gaib, di mana roh leluhur diundang untuk memberikan berkah, perlindungan, atau petunjuk.

Dari sisi sosial, Jaranan Tril menjadi media pengikat solidaritas masyarakat. Pertunjukan melibatkan gotong royong: dari pembuatan properti hingga latihan bersama, memperkuat ikatan antarwarga. Ini juga berfungsi sebagai pendidikan nilai-nilai lokal, mengajarkan generasi muda tentang menghormati leluhur, menjaga harmoni alam, dan menjunjung keberanian. Di era modern, makna ini berkembang menjadi alat pelestarian identitas di tengah globalisasi. Pengakuan WBTB tidak hanya melindungi kesenian ini dari kepunahan, tetapi juga menjadikannya simbol kebanggaan kolektif, sekaligus instrumen promosi wisata budaya Blitar.
Proses pertunjukan Jaranan Tril dimulai dengan persiapan ritual, seperti puasa atau doa untuk memanggil roh. Pertunjukan biasanya digelar di lapangan terbuka atau acara adat, dengan durasi panjang hingga beberapa jam. Elemen utama mencakup tiga bagian: jaranan (penari menunggang kuda anyaman), barongan (singa atau macan penjaga), dan celengan (babi hutan sebagai elemen komikal atau mistis). Gerakan penari lincah dan variatif, termasuk rempeg (pukulan kaki), seseg irama (sinkronisasi dengan musik), dan koprol (gerak akrobatik). Adegan trance sering muncul, di mana penari kesurupan melakukan aksi ekstrem seperti memakan kaca atau api, melambangkan kekuatan gaib.
Musik pengiring menggunakan alat non-logam seperti jedor, kendang, angklung, dan kentongan, menciptakan ritme tinggi yang membedakannya dari jaranan lain. Properti kuda berbentuk lancip dengan kepala mendongak, melambangkan kuda agresif yang dikendarai ksatria gagah. Kostum sederhana bergaya kidulan (Blitar selatan): blangkon, lurik, jarik motif parang barong, dan centing, menonjolkan wajah tajam dan ekspresif untuk tampilan medeni (menakutkan). Awalnya didominasi penari laki-laki dewasa, kini melibatkan perempuan dan anak-anak, menunjukkan adaptasi kesenian ini terhadap zaman.
Sebagai ekspresi budaya tradisi, Jaranan Tril tetap hidup melalui paguyuban dan festival tahunan. Pemerintah Kabupaten Blitar aktif mempromosikannya sebagai branding wisata, mengintegrasikannya dengan agenda budaya untuk mendukung ekonomi lokal. Meski menghadapi tantangan seperti minim minat generasi muda dan pengaruh budaya asing, kesenian ini terus berkembang dari ritual murni menjadi pertunjukan atraktif yang menarik wisatawan.
Jaranan Tril bukan hanya hiburan, melainkan ekspresi jiwa masyarakat Blitar yang penuh energi, keberanian, dan harmoni. Dari asal-usul kreatif di Udanawu hingga status WBTB, kesenian ini mencerminkan bagaimana tradisi dapat bertahan sebagai identitas hidup. Pelestariannya melalui pendidikan, festival, dan promosi wisata menjadi kunci agar generasi mendatang terus merasakan getar gamelan dan hentakan kaki yang menggema semangat leluhur. Jaranan Tril adalah bukti bahwa budaya tradisi bukan masa lalu, melainkan napas yang terus berdenyut dalam kehidupan kontemporer Blitar.


