Di tengah hamparan sawah yang hijau di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, berdiri sebuah prasasti kuno yang menyimpan cerita panjang tentang masa lalu. Prasasti Tengaran, yang juga dikenal sebagai Prasasti Geweg, adalah peninggalan bersejarah dari masa pemerintahan Mpu Sindok, seorang raja yang berpengaruh pada abad ke-10 Masehi. Prasasti ini tidak hanya menjadi saksi bisu peradaban masa lampau, tetapi juga simbol penghargaan dari seorang raja kepada rakyatnya yang telah berjasa. Dalam artikel ini, kita akan menyelami sejarah, makna, dan keunikan Prasasti Tengaran, serta bagaimana prasasti ini terus dilestarikan hingga hari ini.
Latar Belakang Sejarah Prasasti Tengaran
Prasasti Tengaran berasal dari masa pemerintahan Mpu Sindok, yang merupakan raja pertama Kerajaan Medang di Jawa Timur. Mpu Sindok memerintah pada periode awal abad ke-10 Masehi, sebuah masa transisi penting dalam sejarah kerajaan di Jawa. Sebelumnya, pusat kekuasaan berada di Jawa Tengah di bawah Wangsa Sanjaya, tetapi karena alasan yang diduga terkait dengan bencana alam, seperti letusan Gunung Merapi, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur dan mendirikan Wangsa Isana. Periode ini sering disebut sebagai Mataram Kuno periode Jawa Timur.
Prasasti Tengaran, yang dikeluarkan pada tanggal 14 Agustus 935 Masehi, adalah salah satu peninggalan tertua dari masa pemerintahan Mpu Sindok di Jawa Timur. Prasasti ini memuat informasi tentang penetapan Desa Geweg (sekarang Desa Tengaran) sebagai desa sima, yaitu tanah istimewa yang dibebaskan dari pajak. Penetapan ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan dari Mpu Sindok kepada masyarakat desa yang telah berjasa kepada kerajaan, khususnya dalam membantu pencarian putrinya yang hilang, Sri Isyana Tunggawijaya.
Menurut cerita yang berkembang, saat Mpu Sindok hendak menyeberangi Sungai Brantas untuk mencari putrinya di Gunung Pucangan, ia mengalami kesulitan. Masyarakat Desa Geweg (Tengaran) berinisiatif menolongnya dengan menyediakan perahu, sehingga raja dapat melanjutkan perjalanannya. Sebagai ungkapan terima kasih, Mpu Sindok membebaskan desa tersebut dari kewajiban membayar pajak, sebuah hak istimewa yang diabadikan dalam Prasasti Tengaran. Kisah ini menunjukkan hubungan yang erat antara raja dan rakyatnya, serta nilai gotong royong yang sudah mengakar sejak zaman dahulu.
Kerajaan Medang di bawah Mpu Sindok juga dikenal sebagai masa keemasan dalam perkembangan budaya dan administrasi di Jawa Timur. Pemindahan ibu kota dari Jawa Tengah ke Jawa Timur tidak hanya merupakan strategi politik, tetapi juga membawa perubahan sosial dan ekonomi yang signifikan. Prasasti Tengaran menjadi bukti nyata dari kebijakan pemerintahan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat, sebuah nilai yang tercermin dalam keputusan untuk memberikan status sima kepada desa tersebut.
Deskripsi Fisik Prasasti Tengaran
Prasasti Tengaran terbuat dari batu andesit, sebuah jenis batuan vulkanik yang sering digunakan dalam pembuatan prasasti kuno di Jawa karena ketahanannya terhadap cuaca dan waktu. Prasasti ini berbentuk tugu pipih yang menyerupai batu nisan, dengan dimensi yang cukup besar: tinggi 145 cm, lebar 80 cm, dan tebal 15 cm di bagian bawah serta 10 cm di bagian atas. Ketika pertama kali ditemukan, prasasti ini terpendam sedalam 40 cm di dalam tanah, sehingga bagian bawahnya tersembunyi. Namun, pada tahun 2021, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan pengangkatan untuk menampilkan prasasti secara utuh, sehingga kini seluruh bagiannya dapat dilihat dan dipelajari.
Permukaan prasasti diukir dengan tulisan dalam aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno, yang merupakan ciri khas dokumen resmi pada masa itu. Tulisan tersebut terbagi menjadi dua sisi: sisi A berisi 7 baris tulisan, sedangkan sisi B berisi 16 baris. Meskipun sebagian tulisan telah aus akibat erosi dan paparan lingkungan selama lebih dari seribu tahun, para ahli epigrafi masih mampu membaca dan menginterpretasikan isi prasasti ini. Isi utama prasasti mencakup perintah Mpu Sindok untuk menetapkan Desa Geweg sebagai desa sima, lengkap dengan tanggal dan detail administratif lainnya.
Di sekitar lokasi prasasti, terdapat beberapa artefak tambahan yang menambah nilai arkeologis situs ini. Di antaranya adalah batu umpak (penyangga tiang) dan batu lingga (penanda batas tanah suci), yang menunjukkan bahwa situs ini mungkin memiliki fungsi lebih dari sekadar monumen peringatan. Lokasi prasasti sendiri berada di tengah sawah, dikelilingi oleh tembok pelindung dan pepohonan, serta berdekatan dengan makam desa dan jembatan lintas tol Mojokerto-Jombang. Pemandangan pedesaan yang tenang di sekitar situs ini kontras dengan usia dan makna historis prasasti, menciptakan suasana yang unik bagi pengunjung.
Makna dan Signifikansi Prasasti Tengaran
Prasasti Tengaran memiliki makna yang mendalam, baik dari segi sejarah, budaya, maupun sosial. Pertama, prasasti ini merupakan bukti autentik dari keberadaan Kerajaan Medang di Jawa Timur dan peran sentral Mpu Sindok dalam membentuk fondasi pemerintahan di wilayah tersebut. Penetapan Desa Geweg sebagai desa sima menunjukkan sistem administrasi yang terorganisir dengan baik, di mana raja memiliki otoritas untuk memberikan hak istimewa sebagai bentuk penghargaan.
Kedua, prasasti ini mencerminkan hubungan harmonis antara penguasa dan rakyat. Kisah Mpu Sindok yang dibantu oleh masyarakat desa dalam mencari putrinya menggambarkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang menjadi bagian integral dari budaya Jawa. Penghargaan yang diberikan oleh raja juga menegaskan bahwa kontribusi rakyat, sekecil apa pun, dihargai dalam tatanan pemerintahan pada masa itu.
Ketiga, Prasasti Tengaran memberikan wawasan tentang peran perempuan dalam kekuasaan pada masa Kerajaan Medang. Dalam prasasti disebutkan bahwa Mpu Sindok memimpin bersama permaisurinya, Dyah Kbi, yang ikut serta dalam perjalanan menyeberangi Sungai Brantas. Ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga memiliki pengaruh dalam urusan pemerintahan, sebuah fakta yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Dari perspektif linguistik dan akademik, prasasti ini adalah sumber berharga untuk mempelajari aksara dan bahasa Jawa Kuno. Tulisan yang terukir di batu andesit membantu para ahli memahami perkembangan bahasa, tata tulis, dan sistem komunikasi resmi pada abad ke-10 Masehi. Prasasti ini juga menjadi salah satu dokumen tertua yang mencatat penggunaan tanggal dalam format Jawa Kuno, menambah kekayaan data sejarah Indonesia.
Peran Masyarakat dalam Pelestarian Prasasti Tengaran
Masyarakat Desa Tengaran memainkan peran kunci dalam menjaga keberlangsungan Prasasti Tengaran. Bagi warga setempat, prasasti ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga memiliki nilai spiritual. Tradisi lokal sering mengaitkan situs ini dengan ritual tertentu, seperti upacara khitanan atau persembahan sesajen saat musim tanam, sebagai bentuk penghormatan dan harapan akan berkah. Keyakinan ini mencerminkan bagaimana warisan budaya tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Selain upaya masyarakat, pelestarian formal juga dilakukan oleh pemerintah dan lembaga kebudayaan. Pemerintah Desa Tengaran, bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, telah membangun fasilitas pendukung di sekitar situs, termasuk bangunan untuk kenyamanan pengunjung dan peneliti. Prasasti ini juga sering menjadi tujuan kunjungan edukatif oleh sekolah-sekolah di Jombang, seperti SMPN 1 Kesamben, yang membawa siswa untuk belajar sejarah secara langsung.
Namun, tantangan pelestarian tetap ada. Salah satunya adalah kondisi akses jalan menuju situs yang buruk, dengan aspal yang rusak dan lubang-lubang yang membahayakan. Hal ini menyulitkan wisatawan, terutama dari luar daerah, untuk mengunjungi prasasti. Pemerintah desa dan kabupaten terus berupaya meningkatkan infrastruktur untuk memastikan situs ini tetap dapat diakses dan dilestarikan dengan baik.
Prasasti Tengaran dalam Konteks Modern
Di era modern, Prasasti Tengaran bukan hanya monumen sejarah, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Jombang. Keberadaannya yang masih in situ—di lokasi aslinya—menambah nilai autentisitas situs ini. Pengunjung dapat merasakan jejak masa lalu di tengah perkembangan infrastruktur modern, seperti jalan tol Mojokerto-Jombang yang melintas di dekatnya.
Prasasti ini juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata heritage. Dengan promosi yang tepat, situs ini dapat menarik wisatawan yang tertarik pada sejarah dan budaya Jawa. Pemerintah daerah dapat mengembangkan paket wisata yang mengintegrasikan kunjungan ke Prasasti Tengaran dengan atraksi lain di Jombang, seperti kesenian Reog Ponorogo atau situs candi kuno.
Dari segi pendidikan, prasasti ini menawarkan peluang besar untuk pembelajaran langsung tentang sejarah, epigrafi, dan arkeologi. Banyak universitas di Jawa Timur yang telah memanfaatkan situs ini sebagai lokasi penelitian, menghasilkan studi yang memperkaya pemahaman kita tentang masa lalu.
Kesimpulan
Prasasti Tengaran di Peterongan, Jombang, adalah peninggalan bersejarah yang mencatat kejayaan Mpu Sindok dan Kerajaan Medang pada abad ke-10 Masehi. Melalui kisah penetapan desa sima sebagai penghargaan kepada rakyat, prasasti ini menggambarkan sistem pemerintahan yang adil, budaya gotong royong, dan peran penting bahasa Jawa Kuno. Upaya pelestarian oleh masyarakat dan pemerintah memastikan bahwa warisan ini tetap hidup, baik sebagai sumber pengetahuan maupun kebanggaan lokal.
Mengunjungi Prasasti Tengaran berarti menghormati sejarah dan menghargai jasa leluhur yang telah membentuk identitas bangsa. Dengan perawatan dan promosi yang berkelanjutan, prasasti ini akan terus menginspirasi generasi mendatang sebagai saksi bisu kejayaan masa lalu.


