Kisah Kepahlawanan Sultan Hairun dan Baabullah Mengusir Penjajah Portugis dari Kerajaan Ternate

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Tanah Maluku terdiri dari pulau-pulau yang banyak. Pulau-pulau besar diantara adalah Halmahera, Obi, Sula, Seram, Buru dan Ambon. Pulau kecil diantaranya adalah Ternate, Tidore, dan kepulauan Banda. Pulau-pulau itu bergunung-gunung  dan tanahnya subur. Pohon rempah-rempah seperti pala dan cengkeh tumbuh dengan lebatnya. Rempah-rempah mendatangkan kekayaan bagi penduduk.

Sejak dahulu kepulauan Maluku sudah terkenal. Dari jauh kapal-kapal berdatangan. Saudagar-saudagar itu membeli rempah-rempah dari penduduk setempat. Kapal-kapal itu berasal dari Jawa dan Makasar serta dari negeri Cina. Perdagangan rempah-rempah itu mendatangkan kekayaan bagi Maluku.

Agama Islam juga berkembang di tanah Maluku. Islam disiarkan dari Gresik. Pada abad ke-16, orang Portugis mulai datang di Maluku. Mereka membeli rempah-rempah dengan cara monopoli. Mereka juga menyiarkan agama Kristen disana. Orang Portugis mulai mempunyai pangkalan militer di Ambon sejak tahun 1522.

Hubungan Portugis dengan Maluku tidak selamanya baik. Maklumlah, orang Portugis itu menjalankan dagang monopoli. Mereka menguasai perdagangan cengkeh dan pala. Pedagang bangsa lain tidak diberi kesempatan.

Kecurangan Penjajah Portugis

Pada jaman itu antara orang Kristen dengan orang Islam sering berrnusuhan. Pertentangan itu sudah ada sejak orang Portugis masih di Eropa. Pertentangan itu dibawa-bawa ke Indonesia. Orang Portugis juga memusuhi orang Islam di Demak, Aceh, Malaka dan seterusnya.

Di Maluku para pedagang Nusantara tidak tinggal diam. Pada tahun 1530 gabungan armada kapal Jawa, Makasar dan Banda menyerang Portugis di Ambon. Sayang benar, penyerangan tidak berhasil. Empat puluh tahun kernudian di Ternate memerintah Sultan Hairun. Sultan itu berkemauan baik.

Pada suatu hari datanglah utusan orang Portugis di istana milik Sultan Hairun. Mereka berkata, “Sultan, kami ingin membeli rempah-rempah dari Ternate.”

“Boleh saja, asal kalian menepati janji, sebagaimana lazimnya orang berdagang”, jawab Sultan Hairun.

“Baik Sultan, kami akan memegang perjanjian. Tetapi ijinkanlah kami membuat pangkalan di sini,” jawab orang Portugis.

“Boleh saja, asalkan kalian tidak berbuat hal-hal yang tak baik,” ujar Sultan Hairun.

LaIu orang Portugis itu membangun benteng di Ternate. Awalnya mereka baik-baik saja. Lama kelamaan orang Portugis kemudian melanggar janji. Mereka tidak mau berdagang dengan cara yang lazim. Orang Portugis menipu Sultan Hairun. Mereka menjalankan politik dagang monopoli.

Suasana menjadi kalut. Hampir terjadi peperangan. Barisan Ternate sudah ingin segera menggempur benteng Portugis. Di mana-mana orang sudah berteriak-teriak ingin cepat-cepat menyerang dan mengusir Portugis. Tetapi Sultan Hairun tetap tenang.

“Jangan kacau, tetap tenang! Kalian jangan mulai dulu,” ucap Sultan Hairun.

Orang Portugis rupanya masih mau bermusyawarah. Sultan Hairun menenangkan suasana. Dan memang benar utusan Portugis datang. Mereka mohon musyawarah. Sultan Hairun tidak berkeberatan. Sultan adalah orang penyabar. Ia tidak suka kekerasan dan pertumpahan darah. Sultan suka jalan damai.

Perundingan antara Sultan Hairun dengan Gubernur Portugis dimulai. Dan tercapailah kata sepakat. Kata sepakat itu harus dijunjung tinggi. Sultan bersumpah atas Al Qur’an akan menepati janji. Gubemur Portugis bersumpah pula atas Injil akan menepati janji.

Perlawanan Rakyat Ternate

Tetapi keesokan harinya, timbul suatu kejadian yang luar biasa. Kejadian itu membuat orang yang beriman menjadi sedih dan kecewa. Sultan Hairun ternyata mati dibunuh orang Portugis. Seluruh Ternate gempar. Putra Sultan Ternate bernama Baabullah tampil ke depan. Ia siap memimpin perang melawan Portugis.

Barisan bersenjata lalu disiapkan. Petani di kebun pala dan cengkeh, menukar alat kerjanya dengan pedang, tombak dan bedil. Mereka berduyun-duyun datang dari pelosok Ternate. Mereka bersatu. Mereka merupakan barisan yang kuat. Mereka menuju benteng Portugis. Mereka menuntut bela terhadap kematian Sultan Hairun.

Benteng Portugis lalu dikepung rapat-rapat. Empat tahun lamanya orang-orang Portugis dapat bertahan. Pada tahun 1574 Portugis menyerah. Orang-orang Portugis diusir semua ke luar Ternate. Tapi mereka masih dapat bergerak di Tidore, Ambon, Solong, Flores dan pulau Timor. Portugis mengambil kayu cendana untuk diperdagangkan di daerah sekitar Maluku.

Sedangkan Ternate di bawah Sultan Baabullah dapat mengembangkan kekuasaan perdagangannya hingga di Sulawesi Utara, Bima dan Papua. Sultan Baabullah adalah contoh pemimpin yang peduli kepada nasib rakyat. Ia berjuang dengan sungguh-sungguh untuk membangun Kerajaan Ternate dan memajukan rakyatnya.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

7 Replies to “Kisah Kepahlawanan Sultan Hairun dan Baabullah Mengusir Penjajah Portugis dari Kerajaan Ternate”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *