Riyaya Kupat Bukti Kepedulian Sosial Umat Muslim Jawa di Indonesia

Sebagian besar warga Guwo hari ini memperingati Riyaya Kupat atau Kupatan. Riyaya Kupat dilaksanakan pada hari ketujuh dari bulan Syawal atau seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Bentuk perayaan Riyaya Kupat adalah warga membuat ketupat, lepet, lontong, dan sayur berkuah. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan semua proses pembuatan makanan khas lebaran itu. Pekerjaan pertama adalah membuat cangkang ketupat. Ini bukan pekerjaan mudah. Diantara anggota keluarga di rumah, hanya Bapak yang bisa membuat cangkang ketupat. Setelah menyiapkan bungkusnya, kemudian Emak membuat lontong yang dibungkus daun pisang. Membuat lepet pun butuh keahlian khusus karena makanan ini berbahan alami.

Keterampilan mengolah makanan tradisional kupat dan lepet konon dimulai dari ajaran Sunan Kalijogo. Beliau menyebarkan Islam di Pulau Jawa dengan beragam aktifias yang menarik dalam hal seni dan budaya. Kupat sendiri merupakan kependekan dari kalimat ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan. Ketika riyaya kupat dikenal empat istilah: lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Empat kata itu masing-masing bermakna permohonan maaf dan kebahagiaan menjadi manusia baru. Ibadah ini menjadikan hubungan manusia lebih harmonis dengan sesamanya. Inilah makna tersirat dari riyaya kupat bagi masyarakat Jawa.

Tradisi riyaya kupat tidak mengenal perbedaan status sosial. Tidak perlu menunggu menjadi kaya dulu agar bisa berpartisipasi dalam perayaan Lebaran hari ketujuh ini. Orang kaya dan miskin sama-sama memiliki kemampuan yang sama untuk berlebaran. Hal itu tampak pada acara kenduren riyaya ketupat yang diadakan hari Rabu, 20 Juni 2018 setelah sholat jamaah maghrib di Masjid Baitussalam Guwo Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Puluhan umat muslim berkumpul di teras masjid yang terbagi menjadi dua kelompok. Jamaah putri berkumpul di sebelah utara serambi. Sedangkan jamaah putra berkumpul di sebelah selatan serambi. Ketua takmir masjid memberi ceramah singkat kepada hadirin. Tak lama kemudian beliau memimpin doa bersama. Usai doa, puluhan ember berisi ketupat, lepet, lontong, dan sayur opor dibagikan.

Anak-anak tampak bergembira mengikuti acara kenduren riyaya kupat ini. Mereka rela menunggu lama untuk dapat makanan secara gratis. Mereka berjalan kaki menuju rumah sambil membawa beberapa potongan utuh ketupat lengkap dengan sayuran. Rasa bangga terlihat dalam langkah mereka karena merasa berhasil memperoleh makanan dengan usaha sendiri. Hal itu dulu juga pernah saya alami di waktu kecil. Anak-anak kecil biasanya langsung pulang begitu imam mengucap salam di akhir sholat jamaah. Kali ini mereka sabar menunggu sampai imam dan para jamaah menyelesaikan dzikir sholat. Kesabaran mereka pun berbuah manis dengan menerima pembagian makanan kenduren kupat. Disinilah masjid berperan sebagai pusat edukasi remaja dan anak-anak sekaligus tempat rekreatif bagi kanak-kanak.

Ibu-ibu jamaah putri pun tidak mau kalah dibanding anak-anak. Para kaum hawa menjadikan masjid sebagai ajang pembuktian eksistensi diri mereka dalam lingkungan pergaulan perempuan desa. Seolah sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap ada kenduren harus membawa pulang makanan dalam jumlah banyak. Kali ini mereka juga bersemangat memborong makanan kenduren riyaya kupat. Bagaimana dengan saya? Saya cukup menjadi pengamat acara kenduren riyaya kupat. Saya duduk tenang dari jarak sepuluh meter di hadapan jamaah sambil memperhatikan tingkah laku mereka. Saya tidak ikut kenduren karena masih ada orang-orang yang lebih butuh makanan itu daripada saya. Saya senang menyaksikan dinamika sosial warga Dusun Guwo yang tetap bisa guyup rukun di acara riyaya kupat.

Bagikan artikel ini melalui:

12 Replies to “Riyaya Kupat Bukti Kepedulian Sosial Umat Muslim Jawa di Indonesia”

  1. Aku juga suka lebaran di kampung halaman. Banyak tersedia makanan gratis, asal rajin sholat di masjid. Hahaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *