Sultan Hasanuddin, Si Ayam Jantan Dari Timur Penentang Penjajahan VOC di Kerajaan Gowa

Perlawanan Rakyat Indonesia dalam Menentang Kolonialisme Belanda
Ilustrasi Tokoh Perlawanan Rakyat Indonesia dalam Menentang Kolonialisme Belanda

Perjuangan melawan penjajah di Nusantara terjadi dimana-mana sejak dulu. Tanah Makasar terletak di antara Maluku dengan Jawa dan Malaka. Sejak dulu orang-orang Makasar sudah biasa berlayar. Mereka membeli rempah-rempah dari Maluku. Mereka menjualnya di bandar Malaka. Mereka juga membeli beras dari pulau Jawa dan diangkut ke Maluku.

Orang-orang Makasar memang pelaut yang cekatan. Dengan perahu-perahu pinisi mereka berlayar dengan berani. Bandar Makasar ramai. Kapal-kapal dan perahu-perahu berderet-deret sepanjang pantai. Negara makmur dan rakyat hidup damai.

Sesudah VOC datang, keadaan berubah. Orang-orang Belanda tidak senang melihat kapal-kapal Makasar simpangsiur di lautan Nusantara. Mereka ingin menguasai perdagangan di wilayah Nusantara.

Sejak tahun 1645, Sultan Hasanuddin memegang pimpinan negara. Ia seorang yang kuat lagi berani. Ia adalah anak Sultan Muhammad Said. Waktu kecilnya Hasanuddin disebut Mallombassi. Artinya anak yang mempunyai leher kuat seperti besi.

Hasanuddin seorang yang tegap kuat. Meningkat dewasa ia bergelar Daeng Mattawang. Sultan Hasanuddin sudah banyak pengalaman. Ia pernah diangkat sebagai penghubung antara pusat kerajaan dengan daerah-daerah. Kemudian ia ditunjuk sebagai Kepala Daerah dengan gelar Karaeng Bonto Mangape.

Hasanuddin pernah menjadi guru bagi putera-putera bangsawan. Ketika ayahnya meninggal, Hasanuddin diangkat sebagai raja. Kewajiban yang diemban oleh Sultan Hasanuddin sungguh tidak mudah. Negara sedang dirundung bahaya. Belanda melalui organisasi VOC mengincar Kerajaan Gowa dan setiap saat siap untuk menerkam Makasar.

Perjuangan Sultan Hasanuddin

Musuh Sultan Hasanuddin yang langsung adalah gubernur VOC di Maluku. Waktu itu yang menjabat guberrnur Maluku adalah Arnold de Vleming. Ia seorang yang angkuh dan keras. Ia mau menjalankan monopoli terhadap Makasar.

Arnold de Vleming mengirim utusan ke Makasar. Utusan VOC itu berkata, “Paduka Sultan, jangan lagi ada saudagar-saudagar dan kapal-kapal Makasar yang pergi ke Maluku. Segala rempah-rempah yang tumbuh di Maluku, hanya kompeni yang punya hak untuk mengambilnya. Apa Sultan tidak pernah dengar tentang monopoli?”

Sultan Hasanuddin menjawab, “Tuhan menjadikan bumi ini supaya manusia hidup berbahagia di dalamnya. Oleh karena itu setiap orang merdeka untuk ke mana saja untuk mencari nafkahnya.”

Sultan Hasanuddin tegas menentang VOC. Ia tidak suka Belanda mengadakan aturan-aturan yang merugikan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Nusantara. Di Maluku timbul pemberontakan melawan kompeni. Hasanuddin mengirim 100 perahu-perahu pinisi lengkap dengan prajurit.

Tetapi sayang benar. Ketika armada Hasanuddin sampai di Maluku, armada de Vleming sudah berlayar ke Buton. Kedua armada itu saling bertemu. Berkobarlah peperangan laut yang dahsyat. Kekuatan mereka berimbang. Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Hasanuddin sudah :menunjukkan semangat bertempur yang tinggi. Orang-orang Belanda menamakan Sultan Hasanuddin “Ayam jantan dari Timur.”

Makasar adalah kerajaan merdeka dan bebas berdagang. VOC tidak senang Makasar berhubungan dengan Inggris dan Portugis. Mereka marah. Pada tahun 1660, datanglah armada Belanda. Armada itu terdiri dari 22 kapal besar, 8 kapal pendarat dan banyak perahu-perahu kecil. Mereka menyerang kapal-kapal Portugis. Mereka membakar rumah-rumah di sekitar Somba Opu.

Sultan Hasanuddin tidak senang melihat tindakan VOC tersebut. Sultan memerintahkan, agar orang-orang Belanda meninggalkan Makasar. Rupanya VOC mau menghancurkan Makasar. Pada tahun 1666, datang lagi armada VOC dari Batavia. Komandannya bernama Speelman. Armada ini lebih besar dan kuat. Mereka memaksa agar Sultan Hasanuddin datang memberi hormat dan minta maaf. Sultan Hasanuddin menolak. Suasana menjadi tegang.

Perang Melawan VOC

Peperangan tidak dapat dihindari lagi. Perang ini terkenal sebagai Perang Makasar I yang terjadi pada tahun 1666 sampai dengan tahun 1668. Speelman lalu menggerakkan armadanya. Kapal-kapal Belanda melontarkan tembakan-tembakan meriam sepanjang pantai. Pasukan-pasukan lalu didaratkan. Mereka terus ke utara dan berhenti di Sungguminasa dan Janggala.

Dalam peperangan ini Speelman mendapat bantuan dari Sultan Buton dan Aru Palaka. Korban peperangan ini amat banyak. Akhirnya peperangan berhenti Makasar dipaksa mematuhi perjanjian Bongaya.

Speelman lalu memberi perintah, “Semua orang-orang Inggris dan Portugis harus pergi dari Makasar. Mulai sekarang hanya Kompeni yang boleh menjual kain-kain dan barang dari India dan Parsi”.

Sekali lagi Belanda tidak mau pergi dari Makasar. Ia bahkan mendirikan benteng di tengah kota. Sultan Hasanuddin tidak dapat bergerak bebas. Perjanjian Bongaya ini menghina bangsa Indonesia. Banyak orang Makasar tidak mau tunduk pada pemerintah VOC.

Masyarakat Makassar berpikiran bahwa lebih baik mereka hidup susah di luar Makasar, daripada hidup mewah di bawah Kompeni. Akhirnya mereka memilih pergi dari Makasar dan pindah ke Jawa Timur, Madura, Banten ataupun Sumatera. Banyak orang-orang Makasar meninggalkan Makasar. Mereka tetap menghirup udara bebas di tempat-tempat lain.

Sultan Hasanuddin ingin ikut merantau bersama rakyatnya. Tetapi hal itu tidak mungkin. Gerak-gerik raja tentu diperhatikan oleh VOC. Walaupun demikian, Sultan Hasanuddin tetap berjiwa merdeka. Hasanuddin tetap mau melawan kompeni. Dengan diam-diam pada tahun 1668, Sultan Hasanuddin mengirimkan utusan-utusannya ke berbagai daerah. Sultan memerintahkan agar rakyat bangkit menentang Belanda.

Rupanya Speelman tahu akan hal ini. Ia menyerang istana Hasanuddin dengan meriam-meriam. Untung benar, Hasanuddin sudah menyingkir ke Parang Tambung. Jadi pecahlah Perang Makasar II. Perang ini berlangsung setahun. Perang besar ini membawa korban banyak. Belanda dapat merebut daerah Parang Tambung dan menguasai hasil pertaniannya.

Sultan Hasanuddin dipaksa lagi menandatangani perjanjian yang lebih berat pada 24 Juni 1669. Lima hari kemudian Sultan Hasanuddin turun dari takhta. Ia menyerahkan kekuasaan kepada puteranya, Mapposaniba. Pada tahun 1670, Sultan Hasanuddin wafat. Ia telah menunjukkan kepada dunia dan anak cucunya, bangsa Indonesia tidak mau hidup dijajah.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

3 Replies to “Sultan Hasanuddin, Si Ayam Jantan Dari Timur Penentang Penjajahan VOC di Kerajaan Gowa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *