Kisah Legenda Sunan Gunung Jati atau Fatahilah Menahan Serangan Portugis di Banten

Hikayat Raja Arief Imam - Creative Doodle Art by Hidayat Said
Hikayat Raja Arief Imam – Creative Doodle Art by Hidayat Said

Dugaan Pati Unus ternyata benar. Orang-orang Portugis tidak cukup hanya berdagang rempah-rempah saja. Mereka juga ingin menguasai daerah-daerah lain. Portugis kemudian mendirikan pangkalan militer di Jawa Barat, Sumatera, dan Maluku. Mereka kemudian melayangkan pandangan ke Pasai di Sumatera Utara. Daerah itu banyak menghasilkan lada.

Pada tahun 1521, kapal-kapal Portugis mendekati pantai Pasai. Mereka mengancam agar rakyat Pasai menjual ladanya hanya kepada orang-orang Portugis saja. Ancaman ini sudah tentu ditolak penduduk setempat. Akibatnya kapal Purtugis memuntahkan pelurunya.

Pasukan-pasukanpun didaratkan di Pasai. Rakyat Pasai tidak tinggal diam. Berkobarlah pertempuran yang ramai dan dahsyat. Tetapi karena senjata orang-orang Portugis itu lebih lengkap, Pasai dapat dikuasainya. Dalam pertempuran itu ikut seorang pemuda, bernama Faletehan.

Profil Fatahilah

Siapakah Fatahilah atau Falatehan itu? Ia seorang penduduk Pasai yang juga dikenal bernama Fatahilah. Sejak kecil Faletehan berdiam di Pasai. Ia cinta pada sawah ladang dan kampung halamannya sendiri. Falatehan tidak rela Pasai dikuasai musuh. Berkat didikan agamanya, ia tidak senang melihat penjajahan.

Kepada sanak-keluarganya dan kawan-kawannya Falatehan berkata, “Saya tidak mau berdiam di Pasai yang sudah dikuasai musuh. Saya berniat menunaikan rukun Islam untuk pergi haji ke Mekkah”.

Kemudian pergilah Faletehan ke Tanah Suci. Di Mekkah ia naik Haji dan belajar agama Islam. Ia mempertebal Iman dan tauhidnya kepada Allah. Ia menjadi yakin, bahwa penjajahan itu tidak diridhoi Allah.

Beberapa tahun kemudian, Falatehan meninggalkan Tanah Suci. Ia pulang ke tanah air. Tetapi ia tidak kembali ke Pasai. Falatehan langsung menuju Demak. Waktu itu kerajaan Demak dipimpin seorang Sultan bernama Raden Trenggana. Sultan Trenggono memerintah Kesultanan Demak pada 1521 sampai dengan tahun 1546. Ia adalah adik Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang meninggal pada tahun 1521.

Raden Trenggana amat senang pada Falatehan. Sudah lama Demak membutuhkan seorang yang cakap dan ahli dalam agama. Faletehan diterima di paseban.

Sultan Trenggana berkata, “Faletehan, Anda saya serahi jabatan sebagai Kepala Urusan Agama!”

Dengan giat Faletehan menunaikan tugasnya. Setiap pagi ia memberi kuliah-kuliah subuh di mesjid. Ia juga berkhotbah memberi nasehat-nasehat tentang hukum. Karena sikap dan budi bahasanya sungguh baik, Faletehan dinikahkan dengan adik perempuan Sultan Trenggana.

Kerusuhan di Demak

Sejak Malaka diduduki Portugis, Demak tidak mau lagi menjual berasnya ke Malaka. Orang-orang Portugis lalu berusaha membeli beras dari Pajajaran.

Pimpinan Portugis kemudian berkata, “Kita hubungi saja raja Pajajaran. Bukankah Pajajaran masih beragama Hindu? Baik sekali Pajajaran kita jadikan kawan untuk menentang Demak. Lagi pula kita perlu beras dan nanti kita dirikan pangkalan-pangkalan militer di Sunda Kelapa!”

Sejak saat dulu orang-orang Portugis sudah menjalankan cara memecah-belah dan adu domba antar Kerajaan di Nusantara. Mereka mengirimkan utusan kepada raja Pajajaran. Orang-orang Portugis mendirikan suatu padrao, yaitu semacam tugu batu sebagai bentuk tanda kekuasaan di daerah yang didudukinya. Salah satu tugu itu bisa kita ketemukan kembali di Mangga Besar, Jakarta. Sekarang benda tersebut tersirnpan di Museum Jakarta.

Orang-orang Portugis berjanji akan datang lagi tahun depan. Tindakan Portugis itu tentu membahayakan Demak. Sultan Trenggana lalu memanggil menteri-menteri dan pembesar-pembesar kesultanan.

Sultan Trenggana kemudian berkata, “Ketahuilah, apa yang terjadi di bang kulon. Orang-orang Portugis sudah mendirikan padrao di Sunda Kelapa. Mereka mau membangun pangkalan di sana. Perdagangan dan pelayaran kita pasti akan mundur. Hal ini harus dihindarkan sebelum terlambat.”

Seorang anggota Dewan Menteri mengajukan usul, “Apa yang Sultan ungkapkan adalah benar. Kita harus cepat bertindak. Sejak jaman Pangeran Sabrang Lor dulu, kita sudah yakin musuh pasti akan meluaskan daerah. Karena itu, hamba usulkan agar gerakan Portugis itu cepat-cepat kita potong. Hendaknya selekas mungkin dikirim Pasukan ke Banten dan kemudian terus menuju Sunda Kelapa. Garis pantai Utara Jawa Barat harus kita selamatkan.”

Sultan menjawab, “Baik sekali penglihatanmu, Menteri. Kita harus cepat-cepat melaksanakan hal itu.”

Perjuangan Faletehan

Falatehan bukan saja seorang pedagang dan guru agama Islam. Tetapi ia juga seorang ahli siasat perang. Falatehan adalah panglima pasukan perang yang ulung. Sementara itu terjadi perkembangan militer di Malaka. Orang-orang Portugis kedudukannya makin kuat di Malaka dan Pasai. Pasukan Portugis makin banyak disana. Portugis makin membutuhkan banyak uang dan beras.

Sultan Trenggana kemudian mengumpulkan para menteri untuk rencana mengirim seorang panglima perang dan ribuan pasukan ke Banten. Hanya saja, perlu diketahui bahwa tugas pasukan ini bukan hanya bersifat angkatan perang. Tugasnya bukan hanya berperang adu senjata tetapi yang lebih utama lagi adalah tugas penyebaran agama Islam.

Yang menjadi soal sekarang, siapakah yang kiranya patut untuk mengerjakan tugas besar itu? Panglima pasukan itu hendaknya seorang panglima perang yang ulung dan juga mempunyai sifat-sifat seperti wali.

Suasana di paseban menjadi sepi. Masing-masing yang hadir menyadari betapa gawatnya keadaan. Betapa sulitnya masalah yang harus dipecahkan. Mencari seorang pemimpin yang sekaligus panglima perang dan guru agama adalah pekerjaan sukar.

Kemudian seorang Menteri yang sudah tua mengajukan pendapat. “Maaf Paduka Sultan, menurut hemat hamba, seorang yang mempunyai sifat sedemikian itu, tidak bisa lain kecuali Faletehan!”

Sultan mengangguk-angguk gembira. Wajahnya tampak terang dan lega. Sultan berkata lagi. “Ya, benar! Faletehan adalah orangnya! Atau barangkali ada tokoh lain yang lebih tepat?”

Semua hadirin dalam majelis menganggap Faletehan adalah orang yang tepat untuk menjalankan tugas tersebut. Faletehan lalu diangkat sebagai panglima perang.

Kemudian kapal-kapal milik Kesultanan Demak diperiksa dan diperbaiki semua. Prajurit dilatih dan perbekalan disiapkan. Sesudah beres semua, berangkatlah pasukan dan armada Demak dari pelabuhan Jepara. Mereka menyusur pantai utara Jawa.

Tidak berapa lama, sampailah armada tersebut di pelabuhan Banten. Segala sesuatunya berjalan menurut rencana. Faletehan berhasil menduduki Banten. Kemudian pasukan di gerakkan ke arah timur. Mereka melalui darat dan berhenti di pelabuhan Sunda Kelapa. Mereka membuka kemah. Pasukan Faletehan berjaga-jaga di dekat pantai.

Pertempuran Dahsyat

Pada suatu malam yang gelap-gulita hujan turun dengan lebatnya. Angin bertiup dengan kencang. Sekonyong-konyong terdengar bunyi yang dahsyat. Prajurit pengawal segera berteriak-teriak. Mereka membunyikan canang. Anggota-anggota pasukanpun bangun semua. Mereka cepat lari menuju pantai. Apakah yang terjadi?

Rupanya ada sebuah kapal besar terdampar di pantai. Kapal itu milik orang Portugis. Kaptennya bernama Duarto Culho. Kapal itu adalah sebagian dari armada Portugis. Mereka sedang bergerak menuju Sunda Kelapa. Mereka datang untuk membuka loji sesuai dengan bunyi perjanjian padrao dulu.

Kapal Duarto Culho itu rupanya terpisah. Lalu tersesat jalan dan akhirnya terdampar. Pecahlah pertempuran antara anak buah Duarto Culho dengan pasukan Demak. Musuh dapat dikalahkan Demak. Ini adalah kemenangan yang pertama.

Beberapa hari kemudian terjadi lagi suatu hal yang lebih dahsyat. Iring-iringan armada Portugis mulai datang. Kaptennya bernama Francisco de Sa. Mereka datang untuk membuka pangkalan di Sunda Kelapa. Mereka tidak mengetahui kalau Sunda Kelapa sudah diduduki pasukan Faletehan.

Orang Portugis itu mulai mendarat. Terus saja disambut dengan pertempuran dahsyat oleh pasukan Falatehan. Alangkah terkejutnya mereka itu. Mereka lari tunggang-langgang kembali ke kapal. Jangkar kapal Portugis diangkat kembali. Armada Portugis cepat menyingkir dari pelabuhan Sunda Kelapa. Kini pelabuhan Sunda Kelapa sudah terlepas dari bahaya penjajahan Portugis.

Faletehan lalu berkata, “Ini adalah kemenangan yang sempurna. Sejak hari ini tempat ini bernama Jayakarta!”

Hari itu penanggalan menunjukkan tanggal 22 Juni 1527. Sesudah itu Falatehan kembali ke Banten dan memegang pemerintahan di sana. Sesudah tua Faletehan pergi ke Cirebon. Ia giat mengajar agama. Sesudah meninggal Faletehan, terkenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

4 Replies to “Kisah Legenda Sunan Gunung Jati atau Fatahilah Menahan Serangan Portugis di Banten”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *